NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:538
Nilai: 5
Nama Author: VeLynme

Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.

Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.

Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.

Melainkan kesepakatan.

Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.

Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.

Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.

Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?

Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Persembunyian

Keheningan menyelimuti seluruh pabrik.

Tidak ada suara.

Tidak ada gerakan.

Hanya tatapan Surya yang terpaku pada layar ponsel di tangan Jonathan.

Untuk pertama kalinya sejak kemunculannya...

Pria tua itu kehilangan ketenangannya.

Dan Jonathan menyadari hal itu.

Senyumnya perlahan melebar.

"Akhirnya."

Katanya pelan.

"Aku berhasil membuatmu panik."

Surya mengangkat kepalanya.

Tatapannya kembali tajam.

Namun Jonathan tahu.

Reaksi sepersekian detik tadi sudah cukup.

Sudah cukup untuk membuktikan bahwa tebakannya benar.

Di rumah persembunyian itu...

Masih ada sesuatu.

Sesuatu yang sangat berharga.

---

"Apa yang ada di sana?"

tanya Mahendra.

Surya tidak menjawab.

Ia justru menatap Jonathan.

"Tarik mereka kembali."

Jonathan tertawa kecil.

"Mengapa?"

"Kau tidak tahu apa yang sedang kau cari."

"Oh, aku memang belum tahu."

Jonathan mengangguk santai.

"Tapi aku selalu pandai menemukan sesuatu."

Tatapannya menjadi dingin.

"Dan ekspresimu barusan membuktikan bahwa aku berada di jalur yang benar."

Surya mengepalkan tangannya.

Ia telah membuat kesalahan.

Satu kesalahan kecil.

Dan Jonathan langsung memanfaatkannya.

---

"Apa yang ada di rumah itu?"

kali ini Aruna yang bertanya.

Suara gadis itu dipenuhi kebingungan.

Surya menoleh.

Tatapannya melunak.

"Aku ingin memberitahumu."

"Tapi belum sekarang."

Aruna menggeleng pelan.

"Sudah cukup."

Air matanya mulai mengalir.

"Sejak malam ini dimulai..."

"...semua orang selalu berkata 'belum sekarang'."

"Sedikit demi sedikit."

"Setengah-setengah."

"Aku lelah."

Ruangan kembali sunyi.

Kalimat Aruna menghantam semua orang.

Karena tidak ada yang bisa membantahnya.

Ia terus dijadikan pusat rahasia.

Namun tidak pernah diberi seluruh kebenaran.

---

"Aku berjanji."

kata Surya.

"Begitu kita keluar dari sini..."

"Aku akan menjelaskan semuanya."

Aruna menatapnya.

"Kau janji?"

Surya mengangguk.

"Demi ibumu."

Kalimat itu membuat Aruna perlahan mengangguk.

Ia ingin mempercayai pria itu.

Entah mengapa.

Meski baru bertemu.

Ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan.

Sesuatu yang membuatnya merasa aman.

Mungkin...

Karena ikatan darah memang tidak pernah benar-benar bisa diputus.

---

Jonathan bertepuk tangan pelan.

"Pertemuan keluarga yang mengharukan."

ejeknya.

"Sayang sekali waktunya tidak tepat."

Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.

"Karena anak buahku mungkin sudah tiba."

Surya langsung mengangkat tangan.

Pasukan bertopeng gagak bersiap.

"Komandan."

kata Surya.

Seorang pria bertubuh besar melangkah maju.

"Ya, Tuan."

"Berangkat sekarang."

Pria itu mengangguk.

Namun sebelum sempat bergerak—

Jonathan tersenyum.

"Lambat."

"Lima belas menit."

katanya.

"Mereka sudah berangkat lima belas menit yang lalu."

Wajah Surya kembali berubah.

Jika benar...

Kemungkinan besar mereka sudah hampir tiba.

---

"Tidak ada waktu lagi."

Mahendra mengangkat pistolnya.

"Kita harus pergi."

Jonathan menggeleng.

"Kalian tidak ke mana-mana."

Ia mengangkat tangannya.

Puluhan anak buahnya langsung mengokang senjata.

Pasukan bertopeng gagak melakukan hal yang sama.

Dalam hitungan detik...

Dua kelompok bersenjata saling mengarahkan moncong senapan.

Satu percikan kecil saja...

Dan tempat ini akan berubah menjadi kuburan massal.

---

"Turunkan senjata."

kata Surya.

Anak buahnya saling berpandangan.

Namun mereka tetap patuh.

Perlahan-lahan moncong senjata diturunkan.

Jonathan tersenyum puas.

"Lihat?"

katanya.

"Kau masih sama seperti dulu."

"Selalu berpikir bisa menyelesaikan semuanya tanpa darah."

Surya menatapnya.

"Darah tidak pernah menyelesaikan apa pun."

Jonathan tertawa.

"Dunia tidak berubah sedikit pun."

"Kau masih naif."

---

"Tidak."

Surya menggeleng.

"Yang berubah adalah dirimu."

Tatapan kedua pria itu kembali bertemu.

Mahendra menyadari sesuatu.

Mereka tidak sedang berbicara tentang organisasi.

Mereka sedang berbicara tentang persahabatan lama.

Tentang dua orang yang pernah berjalan di jalan yang sama.

Lalu memilih arah berbeda.

Dan kini...

Bertemu kembali sebagai musuh.

---

"Jonathan."

Surya berkata pelan.

"Masih ada kesempatan."

Jonathan tersenyum sinis.

"Kesempatan?"

"Hentikan semua ini."

"Kita akhiri malam ini."

Jonathan tertawa keras.

Sangat keras.

Sampai gema tawanya memenuhi seluruh pabrik.

"Lalu?"

katanya.

"Aku menyerahkan diriku?"

"Aku masuk penjara?"

"Aku menyesali hidupku?"

Ia menggeleng.

"Kau benar-benar tidak mengenalku lagi."

---

"Aku mengenalmu."

balas Surya.

"Justru itu sebabnya aku masih memberimu pilihan."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Semua orang bisa merasakan ketulusan dalam suara Surya.

Ia benar-benar ingin menghentikan pertumpahan darah.

Bahkan terhadap Jonathan.

Namun...

Jonathan hanya tersenyum.

Senyum penuh kelelahan.

"Pernahkah kau bertanya..."

katanya pelan.

"...kenapa aku menjadi seperti ini?"

Surya terdiam.

"Karena kau memilihnya."

Jonathan menggeleng.

"Tidak."

Tatapannya berubah kosong.

"Pilihanku diambil jauh sebelum aku sempat memilih."

---

Kalimat itu membuat Mahendra mengernyit.

Bahkan Ratih tampak bingung.

"Apa maksudmu?"

tanya Surya.

Jonathan menatap langit-langit pabrik.

"Aku lahir di tempat yang salah."

"Orang tuaku dijual."

"Adikku mati kelaparan."

"Dan orang-orang yang punya kekuasaan..."

Ia tersenyum pahit.

"...hanya menonton."

Ruangan kembali sunyi.

Tidak seorang pun menyangka Jonathan akan membuka masa lalunya.

"Aku belajar satu hal."

katanya.

"Orang baik selalu kalah."

Tatapannya kembali tajam.

"Dan aku menolak menjadi orang baik."

---

Surya menghela napas panjang.

"Jadi kau memilih menjadi monster."

"Bukan."

Jonathan menggeleng.

"Aku hanya menjadi orang yang tidak pernah lagi menjadi korban."

Kalimat itu menggantung di udara.

Tidak ada yang membenarkan.

Tidak ada yang menyalahkan.

Karena mereka semua tahu.

Masa lalu Jonathan memang tragis.

Namun tragedi tidak pernah menjadi alasan untuk menghancurkan hidup orang lain.

---

Tiba-tiba...

Ponsel Jonathan bergetar.

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

Jonathan melihat layar.

Senyumnya perlahan memudar.

Kemudian...

Menghilang.

"Ada apa?"

tanya Surya.

Jonathan tidak menjawab.

Ia membaca pesan itu sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

Seolah tidak percaya.

Mahendra mulai menyadari perubahan itu.

"Apa yang terjadi?"

Jonathan perlahan mengangkat kepala.

Tatapannya berubah tajam.

Sangat tajam.

"Mereka gagal."

Ruangan langsung membeku.

"Apa?"

"Mereka tidak menemukan rumah itu."

Jonathan mengepalkan ponselnya.

"Bukan..."

Ia menggeleng.

"Mereka menemukan rumahnya."

"Tapi rumah itu..."

Suaranya berhenti.

Ada sesuatu yang tidak masuk akal dalam laporan tersebut.

Surya mulai tersenyum tipis.

Senyum pertama sejak Jonathan menunjukkan ponselnya.

"Apa yang mereka temukan?"

tanya Ratih.

Jonathan menatap Surya.

Tatapan penuh kemarahan.

Penuh frustrasi.

Lalu dengan suara berat ia berkata,

"Rumah itu kosong."

Mahendra mengembuskan napas lega.

Namun Surya justru menggeleng pelan.

"Itu bukan bagian yang mengejutkan."

Jonathan mengepalkan rahangnya.

Karena bagian berikutnya memang jauh lebih aneh.

"Mereka bilang..."

Ia berhenti.

Sulit mempercayai laporan itu.

"...rumah itu seperti baru ditinggalkan beberapa menit sebelum mereka datang."

Keheningan.

Aruna mengernyit.

"Itu berarti ada seseorang di sana."

Jonathan mengangguk perlahan.

"Ya."

"Tapi yang membuatku bingung..."

Tatapannya kembali kepada Surya.

"...tidak ada satu pun kamera pengawas yang merekam siapa pun keluar dari rumah itu."

Seluruh ruangan kembali membeku.

Mustahil.

Jika tidak ada yang keluar...

Lalu ke mana penghuni rumah itu menghilang?

Sementara Surya hanya tersenyum kecil.

Lalu berkata dengan tenang,

"Itulah sebabnya rumah itu disebut Rumah Bayangan."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!