Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.
Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.
Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.
"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Perjalanan pulang berlangsung cukup lancar, meski suasana di dalam mobil terasa sedikit hening. Raga menyetir dengan tenang, sesekali melirik ke arah Amelia yang duduk di sampingnya dengan pandangan kosong ke luar jendela. Amelia masih menyimpan rasa kesal yang belum sepenuhnya hilang, namun berusaha menutupinya.
Setelah beberapa jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di depan rumah Amelia. Raga mematikan mesin dan menoleh ke arah wanita itu.
"Sampai," ucapnya singkat.
Amelia menoleh, lalu tersenyum tipis, senyum yang terlihat biasa saja, namun ada ketegangan yang tersembunyi di matanya. "Terimakasih sudah mengantarkan, Mas. Hati-hati di jalan pulang ke rumah."
Ia membuka pintu mobil dan turun, namun sebelum menutupnya, ia berhenti sejenak dan menunduk sedikit ke arah Raga.
"Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai di rumah, ya? Dan ingat apa yang sudah kita bicarakan sebelumnya," bisiknya pelan, dengan nada yang terdengar lembut namun penuh penekanan.
Raga mengangguk pelan. "Iya, aku ingat. Kamu juga istirahat yang cukup. Besok sudah harus masuk kantor lagi."
Pintu mobil tertutup perlahan. Amelia melangkah menuju pintu rumahnya, membukanya, dan melambaikan tangan sebentar sebelum masuk dan menutup pintu rapat-rapat.
Setelah memastikan Amelia masuk, Raga segera menyalakan mesin mobil kembali dan melajukan kendaraannya meninggalkan halaman rumah itu.
-
-
-
Suara mesin mobil mati bergema di halaman rumah. Raga turun perlahan, membuka pintu bagasi dan mengambil kantong-kantong belanjaan berisi gaun, kalung, serta oleh-oleh makanan yang sudah ia siapkan dengan harapan bisa melunakkan hati istrinya. Ia mengatur napas sebentar, lalu melangkah menuju pintu depan dengan senyum tipis yang tergambar di wajahnya.
Begitu pintu terbuka dan ia masuk ke dalam ruang tengah, langkahnya seketika melambat.
Disana, Risa duduk santai di atas sofa dengan punggung tegak dan wajah datar tanpa ekspresi. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum, tidak ada tanda-tanda kegembiraan menyambut kepulangannya.
Namun yang membuat jantung Raga seolah berhenti berdetak adalah apa yang tergeletak di atas meja di hadapan istrinya. Itu adalah foto-foto berserakan, jelas memperlihatkan dirinya berpegangan tangan, berpelukan, bahkan berciuman mesra bersama Amelia.
Tangan Raga yang memegang kantong belanjaan terasa kaku. Darah di wajahnya seketika surut, berubah menjadi pucat pasi. Ia berdiri terpaku, tidak mampu bergerak maju maupun mundur.
Risa menatapnya dengan pandangan dingin, tanpa ada sedikit pun rasa terkejut atau marah yang meledak-ledak, hanya ketenangan yang menusuk.
"Kamu pulang," ucapnya singkat, suaranya datar dan tidak ada nada emosi sama sekali.
Raga menelan ludah dengan susah payah. Ia berusaha menyembunyikan kegelisahannya, namun suaranya terdengar bergetar saat ia berbicara. "Risa… ini… apa maksud semua foto ini? Darimana kamu mendapatkannya?"
"Tidak perlu berpura-pura tidak tahu, Mas," jawab Risa tenang. "Semua sudah jelas terlihat. Foto-foto ini, semua ini adalah bukti nyata bahwa selama ini kamu telah membohongiku, mengkhianati janji pernikahan kita, dan bermain di belakangku dengan wanita lain."
Wajah Raga memerah, rasa malu, takut, dan sedikit marah mulai muncul. "Ini fitnah! Pasti ada orang yang sengaja mengedit foto ini untuk memecah belah kita! Kamu tidak boleh percaya begitu saja pada hal semacam ini!"
"Edit?" Risa tertawa kecil, tawa yang terdengar pahit dan tanpa kebahagiaan. "Apakah video ini juga diedit? Dimana suara kamu mendesah memanggil namanya berulang kali, dimana kamu berjanji akan selalu bersamanya?"
Risa mengusap layar ponsel ditangannya, lalu dia berdiri dan memutar video yang dia dapatkan dari nomor tidak dikenal, menunjukkannya pada Raga.
"Jangan merendahkan kecerdasanku, Mas. Aku sudah cukup sabar selama lima tahun ini, tapi kali ini aku tidak akan membiarkan kamu terus berbohong di depanku."
Wajah Raga seketika berubah pucat pasi, darahnya seolah mendidih sekaligus membeku disaat yang sama. Matanya terbelalak lebar menatap layar ponsel itu, tubuhnya terasa lemas seolah tidak bertulang. Di layar terlihat jelas dirinya dan Amelia di dalam kamar hotel - suasana, pakaian, bahkan detail kecil di ruangan itu tidak mungkin ia lupakan. Suara mereka yang terdengar jelas, gerakan dan percakapan yang tidak bisa disangkal, semuanya terekam dengan nyata.
Kantong-kantong belanjaan yang ia pegang terlepas begitu saja dari genggamannya dan jatuh ke lantai.
"Ini... ini tidak mungkin..." gumam Raga terbata-bata, suaranya nyaris tidak terdengar. Kakinya terasa lemas, ia mundur selangkah hingga punggungnya bersandar pada dinding. "Siapa yang mengirimkan ini? Siapa yang berani merekam dan menyebarkannya?"
"Apakah itu penting?" Risa mematikan layar ponselnya, menatap Raga dengan tatapan yang tetap dingin dan tak tergoyahkan. "Yang penting sekarang adalah kenyataannya. Video ini membuktikan semuanya, bahwa selama ini kamu telah membohongiku, mengkhianati sumpah pernikahan kita, dan mempermainkan perasaanku dengan cara yang paling kejam."
Raga melangkah cepat mendekati meja, menunjuk foto-foto yang berserakan dengan tangan gemetar.
"Kamu benar-benar percaya dengan foto-foto ini dan video itu begitu saja? Tanpa mau mendengar penjelasanku?!" bentaknya dengan suara menggelegar. "Ini semua hanya upaya orang jahat untuk memecah belah kita! Kenapa kamu tidak pernah percaya padaku, padahal aku adalah suamimu?!"
Risa tidak gentar sedikit pun. Ia menatap Raga dengan pandangan dingin dan penuh kekecewaan.
"Percaya padamu?" ulangnya dengan nada sinis. "Selama ini aku sudah terlalu percaya, Mas! Aku percaya saat kamu bilang pergi dinas, padahal kamu pergi bersamanya. Aku percaya saat kau bilang lembur, padahal kamu sedang menghabiskan waktu bersamanya. Kepercayaanku sudah kamu hancurkan berkeping-keping sejak lama! Foto-foto dan video ini sudah membuktikan semuanya bahwa kamu berkhianat!"
Raga menendang kursi di sampingnya dengan kasar, wajahnya memerah menahan emosi.
"Baiklah! Kalau begitu aku akui! Aku memang pernah dekat dengannya! Tapi apa salahnya? Kamu sendiri tahu kondisimu! Kamu tidak bisa memberiku keturunan! Sebagai laki-laki, aku juga ingin punya anak! Apakah itu terlalu berlebihan untuk diminta?!" teriaknya tanpa rasa bersalah, mencoba membenarkan perbuatannya.
Kalimat itu menusuk hati Risa, namun ia tidak menunjukkan rasa sakitnya. Sebaliknya, ia justru tertawa kecil, tawa yang penuh kepahitan.
"Jadi ini alasannya? Karena aku tidak bisa punya anak, maka aku berhak dikhianati, dihina, dan dibohongi? Apakah janji pernikahan kita hanya soal melahirkan keturunan saja? Lalu apa artinya kesetiaan dan saling menghormati yang dulu kamu ucapkan di hadapan orang banyak?!" balas Risa dengan suara meninggi, matanya menatap tajam. "Aku sudah berusaha semampuku, menerima segala kekuranganmu, mengurus rumah tangga ini sebaik mungkin. Tapi kamu membalasnya dengan membawa wanita lain di belakangku! Itu bukan kesalahan, Mas! Itu pengkhianatan yang disengaja!”
"Kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan!" bantah Raga, suaranya masih keras. "Hidup denganmu terasa hambar! Tidak ada perhatian, tidak ada kehangatan yang aku butuhkan! Amelia bisa memberikannya padaku! Dia mengerti aku, dia menghargai aku---"
"Jadi sekarang aku yang disalahkan?!" potong Risa dengan nada tajam. "Aku yang tidak memberikan perhatian atau kamu yang selalu sibuk dengan urusanmu sendiri? Kamu menyalahkanku hanya untuk menutupi kebohonganmu sendiri! Kamu sama sekali tidak punya rasa bersalah!"
Raga mengepalkan tangannya erat, napasnya memburu. "Lalu apa yang kamu inginkan sekarang, Ris?!"
"AKU INGIN KITA BERCERAI!"
-
-
-
Bersambung...
secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭