Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28_Makan malam
"Semuanya sudah selesai. Orang yang menyakitimu akhirnya menerima balasannya." pesan dari Edgar.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipi.
Bukan air mata karena luka. Melainkan air mata kelegaan.
Bertahun-tahun ia hidup dalam ketakutan. Tidur dengan rasa cemas. Bangun dengan beban yang seolah tak pernah berakhir.
Kini...
Semua itu benar-benar telah usai.
Elvara mengusap air matanya, lalu menarik napas panjang. Tatapannya beralih ke foto keluarganya yang berdiri di atas meja kerja.
"Akhirnya..." bisiknya lirih. Bibirnya bergetar, sementara senyumnya semakin hangat. "Aku bisa benar-benar memulai hidup yang baru."
Tanpa berpikir lama, Elvara segera mencari nama Edgar di daftar kontaknya.
Tak lama kemudian...
Tut... tut...
Panggilan itu tersambung.
"Hallo?" suara Edgar terdengar dari seberang telepon. Nada suaranya masih terdengar datar, tetapi jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir.
"Kak..." panggil Elvara pelan. Senyumnya semakin mengembang, sementara matanya kembali berkaca-kaca.
Edgar langsung mengenali perubahan nada suara adiknya.
"Ada apa?" tanyanya lembut. Wajahnya perlahan melunak. "Kamu menangis?"
Elvara terkekeh pelan sambil menggeleng, seolah Edgar bisa melihatnya.
"Bukan karena sedih." ucap Elvara lirih. Senyumnya tipis, sementara kedua matanya masih dipenuhi air mata yang belum sepenuhnya mengering.
"Lalu?" tanya Edgar pelan. Alisnya sedikit bertaut, wajahnya dipenuhi rasa khawatir menunggu jawaban sang adik.
Elvara mengembuskan napas panjang.
"Aku cuma... lega." bisiknya pelan.
Di seberang sana, Edgar ikut tersenyum kecil. Ketegangan yang selama ini memenuhi dadanya perlahan menghilang.
"Aku juga, Vara." jawab Edgar lembut.
Beberapa detik keduanya terdiam. Tak ada yang berbicara. Namun keheningan itu justru terasa hangat.
Keheningan yang selama bertahun-tahun tak pernah mereka rasakan.
Elvara akhirnya kembali membuka suara.
"Kak..." panggilnya pelan.
"Hm?" sahut Edgar.
"Malam ini... mau datang ke rumah?" tanya Elvara hati hati. Senyumnya tampak malu malu, sementara dipenuhi harapan.
Edgar mengernyitkan dahi.
"Ke rumahmu?" tanyanya memastikan.
"Iya." jawab Elvara singkat.
"Ada acara?" tanya Edgar lagi.
Elvara tersenyum semakin lebar.
"Aku ingin mengundang Kakak makan malam." ucapnya tulus. Sorot matanya berbinar, seolah sudah membayangkan suasana hangat yang akan mereka lalui bersama.
Edgar terdiam sejenak.
"Makan malam?" ulangnya pelan.
"Iya." Elvara mengangguk pelan. "Sebagai tanda terima kasih."
"Terima kasih?" tanya Edgar lirih.
"Kepada Kakak..." ucap Elvara. Suara Elvara mulai bergetar.
"Karena Kakak selalu melindungiku." lanjutnya
"Karena Kakak tidak pernah berhenti percaya kalau aku bisa bangkit." katanya lagi. "Karena Kakak selalu berdiri di depanku setiap kali ada orang yang ingin menyakitiku."
Edgar memejamkan mata beberapa saat. Dadanya terasa sesak.
Selama ini ia selalu merasa gagal menjadi seorang kakak. Namun ucapan sederhana itu justru membuat seluruh perjuangannya terasa berarti.
"Kamu ini..." gumam Edgar pelan sambil tersenyum haru.
Belum sempat ia berbicara lagi, Elvara kembali berkata,
"Dan..." ucapnya pelan. Senyumnya berubah malu malu, pipinya sedikit merona.
Edgar mengangkat alisnya.
"Ajak Nathan juga." ucap Elvara lirih.
Edgar sedikit terkejut.
"Nathan?" ulangnya.
"Iya." jawab Elvara sambil tersenyum malu.
Elvara tersenyum malu.
"Aku juga ingin mengucapkan terima kasih padanya." lanjutnya lembut. "Kalau bukan karena dia... mungkin semua bukti itu tidak pernah terkumpul. Kalau bukan karena dia... mungkin aku masih hidup dalam ketakutan."
Edgar melirik ke arah Nathan yang sedang duduk tidak jauh darinya. Nathan tampak sibuk menandatangani beberapa dokumen tanpa mengetahui isi pembicaraan mereka.
Edgar tersenyum tipis.
"Nathan." panggilnya tenang.
Nathan mengangkat kepala.
"Ada apa?" tanyanya.
Edgar mengaktifkan pengeras suara.
"Vara ingin bicara." ucap Edgar santai.
Nathan tampak sedikit terkejut.
"Halo..." sapanya pelan. Senyumnya tampak canggung.
"Mas Nathan..." ucap Elvara lembut.
"Iya?" jawab Nathan cepat.
"Malam ini... kalau tidak sibuk..." ucap Elvara ragu ragu. Bibirnya menggigit bibir karena gugup.
Nathan langsung menghentikan pekerjaannya.
"Ada apa?" tanyanya lembut.
"Mau datang makan malam di rumahku?" tanya Elvara hati hati.
Nathan membeku.
Beberapa detik ia bahkan lupa bernapas. Matanya membulat, sementara jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.
"Aku memasak sendiri." lanjut Elvara pelan. "Anggap saja... ucapan terima kasihku."
Nathan menatap Edgar yang kini sedang menahan senyum geli.
"Aku..." Nathan mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa kaku. Wajahnya sedikit memerah. "Tentu saja aku datang."
Elvara terkekeh pelan. Tawanya terdengar begitu ringan, membuat suasana menjadi jauh lebih hangat.
"Kalau begitu, jangan terlambat." ucapnya sambil tersenyum lebar.
Nathan mengangguk spontan, lalu baru sadar bahwa Elvara tidak bisa melihatnya.
"Iya." jawabnya cepat.
"Aku akan datang." lanjut Nathan.
Setelah panggilan berakhir, ruangan mendadak sunyi.
Nathan masih memandangi layar ponselnya dengan senyum yang tak mampu ia sembunyikan.
Edgar menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap sahabatnya dengan tatapan penuh arti.
"Senyummu lebar sekali." goda Edgar. Sudut bibirnya terangkat, matanya dipenuhi rasa geli melihat reaksi Nathan.
Nathan terkekeh kecil.
"Apa kelihatan?" tanyanya sambil tersenyum canggung.
"Jelas." jawab Edgar singkat.
Edgar menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Sudah lama sekali aku tidak melihat adikku tertawa seperti tadi." ucap Edgar lirih.
Nathan menundukkan kepala. Sudut bibirnya ikut melengkung membentuk senyum kecil, seolah ikut merasakan kelegaan yang sama.
"Aku juga." jawabnya pelan.
Tatapannya berubah lembut.
"Asal dia bisa tersenyum seperti itu setiap hari... aku rasa semua perjuangan ini benar-benar terbayar." ucap Nathan dengan suara mantap.
Edgar melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Nathan.
"Jangan buat dia menangis lagi." ucap Edgar dengan suara rendah namun penuh makna.
Nathan mengangkat kepalanya. Tatapannya penuh keyakinan.
"Aku berjanji." jawab Nathan tegas.
Edgar tersenyum tipis.
"Kalau begitu..." ucap Edgar sambil menghembuskan napas panjang.
"Mari kita datang." balas Nathan pelan.
nunggu karma pelakor celline gimana karma nya.