Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 30 Bajak Laut Tiga Kodok
“Karang Bolong Buana ada di pantai Kademangan Kerangilo!” jawab Purwasaga akhirnya dengan berteriak.
Pasalnya, ketika dia berbohong tentang lokasi Gerbang Buana, Denyut Arep selalu tidak percaya dan melemparinya dengan matahari malam alias bulu babi. Kini, perut, dada, pundak hingga pipi kirinya ada matahari malam yang menancap.
Purwasaga merasakan rasa sakit yang berdenyut-denyut di setiap titik yang ditempeli matahari malam.
“Benaaar!” teriak Denyut Arep yang menjadi orang paling dibenci oleh Purwasaga saat itu. “Buang satu matahari malam!”
Purwasaga pun mencabut dan membuang matahari malam di pipi kirinya. Selain mengeluarkan darah dari bekas tusukan duri, pipi itu kini bengkak lagi.
Denyut Arep kembali bertanya dengan tangan kanan mencekik leher seekor ular hitam yang kepalanya ada segaris merah.
Kehadiran ular itu kian mengejutkan dan membuat Purwasaga panik. Dia kenal ular itu sebagai ular berbisa yang dapat melumpuhkan anggota tubuh seseorag yang dipatuknya.
“Pertanyaan kelima. Berapa lama kau di Negeri Elindra?”
“Satu purnama. Karena Karang Bolong Buana hanya terbuka saat purnama sempurna,” jawab Purwasaga.
“Benar!”
Tanpa menunggu diperintah lagi, Purwasaga kembali mencabut satu matahari malam.
Kali ini, para lelaki lain sudah jarang tertawa karena mereka menjadi serius mendengar cerita Purwasaga dalam bentuk jawaban kuis.
“Pertanyaan keenam. Keuntungan apa yang kau dapat selama di Negeri Elindra?”
Purwasaga yang sedang sangat benci kepada Denyut Arep segera berpikir licik di dalam kepalanya.
“Di Negeri Elindra ada pasukan yang bernama Pasukan Penghancur Samudera, tetapi sedang mati. Pasukan itu tidak terkalahkan. Siapa pun yang bisa membangkitkannya, maka dia akan menjadi tuan dari pasukan itu. Dan, wanita Elindra terlalu cantik-cantik. Aku menikah dengan satu wanita di sana,” cerita Purwasaga. Tidak apa-apa dia menjawab panjang demi menjerumuskan Denyut Arep.
Terbukti, Denyut Arep dan seluruh rekannya menunjukkan raut antusias. Namun, meski demikian, lelaki botak itu tetap berteriak, “Salah!”
“Jangan! Aku tidak mengarang cerita bohong!” teriak Purwasaga panik karena dia tidak mau dipatuk ular berbisa itu.
Denyut Arep yang hendak melempar ular yang dicekiknya dengan dua jari, kali ini menahan diri.
“Purwasaga, sepertinya kita perlu buat kesepakatan demi keselamatan nyawamu,” ujar Denyut Arep. Lalu teriaknya kepada anak buahnya, “Permainan selesai. Tarik Purwasaga ke kapal!”
Legalah Purwasaga mendengar perintah Denyut Arep. Pemimpin itu telah memasukkan ular berbisanya ke dalam keranjang yang digendong Lepet Sawer.
Singkat cerita.
Purwasaga kini berada di atas kapal, tetapi kondisinya masih digantung dengan kepala tetap di bawah. Dia hanya dipindahkan dari di atas air ke atas dek kapal. Namun, badannya kini bersih dari matahari malam, termasuk dua telinganya. Bahkan darah yang melumuri kulitnya sudah diseka oleh salah satu awak kapal. Tinggal belut cinta yang masih berlubang ria di pusarnya.
“Jika kau tidak mengerti tentang belut cinta, jangan coba-coba menariknya dengan paksa, bisa-bisa tenaga dalammu benar-benar hancur dan musnah,” ujar Denyut Arep yang berdiri di hadapan Purwasaga.
Memang, Purwasaga bisa saja menarik keluar belut cinta dari dalam pusarnya karena kedua tangannya tidak terikat.
“Jambang, panggil Ketua Kanan!” perintah Denyut Arep.
“Baik, Penjilat!” pekik seorang lelaki gendut laksana seorang prajurit perang sambil setengah mendongak memandang bidadari di atas awan.
Lelaki berambut gondrong keriting tersebut segera berbalik dan berlari menuju kabin utama.
“Purwasaga, apakah kau tahu siapa kami? Lihat bendera kebanggaan kami!” tanya Denyut Arep.
Purwasaga bisa melihat bendera bergambar raja kodok.
“Kalian bajak laut,” jawab Purwasaga.
“Benar,” ucap Denyut Arep. Lalu katanya kepada para anak buahnya yang berjumlah lebih dari dari tiga puluh orang, “Ayo tertawa!”
“Hahahak…!” tawa mereka yang sebagian berkumpul mengurung dan sebagian lagi tersebar di sejumlah titik di kapal bertiang dua tersebut.
“Dengan bangga kami memperkenalkan diri! Kami adalaaah…!” teriak Denyut Arep seperti seorang host orkes dangdutan.
“Bajak Laut Tiga Kodoook!” sebut semua penumpang kapal, berteriak kompak dan bersemangat. “Hahahak…!”
Semua anggota Bajak Laut Tiga Kodok tertawa bangga, termasuk si botak.
Sebenarnya Purwasaga ingin tertawa mendengar nama bajak laut itu, tetapi dia terlalu menderita untuk menikmati sesuatu yang lucu.
Duk duk duk!
Terdengar suara ketukan pada lantai papan kapal. Suara berirama yang sudah mereka hapal itu membuat yang tertawa berhenti bersuara.
Tiba-tiba, Denyut Arep turun berpose seperti kuda-kudaan, berdiri dengan kedua telapak tangan dan kedua lututnya, tapi kepalanya menunduk. Dia menyampingi posisi Purwasaga yang tergantung terbalik.
Duk duk duk!
Suara itu berasal dari ujung tongkat yang mengetuk lantai kapal saat pemiliknya sedang berjalan mendekati kerumunan.
Orang itu seorang lelaki separuh baya berperawakan gagah yang mengenakan jubah hijau gelap. Tangan kanannya memegang tongkat. Ada tiga cincin besar di jari tangan yang memegang tongkat. Langkahnya normal, tidak menunjukkan bahwa dia membutuhkan tongkat dalam berjalan. Tampak sabuknya terbuat dari perak yang berkilau jika terkena paparan sinar matahari, seperti saat itu. Orang itu memelihara brewok tipis. Kepalanya ditutupi oleh balutan tebal kain hijau gelap, sehingga penampilannya seperti seorang tokoh agama.
Orang berjubah hijau itu adalah pemimpin Bajak Laut Tiga Kodok. Dia disebut Ketua Kanan. Nama aslinya Dudung Kulo.
Di belakangnya Jambang berjalan mengawal seperti seorang asisten.
Ketua Kanan akhirnya berhenti di depan Purwasaga. Dia lalu duduk di punggung Denyut Arep yang bertindak seperti sebuah meja hidup. Barulah Purwasaga paham mengapa Denyut Arep tiba-tiba bersikap aneh dan tidak melanjutkan dominasinya.
Kini, Ketua Kanan duduk menghadap kepada wajah Purwasaga yang tebalik dengan rambut gondrong menjuntai.
“Namanya Purwasaga, Ketua,” kata Denyut Arep memberi tahu ketuanya.
“Iya, aku sudah tahu. Aku juga mendengar semua kata-katanya waktu kau siksa,” kata Ketua Kanan.
“Iya, Ketua. Baik, Ketua,” ucap Denyut Arep dengan nada yang begitu tunduk dan patuh.
“Seperti kenal,” ucap Purwasaga pelan tiba-tiba saat memerhatikan wajah Ketua Kanan dengan seksama.
“Apakah kau mengenal ketua bajak laut sepertiku, Putra Demang Bungi Pitam?” tanya Ketua Kanan dengan menyebut nama ayah Purwasaga.
Terbeliak kaget Purwasaga karena pemimpin bajak laut itu tahu nama ayahnya. Padahal tadi Purwasaga tidak sekalipun menyebut nama ayahnya tercinta.
“Bagaimana kau tahu nama ayahku, Ketua?” tanya Purwasaga.
Tak!
“Akk!” pekik Purwasaga tertahan saat kepalanya dipukul dengan tongkat. Tidak keras, tetapi Purwasaga refleks memekik.
“Aku tidak hanya mengenal ayahmu, tetapi aku juga tahu siapa kau, Kopong,” kata Ketua Kanan.
“Hah! Kau juga tahu nama kecilku?” pekik Purwasaga terkejut.
Keterkejutan Purwasaga itu justru membuat para anggota bajak laut ikut terkejut, termasuk Denyut Arep yang telah menyiksa Purwasaga. Mereka tidak menyangka bahwa ketua mereka ternyata kenal dengan tawanan bernama Purwasaga itu.
“Ampuni aku, Ketua Kanan. Aku tidak tahu bahwa Ketua ternyata mengenal Purwasaga!” ucap Denyut Arep menjadi panik dan takut.
“Tidak apa-apa, Penjilat,” ucap Ketua Kanan bijak, tetapi tongkatnya bergerak memukul pelan kepala botak lelaki yang didudukinya itu.
“Siapa sebenarnya kau, Ketua?” tanya Purwasaga.
“Kau tidak perlu tahu, Kopong,” kata Ketua Kanan dengan ekspresi datar-datar saja. “Meski aku mengenalmu dengan baik, tetapi aturan Bajak Laut Tiga Kodok harus tetap ditegakkan. Jika kau mati oleh kami, aku pasti mengabarkannya kepada ayahmu.”
Terbeliak sepasang mata Purwasaga mendengar kata “mati”. (RH)
bersatu kita teguh bercerai kita kawin lagi