NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Sang Kolonel

Cinta Terakhir Sang Kolonel

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.

Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.

Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.

Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: MERUNTUHKAN ISTANA PASIR

Setelah dua hari berlalu dengan rentetan kejadian dadakan yang begitu menyesakkan dada, benteng pertahanan yang selama ini dibangun oleh Kapten Ayuni Ameera Bakri akhirnya retak seketika. Beban mental yang terlampau berat, ditambah dengan temuan fakta mengerikan mengenai pernikahan siri suaminya, membuat Ayu tak mampu lagi membendung segala air mata dan rasa perih yang bergejolak di dalam dadanya.

Tepat saat waktu subuh baru saja menyapa bumi dengan sisa kabutnya yang dingin, Ayu duduk bersimpuh di sudut kamar dinasnya yang sunyi. Dengan tangan yang gemetar, ia menggenggam telepon genggamnya, menghubungi satu-satunya pelabuhan terakhir tempatnya bersandar, sang ibu. Di seberang saluran telepon, begitu mendengar suara lembut ibunya menyapa, tangis Ayu yang sejak kemarin ditahannya setengah mati akhirnya pecah seketika. Untuk pertama kalinya, Ayu berbicara terus terang. Ia mengaku bahwa dirinya sudah teramat capek dengan semua sandiwara ini. Segala kepalsuan, tekanan batin, dan rahasia kelam pernikahan yang selama bertahun-tahun ia tutup rapat dari dunia luar, ia tumpahkan semuanya tanpa sisa kepada sang ibu.

Saat ibunya dengan suara bergetar menahan tangis bertanya mengapa Ayu baru mengatakan segalanya sekarang, Ayu hanya bisa terisak. Ia berterus terang bahwa selama ini ia hanya takut; takut jika fakta kehancuran rumah tangganya justru akan mengecewakan dan menjadi beban pikiran bagi orang tuanya. Selama ini, Ayu selalu berpikir muluk bahwa ia bisa merubah atau setidaknya membuat tabiat suaminya itu berubah menjadi lebih baik setelah mereka resmi menikah. Namun, realitasnya nol besar. Tidak pernah ada cinta di dalam ikatan itu. Pernikahan yang ia bangun dengan mengorbankan perasaan masa lalunya kini terasa sangat sia-sia.

Bahkan hingga detik ini pun, tak pernah ada nafkah lahiriah berupa biaya sepeser pun yang diberikan suaminya untuk menyokong kehidupan mereka. Ayu masih bisa memaklumi jika suaminya tidak memberikan uang untuk keperluan pribadinya karena ia sendiri memiliki gaji sebagai perwira Kowad. Namun, suaminya bahkan tidak pernah memberikan biaya sekecil apa pun untuk keperluan tumbuh kembang Arkan, putra kandungnya sendiri. Ataupun jika materi memang dianggap tidak cukup, setidaknya berikanlah perhatian lebih pada anakmu sendiri. Cukup dengan meluangkan waktu sedetik untuk bertanya bagaimana kabarnya, atau memberikan bentuk perhatian spiritual lainnya melalui telepon. Namun entah mengapa, seakan-akan suaminya itu menganggap Arkan tidak pernah ada; ia bertingkah seolah-olah tidak memiliki waktu sedetik pun demi anak kandungnya.

Mendengar seluruh penderitaan putri sulungnya, sang ibu memberikan dukungan yang teramat kuat. Kali ini, beliau tidak lagi meminta Ayu untuk bertahan demi status sosial. Sang ibu menyerahkan segala keputusan terbaik ke tangan Ayu sendiri. Detik ini juga, di dalam keheningan subuh itu, Ayu memantapkan hatinya untuk memilih menyerah dan menyudahi segala kegilaan ini.

Bergerak dengan taktis di bawah naungan komandan langsungnya, Letkol Reyes, dan berkat bantuan mediasi serta penguatan dari dr. Shaneen, permohonan izin darurat Ayu untuk melakukan perjalanan dinas non-formal akhirnya dikabulkan dengan cepat. Ia diizinkan untuk pulang sebentar ke pusat ibu kota bagian timur guna menyelesaikan perihal penting yang menyangkut urusan domestiknya.

Menariknya, Kolonel Victor sama sekali tidak tahu-menahu mengenai masalah internal yang sedang dihadapi Ayu saat ini. Walaupun Victor menugaskan Sertu Johan untuk melakukan pengawasan jarak jauh demi memastikan keselamatan Ayu dan Arkan, pengawasan tersebut murni hanya sebatas permintaan perlindungan perimeter keamanan, bukan bertindak sebagai penguping atau penyadap dalam ranah kehidupan pribadi Ayu. Victor sangat menghargai privasi wanita yang dicintainya itu.

Apalagi selama beberapa hari ke depan, sang Kolonel juga sedang teramat disibukkan oleh agenda kedinasan yang luar biasa padat. Sebagai Danpusdikmil, Victor harus bolak-balik melakukan perjalanan dinas menuju kota pusat pesisir untuk menghadiri rapat koordinasi darurat tingkat komando atas. Agenda rapat tersebut membahas berbagai hal krusial, mulai dari pelaksanaan kegiatan Komponen Cadangan (Komcad), beberapa program baru dari jajaran atas, hingga pembahasan teknis mengenai modernisasi sistem persenjataan serta regulasi keluar masuknya alutsista (alat utama sistem senjata) baru di wilayah teritorial mereka. Kesibukan massal ini membuat Victor tidak tahu bahwa Ayu telah mengajukan izin untuk pergi meninggalkan ksatrian. Sebab, walau berada di jam luar atau saat mengambil cuti darurat, Ayu tetap memilih untuk menyelesaikan beberapa tugas administrasi stafnya disela-sela kepergiannya agar tidak meninggalkan celah kecurigaan bagi anggota lain.

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Ayu akhirnya tiba di kampung halamannya. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah masa kecilnya, pertahanan diri Ayu runtuh lagi. Ia langsung bersujud dan menangis sejadi-jadinya, memohon maaf di dalam pangkuan hangat ibunya. Di samping mereka, sang ayah sambung yang biasanya memiliki raut wajah tegas khas pria berwibawa, kini tampak berdiri mematung dengan sepasang mata yang berkaca-kaca menahan rasa iba yang mendalam melihat penderitaan anak perempuan yang sudah dianggapnya seperti darah daging sendiri.

Ayu sesungguhnya adalah anak tunggal dari pasangan kandungnya yang telah lama bercerai. Ibunya dahulu ditinggalkan oleh ayah kandung Ayu saat Ayu masih berada di dalam kandungan. Selama bertahun-tahun, ibunya hidup dalam ketidakpastian, menunggu iktikad baik hingga usia Ayu menginjak tujuh tahun. Namun, apa yang akhirnya ibu Ayu dapatkan saat itu? Hanya selembar ucapan talak tiga yang diucapkan dengan dingin, dan selesai sudah seluruh perkara pernikahan pertama ibunya.

Setelah masa kelam itu lewat, ibu Ayu kemudian membuka lembaran baru dengan menikah kembali bersama ayah sambungnya yang sekarang, dan dari pernikahan kedua tersebut lahir tiga orang adik Ayu. Walau terkesan hanya sebatas ayah sambung, pria itu nyatanya jauh lebih tulus, ikhlas, dan luar biasa menyayangi Ayu tanpa pernah membeda-bedakan kasih sayang di antara keempat anaknya. Baginya, Ayu adalah putri sulungnya yang paling membanggakan.

Berkat ketulusan keluarga baru ini, Ayu juga sukses membantu mendidik adik-adiknya hingga tumbuh menjadi orang-orang yang berhasil. Kini, Ayu dan adik keduanya sudah sama-sama berkeluarga. Sedangkan adik ketiganya yang cerdas memilih jalan pengabdian kemanusiaan dengan menempuh pendidikan untuk menjadi seorang dokter. Sementara si bungsu, dididik oleh Ayu untuk masuk ke dalam korps Bhayangkara, menjadi bagian dari aparat penegak hukum berseragam cokelat. Entah karena alasan apa, dulu Ayu yang menyuruh adiknya untuk masuk ke sana saja. Mungkin karena kerasnya didikan, dinginnya aturan, serta besarnya beban tanggung jawab di dalam dunia loreng hijau yang ia jalani, membuat Ayu berpikir bahwa lebih baik cukup dirinya saja sendiri yang merasakan beratnya menjadi seorang tentara, sementara adik-adiknya berada di jalan pengabdian yang lain.

Keesokan paginya, setelah satu hari beristirahat menenangkan diri, Ayu sudah bersiap dengan pakaian rapinya. Ia berniat untuk melangkah menuju ke kantor Pengadilan Agama setempat guna mendaftarkan gugatan perceraiannya secara resmi. Namun, baru saja kakaknya Arkan itu hendak melangkah keluar melewati pintu pagar depan, seorang petugas pengantar pos dengan sepeda motornya mendadak berhenti di depan rumah.

Petugas tersebut menyerahkan selembar amplop resmi berkop surat dari Pengadilan Agama setempat. Begitu Ayu menerima dan merobek amplop tersebut dengan jantung bertalu-talu, sebuah kenyataan pahit kembali menampar wajahnya. Ternyata, suaminya yang brengsek itu sudah bergerak mengajukan permohonan cerai talak lebih awal daripada dirinya.

Hancur sudah harga diri Ayu sebagai seorang wanita dan perwira militer. Ia merasa dilompati dan diinjak oleh pria yang jelas-jelas telah mengkhianatinya dengan pernikahan siri di luar sana. Namun, setelah menarik napas dalam-dalam, Ayu mencoba melihat sisi positifnya. Tidak apa-apa, setidaknya dengan begini jalurnya tidak akan dipersulit oleh drama penolakan dari pihak laki-laki. Itu tandanya, Ayu hanya perlu membubuhkan tanda tangan persetujuan di atas meterai, menghadiri persidangan, dan semuanya akan beres dengan cepat.

Namun, karena tuntutan tugas negara dan beban pekerjaan operasionalnya di Pusdikmil Bukit Raya yang tidak bisa ditinggalkan terlalu lama, Ayu melalui penasihat hukumnya mengajukan permohonan agar persidangan dapat dipercepat. Beruntung, karena alasan-alasan hukum dan bukti otentik yang diajukan oleh Ayu teramat kuat—termasuk bukti penelantaran anak dan perselingkuhan—permohonan tersebut langsung dikabulkan oleh pihak majelis hakim. Sidang perdana sekaligus putusan langsung digelar dua hari kemudian.

Pada hari persidangan yang menentukan itu, Ayu hadir dengan pembawaan yang sangat tegap dan tenang. Di dalam ruang sidang yang dingin, suaminya yang kini telah resmi menyandang status sebagai mantan suami, duduk di sisi lain tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Bahkan, sejak awal melangkah masuk hingga palu hakim diketuk menandakan mereka resmi berpisah, pria bajingan itu sama sekali tidak melirik sedikit pun ke arah Ayu ataupun sekadar mencari keberadaan Arkan yang saat itu dititipkan di rumah neneknya. Pria itu benar-benar menganggap Ayu dan anaknya seperti seonggok sampah yang tak lagi berharga.

Bajingan! Apa memang benar ya, jika seorang anak yang lahir dari rahim seorang ibu yang disakiti lahir batin oleh suaminya, maka kelak hukum karma yang diderita sang ayah akan turun dan berimbas juga pada nasib anaknya?

Perkataan bernada kutukan sekaligus kebenaran mistis itu seolah selalu berjalan beriringan di dalam benak Ayu sepanjang langkah kakinya keluar dari gedung pengadilan. Namun, Ayu tidak ingin terpuruk lebih lama lagi. Tugas kedinasannya di ksatrian Bukit Raya sudah menanti. Ia tidak perlu berdiam lama selama seminggu penuh di kampung halaman, bagi seorang prajurit Kowad yang tangguh, waktu tiga hari ini sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan seluruh kemelut masalah pribadinya.

Ayu kini siap pulang kembali ke markas, membawa status barunya dengan kepala tegak, siap menghadapi takdir apa pun yang menantinya di sana—termasuk kehadiran Kolonel Victor yang masih setia menunggunya di balik bayang-bayang komando.

1
Deuis Lina
tentunya punya jurus terakhir ya komandan rencana A gagal pasti ada rencana B
Deuis Lina
duh Arkan kamu bahagianya punya ayah besar yg sangat menyayangi mu
Deuis Lina
wah kekuasaannya keluar tuh ayah besar,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
makasih upnya
Deuis Lina
aku kasih vote mingguannya kak,,semangat teruuus
Deuis Lina: sama2 kak
total 2 replies
Deuis Lina
mengandung bawang banget ceritanya
Deuis Lina
lanjuuut
Deuis Lina
ayu oh ayu,,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
kayaknya ada yg senyum merekah nih,,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
berbalik lah karena ada laki laki yg lebih tulus mencintaimu ayu
Deuis Lina
CLBK ya Bu Intel buang suami yg tak mencintaimu
Deuis Lina
terlalu menyesakan dada bacanya kak,🤣🤣🤣🤣
Deuis Lina
Hem,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,
Deuis Lina
nyesek sekali bacanya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!