NovelToon NovelToon
Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: lisxone

Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lastri hamil

Pov. Ibu Sundari

Hooeekk Hooeekk Hoeeeek

Pagi itu anakku, Lastri bangun lebih awal karena perutnya mual dan pagi ini sampai muntah‑muntah. Semalam, sebelum dia tidur sudah aku kerok dan perutnya sudah aku oles minyak angin. Semalam dia sudah lebih baik, tapi pagi ini dia kembali mual persis seperti wanita yang sedang hamil muda.

Aku mencoba menepis pikiran negatifku, tidak mungkin anakku akan seperti itu. Sebab Lastri itu anak yang polos, dia bahkan belum mempunyai pacar. Kuliahnya pun setiap hari tidak ada bolos.

Mendengar Lastri yang muntah‑muntah di kamar mandi, aku merasa kasihan. Mungkin gara‑gara tidur sekarang pakai kipas biasa bukan kipas angin jadi dia masuk angin. Dan makanan pun sekarang sudah tidak sebergizi dulu saat kami tinggal di rumah Hana.

" Bu, Lastri kenapa?."Tanya anakku Dimas yang baru bangun dan akan memakai kamar mandi tapi di dalam sana masih ada Lastri.

" Ibu juga tidak tahu, Dim. Dari semalam Lastri mual,tapi tidak muntah. Baru pagi ini dia sampai muntah, apa mungkin karena kipas angin ya Dim? Selama ini kita tidurkan pakai AC."Ucapanku sepertinya ada benarnya juga dan masuk akal.

Coba saja kalau di rumah kontrakan ini ada AC pasti hawa rumah ini pun akan lebih dingin dan sejuk. Tidak seperti sekarang, panas dan gersang yang setiap hari aku rasakan.

Cekllekkk

Lastri keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi seakan seperti tidak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya. Aku khawatir melihat keadaan anakku yang seperti mayat hidup itu.

" Kamu sakit, Las?."Tanya Dimas sambil memegang kening Lastri.

Brrruukk

Tiba‑tiba Lastri jatuh di depan kamar mandi, dan Lastri pingsan.

" Lastri, bangun nak. Kamu kenapa? Dimas ini bagaimana?."Tanyaku kepada Dimas.

" Kita bawa ke kamar dulu bu, coba oleskan minyak angin dulu. Jika tidak bangun juga nanti kita bawa ke puskesmas."Jawab Dimas dan aku hanya bisa mengangguk setuju.

Dimas tidak jadi ke kamar mandi, tapi Dimas mengangkat tubuh Lastri dan membawa masuk ke kamar. Aku sibuk mencari minyak angin atau balsem yang semalam aku pakai untuk mengerok Lastri.

" Kemana, semalam itu aku letakkan di sini?."Aku bingung mencari balsem dan minyak angin yang semalam aku letakkan di meja kecil di samping ranjang.

Sampai aku pun meraih tas Lastri yang ada di atas meja kecil itu. Siapa tahu benda itu ada di dalam tas Lastri. Aku menumpahkan isi tas Lastri tapi benda yang aku cari tidak ketemu juga.

" Mana bu, sini minyaknya."Ucap Dimas yang sudah tidak sabaran.

" Tidak ketemu, Dim."Jawab ku dengan panik.

Namun tiba‑tiba mata ku melihat benda kecil panjang yang sudah tidak asing lagi ada bersama barang‑barang Lastri yang aku keluarkan dari tasnya tadi. Dengan tangan gemetar aku mengambil benda itu dan betapa terkejutnya aku saat tahu benda itu bergaris dua merah.

" Apa ini milik Lastri? Lastri hamil?."Lirihku dengan tangan bergetar.

" Bu !! Ini apa maksudnya?." Ucapan Dimas yang keras akhirnya membangunkan Lastri.

Aku sangat berharap benda ini bukan milik Lastri, tapi kenapa benda ini ada di dalam tasnya Lastri.

" Ini alat tes kehamilan, Dim. Dan hasilnya positif, kenapa benda ini ada di dalam tas Lastri?." Jawab ku dengan suara bergetar.

Aku lihat Lastri yang sudah sadar, dia duduk sambil menundukkan kepalanya. Aku menatapnya tajam, begitupun dengan Dimas.

" Ini milik siapa?."Tanya ku dengan tegas.

" Maa.. maafkan Lastri, Bu."Jawab Lastri sambil terisak.

" Kamu hamil?."Tanya ku lagi agar semuanya lebih jelas.

" Iya bu."Jawab nya pelan.

Gggleederrr

Wajahku terasa panas seakan ada petir yang menyambar wajahku. Anak gadisku hamil ?

Pllaakk

Tangan ini sudah tidak bisa menahan amarahnya, tangan ku terayun menampar pipi remaja 18 tahun itu. Jika ku ingat, ini pertamakalinya aku menampar Lastri.

" Bodoh !! Kamu itu dikuliahin supaya pintar tapi bukannya pintar. Tapi malah bodoh ! Siapa laki‑laki yang sudah menghamilimu?."Tanya ku tidak sabar ingin tahu laki‑laki yang sudah menghamili anakku.

Jika dia pria dari keluarga kaya, setidaknya bisa menopang hidup Lastri. Tapi jika sebaliknya? Justru Lastri dua kali membuat ku malu.

" Apa pacarmu yang dekil itu yang sudah menghamilimu?."Tanya Dimas pelan namun tegas.

Pertanyaan Dimas membuat aku mengerutkan keningku. Pria dekil? Jangan‑jangan pria itu juga dari keluarga miskin? Ya Tuhan apa salah dan dosaku sehingga anakku bisa sebodoh ini.

" Jawab !!."Seru Dimas dengan lantang.

" Iya mas."Jawab Lastri sambil mengangguk pelan.

Bbrraaakk

Dimas keluar kamar sambil memukul pintu kamar yang tidak bersalah. Sepertinya Dimas tahu pria yang sudah menghamili Lastri.

" Bagaimana jika kakakmu Bayu tahu kamu hamil, Lastri ? Pasti dia sudah tidak akan mau lagi membiayai kuliah kamu. Dasar anak bodoh !! Bisanya bikin malu keluarga."Ucapku memarahi Lastri.

" Kalau Lastri membikin malu, bagaimana dengan mas Dimas dan mbak Sintia ? Bahkan video mereka sudah viral !! Lastri sampai malu bu, Lastri juga malu mempunyai kakak seperti mas Dimas yang cuma mementingkan nafsunya saja." Ucap Lastri dengan lantang.

Ucapan Lastri bagaikan skak mati untukku, aku terlalu menyalahkan Lastri tanpa mengingat kesalahan Dimas yang lebih parah dari ini.

" Bawa laki‑laki itu ke rumah."Ucap ku sebelum aku keluar kamar.

Kepalaku sakit, masalah di keluarga ini terus menerus berdatangan. Belum selesai masalah perceraian Dimas dan Hana, kini Lastri juga sudah berulah. Bayu juga sejak malam itu tidak pernah menghubungiku, aku mencoba menghubunginya nomornya tidak pernah aktif. Sebenarnya aku kasihan dengan anak itu, tapi Dimas juga anakku. Mereka sama‑sama anak kandungku.

Hana ?

Iya di saat seperti ini aku masih tetap menyalahkan Hana. Masalah yang ada itu awalnya juga dari Hana, anak itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya ini.

Awas kamu Hana !!

Melupakan masalah Lastri sesaat, hari ini Dimas menemui pengacara yang sudah dia sewa untuk memenangkan gugatan harta gono gini. Pengacara itu meyakinkan Dimas jika dia bisa membantu Dimas untuk memenangkan gugatan pembagian harta. Sampai Dimas pun berani membayar mahal dengan memakai sisa uang tabungannya dan tabungan perhiasan Sintia. Demi mendapatkan harta yang lebih banyak, Sintia rela sebagian perhiasannya di jual dan uangnya untuk membayar pengacara.

" Pak Dimas jangan khawatir, kita pasti akan memenangkan gugatan ini. Saya sudah biasa mengurus kasus seperti ini."Ucap pengacara yang bernama Lukas meyakinkan Dimas.

" Jika bapak berhasil memenangkan gugatan ini, bayaran bapak akan saya tambah."Ucap Dimas dengan percaya diri.

Tiba‑tiba mata Dimas melihat Hana yang sedang makan siang dengan Aldo. Sebenarnya di sana juga ada Vera, namun tubuh Vera tertutup oleh Hana.

" Pak, itu istri saya. Dia sedang makan siang dengan selingkuhannya."Seru Dimas menunjuk ke arah meja Hana dan Aldo.

" Kita ambil foto saja pak, ini bisa dijadikan bukti‑bukti di pengadilan nanti."Ucap pak Lukas memberikan saran.

" Ok pak."Jawab Dimas.

Dimas mulai mengarahkan kamera ponselnya ke arah meja tempat Hana dan Aldo makan. Dia mengambil beberapa foto Hana dan Aldo. Tanpa melihat keberadaan Vera.

Ini bukannya pria yang pernah bertemu di minimarket? Jadi selama ini diam‑diam Hana sudah berselingkuh dengan pria ini? Hemmm lihat saja Hana, foto ini bisa menjadi bukti‑bukti perselingkuhan kamu. Aku bercerai dari mu tidak masalah, yang penting setengah harta mu bisa aku miliki.*Gumam Dimas tersenyum dengan licik.

Dimas dan pengacara itupun meninggalkan tempat, Dimas harus kembali lagi ke tempat kerjanya. Baru juga beberapa hari bekerja sudah minta izin keluar saat jam kerja. Padahal saat jam makan siang begini cafe sedang sibuk‑sibuknya.

1
Heni Setiyaningsih
haaddeeuuh...alamat ini mah modelan suami mokondo/Left Bah!//Left Bah!//Left Bah!/
Anonim
hah dimas?? enggak ngerti nih cerita nya
Anonim
woy BISA NULIS GA SIH
Ma Em
Heran ya sama Bu Sundari dan menantu sintingnya si Sintia ga punya otak masa arisan dirumah orang , Hana buat mereka semua kapok agar TDK berani ganggu kamu lagi Hana bila perlu laporkan saja ke polisi agar tdk ganggu Hana lagi .
Anonim
BUNUH SAJA SEKALIAN SEMUANYA BUNUH
Anonim
BUNUH SEMUA NYA
Anonim
KAU YANG HARUS MATI ANJING
Ma Em
Akhirnya Hana berpisah juga dgn Dimas tanpa uang sepeserpun uang yg Dimas terima untuk permintaan Dimas yg katanya harta gono gini , benalu minta bagian harta sedangkan Dimas dan keluarganya Hana yg tanggung biaya hdp nya bahkan Domas tdk pernah memberikan nafkah untuk Hana , dasar Dimas muka tembok tdk punya malu Dimas cuma modal mokondo .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!