Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26: Pintu
{Berjalan masuk ke kedamaian
Berjalan keluar ke ke ramaian
Melangkahi perbedaan pikiran
Terlepas dari kegundahan
Jalan menuju kenyamanan
Satu celah di keterbatasan
Tidak perlu melewati dinding
Hanya perlu diketuk
Mencari kunci untuk lewat
Tersamarkan oleh pembatas
Meraba seperti buta
Akhirnya memberanikan diri}
Setelah Cakra mandi, Marisa masuk ke kamar mandi bergantian dengan Cakra. Tapi cakra menyadari ada energi yang sedikit keluar dari pintu gua.
“Sebentar…”
“Energi…”
Cakra langsung masuk kedalam bagian gua itu, dirinya melihat bentuk pintu tersebut memancarkan energi sisa.
“Apakah pintu ini aktif dengan sendirinya?”
“Ini….”
Cakra keluar dari ruangan itu dirinya terlihat menyadari sesuatu, setelah itu Cakra melihat teleponnya bercahaya.
“Ini…”
“Notifikasi?”
“Apakah ada sinyal?”
Cakra grasak grusuk mengecek handphonenya dan menyadari tidak ada sinyal.
“Hmm aneh”
“Bagaimana notifikasi dari aplikasi menontonku bisa masuk?”
Cakra teringat sesuatu.
“Apa jangan jangan”
“Celah itu terhubung dengan duniaku?”
“Tapi… koordinatnya mungkin bisa diatur…”
“….”
“Ah yasudah lah”
“Aku lapar”
“Lebih baik aku memasak nasi”
Setelah menjemur handuknya Cakra pergi ke dapur saat melewati dapur Marisa sempat keluar.
“Eh” Marisa melihat Cakra yang akan menuju dapur.
“Kau ingin memasak apa?”
.
“Hmm” Cakra berbalik melihat Marisa yang masih dengan rambut basah.
“Kau mau apa?”
.
“Umm”
“Ayam goreng?”
.
“Ayam goreng ya….”
“Gak ada ayam sih”
“Tapi sepertinya aku punya burung burung seukuran ayam disini”
“Bagaimana kalau diganti itu?”
“Kurasa rasanya bisa kubuat semirip mungkin karena tekstur dan serat dagingnya mirip”
“Bagaimana?”
.
“Ummm” Marisa terlihat berpikir dalam.
“Boleh”
“Aku penasaran karena melihat di duniaku mereka makan sangat lahap”
“Baik kalau begitu daging itu saja”
.
“Ok tapi aku tak akan memakai tepung karena kulitnya kurasa akan lebih garing”
“Kebetulan aku mau test resep juga”
“Tunggulah di meja”
Cakra sebelum ke dapur berbelok ke ruang untuknya Bertani, dirinya mengambil 3 tomat dan 3 cabai.
“Hmm mungkin aku perlu mengambil daging daging itu”
Pilih daging dan potong ambil bagian dada dan paha bawa sebanyak 10 potong (pastikan kulitnya tidak dipisahkan karena ini sumber krispinya), dan rendam di rendaman garam atau penyedap rasa
Menanak nasi di dandang
Setelah merendam selama setengah jam mulai panaskan minyak
Saat minyak panas masukkan potongan satu demi satu, angkat ketika kulit terlihat garing dan warna sudah berwarna agak keemasan
Setelah semuanya selesai di goreng ambil tomat yang sudah di potong potong ke penggilingan jangan lupa bawang
Mulai giling, saat warna mulai terlihat bercampur merah dan hijau masukkan ke penggorengan dengan sedikit minyak
Setelah terasa matang angkat dan masukkan ke wadah saus.
Cakra melihat nasi yang sudah matang memindahkannya juga ke wadah, segera membawanya ke meja.
“Marisa ayo makan” Cakra memanggil Marisa.
Marisa duduk di meja, dirinya permisi dan mengambil satu potong ayam.
*Krauk suara Marisa menggigit ayam.
“Emmm”
“Ini enak.”
.
“Coba celupkan kesini” Cakra menyodorkan saus ke Marisa.
.
“Baik”
*Krauk, Marisa mengambil gigitan lain.
“Ini enak, rasanya pedas juga segar asam”
.
“Baguslah kau suka”
Cakra dan Marisa makan dengan lahap, Cakra juga merasakan makanan yang dibuatnya kali ini cukup enak.
“Hmmm”
“Walau aku gak menggunakan tepung tapi seperti yang kuduga ini lebih nyaman”
.
“Umm.. umm benar” Marisa menyetujui dengan mulut penuh.
Marisa terlihat makan dengan lahap, seperti ingin mengenyangkan diri sebelum panas dari makanan itu hilang.
“Makanlah pelan pelan” Cakra sedikit tersenyum melihat Marisa.
Setelah makan Cakra berbicara pada Marisa tentang pintu tersebut.
“Aku menemukan pintu tersebut terhubung ke duniaku”
“Tapi sepertinya itu perlu diatur…”
.
“Duniamu?” Marisa terlihat kaget.
“Apakah kita akan pergi ke duniamu?”
.
“Aku gak tau…”
“Sepertinya kita akan tau hanya jikalau kita bisa mengaktifkan pintu itu…”
“Marisa…”
“Apakah kita coba?”
Marisa terlihat berpikir dalam.
“Ayo kalau begitu”
“Aku juga penasaran” Marisa terlihat bersemangat.
Cakra dan Marisa berjalan ke ruangan gua dengan pintu yang terbuat dari batu didalamnya, ketika sampai Cakra dan Marisa berdiri di depan batu dengan cetakan tangan.
“Hmm biarkan aku coba mekanisme yang sama dengan yang pernah kulihat di fiksi”
Cakra memasangkan tangannya kedalam cetakan tersebut. Dirinya mencoba membayangnya akan dunianya sambil mengalirkan energinya.
*Bzzt, sedikit energi elektromagnetik terpancar di pintu itu.
Cakra masih terus fokus, tiba tiba ledakan elektromagnetik muncul yang menyebabkan sinar sangat terang menyelimuti ruangan.
“AAAAAH” Cakra dan Melisa merasa mata mereka sakit.
Setelah Cahaya mulai menghilang terlihat pintu batu itu berubah warna menjadi ungu cerah, selain itu terlihat energi distorsi ruang menyelimuti pintu batu.
“Ini…”
“Sepertinya ada tahapan”
Cakra tumbang, energinya yang harusnya gak kering malah mongering hanya untuk mengisi energi.
“Cakra.. Cakra!” Marisa terlihat panik.
Cakra tertidur kali ini gak memasuki dunia mimpi, dirinya hanya tertidur dengan mimpi yang random. Setelah tertidur selama sejam terlihat energi milik Cakra pulih dengan cepat hanya saja Cakra belum bangun. Satu jam setelahnya baru Cakra terbangun dengan Marisa yang duduk disampingnya.
“Kau sudah bangun?” Marisa mendekatkan wajahnya.
.
“Ah!” Cakra yang bangun sedikit kaget melihat wajah marisa didekatnya.
*Brak, kepala mereka terbentur.
“Aduh!” Cakra dan Marisa merasa sakit.
Mereka berdua menggosok kepala masing masing untuk menghilangkan rasa sakit. Cakra yang sadar pun bertanya pada Marisa.
“Apa yang terjadi?”
“Apakah kita berhasil?”
“Ah aku ingat masih hanya sedikit saja” Cakra memegangi wajahnya.
.
“Ya”
“Dan kau pingsan karena kehabisan energi” Marisa berbicara sambil memberikan Cakra segelas air.
Cakra minum saat sadar menyadari jikalau dirinya sangat jauh, Cakra juga menyadari tenaga dalamnya terlihat masih mengisi.
“Hah”
“Sepertinya memerlukan energi yang besar…”
“Kurasa itu sebuah pintu dimensi”
“Kalau begini mungkin perlu pengisian bertahap”
.
“Apa kita gak gantian saja?” Marisa memberikan saran.
.
“Kurasa energimu gak akan cukup…”
“Ditambah kita akan susah kalau kita berdua tumbang”
“Ayo kita lihat pintu itu…”
Cakra mendatangi pintu itu bersama Marisa, terlihat pintu itu seperti mulai membentuk jaringan yang hidup.
“Sepertinya pintu ini punya mekanisme energi sendiri”
“Hanya saja perlu mencapai tingkat tertentu untuk energinya benar benar aktif”
.
“Ini…”
“Mirip rune”
“Tapi juga bukan rune…”
.
“Ini jaringan”
“Mirip dengan akar pohon”
“Mungkin gerbang ini hidup…”
“Dengan cara menyerap energi dari dalam tanah seperti akar pohon…”
“Tapi tidak ada akar…”
“Apa ini langsung memilah energinya?”
“….”
Cakra berpikir keras, terlihat dia menutup matanya sambil membayangkan sebuah mekanisme alam yang kabur.
“Hmm”
“Ya sudah lah…”
“Aku gak mengingatnya…”
“Mungkin aku akan mencoba menghubungkannya lagi”
Cakra kembali ke tempat tidurnya berbaring, ketika berbaring Cakra mengecek teleponnya menonton video video yang dia bawa dari dunianya. Cakra terus melakukan scrool dan menemukan sebuah penjelasan tentang jamur. Dimana jaringan miselium milik jamur tertentu mampu mengikis alam, atau menjadi penopang alam itu sendiri.
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...