NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#27

Angin malam yang berembus di atas perbukitan Hollywood tidak sedingin udara musim gugur di Frankfurt, namun bagi Navarro Von-riccardo, atmosfer Los Angeles malam ini terasa jauh lebih membakar.

Di dalam ruang kerja pribadi Navarro yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota Los Angeles, suasananya terasa sangat tegang.

Brak!

Navarro menghantam meja kerja berbahan kaca tempered itu dengan kepalan tangannya, membuat beberapa berkas taktis berserakan.

Napasnya memburu kasar di balik kemeja hitamnya yang sengaja dibuka dua kancing teratasnya.

Tiga puluh satu hari tanpa kabar dari Issabelle telah mengubah pria itu menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

"Katakan sekali lagi, Grey," desis Navarro, suaranya bergetar rendah, sarat akan ancaman berbahaya yang membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat.

Temannya Grey, yang duduk di depan jajaran monitor dengan dahi dibanjiri keringat dingin, menelan ludahnya dengan susah payah.

Jemarinya yang gemetar kembali mengetik beberapa baris kode enkripsi Deep Web sebelum menoleh menatap sang Tuan Muda.

"Pesan itu baru saja masuk ke jalur komunikasi internasional, Nav," jelas Grey, suaranya bergetar.

"Faksi aliansi pemberontak di Jerman... pria bernama Taylor Swift, dia baru saja meruntuhkan dinasti Dark Dubois. Ayah Issabelle sudah dieksekusi sebulan lalu. Dan sekarang, Taylor Swift menghubungi perwakilan Von-riccardo untuk meminta bantuan intelijen lokal."

Navarro melangkah maju, mencengkeram tepi meja Grey dengan mata yang berkilat merah penuh amarah yang murni.

"Bantuan apa?"

"Mereka mencari seorang wanita bernama Sloane—ibu kandung Issabelle," jawab Grey cepat, seolah takut peluru akan menembus kepalanya jika ia terlambat sedetik saja.

"Taylor Swift berniat menculik Sloane, untuk dijadikan umpan terakhir, karena... karena Issabelle saat ini ditawan dan disiksa di ruang bawah tanah Frankfurt."

DEG.

Dunia seakan runtuh di bawah kaki Navarro. Otaknya yang jenius seketika mengalami korsleting emosional sebelum pecahan-pecahan teka-teki itu menyatu dengan hantaman rasa sakit yang luar biasa.

Ditawan? Disiksa? Sebulan penuh?

Bayangan tubuh ramping Issabelle yang putih pucat, wangi mawar es yang menjadi candunya, dan bibir tipis yang malam itu ia lumat hingga membengkak, kini terbayang sedang bersimbah darah di bawah siksaan pria lain.

Kebohongan yang dilontarkan Issabelle malam itu di dalam mobil sport—cerita tentang situasi klan yang aman—ternyata hanyalah sebuah pengorbanan taktis agar Navarro tidak ikut terseret ke dalam lubang kematian.

Gadis itu sengaja menyerahkan kesucian dan seluruh dirinya malam itu sebagai salam perpisahan yang tragis.

"Sialan! Bajingan kurang ajar!" raung Navarro, menendang kursi kulit di dekatnya hingga hancur menghantam dinding kaca.

Kegilaan posesifnya meledak seutuhnya, meruntuhkan segala kendali diri yang selama ini ia banggakan sebagai seorang Riccardo.

"Dia milikku! Berani-beraninya bajingan Eropa itu menyentuh seujung kuku milikku!"

Skylar yang sejak tadi berdiri, menahan bahu bidang Navarro yang gemetar hebat oleh amarah. "Nav! Tenang! Kita tidak bisa bergerak buta! Jika Taylor Swift menghubungi mu, artinya dia belum tahu hubunganmu dengan Issabelle!"

Navarro menarik napas dalam-dalam, mencoba memaksakan otak taktisnya untuk kembali bekerja di tengah badai kemarahan.

Matanya menyipit tajam, memancarkan kilatan predator yang paling mematikan.

"Grey," panggil Navarro, suaranya mendadak berubah menjadi sangat tenang—sebuah ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada raungannya tadi.

"Sambungkan jalur komunikasi langsung ke ruang bawah tanah kastil Frankfurt. Gunakan frekuensi satelit yang diminta Taylor Swift. Katakan pada mereka, pewaris-riccardo sendiri yang akan menjawab panggilan mereka."

"Dipahami, Nav. Melakukan peretasan balik ke jalur video satelit mereka... tiga, dua, satu... tersambung!"

Di ruang bawah tanah kastil Frankfurt yang pengap oleh bau kematian, Taylor Swift sedang berdiri di depan sebuah monitor portabel yang dibawa oleh anak buahnya.

Ia mengharapkan sebuah jawaban formal dari kepala klan Riccardo di Los Angeles untuk memuluskan operasi penculikannya.

Namun, layar monitor besar itu mendadak berkedip kasar, menampilkan visual sebuah ruang kerja mewah di Los Angeles.

Dan di sana, duduk sesosok pria muda berusia enam belas tahun dengan aura dominasi yang begitu pekat hingga mampu menembus batas layar digital.

Navarro Von-riccardo menatap lurus ke arah kamera dengan sepasang mata gelap yang dingin, tak ubahnya seperti malaikat maut yang sedang mengintip mangsanya.

Taylor Swift sedikit mengernyit, terkejut melihat anak muda yang menjadi lawan bicaranya. "Ah, jadi ini Tuan Muda Navarro Riccardo? Suatu kehormatan. Aku berasumsi anak buahmu sudah menyampaikan pesanku mengenai pencarian wanita bernama Sloane di Los Angeles?"

Navarro tidak langsung menjawab.

Matanya bergerak perlahan, melewati bahu Taylor Swift, dan langsung terkunci pada siluet tubuh ramping yang tergantung dengan rantai besi di tengah ruangan.

Jantung Navarro berdenyut menyakitkan saat melihat Issabelle. Gadis mawar esnya tampak begitu rapuh, wajahnya yang cantik dipenuhi noda darah kering, dengan pakaian rajut sutra yang koyak.

Namun, begitu Issabelle mendengar suara bariton yang teramat ia kenali dari pengeras suara monitor, sepasang mata abu-abunya yang tadinya redup seketika membelalak lebar oleh rasa syok yang luar biasa masif.

Issabelle mendongak dengan sisa kekuatannya, menatap layar monitor di depannya dengan napas yang tercekat.

Navarro... kenapa pria bodoh ini benar-benar muncul di layar itu? jerit batinnya penuh ketakutan.

Taylor Swift yang menyadari perubahan atmosfer itu terkekeh rendah. Ia berjalan mendekati Issabelle, menarik rambut abu-abu gadis itu agar wajahnya menghadap langsung ke arah kamera monitor.

"Lihat, Issabelle. Ini adalah rekan bisnis baru kita dari Los Angeles. Pria yang akan menyeret ibumu ke ruangan ini untuk menyaksikan kematianmu."

Di balik layar monitor di Los Angeles, kepalan tangan Navarro bergemertak keras hingga kuku-kukunya menembus kulit telapak tangannya sendiri, meneteskan darah segar ke atas meja kerja. Namun, ia harus mempertahankan topengnya demi keselamatan Issabelle.

"Taylor Swift," ucap Navarro, suaranya terdengar sangat datar, kaku, namun bergetar oleh gaung kematian yang mutlak.

"Kau meminta bantuan klan-riccardo untuk mengamankan wilayah Los Angeles dari pergerakanmu?"

"Tentu saja, Tuan," jawab Taylor dengan nada meremehkan. "Aku tahu Los Angeles adalah teritorimu. Berikan aku lokasi wanita Sloane, dan aku akan memastikan aliansi kita di Eropa akan memberikan keuntungan besar bagimu."

Sebelum Navarro sempat membalas, Issabelle yang sudah tidak bisa menahan beban teror psikologis itu berteriak dengan segenap sisa suara seraknya ke arah mikrofon monitor:

"Navarro! Jangan dengarkan dia! Jangan berikan apa pun pada bajingan ini! Ini urusanku, urusan Dark Dubois! Kau tidak ada hubungannya dengan semua ini, Riccardo! Pergilah!" teriak Issabelle, air matanya kembali luruh, meruntuhkan seluruh dinding keangkuhannya demi melindungi pria yang telah merebut hatinya di malam pelarian itu.

Taylor Swift tertawa keras, menikmati keputusasaan tawon kecilnya.

"Diam, Jalang!" bentak Taylor, bersiap melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi pucat Issabelle untuk membungkamnya.

"Sentuh dia dengan tangan kotormu, Taylor," potong Navarro, suaranya mendadak merendah hingga ke titik nadir, memancarkan otoritas mutlak yang seketika menghentikan pergerakan tangan Taylor Swift di Frankfurt.

"Dan aku bersumpah demi nama besar keluarga Riccardo, aku sendiri yang akan mengulitimu, membakar habis kotamu, dan memastikan tidak ada satu pun keturunanmu yang tersisa di atas bumi ini."

Ruangan bawah tanah di Frankfurt mendadak hening seketika. Taylor Swift tertegun, alisnya bertaut dalam saat merasakan intensitas ancaman yang tidak main-main dari anak muda di balik layar tersebut.

Ada sesuatu yang salah di sini. Mengapa seorang pewaris klan Amerika bertindak seposesif dan semarah ini untuk seorang tawanan asing?

Issabelle menatap layar monitor dengan tatapan bergetar, rasa hangat sekaligus ketakutan yang luar biasa menjalar di dadanya.

Di antara deru napasnya yang memburu, Issabelle akhirnya melontarkan pertanyaan yang menggantung di dalam jiwanya—sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban nyata di tengah kepungan maut ini.

"Navarro..." panggil Issabelle, suaranya melunak, dipenuhi oleh kepasrahan yang teramat dalam. "Kenapa... kenapa kau bertindak sejauh ini untukku? Apa arti malam itu... apa arti diriku sebenarnya bagimu?"

Di seberang samudra, di dalam ruang kerjanya di Los Angeles, Navarro menatap lekat-lekat ke dalam sepasang manik mata abu-abu milik Issabelle.

Seluruh topeng taktis dan kebohongan dunia bawah tanah yang ia bangun seketika menguap, menyisakan ketulusan murni dari seorang pria yang telah jatuh sejatuh-jatuhnya pada sang mawar es.

Navarro memajukan tubuhnya, menatap lurus ke arah lensa kamera seolah-olah ia sedang menyentuh wajah Issabelle secara langsung.

"Kau ingin tahu jawabannya, Mine?" ucap Navarro, sebuah seringai tipis yang sarat akan kegilaan posesif terukir di bibirnya yang tampan.

"Malam itu bukan sebuah kesalahan, dan dirimu bukan sekadar pelarian bagiku. Sejak pertama kali aku menciummu, kau telah menjadi pemilik mutlak dari seluruh hidup dan matiku, Issabelle."

Navarro menjeda kalimatnya, tatapannya beralih menatap Taylor Swift dengan kilatan pembunuh yang sudah tidak bisa lagi dibendung.

"Dengarkan aku dengan baik, Issabelle," lanjut Navarro dengan suara bariton yang menggema tegas.

"Jangan berani-berani memikirkan kematian di ruangan itu. Pertahankan nyawamu sampai detik ini juga. Karena malam ini, seluruh armada militer klan Von-riccardo telah lepas landas menuju Frankfurt. Aku tidak akan menunggu usia delapan belas tahun untuk menjemput milikku. Aku datang untuk meratakan Frankfurt dan membawamu pulang ke Los Angeles, Mine."

BEEP!

Navarro memutus sambungan video secara sepihak, meninggalkan Taylor Swift dalam badai kepanikan di Jerman..

1
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
Mia Camelia
visual nya sempurna banget 🥰🥰👍
Ros 🌷🦋: huhu ma'aciww kak 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
bucin akut nih navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!