NovelToon NovelToon
Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Blurb

"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"

Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.

Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."

Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.

Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.

Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.

Semuanya terlambat Alina sadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: DOA YANG SELALU TERPANJAT

...BAB 30...

...DOA YANG SELALU TERPANJAT...

Hari-hari pun berlalu, dan Alina mulai merasa betah bersekolah di tempat itu. Suasananya tenang dan teman-teman yang perlahan mulai menerima kehadirannya membuat beban di hatinya terasa semakin ringan. Namun, di tengah kenyamanan itu, ada satu hal yang selalu menjadi perhatiannya: kehadiran Dimas.

Hari Rabu siang itu, saat bel istirahat baru saja berbunyi, Alina menyadari sesuatu yang tidak biasanya. Ia melirik ke arah kelas tempat Dimas belajar dari kejauhan, namun sosok pemuda itu tidak terlihat sama sekali. Sudah beberapa jam pelajaran berlangsung, tapi Dimas tak pernah melintas di koridor atau duduk di tempatnya seperti biasanya. Rasa gelisah perlahan merayap masuk ke dalam hatinya.

Dengan langkah hati-hati, Alina mendekati pintu kelas Dimas dan menyapa salah satu teman sekelasnya, yang kebetulan berdiri di sana. “Permisi… maaf mengganggu. Boleh aku tanya, apakah Dimas hari ini tidak masuk sekolah?”

Siswa itu menoleh, sedikit terkejut karena belum mengenal Alina siswa baru kelas 12, namun menjawab dengan sopan. “Kamu belum mendengar kabarnya, ya? Tadi pagi saat jam pelajaran pertama, Dimas dipanggil oleh petugas piket. Ada kabar buruk dari rumahnya—katanya Ibunya mengalami kecelakaan, ditabrak oleh pengendara motor yang ngebut. Makanya itu, Dimas buru-buru meminta izin pulang!”

Kecelakaan? Bu Kirana?

Jantung Alina seakan berhenti berdetak sesaat. Matanya membulat lebar. Shock. Pikirannya langsung teringat tadi pagi sebelum Alina berangkat ke sekolah, Alina pamitan pada Papanya dan berangkat dengan naik taksi. Masih di dalam taksi, yang belum jauh berjalan dari toko ayahnya. Alina sekilas melihat sosok Bu Kirana yang berjalan menghampiri Papanya yang baru saja membuka toko, dengan keranjang makanan di tangannya.

"Ya Tuhan, baru tadi pagi kulihat dia baik-baik saja_" ucap Alina menutup mulutnya, tubuhnya bergetar kencang.

Rasa ngeri dan sedih bercampur menjadi satu di dada Alina. Tanpa membuang waktu, ia segera meminta izin pulang kepada guru kelasnya. Ia berjalan tergesa menuju gerbang sekolah, berniat memesan taksi lewat ponselnya. Namun, belum sempat ia menghubungi layanan transportasi, sebuah suara memanggil dari belakang.

“Alina! Mau ke mana, terburu-buru sekali?”

Itu suara Farhan, yang baru saja keluar dari ruang guru. Melihat wajah Alina yang pucat pasi dan matanya sudah berkaca-kaca, ia langsung menyadari ada hal serius.

“Bu Kirana mengalami kecelakaan, Farhan. Dia_ dia tertabrak motor! Aku harus segera ke rumahnya,” jawab Alina dengan suara bergetar menahan tangis.

Farhan mengernyitkan dahi, wajahnya ikut berubah tegang. “Kalau naik taksi dari sini butuh waktu lama dan bisa terjebak macet, tapi lebih cepat kalau naik motorku. Mau aku antar?” Farhan yang sudah tahu kalau Alina sudah tak punya mobil. Lantas berinisiatif mengantarkan gadis itu ke rumah Dimas.

Alina mengangguk setuju tanpa ragu lagi. Setelah Farhan meminta izin pulang juga, ia segera mengambil sepeda motornya, memakai helm, lalu mengatur posisi duduk dengan jarak yang wajar, menjaga batas antara keduanya. Dalam hitungan menit, mereka melaju menuju perumahan sederhana tempat Bu Kirana dan Dimas tinggal.

Sesampainya di depan rumah itu, suasana terasa sangat sunyi. Pagar terbuka sedikit, dan pintu utama hanya terkatup rapat, tidak dikunci. Jantung Alina berdegup kencang saat mendorong pintu itu perlahan.

“Bu, Ibuu? Dimas?” panggilnya lirih.

Tidak ada jawaban. Rumah itu terasa kosong dan sepi.

“Mereka pasti sudah membawa Bu Kirana ke rumah sakit terdekat,” ujar Farhan dari ambang pintu, tidak masuk tanpa izin. “Kita cari saja keterangan atau pesan yang mungkin tertinggal.”

Alina melangkah masuk perlahan. Ia berjalan menuju satu-satunya kamar tidur yang ada di sudut ruangan. Di dalam sana hanya ada dua kasur yang disusun berdampingan, sederhana namun terlihat sangat bersih dan rapi. Di samping kasur Dimas, tergeletak tumpukan buku pelajaran, dan di bawahnya terselip sebuah buku bersampul kain yang sudah lusuh dan kertasnya menguning karena usia.

Rasa penasaran dan kekhawatiran mendorong Alina mengambilnya. Ternyata itu adalah buku diari milik Bu Kirana.

Dengan tangan yang mulai bergetar, Alina membuka halaman demi halaman. Tulisan tangannya yang rapi namun sedikit bergetar terbaca jelas, berisi segala isi hati, harapan, dan doa-doa yang tak pernah sempat diucapkan secara langsung. Hingga sampai beberapa lembar halaman terakhir.

5 Mei 2026 :

~Hari ini aku melihat Alina berjalan pulang sendirian. Wajahnya terlihat sangat lelah, seolah memikul beban yang berat. Ingin sekali ku menyapanya, ingin bertanya kabarnya, tapi aku tahu ia masih membentengi hatinya. Tidak apa-apa, Ibu akan tetap menunggu, Nak... Ibu hanya bisa mendoakan mu dari jauh. Semoga Tuhan melindungi mu, memberimu kekuatan dan kebahagiaan yang layak kamu dapatkan...~

Alina mengingat kembali kejadian pada hari itu, ia masih di sekolah yang lama. Ketika Alina membentak Ibu Kirana di depan teman-temannya. Di bawah guyuran air hujan yang deras. Bu Kirana pulang, membawa perasaan yang hancur setelah ku tolak.

“Dimas sering bertanya kenapa aku begitu sering mendoakan Alina. Aku jawab saja, karena ia sudah seperti anakku sendiri, sudah jadi bagian dalam hidupku. Aku dan Alina sudah pernah merasakan kehilangan Ibu. Sama-sama pernah merasakan bagaimana hidup tanpa seorang Ibu, Ibu yang selalu memberimu dukungan dan kasih sayang setiap waktu, kini sudah tidak ada lagi. Bertemu dan mengenal Alina seolah-seolah memberiku kekuatan dan harapan untuk bertahan hidup. Alina adalah harapan terbesarku ... Aku pun berharap, suatu hari nanti ia bisa memanggilku dengan sebutan ‘Ibu’, bukan sekadar ‘Bu Kirana’. Itu sudah cukup membuat hatiku merasa lengkap dan bahagia ...”

~Maafkan Ibu, Alina ... Ibu tidak bisa memberi rumah megah untukmu, Nak. Tapi, Ibu hanya punya doa yang tidak pernah putus, untuk menjaga kamu sampai Ibu tidak kuat lagi...~

Semakin ia membaca, air mata Alina semakin deras mengalir membasahi pipinya. Sebagian besar tulisan di buku itu memang berisi doa dan harapan untuk dirinya—untuk gadis yang selama ini hanya membalas kebaikan itu dengan sikap dingin dan keraguan. Rasa bersalah yang terpendam meledak menjadi tangis yang tertahan.

“Aku belum sempat meminta maaf… belum sempat mengucapkan terima kasih… bahkan belum sempat memanggilnya dengan sebutan yang ia dambakan…” batinnya terasa sesak menyesakkan dada.

Farhan yang berdiri di ambang pintu hanya menatap dengan penuh rasa prihatin, membiarkan Alina meluapkan segala perasaannya tanpa mengganggu. Ia pun ikut merasakan kepedihan melihat ketulusan hati wanita itu yang terungkap lewat tulisan.

Belum lama ia selesai membaca halaman terakhir, suara ponsel di saku Alina berdering nyaring. Ia segera mengangkatnya dengan tangan yang masih gemetar, dan suara Ayahnya terdengar dari seberang sana.

[“Alina, kamu di mana Nak? Dengar baik-baik. Sekarang Papa dan Dimas sedang berada di rumah sakit. Bu Kirana_ mengalami kecelakaan, Nak. Saat ini masih di ruang UGD. Segera kemari ya, Nak.”]

Tangan Alina terasa semakin lemas, namun ia segera mengumpulkan sisa kekuatannya. Ia menutup buku diari itu dengan hati-hati, lalu menggenggamnya erat di dada. Di dalam hatinya, ia berjanji sungguh-sungguh, jika Bu Kirana diberi kesempatan untuk sembuh, ia tidak akan membuang waktu lagi.

Ia akan meminta maaf, menyampaikan rasa terima kasihnya, dan memanggil wanita itu dengan sebutan yang paling tulus, Ibu.

Iya Ibu. Harapan yang selalu tersimpan rapat-rapat di hati seorang wanita yang baik, Wanita yang penuh kasih dan tulus menyayangi seorang anak yang tak tahu diri seperti dirinya.

Bersambung...

Hallo readerss... Semoga suka dengan kisah Alina dan Kirana ya.. Pantengin ya, Like nya beri komentar dan 🌟 lima nya juga. Supaya author bisa menyelesaikan ceritanya sampai tamat 😭😭😭🥰🥰🥰🙏🙏🙏

1
Wulandari Ayuningtyas
like back y kak😁
Kam1la
tangkap saja si Raka
Kam1la
Raka pelakunya kah...?
Kam1la
semoga bu Kirana baik-baik saja
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ulah songong monyet.
Kayla Rane: 😂🤭 ulah emosi teuing
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
oh, terserah
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tante
penulismisterius
sabar ya bu Kirana😞
nanti Alina juga perlahan luluh
penulismisterius: siap kak sama samaa😄😄
total 2 replies
Kam1la
Alina keren....
Kam1la
akhirnya, Alina menyadari juga
Kam1la
bu Kirana meski disakiti, hatinya tetap baik dan peduli
Kam1la
Alina mulai berubah
Kam1la
jujur saja Alina
Kam1la
kasihan Alina. ketakutan
Kam1la
nah kan, baru terasa kehilangan
Kam1la
akhirnya mau pulang juga
Kam1la
ayo, Alina pulang ke rumah
Kam1la
jangan pergi bu Kirana. ....
Kam1la
Alina pasti mau pulang ke rumah
Kam1la
untung ada Farhan... kamu datang tepat waktu Faran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!