NovelToon NovelToon
Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Angst
Popularitas:32.4k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.

Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.

Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.

Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.

Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 16

Riven menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri dari kursinya. Ia menegakkan punggung, menolak untuk terlihat gentar di bawah tekanan ratusan kilo ekspektasi.

Matanya yang tajam menatap satu per satu wajah yang duduk mengitari meja panjang itu.

Rahangnya mengeras, menyembunyikan gemuruh emosi yang berkecamuk di dalam dada. Seluruh pemandangan itu terpantul jelas di netra Riven.

Wajah-wajah penuh senyum palsu, tatapan menilai yang sinis, dan topeng kepatuhan yang dipasang para direktur serta pemegang saham. Riven tahu, mereka bukan sekadar rekan kerja. Suatu hari nanti, ketika takhta Chamron benar-benar jatuh ke tangannya, merekalah orang-orang yang harus ia takhlukkan, ia kendalikan, dan ia pimpin di bawah telapak tangannya.

“Sebelum menggantikanku sepenuhnya,” lanjut Thomas, memecah keheningan dengan nada bicara yang mutlak, “Riven akan menjabat sebagai jajaran eksekutif terlebih dahulu. Ini adalah masa pembuktian, masa percobaan, dan sebuah ujian terbuka untuk menunjukkan apakah dia memang layak memiliki hak atas posisi tertinggi di perusahaan ini.”

Thomas memutar tubuhnya, mengalihkan pandangan tajamnya langsung ke arah Riven. Tatapan itu tidak mengandung kehangatan seorang ayah, melainkan tuntutan dari seorang iblis yang kejam.

“Di Chamron, nama besar keluarga tidak akan pernah cukup untuk membeli takhta. Kemampuan, hasil nyata, dan ketangguhan adalah satu-satunya mata uang yang berlaku. Hal itulah yang akan menentukan apakah seseorang pantas duduk di kursi ini, atau terlempar keluar dari ruangan ini.”

Kalimat terakhir Thomas menggantung di udara seperti sebuah ancaman yang nyata.

Kalimat itu bukan hanya sebuah maklumat bagi para direktur agar tidak meremehkan putranya, melainkan sebuah belati peringatan yang ditujukan langsung ke jantung Riven. Thomas sedang menegaskan, di dunia ini, kegagalan berarti kehancuran, bahkan bagi darah dagingnya sendiri.

Jam-jam berikutnya bergulir lambat dalam atmosfer rapat yang menguras energi.

Pada dasarnya, agenda hari itu adalah ajang diplomasi untuk memamerkan sang pewaris baru kepada jajaran direksi dan para pemegang saham.

Riven sejatinya bukan tanpa pencapaian, ia telah membuktikan taringnya dengan memimpin perusahaan cabang di Jepang hingga mencetak kesuksesan besar.

Namun, di bawah atap Chamron Group, prestasi di negeri seberang rupanya belum cukup untuk menghantarkannya langsung ke takhta tertinggi.

Sebelum ia bisa menduduki kursi kepemimpinan mutlak di perusahaan induk, Riven dipaksa meniti jembatan pembuktian sekali lagi.

Para kapitalis di ruangan itu tidak butuh reputasi di atas kertas, mereka menuntut bukti nyata yang bisa langsung menggemukkan pundi-pundi saham mereka.

Menjelang siang, rapat yang melelahkan itu akhirnya mengetuk palu penutup. Riven segera diarahkan menuju lantai atas, tempat ruang kerja barunya berada.

Begitu pintu ganda ruangan itu terbuka, sebuah ruang kerja yang luas dan masif menyambut kehadirannya. Kemewahan yang dingin terpancar dari dinding kaca yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, menyuguhkan panorama megah lanskap kota yang membentang tak bertepi di bawah sana.

Di dalam ruangan, seorang sekretaris wanita sudah berdiri dengan sikap anggun, membungkuk hormat menyambut sang atasan baru.

“Perkenalkan Tuan, saya Olivia Harrison, sekretaris anda.” Sapanya.

“Hm.”

Sementara itu, Oakley yang sejak tadi mengawal dari luar ruang rapat, kini melangkah masuk dan mengambil posisi beberapa meter di dekat meja kerja Riven, pria paruh baya itu memberi kode agar Olivia keluar.

Oakley menjaga jarak aman yang profesional.

Riven melangkah mendekati meja kerjanya. Di atas permukaan meja marmer itu, sebuah plakat marmer hitam legam berdiri kokoh dengan ukiran nama yang tegas dan rapi.

Riven Daylon Chamron.

Riven mengulurkan tangan, menyapu permukaan dingin marmer itu dengan ujung jarinya selama beberapa detik. Ada beban tak kasatmata yang tersalurkan dari sana.

Riven kemudian berbalik, berjalan perlahan mendekati dinding kaca, lalu melemparkan tatapannya ke luar, mengunci pandangan pada puncak-puncak gedung di kejauhan yang lebih rendah. Kedua tangannya terbenam dalam ke saku celana.

“Oakley,” panggilnya, dingin tanpa menoleh.

“Ya, Tuan Muda.”

“Bukankah sekarang saatnya kau menentukan pilihan?”

Kening Oakley berkerut samar. “Pilihan mengenai apa, Tuan Muda?”

Riven tidak mengalihkan pandangannya dari kaca. “Mengenai di mana kau akan berpijak. Tetap menjadi mata-mata ayahku, atau bersumpah setia kepadaku.”

Seketika itu juga, udara di dalam ruangan mendadak membeku. Keheningan yang pekat merayap di antara mereka. Oakley terdiam cukup lama, menimbang bobot dari pertanyaan yang sarat akan jebakan itu, sebelum akhirnya bersuara.

“Anda bahkan belum menggantikan ayah Anda, Tuan Muda. Posisi saya tidak akan menguntungkan jika saya berdiri terlalu cepat di pihak Anda

Riven tersenyum tipis, paham, tidak terkejut. “Baiklah. Jawabanmu sudah cukup jelas.”

“Namun...” Oakley menggantung kalimatnya.

Kali ini, Riven memutar tubuhnya, menatap langsung.

“Saya tidak akan terang-terangan mendukung Anda,” lanjut Oakley dengan nada yang sangat hati-hati.

Sudut bibir Riven terangkat tipis, membentuk lengkungan seringai yang samar. Ia menangkap maksud tersirat di balik kalimat itu. Selama ini Oakley adalah perpanjangan mata dan telinga Thomas yang bertugas menyaring setiap gerak-gerik Riven. Namun mulai detik ini, kesetiaan Oakley mulai bergeser.

Tidak semua informasi akan sampai ke telinga sang ayah, atau setidaknya, tidak tanpa melalui penyaringannya terlebih dahulu. Ketukan tegas di pintu memotong konspirasi senyap mereka. Sang sekretaris dengan sigap membukanya, dan sosok Thomas Chamron melangkah masuk dengan pembawaan tenangnya yang mengintimidasi.

Riven memutar tubuh sepenuhnya, menghadap sang ayah.

“Bagaimana kantor barumu? Kau suka?” tanya Thomas. Pria paruh baya itu berjalan santai menuju sofa kulit di sudut ruangan, lalu mengempaskan tubuhnya di sana.

“Ya.” Riven melirik sekeliling ruangan sekilas. “Kurasa ini lebih dari cukup.”

Namun, nada bicara Riven yang terlalu datar tidak bisa menipu telinga tajam Thomas. Ada riak tidak puas yang sengaja ia sembunyikan.

“Kenapa?” selidik Thomas, matanya menyipit.

Riven menghela napas pendek, memutuskan untuk langsung menusuk ke inti masalah. “Kurasa aku sudah cukup mampu, Ayah.”

Tatapan Thomas seketika menajam. “Untuk menggantikanku?”

“Ya.” Riven membalas tatapan ayahnya tanpa ada riak ragu di matanya. “Lalu kenapa aku masih harus merangkak dari bawah lagi?”

Thomas menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa, tampak menikmati riak pemberontakan putranya. “Karena mereka membutuhkan pembuktian yang tidak bisa diganggu gugat.”

Thomas mengedikkan dagunya ke arah lantai bawah, merujuk pada ruang rapat yang baru saja mereka tinggalkan. “Mereka semua masih meragukanmu.”

Rahang Riven mengeras, menahan emosi yang mulai tersulut. “Tapi Ayah mengatakan aku akan langsung mewarisinya begitu aku menginjakkan kaki di sini

Thomas mengangguk pelan. “Dan janji itu tetap berlaku.”

“Jika?” tuntut Riven.

Thomas menatap lurus ke dalam manik mata putranya, memberikan tekanan psikologis yang berat. “Jika dalam satu tahun ke depan, kau mampu menunjukkan hasil kerja yang membuat tidak ada satu orang pun di perusahaan ini bisa membantahmu.”

Ruangan itu kembali diselimuti kesunyian yang mencekam.

Riven menelan ludah dengan susah payah. Untuk sesaat, rasa kecewa yang getir menjalar di dadanya.

Perjalanan panjang dan berdarah-darah yang ditempuhnya selama ini seolah menguap begitu saja. Keberhasilan di cabang Jepang, latihan fisik dan mental yang menyiksa selama bertahun-tahun, seluruh hidupnya yang bahkan tak pernah ia jalani sesuai kemauannya sendiri, serta seluruh pencapaian yang ia raih dengan memeras keringat, ternyata semua itu belum cukup untuk membeli kepercayaan orang-orang.

Dan sekali lagi, ia dipaksa berdiri di garis awal, bersiap menaklukkan badai dari bawah demi sebuah pengakuan.

Bersambung

1
Hanima
Lanjut Rivvv
Hanima
😍😍
evanindia
paham, paham tpi d blkang lain lagii nihh c angie....
evanindia
iya wajar klo loyal am adek sndri mh....
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
afifah
Seru
evanindia
panggilan utk kaka.a luar biasa nii elana 😄
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor
wiliss
salting kk?
wiliss
😅😅
wiliss
perhatian bgt ya riv...
Rudy satria
nama "musang"begitu cocok untuk riven emak kelakuannya kaya musang🤣🤣🤣
Rahmat Soiku: bls apaan sih g terbaca dilayar hp
total 11 replies
Rudy satria
antara Maruk dan rakus beda dikit ya Riv,tapi entah kenapa dari awal nggk respek Ama pasangan yang satu ini,bang author bisa nggk sih di ganti alurnya tentang Gavin dengan cwe yang di jodohkan 😔😓
evanindia: wow baru tau gue sejak kapan dy ilang arah 🤣
total 26 replies
Rudy satria
boleh nggk si bilang" KAMU ITU MURAHAN RIF DUAKALI KETEMU DI RAYU DIKIT LANGSUNG BILANG SAYANG" kesel aku😓
afifah: aku mengakak so hard denger kata murahan🙏🤣
murahan itu kalau gonta ganti pasangan terus cowo nya mokondo miskin . ini gentle gini dikata murahan. tolong ya allah lulusan apa kak sskolahnya? 🙏🙏🙏
lagi pula ini cerita tidak tahu alurnya di percepat atau nggak. terus kalau boleh tanya kenapa lama kelamaan komenn nya nggak nyambung dan nggak mutu? nggak berdasar 🥲
total 4 replies
wiliss
merasa di cintai bgt sm riven aku klo jd angie
wiliss
😋😘😘😘😘
wiliss
gk papaa bang santae aja
Hanima
Lanjuttt
evanindia
Riven kerja² jgn kokopan trus am angie 🙊🙊
evanindia
ps tmen q juga samaa wehh 0 4x 😵😵😵
Hanima
🔥🔥
Hanima
Lanjut Akak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!