"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Rapuhnya Takhta sang Ratu Dapur
Bab 3: Rapuhnya Takhta sang Ratu Dapur
Bau menyengat cairan antiseptik langsung menyergap indra penciuman Hana begitu kesadarannya perlahan kembali. Kelopak matanya terasa sangat berat, dan ketika ia mencoba menggerakkan jemarinya, ada rasa ngilu yang menjalar dari punggung hingga ke bagian bawah perutnya. Langit-langit ruangan yang putih bersih dan suara ritmis dari mesin electrocardiogram (ECG) di samping ranjang menegaskan satu hal: ia berada di rumah sakit.
Hana menoleh pelan ke arah kanan. Di sana, Adrian duduk di sebuah kursi besi, masih mengenakan kemeja abu-abu yang kini tampak sedikit kusut. Pria itu menyandarkan siku di lutut dengan kedua tangan menangkup wajah, tampak seperti suami yang sedang dirundung kecemasan hebat.
"Mas..." suara Hana keluar dalam bentuk bisikan parau, tenggorokannya terasa sekering padang pasir.
Adrian langsung menegakkan tubuhnya. Gurat keterkejutan sekaligus kelegaan melintas di wajah tampannya. Ia segera menggenggam jemari Hana yang terasa dingin. "Han? Kamu sudah sadar? Jangan banyak bergerak dulu, ya. Kamu tadi jatuh dari tangga dan pingsan cukup lama."
Mendengar kata 'tangga', memori Hana sebelum kehilangan kesadaran langsung berputar kembali. Suara bisikan manipulatif Ibu Broto dan persetujuan dingin dari Adrian mengenai rencana pemindahan hak otorisasi rekening serta pencurian resep rahasia kembali menghantam dadanya. Rasa sakit di hatinya jauh lebih berdenyut dibanding luka fisik akibat terjatuh.
Hana menarik tangannya perlahan dari genggaman Adrian, sebuah penolakan halus yang membuat suaminya itu sedikit mengernyitkan dahi. "Anakku... bagaimana dengan kandunganku, Mas?" tanya Hana lirih, matanya menatap lurus ke arah langit-langit, enggan menatap manik mata pria yang mulai mengkhianatinya.
Adrian menghela napas panjang, sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan terukir di bibirnya. "Anak kita selamat, Han. Dokter bilang ini sebuah keajaiban. Usia kandunganmu ternyata sudah memasuki minggu kedelapan. Tapi... kondisinya sangat lemah. Benturan saat kamu jatuh tadi hampir saja memicu keguguran spontan."
Hana memejamkan mata rapat-rapat. Air mata mengalir di sudut matanya, membasahi bantal rumah sakit. Di satu sisi, ia merasa sangat bersyukur karena malaikat kecil di dalam rahimnya masih bertahan. Namun di sisi lain, ketakutan besar mulai merayap. Ia sedang hamil di tengah-tengah sebuah rumah tangga yang fondasinya mulai digerogoti oleh keserakahan suami dan mertuanya sendiri.
Pintu kamar VIP itu mendadak terbuka dengan kasar. Ibu Broto melangkah masuk dengan tas jinjing bermerek yang menggelantung di lengan kirinya. Alih-alih menunjukkan guratan kecemasan atau rasa bersalah karena telah membuat menantunya stres hingga terjatuh, wanita paruh baya itu justru langsung melayangkan tatapan jengkel.
"Tuh, kan! Ibu bilang juga apa, Adrian!" suara Ibu Broto langsung melengking, mengabaikan ketenangan ruang perawatan. "Hana ini memang keras kepala. Sudah tahu badannya lemas dan mual-mual, masih saja sok kuat jalan ke sana kemari. Sekarang lihat akibatnya? Malah merepotkan semua orang! Biaya kamar VIP rumah sakit ini tidak murah, lho. Belum lagi Adrian harus meninggalkan urusan restoran hanya untuk menunggui kamu di sini."
Hana tetap memejamkan mata, enggan menanggapi. Ia sedang mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, baik fisik maupun mental.
"Ibu, sudahlah. Hana baru saja sadar," tegur Adrian, meskipun nada suaranya tidak terdengar benar-benar membela Hana, melainkan hanya ingin meredam kegaduhan ibunya.
Adrian kemudian berbalik, menatap Hana dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh aura otoritas yang baru. "Han, dokter memberikan instruksi yang sangat ketat. Kamu mengalami placenta previa ringan akibat benturan dan stres tingkat tinggi. Kamu diwajibkan bed rest total selama minimal tiga bulan ke depan. Tidak boleh banyak berjalan, tidak boleh banyak pikiran, dan yang paling penting..." Adrian jeda sejenak, menatap ibunya sebelum kembali menatap Hana, "Kamu sama sekali tidak boleh menginjakkan kaki di dapur restoran atau memikirkan urusan bisnis lagi. Sama sekali."
Bed rest total selama tiga bulan. Kata-kata itu terdengar bagai vonis penjara seumur hidup bagi Hana. Tiga bulan adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Adrian dan Ibu Broto untuk menghapus seluruh jejak pengaruh Hana di ketiga cabang Rumah Makan "Rasa Hana". Dalam tiga bulan, para pegawai lama bisa saja dimanipulasi, dan semua sistem keuangan akan sepenuhnya dikunci dari jangkauannya.
"Mas, tapi setidaknya biarkan aku memeriksa laporan mingguan lewat laptop dari atas ranjang ini," pinta Hana, mencoba menawar dengan suara yang bergetar. "Aku tidak akan lelah, aku hanya perlu memantau arus kas agar—"
"Tidak ada laptop, tidak ada laporan keuangan, Hana!" potong Ibu Broto dengan ketus, melangkah mendekati ranjang. "Kamu itu fokus saja bertelur dan melahirkan cucu untuk keluarga ini! Adrian sudah mengambil alih semua dokumen dan laptop kerjamu dari rumah. Mulai hari ini, urusan uang, manajemen, dan pasokan bahan baku di semua cabang adalah mutlak urusan Adrian. Kamu tidak punya hak lagi untuk mencampuri urusan luar!"
Hana menatap Adrian, menuntut penjelasan dari suaminya. Namun, Adrian hanya mengangguk pelan dengan wajah dingin. "Ibu benar, Han. Ini demi keselamatan anak kita. Aku sudah mengunci semua akses rekening atas namaku untuk sementara waktu, agar kamu tidak terdistraksi dengan angka-angka kurva omzet. Kamu cukup fokus pada kandunganmu."
Mendengar konfirmasi langsung dari Adrian, runtuh sudah sisa-sisa harapan Hana. Skenario yang ia dengar di balik pilar tangga siang tadi kini benar-benar dieksekusi dengan memanfaatkan kondisi kesehatannya yang rapuh sebagai alasan yang sah di mata medis. Mereka tidak sedang menyelamatkannya; mereka sedang melucuti seluruh senjatanya secara perlahan dan elegan, membuat Hana menjadi ratu tanpa takhta, tanpa mahkota, dan tanpa kekuatan finansial sedikit pun.
Satu minggu berlalu, Hana akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah. Kehidupan di dalam rumah megah itu kini benar-benar berubah menjadi neraka dingin bagi Hana. Ia seperti hantu yang terisolasi di kamar lantai atas. Adrian semakin jarang pulang, dengan alasan bahwa mengurus tiga cabang sendirian membuatnya sangat sibuk dan kelelahan. Sementara itu, Ibu Broto sengaja memotong menu makanan Hana di rumah, dengan dalih bahwa Hana tidak perlu makan banyak karena tidak bekerja dan hanya berdiam diri di kamar.
Suatu sore di minggu kedua masa pemulihannya, Ibu Broto masuk ke dalam kamar Hana tanpa mengetuk pintu. Ia membawa sebuah buku catatan tebal dan sebuah pena, lalu melemparkannya ke atas selimut yang menutupi kaki Hana.
"Apa ini, Ibu?" tanya Hana datar.
"Itu buku resep," jawab Ibu Broto sembari melipat tangan di dada dengan angkuh. "Adrian bilang, kepala koki di Cabang Dua dan Tiga mulai mengeluh karena rasa masakan bumbu inti buatan pegawai baru agak berbeda dengan buatanmu dulu. Pelanggan mulai memberikan ulasan buruk di internet. Jadi, sekarang kamu tuliskan semua takaran gramasi, merek rempah, waktu penyusutan kaldu, hingga formula rahasia dari menu sup iga, ayam bakar bumbu rujak, dan sambal bajak milikmu di dalam buku itu."
Hana menatap buku catatan kosong itu, lalu beralih menatap wajah mertuanya. Darah pebisnis dan harga diri Hana bergejolak hebat. Ini adalah benteng pertahanan terakhir miliknya. Jika ia menyerahkan resep rahasia ini sekarang, maka hilang sudah nilai tawar dirinya di mata keluarga Broto. Di momen itulah, Hana menyadari bahwa ia tidak boleh lagi menjadi Hana yang lemah dan penurut. Ia harus mulai bermain cantik jika ingin bertahan dan membalas dendam di kemudian hari.
Hana menarik napas dalam, memalsukan ekspresi wajahnya menjadi tampak patuh dan penuh kepasrahan seorang istri yang tertindas. "Baik, Ibu. Hana akan menuliskan semuanya di buku ini. Tapi... ingatan Hana agak buruk semenjak jatuh kemarin. Hana butuh waktu beberapa minggu untuk merangkai takarannya secara perlahan agar tidak ada yang salah tulis. Jika salah sedikit saja, rasanya bisa rusak total."
Ibu Broto tersenyum puas, mengira menantunya yang bodoh ini telah sepenuhnya tunduk di bawah ancaman penindasan finansial. "Bagus. Jangan lama-lama! Tulis yang detail. Ingat, kamu dan anak di dalam kandunganmu itu hidup dari uang hasil keringat Adrian sekarang. Jadi setidaknya, berikan kontribusi yang berguna untuk bisnis suamimu!" Setelah mengatakan kalimat beracun itu, Ibu Broto berbalik dan melangkah keluar dengan tawa sinis yang tertahan.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, senyuman patuh di wajah Hana seketika lenyap, digantikan oleh tatapan mata yang sedingin es. Ia mengambil pena tersebut, lalu membuka halaman pertama buku catatan.
Tentu saja aku akan menuliskan resepnya untukmu, Ibu... Mas Adrian... bisik Hana dalam hati dengan seringai tipis yang sarat akan kepedihan sekaligus dendam. Namun, aku akan sengaja mengubah satu atau dua takaran rempah penting yang akan membuat masakan itu terasa nikmat di awal, namun akan merusak cita rasa keseluruhannya secara perlahan dalam jangka panjang jika aku tidak ada di sana untuk memperbaikinya. Kalian ingin merebut restoranku? Silakan nikmati kehancurannya secara perlahan.
Malam harinya, Adrian pulang dalam kondisi mabuk ringan. Aroma alkohol bercampur dengan bau asap rokok yang pekat menguar dari bajunya saat ia membuka pintu kamar. Ia langsung mengempaskan tubuhnya di sofa kamar tanpa memandang Hana yang sedang duduk bersandar di tempat tidur.
Hana memperhatikan suaminya dengan saksama. Ada sesuatu yang aneh. Di kerah kemeja abu-abu milik Adrian, Hana tidak hanya mencium bau alkohol, melainkan ada semacam aroma manis yang samar—bukan aroma parfum mewah yang biasa Adrian gunakan untuk menghadiri rapat investor, melainkan aroma parfum murah beraroma buah yang biasa digunakan oleh remaja perempuan.
Hana menekan gejolak kecurigaan di dadanya. "Mas, kamu baru pulang dari mana? Katanya hari ini hanya ada pertemuan dengan pemasok sayur di Cabang Satu?" tanya Hana dengan nada selembut mungkin.
Adrian mendengus jengkel, melonggarkan dasinya dengan kasar tanpa membuka mata. "Jangan banyak tanya, Han. Aku pusing, lelah mengurus tiga cabang sendirian sementara kamu hanya enak-enakan tidur di kamar ini. Mengurus operasional itu tidak mudah, tahu?! Kepalaku mau pecah!"
Hana terdiam. Kepedihan kembali mengiris hatinya, namun kali ini Hana menolak untuk menangis di depan pria itu. Ia menyadari, tabiat playboy Adrian yang dulu sempat diredam oleh kerja keras mereka saat merintis bisnis, kini perlahan-lahan mulai bangkit kembali seiring dengan kekayaan dan kekuasaan yang ia pegang sendiri tanpa kontrol dari Hana.
Keesokan paginya, Ibu Broto masuk ke kamar Hana dengan wajah yang tampak berbinar, membawa sebuah ide baru yang sudah ia diskusikan dengan Adrian semalam.
"Hana, bulan depan kita semua akan pulang ke kampung halaman," ujar Ibu Broto tanpa basa-basi. "Kebetulan ini momen libur panjang, dan Adrian juga butuh menyegarkan pikiran dari kepenatan restoran. Lagipula, kamu kan sedang hamil. Kata orang kampung, wanita hamil tua itu bagus kalau auranya disegarkan di desa, sekalian menjenguk saudaramu yang di sana."
Hana mengernyitkan dahi. Pulang kampung? Di saat kondisi kandungannya masih rapuh? Hana tahu ini bukan sekadar perjalanan mudik biasa. Ada niat terselubung di balik kepedulian mendadak dari mertuanya. Namun, Hana memilih untuk mengangguk patuh. Baguslah kalau kita pulang kampung, pikir Hana. Aku butuh keluar dari atmosfer beracun rumah ini untuk sesaat, sekaligus mencari peluang dan sekutu yang bisa membantuku bangkit.
Hana tidak pernah menduga, bahwa perjalanan mudik ke kampung halaman yang direncanakan oleh mertuanya adalah sebuah jebakan takdir yang jauh lebih besar. Di sanalah, di tanah kelahirannya sendiri, sebuah duri baru bernama Santi—gadis muda lulusan SMA yang cantik, polos namun menyimpan ambisi gila—sedang mengintai, siap diajukan sebagai baby sitter yang akan melengkapi penderitaan Hana sekaligus menjadi pemantik dari kehancuran gairah di dalam rumah tangganya.