NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Molly Marco

Warning

Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.

Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.

Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.

Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkegiatan Sendiri

Menyibukkan diri

Dret … Dret … Dret …

Ponsel itu masih berdering dan pemilik ponsel itu masih tak bergeming. Elang mengabaikan suara itu, hingga Bella pun geram dan menyambar ponsel Elang.

“Sini, biar Mama yang angkat!”

“Loh, Ma …” perkataan Elang tecekat dan segera bangkit untuk merebut kembali ponselnya dari tangan sang ibu, tapi sayang Bella sudah mengangkat telepon itu.

“Halo.”

Bella kembali duduk di kursinya dan menatap Elang karena suara telepon yang ia angkat itu tidak bersuara.

“Siapa sih yang nelepon kamu, Lang?” tanya Bella dengan suara yang bisa terdengar dari lawan bicara di ponsel itu.

“Bella.” Tiba‑tiba suara ditelepon itu memanggil namanya.

Otomatis, Bella pun mendekatkan lagi ponsel it ke telinganya.

“Vera.”

Terdengar suara Vera tertawa di sana. “Iya, ini aku.”

“Aku ada perlu sama Elang,” ucap Vera yang tak lain adalah ibu kandung Miska.

“Kamu pakai nomor baru?”

“Ini nomorku di Singapurad, Bel,” jawab Vera bohong. Walau pun nomor itu memang bukan plus enam dua, tapi nomor itu tetap bukan miliknya.

“Oh, ya. aku lupa kalau kamu sedang berada di sana.”

“Ya, makanya aku ada perlu sama Elang. Dia kan punya relasi cukup banyak di sini, jadi aku mau minta tolong apartemen yang bagus untuk putriku nanti.”

Rindu hanya melirik ke arah Bella sambil mendengarkan ibu mertuanya bicara di telepon. Ia sudah menduga jika di sana yang akan menjawab telepon itu adalah Vera, karena Rindu sudah mengetahui perselingkuhan itu.

Rindu menatap malas, ia tahu drama ini akan terjadi.

Sedangkan, Elang tampak tak menatap ke arah sang ibu. Pria itu justru terus menatap Rindu yang tampak datar dan biasa saja mendapati drama ini.

“Miskha jadi kuliah di sana?” tanya Bella lagi.

“Ya, anaknya sudah betah di sini, Bel.”

“Ya, jarak Singapura – Jakarta tidak jauh. waktunya pun tidak lama. Jadi tidak mengapa, Ver.”

“Ya, itu juga jadi pertimbanganku, Bel. Lagi pula, aku juga ingin memulai bisnis di sini. hitung‑hitung sekalian menemani Miska.”

Di sana, Vera tersenyum. karena alasannya bukan hanya menemani sang putri tapi juga erajut asmara dengan mantan kekasih sekaligus ayah biologis putrinya.

“kalau begitu, aku kasih teleponnya ke Elang ya,” ucap Bella tanpa curiga memberikan ponsel itu pada pemiliknya.

“Ini teleponmu, Mama kira kamu macam‑macam.” Bella memberikan ponsel itu dengan raut wajah yang tak lagi marah.

Elang menerima benda itu dengan wajah datar. Pria itu pun langsung bangkit dan menerima telepon itu dengan jarak yang cukup jauh dari meja makan. Elang memilih taman belakang yang berada tepat di belakang dapur untuk menerima telepon itu.

Merasa sudah aman, kini Miska yang bersuara. Suara itu terdengar manja. “Mas, kamu ga kangen aku apa?”

“Seharian kamu ga telepon aku buat nanya kabar.”

“Maaf, Mis. Keadaan sedang tidak baik‑baik saja, jadi sepertinya kita tidak usah berkomunikasi dulu.”

“Maksudnya apa, Mas?” tanya Miska bingung.

“Rindu tahu perselingkuhan kita.”

“Apa?” Miska terkejut.

“Ya. Makanya, Mas ga bisa telepon‑telepon kamu dulu. Lagi pula, kamu di sana kan lagi kuliah. Kamu belajar saja dulu dengan baik. oke!”

“Mas ngga sedang meminta untuk putus kan?” tanya Miska dengan pertanyaan yang tepat sasaran. Pasalnya setelah sang istri tahu perselingkuhan ini, ia memang memilih untuk break dulu dengan Miska. Semisal Rindu meminta Elang untuk memilih antara dirinya dan Miska, pasti pria itu akan memilih istrinya, karena Miska hanya sekedar tempat pelampiasan nafsunya saja, bukan cinta.

“Mungkin untuk sementara lebih baik seperti ini dulu, Mis.”

“Tidak, Mas. Tidak. Aku kuliah di sini bukan berarti kita putus, Mas.” Tiba‑tiba suara Miska tak lagi manja. Justru ia kesal dan sedikit bernada tinggi.

“Pokoknya, kalau Mas putusin aku, aku ga jadi kuliah di sini. Aku kuliah di sini kan atas permintaan Mas Elang, supaya kita bisa ketemuan lama, bisa lima hari, seminggu, atau dua minggu, karena Mas Elang kan memiliki cabang perusahaan di sini.”

Elang menarik nafasnya kasar. Kini, ia pun terjebak and tak bisa kembali. Elang harus pasrah dengan keputusan Miska yang tak ingin putus begitu saja.

Di balik pintu kaca yang sedikit terbuka, Rindu mendengar Elang bicara dan mendengar tarikan nafas yang berat itu.

Rindu meninggalkan Elang yang masih bicara dengan anak SMA yang baru lulus itu.

“Wah, ternyata ini makanan yang masih tertinggal di dapur,” ucap Bella saat melihat menantunya kembali dengan membawakan makanan di piring yang cukup lebar dan berwarna putih.

“Ya, ini untuk kloter terakhir, Ma.” Rindu masih bisa tersenyum meski mendengar dan melihat langsung perselingkuhan itu.

Rindu meletakkan puding yang ia suguhkan sebagai desert, usai menikmati makan besar.

“Elang masih menerima telepon Vera?” tanya Bella ketika belum melihat putranya duduk kembali di kursi ini.

Kepala Rindu mengangguk. “Masih, Ma. Tapi mungkin sebentar lagi.”

Bella pun mengangguk. Benar saja, tak lama kemudian, Elang keluar dari arah itu dan kembali duduk di kursi makan.

Elang kembali duduk dengan tenang, seolah tak terjadi apa pun. Rindu pun melakukan hal yang sama dan Bella masih tidak tahu apa‑apa.

Rindu dan Elang hanya berekspresi saat keduanya saling melihat dan bertatapan sambil makan.

“Perang dingin akan segera dimulai,” ujar Rindu dalam hati. Ia sudah mengukuhkan hati untuk melayani suaminya ala kadarnya saja, tanpa melibatkan hati lagi.

Lagi pula, hati Rindu sudah mati. Terlintas di benak Rindu untuk membalas sakit hatinya itu dengan menduakan sang suami sebelum ia benar‑benar pergi dari kehidupan Elang secara sah dimata agama dan negara.

Satu minggu berlalu. Meski sang ibu masih tinggal di rumah ini dan kaki Rindu sudah tak lagi sakit karena memang tidak sakit, Rindu melayani Elang dengan sebagaimana mestinya saja.

Tring

“Rin, berkas untuk PT. Angkasa sudah siap kan?”

“Sudah, Pak.”

Rindu membalas pesan dari Rayen. Semakin hari, komunikasi antara Rindu dan pria yang lebih tua dua belas tahun itu terjalin intens. Keduanya pun semakin dekat, meski karena dalam urusaan pekerjaan.

Rindu yang berusia dua puluh delapan tahun dan Rayen yang berusia empat puluh tahun saling mendapatkan chemistry. Rayen yang tipenya membimbing tanpa pernah menggurui, membuat Rindu menyukai memiliki bos sepertinya.

“Bener udah ya? jangan ketinggalan lagi kaya kemaren.”

Rindu tersenyum. “Iya, ngga.”

Senyum Rindu, diperhatikan oleh Elang yang baru saja keluar dari kamar mandi dan menggosok rambutnya yang basah.

“Rin, mana piyamaku?”

Rindu masih asyik memainkan ponselnya. Ia tak mendengarkan pertanyaan Elang.

“Besok persentasi kita tidak boleh gagal. Ini tender besar, Rin.”

“Iya, Pak. Kita pasti bisa.”

“Rindu.” Kini, Elang memanggil nama itu dengan sedikit kencang.

“Apa sih, Lang?” tanya Rindu ketus.

“Mana piyamaku?”

“Ambil sendiri,” ucap Rindu yang malas berdebat dan kembali memainkan ponselnya.

“Bisa apa? Bisa ketiduran kaya kamu kemarin?”

Tring

Tiba‑tiba Rayen mengirim foto Rindu yang ketiduran di dalam mobilnya, usai persentasi dua hari lalu.

“Iihh.” Seketika, Rindu berteriak kesal. Ia kesal dengan foto yang dikirim Rayen tadi. Sedangkan pria itu di sana sedang terkikik geli.

“Apaan sih kamu, teriak gak jelas gitu,” celetuk Elang dengan sedikit ketus. “Wa an sama siapa sih?”

Sambil membuka lemarinya, Elang bertanya pada Rindu.

“Lita. Dai nyebelin banget.”

Puk

Rindu langsung meletakkan kembali ponselnya di samping. Lalu, ia menarik selimut dan tidur.

Usai memakai pakaian yang ia ambil untuk dirinya sendiri, Elang pun melirik ke arah ponsel Rindu dengan sesekali melirik ke arah istrinya yang sudah terbaring tidur.

Antara gengsi dan ingin mendekati sang istri, Elang merasa sudah mulai berubah, tapi justru sekarang istrinya yang berubah.

Rindu mengabaikannya, sikap yang sama seperti yang pernah Elang lakukan dulu. Wanita itu juga tampak sibuk, bahkan lebih sibuk dari hari‑hari sebelumnya.

Satu minggu terakhir ini, Rindu hanya bisa melakukan makan bersama satu kali saja, selebihnya ia akan lebih banyak waktu di kantor.

Apa yang dilakukan Elang pada Rindu dulu kini dilakukan oleh wanita itu. Rindu memilih menyibukkan diri, dari pada lelah dengan urusan rumah tangganya yang begitu‑begitu saja.

1
Mawar
masih nyimak lnjut kak.
Mawar
itu sirindu tambah malu rayen.
Mawar
elang mmg gila sex bukannya taubat malh mkin menggila.
Mawar
rasain km elang,kepergik ma bella.
Mawar
kalau soal wanita bw agama klw soal hkum yg lain lp ma agama, yg km lakukan zina elang dosa besar.
Mawar
lnjut kak.
Mawar
apa yg akan tejadi sama rindu ya,😕😕
Mawar
cerai ja rindu km lebih baik sm rayen aja drpd sm elang udh celup sana sini.
Mawar
lnjut kak.rindu merasa bersalah sdangkan elang biasa ja tu.
Mawar
jijik lht kelakuan elng.
Mawar
gk ush maafin sielang rindu.
Mawar
itu pasti sielang mau ketemu simiskha jijik deh, kadihan rindu jngn mau diajk bercinta sama elang rindu.
Mawar
laki2 gak peka emang si elang itu meningan hempaskan ja rindu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!