Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Rania menatap mereka dengan senyum sinis yang sangat merendahkan.
"Ngapain saya harus izin sama kalian untuk menjualnya, toh yang ada didalam suratnya itu adalah namaku yang tertera jadi terserah padaku dong kan aku yang beli".
Ardi mengepalkan tangannya, Rania semakin seenaknya kepadanya.
"Tapi kamu sudah memberikannya kepada kami Rania, itu harusnya jadi milik kami". Jawabnya penuh penekanan.
"Benar kata kak Ardi, kalau sudah dikasih ya tidak boleh diambil lagi, itu namanya orang pelit". Sungut Adel dengan kesal.
"Terserah apa kata kalian, toh mobilnya sudah saya jual, jadi saya tidak peduli, silahkan saja berbicara sesuka hati kalian".
Rania ingin melangkah tapi tangannya dicekal oleh mertuanya yang kini menatapnya dengan penuh amarah, tangannya mencengkram keras tangan Rania membuat Rania kesakitan tapi dia peduli.
"Jangan buat kesabaran kami habis Rania, kembali pada Ardi dan berikan mobil itu pada mereka". Ucapnya penuh penekanan.
Rania mengangkat alisnya dan menatap mertuanya itu dengan menantang,
"Saya tidak perduli, jika kalian berani mengasari saya maka saya akan membalas sepuluh kali lipat dari apa yang kalian lakukan, ingat saya punya banyak bukti perbuatan kalian, jangan macam-macam padaku kalau tidak mau masuk penjara".
Rania menghempaskan tangan itu dengan keras dan kasar sehingga sang mertua terhuyung dan ditangkap oleh kedua anaknya.
"Kalian membuatku kehilangan kesabaran, jadi bersiaplah dicari oleh polisi, aku pasti akan memasukkan kalian kesana".
Ketiganya melotot menatap Rania dengan horor karena ketakutan.
"Persetan dengan manusia-manusia tidak tahu diri seperti kalian semua, satu keluarga tidak ada yang beres, menyebalkan".
Rania berjalan tegak meninggalkan ketiganya yang mematung melihat kepergiannya, wajah mereka pucat pasi karena Rania tidak main-main dengan ucapannya.
"Bagaimana ini, aku tidak mau masuk penjara, ibu sih kenapa mengasari Rania seperti itu". Kesal Ardi menatap ibunya.
"Iya Bu, bagaimana ini bukannya mendapat apa yang kita inginkan malah akan berakhir dipenjara, aku tidak mau Bu".
Dia ikut menatap sang ibu dengan wajah kesal sedangkan Ningsih sang ibu hanya mendengus kasar melihat tingkah keduanya.
"Ibu sangat marah dan kesal melihat tingkah Rania yang seenaknya pada kita padahal kita sudah memelas dan memohon tapi malah dia hina habis-habisan, ya habislah kesabaran ibu". Sungutnya tidak terima disalahkan begitu saja oleh kedua anaknya.
"Tapi jangan mengasari dia juga dong Bu, lihat sendiri bagaimana sekarang, kita dalam masalah besar, pokoknya jika terjadi sesuatu itu semua salah ibu".
Ardi meninggalkan ibunya untuk berusaha menyusul Rania sedangkan Adel hanya menghentakkan kakinya dengan kasar karena ketakutan
Ardi yang sudah sampai diparkiran hanya bisa menendang angin karena jengkel melihat mobil Rania telah pergi
"Sial sekali, bagaimana caranya bisa membujuk perempuan sialan itu".
Ardi berjalan kesal dan melihat adik dan ibunya mendekati nya
"Kak Rania sudah ketemu?". Tanya Adel dengan ketakutan.
"Ayo pulang, kalian semua menyebalkan".
Rania yang tengah berjalan ke lobi rumah sakit menghentikan langkahnya melihat seorang laki-laki berjalan kearahnya setelah sebelumnya memanggil namanya.
"Bagaimana kabarnya Rania, kamu sehat?". Sapanya dengan senyum tipis.
Rania mengerutkan keningnya melihat laki-laki ini karena tidak mengenalnya.
Melihat reaksi Rania lelaki itu kembali tersenyum tipis kemudian berkata kembali
"Kamu tidak mengenalku?
Rania semakin mengerutkan keningnya melihat lelaki ini, wajahnya terasa familiar tapi dia tidak tahu siapa
"Aku Rendra teman kamu saat SMA dan kuliah, kamu pasti tidak ingat karena kau sangat berbeda bukan?". Ucapnya dengan senyum lebar
"Rendra?". Cicitnya pelan.
Dia memang memiliki teman semasa SMA dan kuliah bernama Rendra tapi lelaki itu berbadan gemuk dan hitam tapi sekarang yang ad dihadapannya adalah lelaki tampan dan berbadan atletis.
Belum lagi jas mahal seperti pengusaha muda yang cukup sukses.
"Jangan bercanda tuan, sahabat saya itu sangat berbeda, banyak nama Rendra jadi jangan berbicara sembarangan ".
Dia masih tidak mengakui bahwa dihadapannya ini adalah Rendra sahabatnya itu.
"Dasar baby monkey, baguslah kamu tidak memanjat pagar lagi". ucapnya sambil mendorong jidat Rania sambil tertawa lebar
Mata Rania melebar sempurna, satu-satunya didunia ini yang mengatai dirinya seperti itu adalah sahabatnya dan yang tahu kejadian memalukan saat SMA itu hanya dia seorang.
"Jadi benar kamu Rendra si gentong?". Tanyanya memastikan kebenaran perkataannya barusan.
Rendra mendengus kesal, Rania tidak melupakan panggilannya selama ini.
"Kamu ini badan sudah bagus dan ganteng begini masih kamu panggil gentong, nyebelin banget, tidak ada panggilan yang lebih keren apa".
Rania langsung tertawa pelan tapi kembali menatap sahabatnya dengan tatapan Tidka percaya.
"Ternyata si gentong bisa tampan juga, sekarang kamu lumayan sekali". Ejeknya sambil menepuk pelan pundak sahabatnya itu.
Rendra kembali mendengus jengkel karena Rania masih memanggilnya seperti itu.
"Iyalah harus berubah dong, kamu juga sudah tidak memanjat lagi kan?, kamu juga sudah jadi dokter, keliatannya kamu banyak berubah?".
Rania tersenyum tipis kemudian mengangguk tersenyum lebar.
"Gimana kalau kita makan siang bareng, aku tadi juga ketemu Tania dirumah sakit ini, dia sedang berobat kelihatannya, dia belum keluar karena aku sedang menunggunya tadi".
Rania mengangguk mengiyakan perkataan sahabatnya ini, tidak ada salahnya jika mereka sedikit bernostalgia dengan masa sekolah mereka.
"Loh Rania, kamu dokter disini?".
Benar saja perempuan yang baru mereka bicarakan langsung menghampiri mereka karena melihat Rendra walau dia masih mengenali wajah Rania tapi dia takut salah lihat karena sahabatnya sangat berbeda.
"Iya Tan, kamu apa kabar?".
Rania memeluk sahabatnya itu dengan senyuman lembut, mereka memang saling mengenal dan lost kontak selama beberapa tahun setelah kelulusan itu dan dia mengambil spesialisnya diluar negeri dengan program beasiswa.
"Baik Ran, ya Ampun aku sampai pangling lihat kalian berdua yang sangat berbeda bahkan Rendra tadi hampir aku pukul karena menepuk pundakku seenaknya".
Rendra mendelik tidak terima sedangkan Rania langsung tertawa pelan karena reaksinya sama seperti Tania karena dia juga tidak mengenal Rendra dengan tubuh seperti ini.
"Kalian berdua ini meledek ku yah, mentang-mentang dulu aku segede gentong, kalian pikir aku tidak bisa ganteng". Sungutnya tidak terima.
Keduanya terkekeh geli melihat Rendra yang kesal kepada mereka karena meledek bentuk tubuhnya
"Ya ampun Ren, jangan begitulah, kami memang pangling, siapa juga yang bisa mengenali kamu jika tubuh kamu begini kan kami memang mengenalmu dengan tubuh besar mu, jadi jangan marah yah ". Ucap Tania santai.
Rania kembali tertawa pelan, kedua sahabatnya ini memang selalu bertengkar lucu jika bertemu dan itu tidak berubah.
"Sudahlah, ayo kita makan siang". Ajaknya mengapit kedua tangan sahabatnya itu.
"Oh iya Ran, suamimu kemana?".