Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..
selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.
malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.
seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.
plak
plak
plak
"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.
pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.
Cring
Zzzzzrrkkk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Tawan hujan
"Papa...!"
Teriakan renyah Queen pecah begitu lihat mobil hitam berhenti di depan gerbang sekolah. Tasnya mental-mental di punggung karena dia langsung lari.
Keenan buru-buru keluar. Belum sempat buka pintu, Queen udah loncat ke pelukannya. Agak berat, tapi dia ketawa kecil.
"Lho Mama mana, pah?" Queen melongok ke dalam mobil. Kursi penumpang kosong. Kecewa.
"Hari ini Papa yang jemput, sayang. Mama masih syuting," jawab Keenan sambil ngusap punggung Queen. "tadi Mama bilang maaf ya karena nggak jadi jemput Queen lagi. Tapi gimana kalau kita jalan-jalan dulu mau?"
" mau mau. "
Bibir Queen langsung manyun. "Mama akhir-akhir ini jarang banget jemput Queen, Pah. Mama sibuk terus."
Deg.
Kalimat polos itu nusuk langsung ke dada Keenan. Dia jongkok, sejajar sama mata Queen. Tangannya ngusap poni anak itu pelan.
"Maaf ya, sayang. Nanti Papa ngomong sama Mama. Biar Mama lebih sering pulang cepet."
Mata Queen langsung berbinar. "Beneran janji?"
"Janji." Keenan ngangguk cepat. Takut kalau telat sedetik, harapan di mata Queen mati lagi.
"Yey! Kalau gitu kita ke mall beli es krim sama main game ya, Pah?"
"Siap, Bos." Keenan hormat ala-ala bapak sayang anak.
Dia gendong Queen masuk mobil. Pintu ketutup, ninggalin gerbang sekolah yang udah sepi.
**_
Di lokasi syuting, Netha gelisah. Udah 5 menit sekali dia ngelirik jam tangan.
"Huuft..." Netha ngeluh pelan.
"Ada apa, Tha? Kok dari tadi mondar-mandir?" Inka, asistennya, nyamperin sambil bawa air mineral.
"Aku janji mau jemput Queen pulang sekolah, Ka. Tapi jadwal syutingnya ketahan terus." Netha megang HP. Jari gemetar mau nelpon Keenan, tapi ditahan.
Inka langsung panik juga. "Astaga, Tha. Kenapa nggak bilang dari tadi? Sekarang udah jam berapa ini?"
"Udah hampir jam 1, Ka."
"Ya ampun. Yaudah telpon Keenan sekarang. Minta tolong dia jemput dulu. Kamu jelasin aja ada launching film ini. Nggak bisa ditinggal."
Netha narik napas. Angguk. Dia keluar dari tenda, cari tempat sepi.
Tut... tut... tut...
Nggak diangkat.
Tut... tut... tut...
Masih.
Jantung Netha makin kencang. Takut Queen nunggu sendirian. Walau dia yakin ada guru yang jagain, tapi tetep aja nggak tenang.
Tut...
"Halo?" Suara Keenan datar. Dingin.
Netha langsung lega setengah mati. "Mas... kamu di mana?"
"Di jalan."
"Boleh minta tolong jemput Queen nggak? Aku lupa... hari ini ada acara launching filmnya. Nggak bisa aku tinggalin."
Hening. Cuma kedengeran suara klakson dari seberang.
"Mas? Halo?"
"Udah aku jemput," jawab Keenan singkat. "Dia tidur di sebelahku sekarang."
Netha ngembusin napas panjang. Bahunya turun. "Syukur... Makasih ya, Mas. Maaf ngerepotin."
"Oke."
Tut.
Telpon mati.
Netha bengong megang HP. "Kenapa rasanya makin jauh ya.ah sudahlah nggak perlu aku pikirin juga toh dia kan memang bapaknya.." gumamnya pelan. Suara Keenan tadi nggak ada marah, tapi kosong. Dan kosong itu lebih nyakitin dari teriakan.
"Tha! Buruan! Pak Arsen udah datang!" teriak Inka dari kejauhan.
Netha langsung nyengir kaku, nyembunyiin raut sedihnya. Dia balik ke tenda, senyum profesional dipasang lagi.
_**
Acara launching rame banget. Lampu, kamera, wartawan. Netha berdiri di tengah panggung, senyum, lambaian tangan. Tapi pikirannya entah ke mana.
Selama acara, dia nggak berhenti ngelirik pintu belakang gedung. Nungguin Arsen datang buat sambutan.
Dan bener aja. Begitu pintu kebuka, hawa dingin langsung masuk. Arsen. Jas hitam. Wajah datar. Jalan ke podium tanpa lirik siapa-siapa.
Tepuk tangan riuh.
Arsen ngomong singkat. Formal. Dingin. Begitu selesai, dia langsung turun. Mau keluar.
Netha reflek ngejar. "Om!"
Arsen berhenti. Noleh setengah badan doang. "Ada apa?"
"Aku... aku mau pulang duluan, Om. Mau nyusul Queen." Netha ngomong cepat. Takut.
Arsen ngelirik jam di tangannya. "Acara belum selesai."
"Aku tau. Tapi aku khawatir sama anakku."
Arsen diem 2 detik. Terus jalan lagi. "Ikut aku"
Netha bengong. Tapi nggak nolak. Dia pamit ke Inka, terus ngikutin Arsen keluar gedung lewat pintu belakang.
Tempatnya sepi. Cuma ada lorong sama tumpukan kardus properti.
Grep.
Per gelangan Netha ditarik keras dari belakang.
"Akhh! Lepasin!"
Mulutnya langsung dibekap telapak tangan kasar sebelum suara kedua keluar.
Bruk!
Tubuh Netha kehempas ke semak-semak di samping gedung. Punggungnya sakit kena tanah. Daun ilalang nusuk-nusuk kulit.
Matanya melebar. Di depannya, pria bertopeng hitam. Tinggi. Napasnya berat. Di tangan kanannya, pisau dapur mengkilap kena cahaya lampu gedung.
"Siapa kamu? Mau apa?" suara Netha ketahan. Gemetar.
Pria itu nggak jawab. Cuma nyengir di balik topeng. Selangkah. Dua langkah. Makin dekat.
Pisau diangkat tinggi.
"TIDAK!!!"
Arsen muncul entah dari mana. Satu tendangan keras mendarat di dada pria bertopeng.
Bugh!
Pria itu terpental, meringis pegang dada. Tapi dia langsung bangun dan kabur. Hilang ke balik tembok dalam 3 detik.
Arsen nggak ngejar. Napasnya juga ngos-ngosan. Dia balik badan pelan.
Netha masih di tanah. Badan gemetar. Air mata udah jatuh duluan sebelum dia sadar.
Arsen jongkok. Nggak nyentuh. Cuma natap. Wajahnya tetep datar, tapi rahangnya ngeras.
"Kamu nggak apa-apa?"
Netha mau jawab. Tapi bibirnya bergetar. Pandangannya kabur. Jantungnya berdegup kencang banget, terus... gelap.
"Tha?"
Tubuh Netha lemas. Dia jatuh ke belakang. Pingsan.
"Tha!" Arsen reflek nangkep. Bahunya nahan kepala Netha biar nggak kebentur tanah.
Tanpa mikir dua kali, Arsen nyingkap jasnya. Disampirin ke bahu Netha biar nggak kedinginan. Terus... ngangkat.
"Ah..." rintih Netha pelan, walau matanya masih merem. Refleks kedua tangannya melingkar lemah di leher Arsen.
Arsen diem. Napasnya berat. Bukan karena ngangkat Netha. Tapi karena takut.
Dia jalan cepet. Langkahnya stabil, nembus semak-semak menuju parkiran belakang. Hujan mulai gerimis.
Netha di pelukannya lemas banget. Wajahnya pucat. Bibirnya biru.
"Tha... melek. Jangan tidur," bisik Arsen. Pertama kali suaranya pecah. Panik.
Tapi Netha nggak jawab. Cuma napasnya pendek-pendek.
Sampai di mobil, Arsen nurunin Netha hati-hati ke jok belakang. Dia baringin Netha pelan, terus nutupin seluruh badan Netha pake jasnya.
Dia ngeluarin HP dari saku. Jari gemetar pas buka kontak.
"Ini gue. Kirim dokter ke rumah sekarang. Ada yang pingsan," perintahnya singkat. Terus langsung matiin.
Arsen muter ke kursi supir. Sebelum masuk, dia ngelirik Netha sekali lagi lewat kaca spion.
Wajahnya masih datar. Tapi keringat dingin udah ngucur di pelipisnya. Tangannya di setir, genggamannya putih sampai uratnya keliatan.
Mobil nyala.
Hujan turun. Deras.
Di jok belakang, Netha terbaring pucat. Jas Arsen kebesaran nutupin dia dari ujung kepala sampai kaki. Hangat.
Arsen injak gas. Matanya fokus ke jalan, tapi pikirannya nggak bisa lepas dari wajah Netha yang pingsan di belakang.
`Kenapa dia... kenapa aku setakut ini?` Batin Arsen. Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun hidupnya, dia ngerasa takut kehilangan seseorang yang bukan darah dagingnya.
To be continued...