"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Dinda kembali berjalan mendekati tepian batu tempat mencuci bersama Nilam. Kain kemejanya yang sempat basah kuyup akibat hanyut kini sudah diperas kuat-kuat.
"Untung tadi ada Wira ya, Nduk," ucap Mbok Ginem sembari menyambut kedatangan mereka dengan senyuman penuh arti.
Dinda hanya bisa mengangguk kikuk dengan wajah yang masih menyisakan rona merah. Setelah merasa pakaian kotornya sudah cukup bersih—walaupun hanya dikucek seadanya dengan air tanpa bantuan sabun—Dinda memutuskan untuk segera mandi. Ia melangkah perlahan menceburkan diri, lalu berenang agak ke tengah sungai yang arusnya lebih tenang namun lumayan dalam.
"Dinda, tunggu!" panggil Nilam, sedikit khawatir melihat Dinda yang begitu berani.
"Ayo, Nilam! Sini, airnya segar dan sejuk banget!" seru Dinda girang sembari melambaikan tangannya.
Nilam akhirnya menyusul, menceburkan diri ke dekat Dinda. Kedua gadis itu pun asyik mandi bersama, sesekali mencipratkan air sungai yang jernih ke wajah satu sama lain diiringi tawa riang yang renyah.
Namun, Dinda sama sekali tidak menyadari. Jauh di hulu sungai yang posisinya agak tinggi, berdiri sosok Wira di balik rimbunnya pepohonan. Pria itu mematung, menatap lurus ke arah Dinda dengan pandangan yang teramat dalam.
Jantung Wira mendadak bergedup keras saat menyaksikan untaian tawa riang yang terlepas dari bibir manis gadis itu. Sinar matahari pagi yang menembus celah dedaunan membuat Dinda tampak berkilau. Namun, tatapan mata elang Wira tidak hanya terkunci pada wajah cantik Dinda. Pandangannya perlahan turun ke bawah, tepat ke arah belahan dada Dinda yang menyembul samar akibat kemben basah yang mengetat.
Wira spontan menelan salivanya dengan berat. Jakunnya naik turun.
"Ah... dasar gadis unik. Selain cantik, kau juga sangat menggoda," bisik Wira teramat lirih pada angin hutan, mencoba mengendalikan debaran aneh di dadanya.
Puas bermain air, Dinda akhirnya menyudahi mandinya. Ia berjalan perlahan menuju area dangkal yang berbatu datar. Kain jarik dan kemben yang basah kuyup itu seketika menempel ketat di kulitnya, mencetak dengan sangat jelas lekuk tubuh Dinda yang sintal dan aduhai.
Lagi-lagi, Dinda tidak menyadari efek visual yang ia timbulkan. Dengan santai, ia meraih bungkusan sabun mandi batangan yang tadi ia bawa dari ruang dimensi. Begitu kemasannya dibuka, aroma harum kelopak bunga yang sangat pekat langsung menyeruak ke udara. Dinda membasahi sabun itu dengan sedikit air sungai, menggosoknya di telapak tangan hingga menghasilkan busa putih yang melimpah, lalu membalurkannya ke seluruh tubuh.
Seketika itu juga, aktivitas mencuci dan mandi para wanita di tempat itu mendadak berhenti total. Semua pasang mata menatap Dinda dengan pandangan takjub sekaligus bingung.
"Walah, bau wangi apa ini? Harum sekali... Nduk Dinda, apa itu yang putih-putih di tubuhmu?" tanya Bulik Rasmi, mengendus-endus udara dengan hidung kembang kempis.
Dinda menghentikan gerakan menggosok lengannya. "Oh, ini namanya sabun mandi, Bulik," jawab Dinda santai tanpa beban.
"Eumm... baunya wangi sekali, Dinda! Kulitmu langsung penuh busa putih seperti itu," puji Nilam dengan mata berbinar-binar kagum.
Dinda tersenyum manis melihat kepolosan sahabat barunya. Setelah selesai membilas seluruh busa harum itu dari tubuhnya hingga bersih, Dinda menatap Nilam lalu menjulurkan potongan sabun batangan yang masih menyisakan keharuman mewah tersebut.
"Cobalah pakai, Nilam," kata Dinda pelan.
Nilam terperangah, menunjuk dadanya sendiri. "Benarkah? Apa... apa boleh aku memakai barang seindah dan sewangi ini?"
Dinda mengangguk pasti dengan senyuman meyakinkan. "Tentu saja boleh. Pakai saja."
"Wah, terima kasih banyak, Dinda!" seru Nilam riang gembira. Dengan norak namun menggemaskan, ia langsung menggosokkan sabun itu ke lengannya.
Melihat keajaiban bumbu mandi tersebut, ibu-ibu yang lain tidak mau ketinggalan. "Walah, Nduk Dinda... Bulik juga mau coba, apa boleh? Biar badan tua ini ketularan wangi seperti orang kota," tanya beberapa wanita paruh baya di sana dengan wajah memelas kocak.
Dinda terkekeh geli menatap antusiasme mereka. Ia mengangguk ramah. "Boleh, Bulik. Silakan pakai bergantian ya."
Dinda kemudian berjalan mendekati Mbok Ginem yang sedang merapikan keranjang pakaian basah.
Mbok Ginem menatap Dinda dengan dahi berkerut cemas. "Nduk, apa tidak apa-apa barang sewangi itu diberikan pada Nilam dan yang lain? Nanti kalau habis, kamu tidak punya lagi bagaimana? Sayang sekali barang sebagus itu..." ucap Mbok Ginem, merasa eman-eman.
Dinda tersenyum menenangkan sembari mengusap lengan Mbok Ginem. "Tidak apa-apa, Mbok. Dinda masih punya persediaan banyak kok di dalam tas," jawab Dinda santai.
Tentu saja yang dimaksud 'tas' oleh Dinda adalah supermarket mini di dalam ruang dimensi ajaibnya yang stok sabunnya tidak akan habis sampai tujuh turunan.
Mbok Ginem akhirnya mengangguk lega, percaya saja pada ucapan anak sahabatnya itu.
"Ya sudah, kalau mandinya sudah selesai, ayo kita balik ke rumah, Nduk. Hari sudah semakin siang," ajak Mbok Ginem.
Setelah berpamitan dan melambaikan tangan pada Nilam serta rombongan ibu-ibu sungai yang kini tubuhnya mendadak wangi semerbak, Dinda dan Mbok Ginem lantas berjalan beriringan menapaki jalan tanah menuju arah pulang.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍