Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Batas Gengsi yang Pecah
Lorong sempit di lantai dua kontrakan itu mendadak kehilangan suaranya. Kalimat terakhir Erni yang telak dan tanpa ampun menggantung di udara, menghancurkan seluruh wibawa akademis yang selama ini Linda agungkan di hadapan kedua wanita bawah tersebut. Wajah Linda yang biasanya putih bersih kini memerah padam, setitik keringat dingin muncul di pelipisnya saat ia menyadari bahwa posisinya tidak lagi berada di atas angin. Isu pemecatan dari kampus dan nama baik keluarga besarnya jauh lebih mengerikan daripada selembar rekaman suara digital yang ia simpan di dalam ponsel pintarnya.
Irmi melangkah maju satu tahap, tubuhnya yang sedang mengandung dua bulan bergetar hebat. Rasa mual yang sejak sore mengganggu perutnya kini kalah telak oleh luapan cemburu yang membakar dadanya. "Linda... jawab aku! Jadi benar kau membiarkan kepala tokomu masuk ke ranjangmu semalam?! Kau perempuan berpendidikan, tapi kelakuanmu lebih menjijikkan dari pelayan toko!"
Linda menatap Irmi dengan pandangan yang mendadak tajam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah tercecer di lantai keramik. "Tutup mulutmu, Irmi! Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di kamar ini! Jangan berani-berani mendikte hidupku hanya karena kau memegang uang sewa rumah ini!"
Dengan satu gerakan cepat penuh kepanikan, Linda menarik gagang pintu kamarnya, membanting pintu kayu itu hingga tertutup rapat, lalu memutar anak kunci dari dalam dengan bunyi klik yang nyaring. Langkah kakinya terdengar terburu-buru menjauh, mengurung diri di dalam kegelapan kamarnya sendiri tanpa mampu membalas satu kata pun. Gengsi tingginya runtuh total sore ini, meninggalkan ruang sunyi yang pekat di lantai dua.
Erni membalikkan badannya, menatap Irmi yang kini terduduk lemas di anak tangga teratas sambil menangis tanpa suara. Erni berjalan mendekat, lalu berdiri di hadapan janda kaya peninggalan mendiang pilot itu dengan tatapan menuntut yang tidak pernah kendur sejak kemarin malam.
"Lihat sendiri kan, Jeng Irmi? Suami yang kau banggakan dan kau beli dengan modal tokomu itu ternyata cuma pria murah yang bisa merangkak ke lantai atas saat kau tertidur pulas," sindir Erni, suaranya tidak lagi mengandung rasa empati sebagai sesama wanita hamil. Ia mengulurkan tangan kanannya tepat di depan wajah Irmi yang basah oleh air mata. "Sekarang, berikan aku kunci laci kasir untuk gerai minimarket yang kedua di ujung jalan kompleks. Aku mau jaminan penuh atas masa depan bayiku, sebelum dosen di atas sana berubah pikiran dan menghancurkan toko kita ke ketua RT."
Irmi mendongak, menatap istri sah Hino itu dengan sisa-sisa kekuatannya yang hancur berantakan. "Kau beneran sudah berubah menjadi monster yang rakus, Erni... kau memeras hidupku habis-habisan!"
"Aku hanya belajar dari kelakuanmu yang merebut suamiku dengan segelas jamu jahanam itu, Irmi," balas Erni dingin, jemarinya tetap terbuka menuntut kunci laci kasir tersebut. "Jadi, bagaimana? Mau menyerahkan kunci toko kedua, atau kita biarkan seluruh komplek ini tahu rahasia busuk di balik dinding dua lantai ini?"
***
Sementara perang batin membakar lantai dua kontrakan, di gerai minimarket depan, Hino sedang berdiri di balik meja kasir utama. Waktu menunjukkan pukul lima sore, dan suasana toko mulai ramai oleh kedatangan para pekerja pabrik yang pulang shift siang. Namun, fokus Hino tidak berada pada mesin pemindai barang harian. Tangannya dingin, dan bayangan pergulatan rahasia bersama Bu Hina di rumah besar seberang jalan tadi pagi terus berputar di kepalanya, berbaur dengan rasa bersalah pada Erni yang ia bius semalam.
Lonceng pintu masuk minimarket berdenting pelan. Seorang pramuniaga muda berjalan mendekati Hino dengan wajah yang agak cemas, lalu menyodorkan sebuah ponsel milik toko yang biasanya digunakan untuk menerima pesanan daring.
"Mas Hino... ada pesan teks masuk dari nomor rumah bawah," ucap pramuniaga itu setengah berbisik. "Sepertinya dari Bu Erni, tulisan pesannya kelihatan mendesak sekali."
Hino menyambar ponsel tersebut, membuka layar kunci, dan jantungnya mendadak berhenti berdetak selama beberapa detik saat membaca baris kalimat pendek yang dikirimkan oleh istri sahnya.
"Mas, pulang sekarang juga setelah shift tokomu selesai malam nanti. Jangan berani-berani naik ke lantai atas atau menemui Irmi. Kamar dosen pintar di atas sudah kubongkar sore ini, dan kau punya utang penjelasan besar tentang noda merah di lehernya sebelum daster baruku ini kukotori dengan darahmu."