Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Seikat Uang di Balik Dinding
Tepat di area teras depan, tatapan mata elang Pak Juned seolah hendak menembus tenggorokan Hino yang masih membatu di dekat daun pintu. Atmosfer pagi yang terik mendadak berubah menjadi medan interogasi yang sangat dingin bagi pria pelayan toko tersebut. Namun, di dalam lorong tengah rumah bawah, kepanikan yang jauh lebih besar justru sedang merayap di balik dinding kamar belakang.
Irmi sedang berdiri di dekat meja riasnya saat layar ponsel pintarnya bergetar, menampilkan sebuah pesan teks singkat dari nomor ibunya. Jemari janda kaya itu mendadak dingin, seluruh permukaan wajahnya memucat seketika saat membaca baris kalimat yang dikirimkan oleh Ibu Meliska: "Irmi, Bapak dan Ibu sudah di depan pagar rumahmu. Buka pintunya sekarang."
Jantung Irmi serasa dihantam palu besar. Gengsi tinggi dan ketenangannya pasca memotong uang belanja Erni tadi sore langsung runtuh tak tersisa. Ia tahu betul watak keras Pak Juned; jika ayahnya yang terhormat itu sampai mencium bau busuk bahwa dirinya sedang mengandung dua setengah bulan hasil nikah siri dengan suami wanita lain di bawah atap ini, maka seluruh nama baik mendiang suaminya yang pilot akan ikut terseret ke dalam selokan kampung.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Irmi membuka laci rahasia lemari bajunya, menyambar seikat uang tunai pecahan seratus ribu yang cukup tebal, lalu melangkah setengah berlari menuju kamar depan. Ia harus membungkam mulut Erni sebelum istri sah yang bermental benalu itu keluar dan merusak sandiwaranya di depan orang tuanya.
Cklek!
Irmi mendorong pintu kamar depan tanpa mengetuk terlebih dahulu, menyelinap masuk seperti pencuri, lalu mengunci kembali selot pintunya dari dalam dengan bunyi yang sangat pelan.
Di dalam kamar yang beraroma bedak wangi tersebut, Erni sedang duduk selonjoran di atas lantai keramik, sibuk menggerakkan pisau cukur plastik untuk membersihkan bulu kakinya dengan santai. Ia sama sekali tidak menyadari suara kedatangan mobil sewaan di luar pagar. Erni tersentak kaget, menatap Irmi dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa jengkel dan bingung melihat kelakuan madu sirinya yang tiba-tiba menerobos masuk dengan napas yang memburu.
"Kau mau apa lagi masuk ke kamarku, Jeng Irmi? Belum puas berlagak menang sore tadi?" cibir Erni, ia sengaja meletakkan pisau cukurnya di atas handuk kecil, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa keberaniannya untuk berdebat.
Irmi tidak melayani cibiran itu dengan kemarahan. Ia justru melangkah maju dengan terburu-buru, lalu menjatuhkan dirinya berlutut di atas kasur lantai tepat di hadapan Erni. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Irmi menyodorkan seikat uang tunai tebal itu langsung ke atas pangkuan daster kusut Erni.
"Maaf, soal yang semalam dan sore tadi... aku cuma bercanda, Erni. Ini uang belanja tambahan untukmu, ambillah," ucap Irmi, suaranya berbisik sangat lirih, hampir seperti desisan ketakutan seorang buronan di tengah malam kompleks.
Erni menghentikan gerak tangannya, matanya melebar menatap gundukan lembaran uang berwarna merah yang mendadak berada di atas pahanya. Otak pembantunya langsung mencium ada sesuatu yang tidak beres di balik kebaikan mendadak janda kaya ini.
"Maksudmu apa, Irmi?" tanya Erni, suaranya menyipit penuh selidik yang tajam. Jemarinya belum menyentuh uang itu, namun tatapannya sudah mengunci mati seikat rupiah tersebut. "Sore tadi kau berlagak seperti penguasa modal yang mau memiskinkan bayiku, dan sekarang kau datang merangkak membawa uang ini?"
"Sudah, terima saja! Jangan banyak tanya!" desak Irmi, matanya berkali-kali menoleh ke arah pintu kamar dengan raut wajah yang semakin panik menahan mual di perutnya yang sedang hamil muda. "Aku takut kau nekat melakukan hal-hal bodoh di luar rumah. Simpan uang itu ke dalam lemari bajumu sekarang juga, Erni!"
Erni mengernyitkan alisnya, menatap Irmi dengan pandangan yang dipenuhi tanda tanya besar. Namun, sebelum ia sempat melontarkan pertanyaan berikutnya, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa dari arah koridor tengah luar kamar terdengar semakin mendekat, berbaur dengan suara gesekan tas jinjing Ibu Meliska yang mulai memasuki ruang tengah rumah bawah.