NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Hari Pertama di Istana Berdarah

Bab 5: Hari Pertama di Istana Berdarah

​Keputusan telah diambil. Atas desakan kedua anak kembarnya yang tidak biasa, Adrian Dirgantara akhirnya memberikan cap persetujuan di atas berkas identitas palsu milik Aline. Namun, persetujuan itu tidak datang dengan ramah. Kalimat terakhir sang mafia yang menyamakan harga nyawa dengan barang murah terus berdengung di telinga Aline sepanjang langkah kakinya meninggalkan ruang kerja terkutuk itu.

​Pak Yusuf, sang kepala pelayan senior yang telah mengabdi selama puluhan tahun di Mansion Dirgantara, berjalan memimpin di depan. Langkah kakinya konstan dan tanpa suara di atas karpet beludru tebal yang melapisi koridor. Sementara itu, Kenzo dan Keira sudah melesat pergi entah kemana setelah memenangkan ego mereka untuk menahan Aline di rumah ini.

​"Nona Aline," Pak Yusuf membuka suara tanpa menoleh ke belakang, suaranya terdengar datar namun membawa kedewasaan yang penuh peringatan. "Anda adalah pengasuh keenam dalam bulan ini. Saya harap Anda memiliki ketabahan mental yang lebih baik daripada pendahulu Anda."

​Aline memajukan bibirnya sedikit, memasang wajah kikuk yang dipenuhi rasa takut yang dibuat-buat. Ia meremas tali tas ransel kainnya erat-erat. "S-Saya akan berusaha sebaik mungkin, Pak Yusuf. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk membayar utang-utang mendiang orang tua saya di desa."

​Pak Yusuf hanya menghela napas pendek. Mereka berbelok di sebuah persimpangan koridor yang megah, di mana dindingnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan bergaya gotik dan beberapa pasang baju zirah abad pertengahan yang berdiri angkuh. Mansion ini terasa lebih seperti museum pribadi seorang tiran daripada sebuah rumah hangat untuk keluarga.

​"Di mansion ini, ada beberapa aturan mutlak yang tidak boleh Anda langgar jika masih ingin melihat matahari terbit besok pagi," Pak Yusuf berhenti di depan sebuah pintu kayu ek besar di ujung lorong lantai dua. "Pertama, tugas Anda hanya berpusat pada Tuan Muda Kenzo dan Nona Muda Keira di sayap timur mansion. Kamar mereka, ruang belajar, dan ruang bermain berada di area ini."

​Pak Yusuf membalikkan tubuhnya, menatap Aline dengan pandangan yang sangat serius dari balik kerutan wajah tuanya. Ia mengangkat tangan kirinya, menunjuk ke arah jembatan penghubung yang mengarah ke bagian lain dari bangunan raksasa ini.

​"Kedua, dan yang paling penting dari semuanya," suara Pak Yusuf merendah hingga menyerupai bisikan yang mencekam. "Jangan pernah sekali pun, karena alasan apa pun, melangkahkan kaki Anda ke sayap barat mansion. Itu adalah area pribadi Tuan Besar Adrian. Ruang kerja rahasia, kamar pribadi, dan laboratorium farmasi miliknya ada di sana. Siapa pun yang tertangkap basah mendekati sayap barat tanpa izin tertulis, akan langsung diserahkan kepada kepala keamanan untuk... dilenyapkan. Anda mengerti, Nona Aline?"

​Aline menelan ludah secara dramatis. Ia mengangguk dengan cepat hingga kacamatanya hampir merosot dari hidung. "M-Mengerti, Pak! Saya bersumpah tidak akan pernah ke sana! Saya sangat takut pada Tuan Besar..."

​Sayap barat, batin Aline mencatat dengan detak jantung yang berpacu penuh adrenalin. Itu dia. Di sanalah tempat Adrian menyembunyikan semua bukti kejahatannya, termasuk berkas-berkas mengenai kematian Kak Rena.

​"Bagus," Pak Yusuf membuka pintu kamar di depan mereka. "Ini adalah kamar Anda. Tepat berada di sebelah kamar tidur si kembar agar Anda bisa mendengar jika mereka membutuhkan sesuatu di malam hari. Segera rapihkan barang-barang Anda. Pukul tujuh malam, Anda harus mendampingi anak-anak di ruang makan malam."

​Setelah Pak Yusuf pergi dan menutup pintu, Aline langsung mengunci slot pintu dari dalam. Ia melemparkan tas ransel usangnya ke atas kasur empuk berukuran king size di kamar itu. Wajah lugu dan ketakutannya menguap dalam sekejap, digantikan oleh ekspresi dingin dan kalkulatif yang selama ini ia sembunyikan.

​Aline berjalan mengitari kamar itu dengan langkah seringan bulu. Matanya yang tajam menyisir setiap sudut ruangan—langit-langit, ventilasi AC, vas bunga, hingga ke sela-sela bingkai cermin. Sebagai seorang ahli yang terbiasa bersinggungan dengan teknologi pengawasan, ia tahu mansion seperti ini pasti dilengkapi dengan sistem mata-mata tersembunyi. Benar saja, setelah pemeriksaan menyeluruh selama sepuluh menit, ia tidak menemukan kamera aktif di dalam kamar ini. Tampaknya Adrian masih menghormati privasi karyawannya, atau pria itu merasa tidak perlu mengawasi "gadis desa bodoh" sepertinya di dalam kamar pribadi.

​Aline duduk di tepi ranjang, membuka ritsleting rahasia di bagian bawah tas ranselnya. Dari dalam sana, ia mengeluarkan sebuah kotak logam kecil yang sangat tipis. Di dalamnya terdapat lima buah lensa kamera mikro nirkabel yang ukurannya tidak lebih besar dari sebutir beras. Kamera-kamera ini menggunakan frekuensi militer terenkripsi yang tidak akan terdeteksi oleh pemindai gelombang komersial biasa.

​"Malam ini adalah waktu yang tepat untuk mulai memetakan rute," bisik Aline pada dirinya sendiri sembari menatap ke luar jendela yang mulai diguyur hujan deras.

​Malam harinya, setelah melewati sesi makan malam yang menegangkan di mana si kembar terus-menerus melemparkan teka-teki logika untuk menjebaknya—yang berhasil dihindari Aline dengan berpura-pura tidak paham dan menjawab asal-asalan—mansion akhirnya tenggelam dalam kesunyian. Jam dinding besar di aula utama telah menunjukkan pukul sebelas malam.

​Seluruh lampu di koridor utama telah diremupkan, menyisakan pendar lampu dinding temaram yang menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mengerikan di atas lantai marmer.

​Aline membuka pintunya perlahan, memastikan tidak ada suara engsel yang berderit. Ia telah menanggalkan rok plisket longgarnya dan menggantinya dengan celana kain hitam ketat serta kaus hitam lengan panjang yang membalut tubuhnya dengan pas, memudahkan pergerakannya di kegelapan. Kacamata bulat tebalnya tetap terpasang, namun lensa kontak cokelatnya telah dilepas, menampilkan sepasang manik mata asli Aline yang tajam bagai mata kucing di malam hari.

​Ia melangkah keluar tanpa alas kaki. Setiap langkahnya sangat terukur, memanfaatkan titik mati dari jangkauan kamera CCTV resmi mansion yang sudah ia pelajari skemanya saat meretas sistem Dirgantara Group kemarin malam.

​Aline berjalan menyusuri koridor lantai dua yang menghubungkan sayap timur dan area tengah. Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi, ia menempelkan kamera mikro pertama di balik bingkai lukisan tua dekat persimpangan jalan. Kamera kedua ia sembunyikan di dalam sela-sela ukiran lampu dinding besi kuno.

​Dengan alat-alat ini, Aline bisa memantau pergerakan para penjaga mansion langsung dari ponsel rahasianya tanpa harus keluar dari kamar di malam-malam berikutnya.

​Tinggal dua kamera lagi yang harus ia pasang di area transisi menuju sayap barat. Aline bergerak maju, menyelinap di balik pilar-pilar besar. Atmosfer di bagian tengah mansion ini terasa jauh lebih dingin. Angin malam berhembus dari celah jendela yang terbuka, memainkan tirai beludru hitam besar di ujung lorong.

​Aline berdiri di dekat batas jembatan penghubung yang menuju ke area terlarang—sayap barat. Ia mengangkat tangan kanannya, bersiap menempelkan kamera mikro ketiga di bagian bawah meja konsol marmer yang terletak di sudut lorong gelap itu. fokusnya terbagi antara memastikan kamera merekat sempurna dan mendengarkan suara langkah kaki patroli penjaga di lantai bawah.

​Namun, fokus yang terbagi itu membuat Aline melewatkan satu hal kecil.

​Sebuah aroma maskulin yang sangat pekat—aroma kayu cendana berpadu dengan wangi tembakau mahal yang familiar—tiba-tiba mengepung indra penciumannya dari arah belakang. Hawa panas dari tubuh seseorang yang bertubuh besar mendadak terasa begitu dekat, menekan punggungnya dari balik kegelapan.

​Darah Aline seketika membeku. Insting bertarungnya berteriak histeris, menyuruhnya untuk berputar dan melayangkan pukulan ke arah tenggorokan orang di belakangnya. Namun, kesadarannya menahan gerakan itu sekuat tenaga. Jika ia menyerang, penyamarannya hancur detik ini juga.

​Aline buru-buru mengepalkan tangan kanannya, menyembunyikan kamera mikro sekecil beras itu di dalam telapak tangannya yang mendadak berkeringat dingin.

​"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Aline?"

​Suara bariton yang sangat rendah, berat, dan sedingin es berbisik tepat di samping telinganya. Hembusan napas yang panas menerpa kulit leher Aline, mengirimkan sensasi meremang yang aneh ke seluruh tubuhnya.

​Aline membalikkan tubuhnya dengan gerakan patah-patah yang disengaja, memasang wajah yang langsung pucat pasi karena terkejut. Di hadapannya, berdiri kokoh sosok Adrian Dirgantara.

​Pria itu hanya mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, menampilkan bagian dada bidangnya yang kokoh. Di tangan kanannya, Adrian memegang sebuah gelas kristal berisi whisky amber yang bergoyang pelan. Mata elang sang mafia menatap tajam, mengunci pandangan Aline di bawah kegelapan lorong, dan pandangannya perlahan turun, tertuju lurus pada tangan kanan Aline yang terkepal erat di depan dada.

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!