NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Bab 18: Kebenaran yang Mengguncang

Suasana di ruang tengah baru saja mulai terasa sedikit lebih tenang.

"Duduk sini sayang!" Arga melambaikan tangannya.

"Iya, Mas"

Diana kembali duduk di samping Arga, mencoba menenangkan diri setelah melihat perubahan raut wajah Nyonya Amara yang tiba-tiba berubah menjadi dingin.

"Udah, gak usah dipikirin!" Ujar Arga, dia melihat Diana yang terus memperhatikan raut wajah ibunya.

"Ibu, masih marah, Mas ?" Bisik Diana di telinga Arga

"Nggak, ibu cuma lagi mikirin cicilan negara!" Bisik Arga sambil tertawa pelan

Ahhh.. Bisa aja nih pak Arga....

Diana menepuk pundak suaminya, kenapa semakin hari, tingkah suaminya ini semakin random.

Atau mungkin memang sebenarnya suamiku aslinya begini. Batin Diana sambil menatap Arga heran

"Kenapa liatin aku begitu sayang?"

"Kamu makin kesini makin aneh, Mas" Kekeh Diana

"Dia bukan aneh lagi, tapi gak tau malu" Ujar Nyonya Amara cepat

Rasanya kupingnya geli, mendengar anaknya yang sudah tua sayang sayangan begitu.

Bikin mual saja . Batin nyonya Amara geli

"Bu !" Ujar Arga tidak terima

"Udah, Mas. Jangan debat terus sama ibu kamu." Ujar Diana memberitahu

"Dia memang anak durh*k* !" Tambah nyonya Amara lagi, matanya mengerling sinis pada Arga.

"Kenapa ibu - " Arga ingin mengomel lagi, tapi Diana kembali memenangkan

"Mas... Udah!" Diana mengambil secangkir teh, lalu memberikannya pada Arga agar mulutnya itu diam.

Nyonya Amara masih menatap sinis pada Arga, sambil tangannya sibuk mengaduk teh hangatnya.

Arga kesal, tapi memilih diam karena istrinya.

Diana merasa lega, meski nyonya Amara masih memperlihatkan tatapan sinis, tetapi dia tau sekarang keadaannya sedikit mencair kembali.

Tetapi .......

kedamaian itu tidak berlangsung lama.

Belum sempat cangkir teh Arga kosong,

suara deru mobil yang melaju kencang terdengar dari luar halaman, disusul suara pintu mobil yang dibanting keras seolah meluapkan kekesalan.

Tak lama kemudian, langkah kaki yang cepat dan berat terdengar mendekati ruang tamu, membuat semua orang yang ada di dalamnya langsung menoleh ke arah pintu masuk.

"Astaga... Apa lagi ini, Tuhan" Gumam nyonya Amara dengan perasaan prustasi begitu dia melihat siapa yang datang.

Begitu juga dengan Arga dan Diana.

Jantung mereka seakan berhenti berdetak, tubuh mereka kaku.

Mata keduanya melotot tajam.

Pintu ruang tengah terbuka lebar, dan sosok Gilang berdiri di ambang pintu dengan napas yang terengah-engah, wajahnya terlihat marah.

"AYAH...."

Ia baru saja memarkirkan mobilnya dengan tergesa-gesa, dirinya masih memikirkan telepon yang diputuskan sepihak oleh ayahnya tadi pagi.

Ia datang niatnya untuk menuntut penjelasan,

Tetapi matanya langsung terbelalak lebar begitu pandangannya jatuh pada sosok yang duduk di sebelah Arga.

"Diana !" Ujar Gilang pelan, matanya terpaku pada satu tujuan, yaitu Diana

Diana juga tertegun. Seolah tubuhnya kehilangan tenaga seketika, ia seperti patung yang tidak bisa bergerak sedikit pun.

Kenapa harus secepat ini? Batin Diana

Jantungnya yang baru saja mulai tenang kini berdebar kencang, berpacu sedemikian rupa hingga ia merasa suaranya terdengar keras di telinganya sendiri.

Wajahnya seketika memucat, dan matanya mulai berkabut, air mata yang sejak tadi ia tahan kini menggenang di pelupuk matanya, siap tumpah kapan saja.

"Mas... " Bisik Diana pelan, sangat pelan, nyaris tidak terdengar jika Arga tidak berada tepat di sampingnya.

"Tenang!" Arga menggenggam nya erat

Bayangan masa lalu yang menyakitkan itu seketika melintas cepat di dalam pikiran Diana.

Tanpa sadar, tangannya yang gemetar erat memegang paha Arga, mencari sandaran dan perlindungan dari suaminya itu.

Arga langsung merasakan ketegangan itu, ia segera melingkarkan satu lengannya di bahu Diana, menariknya lebih dekat ke dalam pelindungannya, matanya pun langsung menatap tajam ke arah putranya yang baru datang.

Nyonya Amara semakin menekan pelipisnya, entah apa lagi yang akan terjadi.

Gilang masih berdiri mematung di ambang pintu, matanya tidak beralih sedikit pun dari wajah Diana.

"Diana ! Kamu -

Ia mengucek matanya sendiri, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Sudah lama ia mencari, setelah berhari-hari ia bertanya-tanya ke mana gadis itu pergi, kini Diana ada di hadapannya, duduk santai di rumahnya sendiri, terlihat begitu dekat dengan ayahnya bahkan juga dengan neneknya.

“Diana…?” suara Gilang keluar serak, bercampur kaget dan rasa tidak percaya.

“Kamu… kenapa bisa ada di sini? Apa yang kamu lakukan di rumahku? Dan kenapa duduk sedekat itu dengan Ayahku?”

Pertanyaan itu keluar bertubi-tubi, membuat suasana yang tadinya sudah mencair kini menjadi semakin panas.

Diana hanya bisa menunduk, tak mampu menjawab sepatah kata pun, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya.

Gilang berjalan semakin dekat.

Melihat Diana hanya diam dan menangis, rasa kaget Gilang berubah menjadi rasa ingin tahu.

Ia melupakan tujuan awalnya datang untuk bertanya soal pernikahannya, dan malah melangkah cepat menghampiri Diana.

“Jawab aku, Diana! Kenapa tiba-tiba kamu menghilang begitu saja? Semua nomor teleponmu tidak aktif, akun media sosialmu hilang, bahkan teman-temanmu pun tidak tahu keberadaanmu.

Aku sudah mencarimu ke mana-mana, sampai ke tempat kosmu dulu, tapi Bu Siti bilang kamu pulang kampung dan tidak tahu kapan kembali.

Kenapa kamu tiba-tiba memblokir semua akses untuk menghubungiku? Apa kesalahanku sampai kamu bersikap sekejam itu padaku?” tanya Gilang dengan nada yang makin tinggi, matanya menatap tajam ke arah Diana.

Dasar Gilang gak tau diri yah guys, kan katanya balik kerumah mau bahas pernikahannya, tapi pas liat Diana, udah kayak orang paling tersakiti sedunia.

Mendengar pengakuan itu, Arga merasa dadanya terasa panas.

Rasa cemburu yang tiba-tiba muncul menyelimuti hatinya, sekaligus rasa marah mengingat apa yang telah dilakukan Gilang pada Diana.

Sebelum Gilang sempat mendekat lebih jauh, Arga langsung menyentak tangan Gilang yang dengan lancang hendak meraih lengan Diana.

“Jangan berani-berani menyentuhnya!” bentak Arga dengan suara lantang dan tegas, membuat getaran di seluruh ruangan.

Gilang terkejut, lalu menoleh ke arah ayahnya dengan wajah bingung sekaligus kesal. “Ayah? Kenapa Ayah marah? Ini urusanku dengan Diana, kenapa Ayah ikut campur?”

Di sudut ruangan, Nyonya Amara hanya bisa menggelengkan kepala sambil memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut.

Ia merasa seperti sedang melihat dua anak kecil yang sedang berebut mainan, padahal keduanya adalah pria dewasa yang seharusnya bisa bersikap lebih bijaksana.

Namun melihat ketegangan yang semakin memuncak, ia memilih untuk tidak menyela dulu, ingin melihat bagaimana kelanjutan dari peristiwa ini.

“Urusanmu?” ulang Arga dengan nada mengejek, matanya memancarkan wibawa yang membuat siapa pun gentar.

“Sejak kapan ini menjadi urusanmu? Sudah jelas-jelas dia pergi dari hidupmu, dia tidak ingin berhubungan lagi denganmu. berhentilah bersikap seolah kamu masih memiliki hak atas dirinya!”

"Apa ?"

Perkataan Arga justru membuat Gilang semakin emosi.

Ia merasa ayahnya melindungi Diana secara berlebihan, dan itu membuatnya semakin curiga.

“Hak apa? Diana adalah kekasihku! Setidaknya aku berhak mendapatkan penjelasan kenapa dia pergi begitu saja! kenapa ayah marah, seolah dia adalah orang terdekat Ayah sendiri!” ujar Gilang

Mendengar kata-kata ayahnya, Gilang semakin berani.

Ia mendekatkan dirinya lagi ke arah Diana, bahkan berusaha merentangkan tangannya seolah ingin memeluk gadis itu.

“Diana, dengarkan aku, kita bicara baik-baik yah. Jangan menghindar lagi,”

Namun kalimatnya belum selesai terucap. Arga langsung melangkah maju dan berdiri tegak di depan Diana, menghalangi pandangan dan gerakan Gilang sepenuhnya.

Suasana menjadi hening seketika, hanya terasa energi amarah yang meluap dari kedua pria itu.

Arga menatap putranya itu dengan tatapan yang tajam dan dingin, lalu mengucapkan kalimat yang seolah menjadi petir menyambar di siang bolong.

“Dengar baik-baik, Gilang. Jangan pernah lagi bersikap lancang pada istriku. Jangan pernah menyentuhnya, memeluknya, atau menganggap dia masih menjadi milikmu. Mulai hari ini, ingat satu hal: Diana bukan lagi kekasihmu. Dia adalah istriku, dan untukmu… dia adalah ibumu.”

DUARRR!!!

Kata-kata itu terasa seperti ledakan yang mengguncang seluruh ruangan.

Gilang terpaku di tempatnya, matanya terbelalak lebar hingga terasa ingin melompat keluar, rahangnya mengeras seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Ia mengerjap beberapa kali, mencoba memastikan apakah telinganya tidak salah mendengar.

“Apa… apa yang Ayah katakan?” tanya Gilang dengan suara yang bergetar, campuran antara kaget, tidak percaya, dan rasa marah yang mulai meledak di dadanya.

“Ibu? Dia menjadi ibuku? Maksud Ayah… Ayah menikahinya? Ayah menikah dengan Diana, kekasihku sendiri?!”

Suara Gilang meninggi, berubah menjadi teriakan yang penuh kemarahan. Rasa malu, dikhianati, dan tidak terima bercampur menjadi satu di dalam hatinya.

Ia merasa dunia seolah terbalik, mantan kekasihnya kini menjadi istrinya ayahnya sendiri, menjadi wanita yang harus ia panggil ibu.

“Gila! Ini semua gila! Ayah benar-benar gila!” teriak Gilang sambil menunjuk-nunjuk ke arah Arga.

“Bagaimana bisa Ayah melakukan hal sehina ini? Ayah merebut wanita yang pernah aku cintai! Ayah tahu betul siapa dia, dan Ayah tetap menikahinya? Apa ini cara Ayah menghukumku? Atau Ayah sengaja melakukannya untuk membuatku malu seumur hidup?!”

“Berhenti bicara sembarangan!” bentak Arga tidak kalah keras, emosinya pun mulai meluap mendengar tuduhan yang tidak benar itu.

“Siapa yang merebut? Jika kamu bisa menjaganya dengan baik, jika kamu tidak menyakiti hatinya dengan penghianatan dan perlakuanmu yang buruk, apakah dia akan sampai memilih jalan ini?

Dia pergi dari hidupmu karena kamu yang membuatnya kecewa! Dan aku menikahinya bukan untuk menghukummu, tapi karena aku mencintainya dan ingin melindunginya dari rasa sakit yang kamu berikan!”

“Melindungi? Itu hanya alasan murahan!” Gilang melangkah maju, wajahnya sudah memerah menahan amarah, tangannya mengepal erat seolah ingin melampiaskan kekesalannya.

“Ayah hanya ingin memuaskan keinginan sendiri! Bagaimana rasanya menjadi istri ayah, Diana? Apakah kamu merasa puas menyakiti hatiku dengan cara yang paling kejam ini?!”

Mendengar Gilang menuduh Diana juga, Arga tidak bisa menahan diri lagi.

Ia mendorong bahu Gilang dengan cukup keras, membuat pemuda itu terhuyung mundur beberapa langkah.

“Jangan pernah melibatkan Diana dalam ini! Dia tidak bersalah ! Jika ada yang bersalah, itu adalah dirimu sendiri yang tidak bisa menghargai ketulusan orang lain!”

Suasana semakin memanas, keduanya sudah berdiri berhadapan, saling menatap tajam seolah siap untuk beradu fisik.

Kepalan tangan mereka sudah terangkat, siap untuk melancarkan pukulan.

Melihat hal itu, Nyonya Amara yang tadinya hanya diam kini berdiri sambil memukulkan tongkatnya ke lantai dengan keras.

“Cukup!” teriaknya dengan suara lantang

Namun sebelum Nyonya Amara sempat melangkah lebih dekat,

Diana yang sejak tadi menahan tangis akhirnya bergerak.

Ia melangkah cepat ke depan, berdiri di antara Arga dan Gilang, menahan kedua lengan mereka dengan sekuat tenaga meski tubuhnya terasa lemah.

“Cukup! Jangan berkelahi!” teriak Diana dengan suara yang parau karena menangis, matanya masih basah namun kini terlihat tegas.

“Tolong jangan berkelahi! Aku tidak ingin menjadi penyebab kalian berdua saling melukai!

Gilang, dengarkan aku… apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah lagi. Aku sudah memaafkanmu,

dan aku juga sudah melupakan masa lalu kita. Sekarang aku sudah memiliki kehidupan baru, dan aku hanya ingin hidup tenang. Jangan membuat semuanya menjadi semakin buruk lagi.”

Diana berusaha mendorong Arga sedikit ke belakang, lalu menatap Gilang dengan tatapan yang sedih.

“Dan untukmu, Mas Arga… tolong jangan terpancing emosi. Kita sudah memutuskan jalan ini, maka kita harus menyelesaikannya dengan kepala dingin, bukan dengan kekerasan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!