tiga tahun sudah pernikahan kita...Dipaksa menikah di usia muda ketika kita masih duduk di bangku SMA..
Tak ada kontak fisik. Di rumah seperti orang asing. Aku tahu Aksa memiliki ke kasih tapi apa salah ku. Hingga batas kesabaran ku hilang juga.
"Kak Aksa aku ingin gomong".
"Kalau ngomong ya ngomong aja Bintang".
"Kak mari kita berpisah".
Apa Aksa mengabulkan permintaan Bintang. Atau mempertahankan pernikahannya ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vita no, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan Setelah Ujian
Kegiatan ekskul disekolah ku diadakan perlombaan. Ada pun perlombaannya tarik tambang, voly dan sendal panjang yang diadakan dengan anggota tiga orang. Aku, Mila dan Silvi di tunjuk oleh wali kelas kamj ikut lomba sendal panjang. Karena kami selalu bertiga. Dan untuk lomba yang lainnya ditunjuk teman kami yang lainnya.
Saat perlombaan, aku sangat malu sekali. Karena seumur hidup ini, baru kali ini aku ikut lomba. Tapi karena semangat dari Mila dan Silvi, aku hilangkan malu ku. Dan ya akhirnya pertandingan pun selesai. Kami akhirnya dapat juga juara lomba sandal panjang.
"Apa aku bilang Bin, kamu pasti bisa. Dan terbuktikan kita menang."
"Iya Bin, seru lagi lombanya. Ini akan jadi kenang kenangan kita suatu saat nanti."
"Benar kata Silvi, Bin. Karena waktu akan berkajalan terus dan kita akan buat kenangan yang indah pada masa masa SMA ini."
"Iya juga ya Mil, Sil. Ok lah, kalau gitu satu tahun ini kita akan buat kenakan dimasa putih abu ini ya guys."
"Siap."ucap mereka serentak. Dan diakhiri dengan gelak tawa dari kami bertiga.
Setelah acara ekskul selesai. Aku, Mila dan Silvi, keluar dari lapangan lomba dan pulang kerumah masing masing. Dan setelah ujian kenaikan kelas ini, sekolah meliburkan murid muridnya selama dua minggu.
"Bin, Sil, kita kan pada libur ni selama dua minggu. Kemana sih kita jalan jalan untuk menghabiskan waktu buat liburan ini?"
"Aku nggak tahu Mil. Jika kamu Sil?"
"Aku mah bebas. Jika di ajak jalan ayu, jika nggak ya paling rebahan di rumah."
"Ya sudah besok kita fikirkan. Sekarang mending kita pulang aja. Udah sore ni."ucap ku pada Mila dan silvi.
Kami pun pulang ke rumah masing masing. Seperti biasa Mila dan Silvi pulang duluan. Setelah itu, mobil kak Aksa berhenti di hadapan ku dan menyuruh ku naik. Dengan terpaksa aku naik ke mobilnya.
Dan akhir akhir ini, aku jarang kali melihat Tiara yang menempel kayak lem sama kak Aksa. Sejak kak Aksa ngantar aku ke sekolah kemarin ini.
"Kenapa kamu diam aja. Apa yang kamu fikirkan sih Bin. Apa kamu nggak senang kakak jemput?"
"Nggak ada kak. Bukan begitu, Bintang senang kok, kak Aksa jemput Bintang." Dan dianggukan oleh Aksa.
"Ya sudah, pulang dari sini, kamu siap siap, kita akan pergi berbelanja kebutuhan kamu. Seperti yang kamu ucapkan sebelumnya."
"Nggak usah kak. Bintang masih belum ada yang mau Bintang beli."
"Kakak nggak nerima penolakan Bintang. Kak ingin menemani kamu juga berbelanja."
"Baik lah kak." Ucap ku dengan sendu. Entah kenapa aku nggak ingin berjalan berdua dengan kak Aksa. Ini seperi berbelanja dengan suami aja. Padahal aku nggak tahu apa nama hubungan ini.
"Uh kenapa susah kali sih buat dia mau jalan dan berbelanja sama aku. Apa ini gara gara sikap ku yang cuek di awal dia datang ke kota ini."gumam Aksa dalam hati.
Dan akhirnya sampailah kami di sebuah mall besar dikota ini. Kak Aksa temani aku membeli kebutuhan wajah, kamar mandi juga dapur. "Kami sudah seperti suami istri aja. Eh, bukannya iya kami suami istri ya."gumam ku dalam hati.
"Apa yang kamu fikirkan sih Bin. Kamu jalan seperti orang yang banyak fikiran aja. Kamu tu harus fokus lihat jalan nanti kamu jatuh."ucap kak Aksa pada ku.
"Iya kak." Dan kami lanjut membeli bahan untuk keperluan dapur. Hingga aku dengar suara Tiara memanggil kak Aksa.
"Kak Aksa, kak."panggil Tia. Dan kak Aksa hanya menoleh sebentar aja ke Tia, habis itu kami melanjutkan tujuan kami membeli bahan untuk dapur.
"Kak, kak Aksa, itu ada Tia yang manggil kakak."
"Sudah biarkan aja. Lagian dia datang ke mall ini sama temannya."ucap kak Aksa acuh tak acuh saja. Dan aku lebih memilih diam aja lagi.
Aku memilh bahan dapur seperti daging, ayam, telur dan sayur mayur dan tak lupa juga buahan. Dan kak Aksa dengan talenta mendorong box belanjaan.
Di tempat lain, Tiara berusaha menuju ke tempat aku dan kak Aksa belanja.
"Siapa tu Tia, eh bukannya itu kak Aksa ya Tia. Kok dia jalan bareng sama Bintang sih Tia."ucap Titi teman Tia.
"Tunggu disini bentar ya Tik, aku mau temui kak Aksa dulu."dianggukkan oleh Titik.
Sesampai Tia dihadapan kami. Dia langsung bertanya ke kak Aksa.
"Kak Aksa kenapa sih nggak ada waktu lagi buat Tia. Bukannya selama ini Tia selalu jadi prioritas kak Aksa.".
"Emang kamu siapanya aku Tia!"ucapan Aksa membuat sakit hati Tia.
"Kenapa kak Aksa ngomongnya pedas banget. Apa dia nggak sadar, omongannya itu bisa buat hati orang terluka."gumam Bintang dalam hati.
Tia hanya bisa terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Aksa. "Bukankah kita lebih dari teman kak ?"
"Kamu yang anggap demikian tapi bukan aku."
"Tapi jika aku perlu kak Aksa, kak Aksa selalu ada waktu buat aku. Tapi sejak kak Aksa dekat dengan Bintang, kak Aksa selalu menghindari aku."
"Apaan ni Tia. Kenapa aku yang dibawa bawa. Aku juga nggak ingin jalan berduaan begini dengan kak Aksa."gumam ku dalam hati.
"Jangan kait kaitan orang lain dengan perubahan sikap ku ini Tia. Aku nggak suka kamu menyalahkan Bintang. Aku hanya anggap kamu teman biasa saja. Dan jika pun dulu aku selalu ada waktu buat kamu karena memang aku lagi senggang aja."ucap Aksa pada Tia.
Tia hanya bisa terdiam dengan ucapan Aksa. Dan kak Aksa menarik tangan ku dengan pelan menuju ke kasir. Sampai tiba giliran kami membayar, kak Aksa mengeluarkan black card nya bukan dengan black card yang ada pada Bintang.
"Kok kakak yang bayar. Kan katanya pakai black card yang kakak beri ke Bintang ini!"
"Sudah biar aja kali ini bayar pakai kartu kakak. Besok besok baru pakai kartu kamu itu. Yuk kita makan dulu sudah lapar ni."
Akhirnya kami makan disalah satu cafe yang ada dalam mall ini. Selesai semuanya, aku dan kak Aksa berjalan ke arah mobil kak Aksa menuju ke apartemen.
Pagi pun telah tiba. Aku ditelpon oleh Mila. Mila mau ngajak aku dan Silvi liburan ke puncak di vila nya.
"Halo Bin. Bin aku mau ajak kamu dan Silvi buat liburan ke puncak. Mau ya...ya...ya..."
"Ok deh. Aku siap siap dulu. Nanti ketemuannya dimana?"
"Aku tinggu aja dekat halte rumah kamu. Atau aku jemput kamu di rumah mu aja!"
"Nggak usah Mil. Ketemu dekat halte rumah ku aja. Nanti aku share lokasinya ya."
Setelah kumatikan telponnya. Aku bangkit dari tempat tidur. Aku pergi mandi dan sholat. Habis itu, aku memasak di dapur membuat sarapan buat aku dan kak Aksa. Setelah sarapan sudah selesai. Aku kekamar, mau siap siap untuk liburan ke puncak. Aku pack baju yang aku bawa. Kami hanya liburan tiga hari saja. Dan aku membawa yang perlu aja. Setelah selesai menge pack kebutuhan ku selama liburan, aku keluar mau sarapan. Dan disana sudah ada kak Aksa. Kak Aksa menatap ku karena aku sudah rapi sekali.
"Mau kemana? Kenapa kamu dandan dan rapi!"
"Itu kak Aksa. Barusan Mila telpon, mau ajak aku liburan ke vilanya yang dekat puncak selama tiga hari. Bintang mau minta izin ya kak."
"Kenapa sudah siap siap baru minta izinnya!"
"Kan baru subuh subuh tadi Mila hubungi kak. Lagian liburannya tidak kami rencanakan. Acaranya dadakan juga kok kak. Nanti Bintang juga telpon mommy mau minta izin juga kak."
"Hmmm."
Aku hubungi mommy meminta izin kalau aku mau liburan dengan teman teman ku."assalammu'alaikum mom, mom, Bintang mau minta izin mau liburan ke puncak sama teman Bintang. Apa boleh mom?"
"Wa'alaikumsalam Bin. Mommy izinkan, tapi kamu harus hati hati ya sayang. Nanti jika sudah sampai sana kamu kasih kabar mommy ya."
"Ok siap mom. Makasih ya mom." Ucapku dengan senang
Aksa hanya melihat ku menelpon mommy tanpa berkomentar lagi.