NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Matahari sudah berada tepat diatas kepala, sinarnya terik membakar kulit. Jalanan kota menguap, menciptakan hawa gerah yang membuat peluh bercucuran.

Namun meski begitu, tidak meluruhkan antusiasme penduduk Tiankeng dan sekitarnya untuk antri didepan menara Guangdong, padahal waktu makan siang baru saja dimulai.

Begitu pintu toko dibuka, kericuhan langsung terjadi. Customer yang didominasi para wanita itu berdesakan, saling berebut karena takut tidak kebagian.

Kakek Guang dan kedua cucunya kewalahan, sampai memaksa pita suara mereka harus bekerja ekstra, meraung frustasi berulang kali.

"Untuk sabun mandi dan shampo, harganya delapan ratus wen yang ukuran XL, enam ratus L, empat ratus lima puluh M, dan yang paling mini, paket hemat ini nilainya dua puluh lima koin."

Pada akhirnya, Bai Anshu memutuskan untuk memakai istilah lebih praktis dalam penyebutan ukuran sabun setelah mengorek ingatan pengetahuan abad modern.

Hal itu langsung disampaikan pada kakek Guang dan kedua cucunya ketika obrolan kesepakatan kerjasama.

"Semurah itu..?"

"Benda sebagus ini cuma delapan ratus koin..?"

"Tuan Guang, kau sedang tidak bercanda kan..?"

"Tidak masalah soal harga, selama hasilnya memuaskan berapa pun aku akan membelinya."

"Benar, lagi pula malahan bagus kan..? jadi kita bisa berhemat."

"Ya, kapan lagi mendapat barang istimewa dengan harga terjangkau."

Beragam reaksi yang sarat akan ketidak percayaan, meledak dari kerumunan pengunjung yang mengantri.

"Kalau sabun cuci harga dimulai dari tujuh ratus wen ukuran XL, lima ratus lima puluh koin L, dan empat ratus sen M. Yang paling kecil lima belas koin."

"Ada empat pilihan aroma untuk sabun mandi, Rose, Sandalwood, Teh Jasmine, dan Herbal." ucap Guang Meilan, membantu pembeli dalam memilih.

"Kalau shampo rambut dua pilihan aroma, untuk sabun cuci hanya satu saja." sambung gadis berwajah bulat itu.

Kakek Guang dan kedua cucunya bergantian menjelaskan setiap kali ada yang bertanya.

"Aku mau yang besar, masing-masing dua batang."

"Aku juga...!"

"Aku mau lima...!"

Satu per satu pelanggan mulai berebut menyebutkan orderannya.

"Tenang-tenang, sabun ini bisa awet sampai satu bulan asal saat menyimpan setelah digunakan tidak terendam air. Jadi tidak perlu membeli banyak hanya karena takut kehabisan, sebab akan ada stok sabun dan shampo disetiap harinya." teriak kakek Guang, sampai naik kekursi untuk menertibkan keanarkisan para mahluk terkuat dibumi itu.

Helaan nafas kelegaan dihempaskan serempak oleh para pengunjung.

Setelah informasi itu, suasananya mulai kondusif. Pelanggan rapi berbaris mengantri, tertib dan patuh.

Lambat laun bukannya berkurang, pembeli malah kian banyak bejubel. Satu pergi sembari memeluk posesif sabun, lima orang datang menyerbu.

Dalam waktu singkat, tidak lebih dari satu jam. Semua sabun ludes terjual sampai keukuran paling mini.

Panen besar, menara Guangdong berhasil meraup laba tiga kali lipat.

Kakek Guang menghela nafas penuh kelegaan. Setelah ini ia berencana mendatangi makan istri dan putrinya untuk membakar uang kertas karena berhasil mempertahankan bisnis keluarga.

"Kakek, ini keuntungan terbanyak yang pernah kita dapatkan." ucap bergetar Guang Meilan.

Netra lentik gadis remaja itu memanas, menatap tumpukan perak dan tembaga dikotak uang.

Guang YuLong mengangguk "bahkan melebihi keuntungan toko ini selama satu bulan."

"Kita harus berterimakasih pada Shu-ya dan A-zi, karena sudah menyelematkan bisnis warisan nenek dan ibu kalian ini."

"Beruntungnya menara Guangdong yang dipilih mereka, coba kalau Yuelou atau Mengzui----

Guang Yulong meringis, hanya dengan membayangkan kemungkinannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri.

"Kakek yakin awalnya mereka menawarkan sabun ini kesana, tapi kalian tahu sendiri bagaimana sifat pemilik Yuelou dan menara Mengzui kan..?"

Guang Meilan berdecih "benar, kalau dilihat dari penampilan Shu-ya dan A-zi tadi, pasti mereka diperlakukan tidak baik."

"Ada untungnya sikap angkuh mereka itu, jadi Guangdong bisa mendapatkan keberuntungan ini." sahut kakek Guang terkekeh.

Kedua cucu pun ketularan, tertawa kecil lalu menghela nafas penuh kelegaan.

"Tapi kenapa tidak kemenara Yushi..?" tanya aneh Guang Meilan.

Kakek dan Guang Yulong, menggedikkan bahu bersamaan sebagai tanda tak mengerti.

Sementara itu diruang pribadi lantai tiga restoran Houlei, tiga pria tampan berbeda usia baru saja selesai makan siang.

Setelah melihat aksi gadis kecil menghajar dua penjaga berbadan kekar, lalu dengan cerdiknya mempromosikan prodak. Rasa penasaran mereka kian bertambah besar, begitu menyaksikan antrian panjang dimenara Guangdong.

"Jadi ini yang dibawa oleh kakak beradik itu..?" kata Murong Canfeng, menatap tiga kotak sabun yang dibeli oleh pengawal pribadinya.

"Benar tuan muda..!"

"Kenapa sedikit sekali..?" tanya ketus Liu Hongli.

Yan si pengawal melirik sahabat tuannya itu "ini stok terakhir tuan muda..! jika kau menginginkannya, besok bisa datang kembali."

Murong Canfeng mengendus wangi sabun mandi "aromanya---

"Menurut nona muda Guang, sandalwood ini yang cocok digunakan oleh kaum pria, selain yang wangi herbal."

Murong Canfeng mengangguk berulang kali "semakin menarik..!"

Murong Canfeng tersenyum tipis sejuta makna. Seorang gadis kecil yang kemungkinan putri petani tanpa pendidikan, tapi bisa memilih wewangian mewah serta memiliki bakat beladiri.

Jelas itu sesuatu yang tidak biasa, dan Murong Canfeng belum pernah menemukannya.

"Hah, bagaimana reaksi pemilik menara Yuehao, Yushi dan Mengzui, jika tahu orang yang mereka remehkan tadi ternyata membawa harta karun." Liu Hongli tergelak lalu tersenyum miring.

Murong Canfeng menyeringai "ingat, pemilik Yuehao itu calon mertuamu."

Kontan saja, Liu Hongli langsung meludah ketanah, menatap jijik sahabatnya.

"Kalau pun didunia ini hanya ada satu tersisa wanita dan itu dia, aku lebih baik melajang sampai mati."

Murong Canfeng dan pengawal Yan terkekeh.

Ditempat berbeda, tepatnya didua toko yang mengusir Bai Anshu dan Bai Hanzi. Mendung penyesalan tebal menaungi wajah-wajah angkuh yang kini berubah warna.

Pemilik toko Yuelou dan Mengzui meraung sedih, menangis dipojokan sembari menatap iri keramaian Guangdong.

Lain cerita dimenara Yushi.

"Sialan, kenapa kalian usir kedua bocah itu..?" raung pemilik toko Yushi, menunjuk para pekerjanya.

Empat karyawan toko menunduk dalam, bahu mereka bergetar cemas. Jika sampai dipecat, habislah sudah.

"Siapa yang melayani kedua bocah itu..? siapa yang sudah lancang mengusir mereka tanpa seizinku..?"

Bruk

Si pelayan yang dimaksud jatuh bersimpuh dengan airmata bercucuran.

"Ampun nyonya, aku melakukannya karena permintaan nona muda Yang. Dia tidak akan mau berbelanja lagi jika tidak mengusir mereka."

"Kau----

Tuding nyalang pemilik toko, tepat kewajah karyawannya itu.

Sementara tiga pelayan lainnya, melirik sengit pada rekan kerjanya yang memang selalu bersifat angkuh dan semena-mena.

Pemilik toko pergi kekasir, mengambil uang lalu melemparnya pada gadis pelayan angkuh.

"Ini hari terakhirmu bekerja dimenara Yushi, sekarang kemasi barang-barangmu."

"Nyonya, ampun, tolong jangan lakukan ini..!"

"Pergi...!"

Gadis pelayan merangkak, menyentuh kaki majikannya.

"Nyonya, tolong berikan aku kesempatan. Ini semua karena nona muda Yang, aku----

"Pergi..!" teriak pemilik toko, menendang pelayannya itu.

"Nyonya-----

"Penjaga, seret dia keluar...!"

Teriakan gadis pelayan diabaikan, pemilik toko teramat murka sampai nafasnya berantakan dengan wajah merah padam.

"Lain kali kalau nona muda Yang datang dan mengajukan permintaan tidak masuk akal, panggil aku. Biar aku yang mengurus gadis sombong itu."

"Baik nyonya...!"

1
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
Dewiendahsetiowati
kayak dikit deh authornya nulis,apa ceritanya bagus jadi gak sadar sudah habis bacanya😭😭
SENJA
bagus jangan kasih kendor
Erna Fkpg
nah kan nyesel dikasih bisnis besaralah meremehkan karena pakaian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!