Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.
Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19
Langit sore di balik jendela rumah sakit tampak muram. Cahaya matahari yang mulai tenggelam memantulkan warna jingga pucat ke dalam ruang perawatan. Keheningan menyelimuti ruangan hingga hanya terdengar bunyi alat monitor yang berdetak pelan.
Alvaro berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jas dokternya. Tatapannya jauh menerobos langit, tetapi pikirannya hanya tertuju pada satu nama yang selama ini tak pernah benar-benar hilang dari hatinya.
"Anna...."
Ia menarik napas panjang, lalu membalikkan badan menghadap Elizabets yang sedang duduk di atas ranjang.
"Jika kamu sudah sembuh... aku akan pergi mencari Anna," ucap Alvaro dengan suara tenang, tetapi penuh ketegasan.
Kalimat itu bagai petir di siang bolong.
Elizabets membeku. Matanya membulat, bibirnya sedikit terbuka. Ia berharap tadi hanya salah dengar.
"Apa... apa maksudmu, Al?" suaranya bergetar. "Lantas aku bagaimana?"
Alvaro memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya mendekat.
"Aku sudah memenuhi janjiku untuk tetap berada di sisimu sampai kakimu benar-benar pulih. Itu yang selama ini kutahan."
Elizabets menggeleng cepat.
"Tidak... bukan begitu. Bukankah setelah aku sembuh kita akan menikah?"
Alvaro mengembuskan napas pelan.
"Itu hanya keinginan orang tua kita, El."
Ucapan itu membuat dada Elizabets terasa sesak.
"Jadi... selama ini kamu tidak pernah menganggap pertunangan kita sebagai sebuah ikatan?"
"Aku menghormatimu. Aku juga menghormati keluargamu. Tapi aku tidak pernah bisa membohongi hatiku."
Air mata Elizabets akhirnya jatuh.
"Lalu selama ini... siapa yang ada di hatimu?"
Alvaro tersenyum pahit.
"Sejak dulu hanya ada satu wanita."
"Anna..." bisik Elizabets lirih.
Alvaro mengangguk perlahan.
"Ya."
Ruangan kembali sunyi.
Tak ada lagi kata-kata yang mampu diucapkan Elizabets. Selama ini ia sebenarnya mengetahui jawabannya. Ia hanya memilih menutup mata dan berharap waktu mampu menghapus cinta Alvaro kepada kakaknya.
Namun kenyataannya, waktu justru membuat cinta itu semakin dalam.
"Aku sudah berusaha, Al," isaknya pelan. "Aku mencoba menjadi wanita yang kamu inginkan. Aku belajar memasak makanan favoritmu, menemanimu, bahkan berusaha menerima sikap dinginmu. Apa itu semua tidak berarti?"
"Itu sangat berarti," jawab Alvaro lembut. "Kamu wanita yang baik. Kamu pantas mendapatkan pria yang mencintaimu sepenuh hati, bukan pria yang setiap hari merasa bersalah karena tak mampu membalas perasaanmu."
Elizabets menundukkan kepala.
"Kalau aku memohon agar kamu tetap tinggal?"
Alvaro terdiam beberapa saat.
"Maaf."
Hanya satu kata.
Namun kata itu terasa lebih menyakitkan daripada ribuan penolakan.
"Aku sudah kehilangan Anna selama lebih dari satu tahun. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, apakah ia baik-baik saja, apakah ia masih hidup dengan membawa luka karena keputusanku. Selama aku belum menemukannya, aku tidak akan pernah tenang."
Tangis Elizabets pecah.
Ia sadar, sekeras apa pun mempertahankan Alvaro, hatinya tak akan pernah benar-benar menjadi miliknya.
Dengan tangan gemetar, ia mengusap air mata yang terus mengalir.
" Tidak bisa begitu, Al, kita berdua harus menikah."
Alvaro menatapnya tak percaya.
"El..."
" Hanya kamu yang mengerti aku." Elizabets memaksakan senyum meski air matanya terus jatuh.
"Mungkin memang sejak awal aku yang terlalu egois. Aku memaksamu bertahan di hubungan yang tidak pernah kamu inginkan. Tetapi, kamu harus tahu, aku sangat mencintaimu."
Alvaro merasakan sesak memenuhi dadanya.
"Aku minta maaf."
"Untuk apa meminta maaf, kalau pada akhirnya kamu akan meninggalkan ku." Mata Elizabets berkaca-kaca.
"Akulah berharap keajaiban datang, hatimu berubah mencintaiku sepenuhnya."ucap Eliz dalam hati.
Untuk pertama kalinya sejak pertunangan itu, Elizabets memperlihatkan tangisnya di depan Alvaro.
Hatinya hancur berkeping-keping, ia sadar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, tapi hatinya sudah terlanjur cinta mati pada pria itu.
Sementara itu, di dalam hati Alvaro telah tumbuh satu tekad.
Begitu Elizabets benar-benar pulih, ia akan memulai perjalanan panjang mencari wanita yang selama ini menghilang tanpa jejak.
Apa pun yang harus ia lakukan...
Ia akan menemukan Anna.
Tatapannya kosong mengarah pada gemerlap lampu kota yang tampak begitu damai, berbanding terbalik dengan hidupnya yang kini dipenuhi pilihan-pilihan menyakitkan.
Ucapan Denis, ayahnya, terus terngiang tanpa henti.
"Kalau kamu berani membatalkan pertunangan itu, jangan salahkan Papa kalau menghancurkan hidup Anna."
Alvaro mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Bagaimana kalau Papa benar-benar melakukannya?" gumamnya lirih.
"Aku benar-benar takut."
Selama ini Denis bukan pria yang suka menggertak. Apa yang diucapkannya selalu menjadi kenyataan. Itulah yang membuat Alvaro semakin tertekan.
Ia rela menanggung penderitaan apa pun, tetapi membayangkan Anna menjadi korban dari ambisi ayahnya membuat napasnya terasa sesak.
Ia menyandarkan tubuh di sebuah dinding sambil memejamkan mata.
Wajah Anna kembali memenuhi pikirannya. Senyum hangat gadis itu, tatapan lembutnya, hingga janji yang pernah mereka ucapkan untuk menghabiskan masa depan bersama. Semua kini terasa seperti mimpi yang perlahan direnggut paksa.
"Aku sudah mengecewakanmu, Anna," bisiknya penuh penyesalan.
"Sekarang aku bahkan tak mampu melindungimu."
Di sisi lain, Elizabets juga tidak bersalah. Gadis itu benar-benar mencintainya dan rela menunggu meski Alvaro tak pernah mampu membalas cinta tersebut. Semakin ia memikirkan semuanya, semakin ia merasa terjebak.
"Sejak kapan kau suka melamun di tempat gelap begini?" Sebuah bayangan samar-samar singgah di benaknya.
Alvaro hanya mengembuskan napas panjang.
"Aku sedang menghadapi masalah yang rasanya tidak ada jalan keluarnya." Ucapnya pelan.
"Kadang hidup memang memaksa kita memilih. Tapi ingat, memilih karena cinta berbeda dengan memilih karena ketakutan."
Kalimat itu membuat Alvaro terdiam.
"Aku takut seseorang yang kucintai terluka," ucapnya pelan.
"Lalu kalau kamu terus hidup dalam ketakutan, bukankah kalian semua tetap akan terluka?" Bayangan itu menghilang begitu saja, entah apakah hanya sebatas halusinasinya.
Ucapan itu menghantam hati Alvaro. Selama ini ia hanya berusaha menghindari ancaman Denis, tanpa pernah benar-benar mencari jalan untuk melawannya.
Malam semakin gelap, langit dipenuhi awan gelap seolah menggambarkan masa depan yang belum jelas.
Alvaro mengangkat wajahnya, menarik napas panjang.
"Apa pun yang terjadi... aku harus menemukan cara menghentikan semua ini," tekadnya dalam hati.