Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17. Positif
Di dalam kamar mandi yang sempit dan dingin, Nadia berdiri membeku. Pandangannya terpaku pada alat tes kehamilan di tangannya. Begitu dua garis merah itu muncul dengan tegas dan jelas, dunia di sekitar Nadia seolah runtuh seketika.
Positif.
Dada Nadia mendadak sesak, pasokan oksigen di sekitarnya seperti tersedot habis. Alih-alih air mata haru, yang keluar adalah air mata ketakutan yang teramat sangat. Tubuhnya gemetar hebat, lututnya lemas hingga ia terpaksa merosot duduk di lantai ubin yang dingin, mendekap perutnya sendiri dengan rasa jijik, bingung, dan benci yang bercampur menjadi satu.
"Enggak... Tuhan, kenapa harus seperti ini..." bisik Nadia dengan suara tercekat, menahan jeritan frustasi agar tidak lolos dari tenggorokannya.
Bayangan malam terkutuk saat Axel merenggut paksa kesuciannya kembali berputar seperti kaset rusak di otaknya. Kehamilan ini adalah bukti nyata dari kejahatan yang menghancurkan masa depannya. Nadia mencengkram rambutnya sendiri, kepalanya pening luar biasa. Bagaimana kuliahnya? Bagaimana kelanjutan hidupnya? Berada di rahimnya sekarang adalah benih dari monster yang telah merusak hidupnya, dan Nadia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa kotor, tak berdaya, dan benar-benar sendirian di dunia ini.
Sementara itu, di luar kamar mandi, atmosfer dapur tidak kalah mencekam.
Ubay berdiri bersandar di dekat meja makan, mencoba mempertahankan wajah lempengnya. Namun, jemari tangannya yang mengepal di dalam saku celana tidak bisa berbohong. Jantung pemuda gondrong itu ikut berdegup kencang, diselimuti rasa deg-degan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Mendengar suara isak tangis yang begitu menyayat hati dan tertahan dari balik pintu kamar mandi, Ubay menghembuskan napas berat.
Pintu kamar mandi berderit pelan. Nadia melangkah keluar dengan tubuh yang tampak begitu rapuh, seolah embusan angin sedikit saja bisa membuatnya tumbang. Kedua tangannya memeluk erat alat tes kehamilan itu di depan dada, menyembunyikannya dari pandangan. Air matanya terus mengalir deras tanpa suara, membasahi pipinya yang pias.
Ubay langsung menegakkan tubuhnya begitu melihat Nadia keluar. Ia tidak perlu lagi bertanya apa hasil dari tes tersebut. Isak tangis yang tertahan di dalam kamar mandi tadi sudah memberikan jawaban yang konkrit.
Ubay menatap gadis di depannya dengan dahi berkerut rapat. Pikiran jalanannya mulai berputar mencari logika. Sepengetahuannya, Nadia hanyalah seorang anak asuh atau pembantu yang diusir begitu saja oleh majikan kayanya sebulan lalu.
Ubay berdehem, mencoba mencerna situasi dengan kepala dingin. "Kamu... punya pacar?" tanya Ubay langsung, suaranya terdengar sangat hati-hati namun menuntut jawaban.
Nadia mendongak sekilas, lalu buru-buru menggelengkan kepalanya dengan cepat. Air matanya makin deras mengalir. "Nggak, Mas... saya nggak punya pacar," jawabnya dengan suara serak yang nyaris habis.
Kerutan di dahi Ubay semakin dalam. Ia melangkah satu tapak mendekati meja makan. "Lantas, kalau kamu nggak punya pacar... gimana caranya kamu bisa hamil?"
Mendengar pertanyaan telak itu, pertahanan Nadia benar-benar runtuh. Ia tidak bisa menjawab. Mulutnya terkunci oleh rasa malu, trauma, dan ketakutan yang teramat sangat. Nadia langsung menunduk dalam-dalam, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan tangisnya yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah menjadi histeris di tengah dapur yang sunyi itu. Tubuhnya terguncang hebat oleh rasa sedih yang mendalam.
Melihat Nadia yang menangis sejadi-jadinya, Ubay tidak menyela. Ia tahu ada saatnya seseorang hanya butuh mengeluarkan semua racun di dalam dadanya. Ubay menarik sebuah kursi kayu, mendudukinya dalam diam, dan membiarkan Nadia menumpahkan seluruh air matanya. Ia tidak menenangkan, tidak juga mendesak. Ubay hanya setia menanti di sana, menjadi saksi bisu dari hancurnya perasaan seorang gadis.
Beberapa menit berlalu hingga suara tangisan Nadia perlahan mulai mereda, menyisakan isak kecil dan napas yang sesenggukan. Nadia menyeka wajahnya yang basah dengan ujung lengan bajunya, masih enggan menatap Ubay.
Setelah dirasa Nadia sudah lebih tenang, Ubay kembali membuka suara. Kali ini nadanya sangat berat, sorot matanya menajam.
"Sekarang kasih tahu aku," ucap Ubay, nadanya mendatar namun sarat penekanan. "Siapa... siapa orang yang sudah menanamkan noda di rahimmu?"
Nadia memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang, berkejaran dengan ketakutan yang luar biasa. Namun, menatap mata Ubay yang menuntut kejujuran mutlak, Nadia tahu ia tidak bisa lagi menyimpan bangkai ini sendirian. Dengan bibir yang bergetar hebat dan suara yang nyaris berbisik, ia akhirnya membuka kebenaran paling hitam dalam hidupnya.
"Tuan Axel, Mas..." lirih Nadia, tangisnya kembali merebak. "Anak kandung dari majikan saya... Dia yang sudah merusak saya malam itu, dan paginya saya diusir dan dibuang seperti ini..." ujar Nadia sambil menangis.
"Kalian pacaran? Atau... kamu suka sama dia? Sehingga…yah…" tanya Ubay lagi, menyelidik. Suaranya terdengar sangat rendah, mencoba menahan gejolak amarah yang mendadak naik ke dadanya.
Nadia langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat. Wajahnya menyiratkan kengerian yang amat sangat hanya karena mendengar kata 'pacaran' disandingkan dengan nama mantan anak majikannya.
"Nggak, Mas! Demi Tuhan, nggak!" seru Nadia dengan sisa-sisa suaranya yang serak. Air matanya menetes lagi, membasahi punggung tangannya yang gemetar. "Malam itu... Tuan Axel pulang dalam keadaan mabuk berat. Saya sedang membersihkan kamar mandi, lalu... lalu dia menyeret dan maksa saya, Mas. Saya sudah melawan sekuat tenaga saya, tapi..."
Nadia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Isak tangisnya kembali memutus kata-katanya. Cukup dengan itu, Ubay yang merupakan anak jalanan sudah paham betul kelanjutan malam jahanam tersebut.
Ubay menghembus napas berat, tangannya mengepal erat di dalam saku celana hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras menahan geram. Kebiadaban orang kaya yang bersembunyi di balik jas rapi dan rumah megah selalu berhasil membuat darahnya mendidih.
Ubay menatap Nadia yang tampak begitu ringkih dan tak berdaya di sudut dapur. "Terus... sekarang kamu mau kayak mana?" tanya Ubay, mengubah nada suaranya menjadi sedikit lebih lunak karena rasa iba yang mendalam. "Kamu mau aku temenin ke rumahnya? Minta pertanggung jawaban dari laki-laki itu?"
Mendengar tawaran Ubay, Nadia kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ketakutan di matanya justru semakin membesar.
"Nggak usah, Mas... jangan," bisik Nadia nelangsa. "Mereka itu orang kaya, orang bermartabat, punya nama terpandang di kota ini. Nggak akan mungkin mereka mau bertanggung jawab. Waktu Nyonya Sarah tahu malam itu, saya nggak dibela, Mas. Saya malah dituduh menggoda anaknya, mencari jalan pintas untuk naik derajat. Kalau kita ke sana, mereka pasti cuma bakal menginjak-injak harga diri saya lagi..."
Ubay terdiam. Kalimat Nadia barusan menampar logikanya. Sebagai orang yang hidup di kerasnya aspal jalanan, Ubay tentu tahu persis bagaimana tabiat orang-orang kaya yang merasa dirinya terhormat dan terpandang.
Ketika mereka melakukan kesalahan, bahkan kejahatan serendah merusak pembantu rumah tangga seperti Nadia, mereka tidak akan sudi mencoreng nama baik mereka yang bergelimang harta. Bagi mereka, uang bisa membeli hukum, dan menindas orang kecil seperti Nadia adalah hal paling mudah untuk menutupi aib busuk keluarga. Tembok kastil orang kaya itu terlalu tinggi untuk ditembus oleh laporan seorang gadis yatim piatu.
Ubay berdiri dari kursi kayunya, berjalan mendekati jendela dapur, memunggungi Nadia sembari menatap halaman belakang yang sepi. Pikirannya berputar hebat. Situasi ini jauh lebih rumit dan kotor daripada sekadar menghadapi preman pasar yang membawa gembok besi.
****