Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. 7 Penjaga 1 Penghianat
"Pengkhianat?" Raka meremas foto itu sampe kertasnya lecek. Tangannya gemeter, bukan karena takut doang, tapi karena dingin. Dingin banget kayak abis nyelupin tangan ke freezer. Hawa kamar jam 1 pagi mendadak kayak kuburan.
"Bapak gue pengkhianat?" Bisiknya ke foto lusuh itu. Di foto, bapaknya — Harun — mukanya tegang, keringet netes padahal foto itu siang bolong. Di sebelahnya, 7 orang berjubah item. Salah satunya kakek-kakek yang matanya belo, tongkatnya ular kobra. Persis kayak khodam yang nongol di kamar Raka tadi.
"Bukan," suara berat Khodam Macan tiba-tiba ada di belakang kuping Raka. Nggak ada angin, nggak ada suara langkah, tau-tau udah di situ. Bulu kuduk Raka langsung berdiri semua sampe ke tengkuk.
Raka reflek muter badan. Khodam Macan Putih setinggi plafon itu nunduk, matanya yang kuning nyala natap Raka tajam. Bau kemenyan sama darah anyir kecium lagi, lebih pekat.
"Salah satu dari 7 Penjaga Rajah. Salah satunya berkhianat. Bapakmu yang jadi tumbal pengganti."
JLEB. Kalimat itu kayak palu godam ngehantem kepala Raka. Jadi bapaknya mati bukan karena sakit? Bukan karena takdir? Tapi karena DITUMBALIN?
"7 Penjaga itu siapa?" Raka nanya, suaranya serak. Dia ngusap sisa tanah kuburan di bibirnya. Pahit. Anyir.
"7 orang pemilik khodam yang nyegel Rajah Ghaib 50 tahun lalu," Khodam Macan jalan muterin kamar Raka pelan. Setiap langkahnya, keramik retak. "Rajah itu terlalu kuat. Kalo jatuh ke dukun hitam, bisa buat bangkitin pasukan jin, bikin pesugihan massal, bikin orang sekampung mati mendadak. Makanya 7 dukun putih bersatu, nyegel Rajah pake nyawa mereka sendiri. Bapakmu Penjaga ke-1, yang megang Khodam Macan Putih. Aku."
Raka diem. Otaknya ngeproses. Jadi bapaknya... dukun? Dukun putih? Yang selama ini dia tau, bapaknya cuma tukang servis AC keliling komplek. Orangnya pendiem, sholat 5 waktu nggak pernah bolong. Kok bisa?
"Segelnya lepas karena bapakmu mati. Dibunuh." Khodam Macan berhenti pas di depan jendela. Kukunya yang item panjang itu ngetuk kaca. _Tik. Tik. Tik._ "Sekarang 7 khodam itu kelaparan. 50 tahun dikurung, nggak dikasih makan tumbal. Rajah Ghaib di punggungmu itu kandangnya. Kalo nggak lu kasih makan, kami makan lu."
Tugas Raka: Cari 6 Penjaga lain sebelum purnama 14 hari lagi. Buktiin dia bukan keturunan pengkhianat. Nyenengin 7 khodam pake... tumbal. Kalo gagal, jiwanya bakal digerogoti pelan-pelan dari dalam. Kayak bapaknya. 7 hari 7 malem ngising darah, muntah paku, sebelum akhirnya mati mata melotot.
"Di mana Penjaga lain?" Raka nanya. Mau nggak mau, dia harus main. Nyawanya taruhannya.
"Penjaga ke-2, Mbah Wiryo. Pemilik Khodam Genderuwo," Khodam Macan nyengir, taringnya keliatan semua. "Alamatnya gampang. TPU Kembang Kuning. Blok C, deket pohon kamboja paling gede. Dia udah nunggu kamu di sana. Dari 7 hari lalu."
TPU. Tempat Pemakaman Umum. Kuburan. Jam 1 malem.
Raka nelen ludah. Tapi Rajah di punggungnya tiba-tiba panas lagi. Bisikan 7 suara masuk ke kepalanya bareng-bareng: "Pergi... sekarang... lapar..."
Kayak disetir, Raka ngambil jaket, kunci motor, sama senter kecil. Dia nggak punya pilihan.
---
Jam 01.30, Raka nyampe gerbang TPU Kembang Kuning. Sepi. Gelap. Cuma ada satu lampu jalan yang kedip-kedip kayak mau mati. Bau melati kuburan sama tanah basah langsung nyerang idung. Jangkrik nggak berhenti bunyi, fals, bikin suasana makin nggak enak.
Motor Raka dia parkir di luar. Dia jalan kaki masuk, senternya dia arahin ke jalan setapak. Batu nisan gede-gede, namanya udah burem kemakan lumut. Ada yang baru, ada yang udah rubuh.
"Blok C... blok C..." Raka komat-kamit. Jantungnya dag-dig-dug nggak karuan. Di punggungnya, Rajah Ghaib makin panas. Kayak kompor.
Sampe. Pohon kamboja paling gede. Bawahnya ada nisan marmer item, tulisan namanya udah nggak kebaca. Tapi di depannya, ada sesajen. Ayam item dipenggal, kepalanya ilang. Kembang 7 rupa. Dupa yang masih ngebul.
"GRROOAAARR!!"
Dari balik nisan marmer itu, sesosok gede loncat. Tingginya 3 meter, badannya item berbulu, baunya anyir kayak bangkai tikus. Matanya dua, merah kayak bara, taringnya setajam sabit. Genderuwo. Khodamnya Mbah Wiryo.
"BAU DARAH HARUN! ANAK PENGKHIANAT!" Suaranya ngebas, bikin tanah geter. Dia ngangkat batu nisan segede kulkas, siap nimpuk Raka.
Raka mau lari, tapi kakinya kaku. Bukan kaku takut. Kakinya kayak dipantek ke tanah. Rajah Ghaib di punggungnya nyala terang, warna biru sekarang. Panasnya udah sampe ubun-ubun.
"Lawan pake darahmu," bisik Khodam Macan di kepala Raka. "Rajah itu haus darah keturunan Harun. Kalau nggak lu kasih, dia sedot nyawa lu."
Dengan nekat, Raka ngambil pecahan kaca dari nisan yang rubuh di sebelahnya. Tajem. Dia pejemin mata, terus... SRET!
Dia sayat telapak tangan kirinya sendiri. Dalem. Darah seger, merah, langsung netes ke tanah kuburan. _Tes. Tes. Tes._
Aneh. Pas darah Raka netes, Rajah Ghaib di punggungnya berubah. Dari biru jadi merah darah. Panasnya nggak nyakitin lagi, tapi malah ngasih tenaga. Badannya Raka yang tadi lemes jadi enteng. Matanya yang rabun jadi jernih banget, bisa liat Genderuwo itu sampe pori-porinya.
Genderuwo itu malah ketawa. Suaranya kayak batu diadu. "Bagus... darah segar... Mbah Wiryo suka darah segar... Sini, biar Mbah Wiryo kenyang!"
Tiba-tiba dari tanah kuburan pas di depan kaki Raka, tanahnya mbleduk. _BLUK!_
Satu tangan busuk, kulitnya ngelupas, kukunya item panjang, nyembul dari dalem tanah. Nyekel pergelangan kaki Raka kenceng banget. Dingin. Lengket.
Terus nyusul kepala. Kepala kakek-kakek, botak, mukanya peyot, matanya merah, mulutnya ngunyah tanah kuburan dicampur belatung. Liurnya netes item.
"Anak Harun ya?" Suaranya parau, kayak orang ngorok. "Pantes baunya sama. Anyir. Darah pengkhianat. Sini, biar Mbah antar ketemu bapakmu... di neraka jahanam."
Itu Mbah Wiryo. Penjaga ke-2. Tapi kok... dari dalem tanah? Kok udah jadi demit?
"Bapakmu janji nyerahin Rajah ke gue!" Mbah Wiryo teriak sambil ngunyah tanah, belatungnya blepotan di jenggot putihnya. "Eh malah diwarisin ke anak ingusan! Mana bisa lu nanggung 7 khodam, hah?! Badan lu aja kurus kayak lidi! Siniin Rajah itu!"
Mbah Wiryo narik kaki Raka. Kuat banget. Raka keseret, jatuh, mukanya membentur nisan. Darah dari hidung mengucur. Giginya rontok satu.
Di ujung tanduk, pas Raka udah mau pingsan, Khodam Macan bisik lagi, suaranya lebih jelas: "Kasih satu tumbal, atau lu mati sekarang. Rajah harus makan. Pilih. Nyawa lu, atau nyawa orang lain."
Dari balik pohon kamboja, di kegelapan, ada suara gemerisik. Raka ngelirik sambil nahan sakit.
Ada bocah kecil. Umur 5 tahunan. Pake kaos oblong bolong, celana pendek. Mukanya polos, matanya gede, lagi ngintip ketakutan sambil gigit jari. Cucu Mbah Wiryo? Ngapain anak kecil jam segini di kuburan?
"Tumbal harus darah segar... nggak berdosa..." 6 suara lain menggema di kepala Raka barengan sama suara khodam Macan. Rajah Ghaib di punggungnya nyala biru lagi, panasnya balik nyiksa. Sakitnya 10x lipat dari tadi. Kayak ada 7 piso muter-muter di tulang belakangnya.
Di tanah ada pisau dapur karatan, mungkin bekas orang ziarah. Di depan ada bocah ingusan nggak berdosa. Di belakang ada demit kakek-kakek yang mau menerkam. Di punggung ada Rajah yang haus darah.
Jantung Raka mau copot. Keringet dingin campur darah. Dia inget muka bapaknya pas senyum. Inget janji mau hidup normal, lulus kuliah, kerja.
Tapi Rajah itu narik. Tangannya gerak sendiri, nggak bisa dia kontrol. merayap ke arah pisau dapur karatan itu. Jari-jarinya megang gagang pisaunya. Dingin.
Mbah Wiryo ketawa ngakak, tanah muncrat dari mulutnya, "NAH GITU! BUNUH! BIAR MBAH KENYANG! BIAR RAJAHNYA DIEM! POTONG LEHERNYA!"
Raka berdiri sempoyongan. Pisau karatan itu dia genggam. Dia jalan selangkah demi selangkah ke arah bocah itu. Selangkah, tanah. Dua langkah, darah netes dari tangannya. Tiga langkah, napasnya sesak.
Bocah itu malah senyum polos, "Om Raka... mau main pisau-pisauan? Kayak di tipi?"
Air mata Raka netes. Deres. Tangannya ngangkat pisau tinggi-tinggi di atas kepala. Matanya kosong. Suaranya parau, "Maafin Om, Dek...Om nggak ada pilihan..."
Pisau itu dia ayunkan ke bawah. Kenceng. Niatnya ke leher bocah itu.