Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 030 : Iblis yang Dipuja pun Mulai Mengamuk
"Sial!!" umpatan itu berasal dari sesosok makhluk berkepala kambing. Dia tinggi besar, berdiri, berhenti tak berani melangkah.
Sosok ini, adalah iblis yang dipuja oleh Rossa. Sementara Rossa kini berada di belakangnya sambil membawa sesosok anak perempuan berkulit hitam terbakar. Dia adalah anak keenamnya Ijah.
"Grrrr..." sosok itu menggeram, dia benar-benar tidak mampu masuk ke dalam bangunan di depan sana. Sebab Ajian Dasa Aksara di sana sangat kuat pengaruhnya. Bangunan itu, dipagari oleh ilmu itu.
"Aku sudah menunggu lama untuk mendapatkan mereka! Rossa," teriak sosok iblis berkepala kambing. Sudah sangat lama dia menunggu mangsanya datang.
Dia yang murka segera menoleh kebelakang. Dia menghadap ke arah Rossa. Sementara Rossa dia hanya diam. Dia yang kini menjadi budak iblis pun tidak berani rasanya menjawabi apa yang dikatakan oleh iblis berkepala kambing.
"Bukankah katamu, jika mereka kemari, maka aku akan menyantapnya? Ke mana janjimu, Rossa!" tanya sosok iblis berkepala kambing itu kepada Rossa.
Rossa, kedua bola matanya yang merah meleleh itu. Menatap ke arah bangunan itu. Dia benar-benar geram sekarang. Jika begini, maka akan sangat gawat untuknya. Sebab, jika dia ingkar dari janjinya pada Iblis. Maka bayarannya adalah dirinya sendiri.
Pada saat itu, di tengah pertengkaran Rossa dan Iblis yang dia puja. Bocah perempuan berkulit hitam terbakar yang kini hampir separuh dari dirinya dimakan oleh Iblis pun tersenyum tipis.
Sebuah senyuman bangga, bahwa dia sebagai anak keenamnya Ijah yang tertumbalkan mampu membawa seluruh saudaranya ke tempat yang aman untuk menemukan serta bertemu dengan Ijah, ibu mereka.
Di lain tempat, Rachel juga mengetahui hal itu. Dia tersenyum. Dia kini berada di antara ilalang tinggi. Dia bersembunyi di sana. Dia bisa melihat dengan jelas perkelahian yang terjadi antara Rossa dan sosok iblis berkepala kambing itu.
"Hel, mari kita kembali! Kamu sudah cukup lama, loh keluar dari tadi!" kata Thoriq di belakang Rachel.
Rachel tidak menoleh ke arahnya. Justru dia hanya fokus ke arah Rossa. Sepertinya dia sangat menikmati perkelahian yang terjadi antara Rossa dan Iblis itu.
"Aku gak mau kembali, dulu!" kata Rachel. Thoriq mengernyitkan keningnya. Apa maksud Rachel ini? Kenapa dia tidak ingin kembali? Sementara dirinya sendiri di sini juga terancam!
"Kenapa kamu, gak mau balik?" tanya Thoriq kepadanya. Mendengar Thoriq yang tidak mau diam dan terus melempar pertanyaan.
Rachel yang kesal pun pada akhirnya membalikkan badannya ke arah Thoriq. Sehingga mereka berdua kini saling berhadapan satu sama lain.
"Thoriq!" panggil Rachel.
"Ya?" jawab Thoriq dengan segudang pertanyaan di dalam kepalanya.
Rachel segera menoleh ke arah bangunan itu. Dia menunjuk ke arah sana. Bangunan yang dimasuki oleh Farah juga seluruh temannya.
"Bangunan itu, bahkan bisa jadi tempat aku sembunyi. Sebab ilmunya Ijah menyelimuti bangunan itu! Aku sudah lama berada di alam ini. Aku terjebak sudah cukup lama. Ini pertama kalinya aku melihat jiwa hidup datang kemari. Aku rasa, tidak ada salahnya aku membantu mereka lagi!" kata Rachel menjelaskan.
Thoriq nampak pasrah mendengar itu. Rachel lebih tahu perihal alam sebelah, daripada dirinya.
Jadi, Thoriq memilih diam. Di situ, melihat Thoriq yang pasrah, Rachel pun terkekeh. Dia lalu membelai lembut puncak kepala Thoriq bak anak kecil rasanya sekarang.
"Bagus, anak baik memang!" kata Rachel dengan nada mengejek.
Thoriq yang diperlakukan seperti itu pun hanya menatapnya sambil menjawab.
"Dasar, menyebalkan memang!" kata Thoriq kepada Rachel yang membuat Rachel makin terkekeh rasanya.
Rachel menarik tangannya dari puncak kepala Thoriq. Sembari masih masih tersenyum. Sebelum Iblis berkepala kambing itu menyadari beradanya mereka. Rachel pun segera meraih tangan kanan Thoriq.
"Apa lagi sekarang?" tanya Thoriq, ketika tangannya dan Rachel saling terpaut satu sama lain. Rachel menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum lebar.
"Mari kita bantu mereka, Thoriq!" kata Rachel, dia menarik tangan Thoriq lalu pergi dari sana menuju bangunan yang dimasuki oleh Farah dan teman-temannya.