Follow IG @samsularipin_101
"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".
Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.
Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.
Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Merah di Atas Meja Bundar
Sinar matahari pukul tujuh pagi menembus tirai tipis kamar Jevandra, membawa siluet bayangan gedung-gedung tinggi Jakarta yang tampak seperti pilar penjara. Jevandra terbangun dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya. Semalam ia nyaris tidak memejamkan mata; lembar-lembar kertas kesepakatan baru yang ditandatanganinya terus menari-nari di langit-langit kamar, mengingatkannya bahwa tujuh persen sahamnya kini telah berpindah tangan ke dalam cengkeraman Alana.
Ia melangkah ke kamar mandi, mengguyur wajahnya dengan air dingin berulang kali demi mengusir sisa-sisa kekalahan semalam. Saat ia keluar dengan setelan kemeja abu-abu gelap dan jas yang sudah rapi, aroma kopi hitam yang kuat sudah menyeruak dari arah dapur bersih.
Alana duduk di sana. Ia mengenakan gaun terusan formal berwarna putih gading dengan potongan leher persegi yang tegas, kontras dengan rambut hitamnya yang kali ini dibiarkan jatuh bergelombang di bahunya. Di depannya, tablet dan tumpukan berkas analisis pasar Temasek Capital sudah terbuka.
"Kopimu," ujar Alana tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet. "Tanpa gula, seperti biasa."
Jevandra menarik kursi di seberang Alana, meraih cangkir porselen itu, lalu menyesapnya perlahan. Rasa pahit yang pekat membakar lidahnya, sedikit membantunya mengumpulkan kembali serpihan fokus yang berserakan.
"Rapat jam delapan, kan?" tanya Jevandra, suaranya masih menyisakan serak khas bangun tidur.
"Tepat," Alana menutup tabletnya dengan ketukan pelan. "Tim analis Singapura meminta simulasi tambahan mengenai mitigasi risiko lingkungan untuk proyek Green District kita di Bekasi. Papa sudah menyerahkan kendali presentasi ini sepenuhnya kepadamu. Dan ingat, Jev... jangan ada satu pun keraguan di suaramu nanti. Mereka bisa mencium ketakutan dari jarak satu mil."
Jevandra menaruh cangkirnya kembali ke tatakan dengan bunyi denting yang agak keras. "Kamu tidak perlu mengajari saya cara menghadapi investor, Alana. Saya sudah melakukan ini sebelum kamu memutuskan untuk ikut campur dalam urusan korporasi."
Alana menatap Jevandra lurus-lurus, matanya menyipit tipis. "Kamu melakukannya sebelum kamu hampir menghancurkan segalanya karena seorang wanita, Jevandra. Jadi, anggap saja ini adalah pengingat ramah dari pemegang tujuh persen saham barumu."
Rahang Jevandra mengeras. Ia memilih bangkit, meraih tas kerjanya, dan melangkah mendahului Alana menuju lift privat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
.
.
.
Pratama Tower di pagi hari selalu sibuk, namun suasana di lantai eksekutif terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Saat Jevandra dan Alana keluar dari lift, beberapa staf divisi pemasaran yang berpapasan dengan mereka tampak menundukkan kepala lebih dalam dari biasanya. Rumor tentang penangkapan Hendra sore kemarin jelas telah menyebar bak virus, menciptakan atmosfer paranoia di kalangan karyawan.
Di depan ruang rapat utama, Baskoro Pratama sudah berdiri dengan kedua tangan terbenam di saku celananya. Begitu melihat kedatangan keponakannya, sebuah senyuman asimetris terkembang di wajah pria paruh baya itu.
"Selamat pagi, CEO muda kita," sapa Baskoro, nadanya terdengar ramah namun sarat akan sarkasme. Tatapannya kemudian beralih ke Alana, berkilat penuh kekesalan yang disembunyikan dengan rapi. "Dan... keponakan menantuku yang luar biasa cerdas. Selamat pagi, Alana."
"Selamat pagi, Paman Baskoro," jawab Alana dengan senyuman anggun tanpa cela. "Bagaimana tidur Paman semalam? Saya harap Paman tidak terganggu oleh berita... penertiban internal yang kami lakukan kemarin."
Baskoro tertawa kecil, meskipun urat di pelipisnya sedikit menegang. "Tentu saja tidak. Penjahat seperti Hendra memang harus dibersihkan dari perusahaan. Hanya saja... aku tidak menyangka kalian berdua bisa bergerak secepat itu. Sungguh kombinasi yang serasi."
"Kami hanya memastikan tidak ada duri yang merusak karpet merah untuk investor kita, Paman," sela Jevandra, suaranya berat dan mengintimidasi, mencoba mengambil kembali wibawanya yang sempat runtuh. "Permisi, rapat akan segera dimulai."
Mereka melangkah masuk ke ruang rapat. Di dalam, tiga perwakilan Temasek Capital dipimpin oleh Mr. Tan sudah duduk di sisi kanan meja mahoni, sementara Bimo Pratama duduk di ujung meja dengan wajah tegasnya.
Rapat berjalan dengan tensi tinggi. Jevandra langsung mengambil alih panggung. Di depan layar proyektor besar, ia memaparkan angka-angka margin keuntungan, grafik pertumbuhan makro, hingga proyeksi serapan pasar dengan kelancaran seorang profesional sejati. Ego predatornya kembali bangkit saat ia berhadapan dengan angka dan logika bisnis.
Namun, di pertengahan presentasi, Mr. Tan tiba-tiba mengangkat tangannya, menginterupsi penjelasan Jevandra.
"Maaf, Mr. Jevandra," cetus Mr. Tan dalam bahasa Inggris beraksen Singapura yang kental. "Kami baru saja menerima laporan sekilas dari tim audit kepatuhan kami di Jakarta setengah jam yang lalu. Ada catatan mengenai fluktuasi dana tak terduga di divisi pemasaran Pratama Group dalam beberapa bulan terakhir. Apakah ini ada hubungannya dengan... pergantian mendadak kepala keuangan divisi tersebut kemarin sore?"
Suasana di dalam ruangan seketika membeku. Bimo Pratama langsung menoleh tajam ke arah Jevandra, matanya menyipit penuh selidik. Di sudut lain, Baskoro tampak bersandar santai di kursinya, menyembunyikan senyum kemenangannya. Baskoro tahu, meskipun data digital Hendra telah dibekukan oleh Alana, laporan audit awal yang sempat dikirim Hendra ke pihak ketiga sebelum tertangkap kini telah sampai ke tangan investor.
Jevandra merasakan setitik keringat dingin muncul di tengkuknya. Logikanya berputar cepat mencari alasan korporat yang masuk akal, namun ia tahu, jawaban yang salah akan langsung membuat Temasek menarik diri dari nota kesepahaman.
Sebelum Jevandra sempat merespons, suara ketukan pelan pena di atas meja mengalihkan perhatian semua orang. Alana menegakkan duduknya, menatap Mr. Tan dengan ketenangan yang luar biasa.
"Jika Anda mengizinkan saya akan menjelaskan, Mr. Tan," ucap Alana dengan bahasa Inggris yang sangat fasih dan nada suara yang meyakinkan. "Fluktuasi dana yang Anda lihat sebenarnya adalah bagian dari strategi restrukturisasi rahasia yang dirancang langsung oleh Bapak CEO dan saya sendiri."
Mr. Tan menaikkan sebelah alisnya. "Restrukturisasi rahasia?"
"Benar," lanjut Alana tanpa ragu sedikit pun. "Kami mendeteksi adanya kebocoran sistematis yang dilakukan oleh oknum internal—yaitu mantan kepala keuangan kami, Hendra. Untuk menjebak dan mengumpulkan bukti hukum yang kuat tanpa membuat sang pelaku curiga, Jevandra sengaja membiarkan aliran dana tersebut bergerak ke akun penampung sementara di bawah pengawasan firma hukum keluarga Wijaya. Tindakan kemarin sore adalah eksekusi akhir dari operasi pembersihan ini."
Alana membuka tabletnya, menekan beberapa tombol, lalu mengirimkan sebuah berkas digital langsung ke layar tablet milik Mr. Tan. "Di sana Anda bisa melihat laporan keuangan tandingan yang sudah diaudit oleh firma independen kami, yang menunjukkan bahwa seluruh dana korporasi telah berhasil dipulihkan secara utuh tanpa ada kerugian satu rupiah pun bagi perusahaan."
Jevandra menahan napasnya. Berkas yang dikirim Alana adalah berkas aset pribadi Jevandra yang semalam ia serahkan sebagai jaminan—dana yang digunakan Alana untuk menutup lubang penggelapan apartemen Silvia sebelum pihak luar menyadarinya. Alana telah menyusun alibi hukum yang begitu rapi, mengubah skandal perselingkuhan dan korupsi menjadi sebuah prestasi taktis manajemen risiko.
Mr. Tan membaca dokumen tersebut selama beberapa menit yang terasa seperti keabadian bagi Jevandra. Akhirnya, wajah pria Singapura itu melunak, dan ia mengangguk perlahan.
"Luar biasa," puji Mr. Tan, tampak sangat terkesan. "Manajemen krisis yang sangat rapi, Mr. Jevandra, Mrs. Alana. Anda berdua tidak hanya melindungi aset perusahaan, tetapi juga membuktikan bahwa kontrol internal Pratama Group berada di tangan yang sangat aman. Kami sangat menghargai transparansi ini."
Bimo Pratama mengembuskan napas lega yang disamarkan dengan senyuman bangga, sementara wajah Baskoro berubah menjadi abu-abu, menahan amarah yang luar biasa karena rencananya kembali digagalkan oleh Alana.
.
.
.
Begitu rapat selesai dengan kesepakatan bahwa nota kesepahaman akan ditandatangani minggu depan, para investor keluar didampingi oleh Bimo dan Baskoro. Ruang rapat besar itu kini menyisakan Jevandra dan Alana yang masih duduk di tempat mereka.
Jevandra melonggarkan kancing jasnya, menyandarkan punggungnya yang basah oleh keringat dingin ke sandaran kursi. Ia menatap Alana yang sedang merapikan berkas-berkasnya dengan gerakan tenang.
"Kamu... benar-benar memikirkan segalanya," ujar Jevandra, suaranya terdengar seperti bisikan yang lelah. "Kamu menggunakan uang pribadiku semalam untuk menambal laporan keuangan itu sebelum mereka sempat memeriksanya."
Alana tidak mendongak saat menjawab. "Aku sudah bilang, Jevandra. Aku tidak akan membiarkan aliansi ini hancur. Jika aku harus menggunakan uangmu untuk menyelamatkan mukamu di depan investor, akan aku lakukan."
Alana bangkit, memeluk map kulitnya di dada, lalu berjalan mendekati kursi Jevandra. Ia membungkuk sedikit, menatap suaminya dengan jarak yang begitu dekat hingga Jevandra bisa melihat pantulan dirinya yang tampak tak berdaya di bola mata wanita itu.
"Hari ini aku telah menyelamatkanmu dari jurang, Jevandra. Di depan papamu, di depan pamanku yang licik, dan di depan dunia bisnis," bisik Alana, suaranya sedingin es namun bergetar dengan intensitas kekuatan yang mutlak. "Tapi ingat... setiap kali aku menyelamatkanmu, harga dirimu semakin berkurang di hadapanku. Jangan pernah lupa siapa yang memegang kendali atas napas bisnismu sekarang."
Alana menegakkan tubuhnya kembali, lalu melangkah menuju pintu keluar dengan ketukan stiletto yang bergaung tegas di ruangan yang sepi itu.
Jevandra menatap kepergian Alana dengan rahang yang mengatup rapat. Ia adalah seorang CEO, seorang pria yang biasa mendikte jalannya pasar, namun kini ia menyadari satu kenyataan pahit: di atas meja bundar korporasi ini, ia telah menjadi tawanan dari permainan catur yang dirancang oleh istrinya sendiri, dan permainan itu baru saja dimulai.
Bersambung.......