Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Jejak yang Tinggal Hanya Sebagai Pelajaran
Seminggu setelah semuanya selesai dan berkas lengkap sudah diserahkan ke pihak yang berwenang, suasana di kantor pusat terasa kembali tenang seperti sedia kala, bahkan terasa lebih ringan seolah beban yang tersembunyi sudah diangkat pergi. Matahari pagi masuk lewat celah jendela dengan terang merata, debu yang dulu terasa mengumpul di sudut ruangan seolah ikut tersapu bersih bersama kabar yang sudah beredar pelan ke telinga semua orang. Faris Arjuna duduk di kursi kesukaannya, kaki disilang santai, satu tangan memutar batang rokok yang belum dinyalakan sementara pandangannya melayang keluar ke arah halaman depan yang mulai ramai dengan aktivitas biasa.
Viona masuk membawa secangkir kopi panas dan meletakkannya di meja di hadapan Faris Arjuna, lalu duduk di kursi seberang dengan wajah yang sudah terlihat lebih tenang dan lega. “Sudah beres semuanya Faris Arjuna, kata petugas kemarin berkasnya lengkap sekali sampai tak ada satu bagian pun yang bisa dipertanyakan lagi. Bahkan mereka bilang jarang dapat kasus yang buktinya teratur begini, seolah disusun dengan sengaja dari awal sampai akhir,” ujar Viona sambil menghela napas panjang.
Faris Arjuna tersenyum tipis gaya sengklek khasnya, baru menyalakan rokoknya dengan bunyi cesss pelan, menghirup dalam lalu menghembuskannya perlahan membentuk lingkaran yang makin melebar sebelum hilang. “Memang benar kata mereka Bu Viona, tapi bukan kami yang menyusunnya. Semua itu disusun rapi pelan-pelan oleh Rusdi dan orang-orangnya sendiri, dari hari pertama mereka punya niat untuk main selubung. Kami cuma duduk tenang, melihat, dan mencatat apa yang terlihat saja. Kalau mereka tidak bergerak sendiri meninggalkan jejak, sampai kapan pun kami tak akan punya apa-apa buat dibawa ke meja pengadilan.”
Dia melanjutkan ngomong santai tapi makin dalam maknanya, seolah sedang mengulang pelajaran yang sudah terbukti nyata kejadiannya. “Lihat saja jalannya ceritanya Bu Viona: mereka pikir selisih angka dikit nggak kelihatan, jalan belakang sepi nggak ada yang lewat, tulisan kode rahasia tak akan ada yang ngerti. Padahal setiap kali mengubah sesuatu, mereka sebenarnya meninggalkan tanda yang makin jelas. Kayak orang yang mencoret tulisan di kertas lalu menulis lagi di atasnya, kalau diterawang pelan-pelan tulisan aslinya tetap terlihat nggak bisa hilang selamanya. Begitu juga dengan perbuatan, nggak ada yang bisa dibersihkan sampai habis tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.”
Faris Arjuna mengangkat satu jari sebagai penekanan, matanya melirik sekilas ke arah tumpukan arsip yang sudah diberi tanda khusus dan disimpan rapi di lemari terkunci. “Yang paling bikin saya geleng kepala itu bukan karena mereka pintar main trik, tapi karena mereka terlalu percaya pada kepintaran sendiri sampai lupa batas. Kalau mereka berhenti di satu titik saja, mungkin masih bisa tertutup rapat, tapi karena ingin keuntungan makin banyak, makin sering bergerak, makin sering tutup satu lubang lalu membuat lubang baru yang lebih besar. Akhirnya yang tadinya terasa aman berubah jadi perangkap yang menjerat kaki mereka sendiri sampai tak bisa melangkah ke mana pun lagi.”
Viona mengangguk setuju sambil meminum kopinya sedikit. “Sekarang semua sudah beres, gudang Surya Abadi sudah diserahkan ke pengelola baru yang lebih terpercaya, barang-barang yang kurang akan diganti sepenuhnya sesuai hitungan kerugian, dan tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan soal pasokan ke depannya. Tapi Faris Arjuna, apa kita perlu waspada lagi kalau nanti ada orang baru yang datang dengan wajah manis dan janji muluk lagi?”
Faris Arjuna tertawa kecil mendengar pertanyaan itu, lalu menyandarkan punggungnya lebih leluasa ke sandaran kursi. “Waspada itu tetap perlu Bu Viona, tapi nggak harus takut atau curiga buta ke semua orang. Bedanya begini: orang yang niatnya baik jalannya terang, dia berani lewat pintu depan, tulis angka sesuai kenyataan, dan kalau ada selisih sedikit segera lapor sendiri supaya diperbaiki. Sedangkan orang yang punya niat lain, dari awal sudah terasa ada yang ganjil — sering bergerak diam-diam, jawabnya berputar-putar, dan selalu bilang ‘nggak ada apa-apa’ padahal matanya melirik ke sana kemari tak tenang.”
Dia melanjutkan lagi dengan gaya bicara yang makin santai tapi penuh arti: “Kita sudah dapat pelajaran berharga dari kejadian ini Bu Viona. Nggak perlu kita yang mulai mencurigai orang duluan, cukup amati saja apa yang dia perbuat dan bagaimana dia melakukannya. Kalau dia berjalan di tempat yang terang, biarkan saja dia berjalan lurus. Tapi kalau dia mulai melangkah ke tempat gelap sambil melirik ke kiri dan kanan, percayalah — lama-lama dia sendiri yang akan menunjukkan arahnya ke mana. Dan yang paling penting, kita cukup sabar menunggu sampai dia sendiri yang mengumpulkan bukti atas perbuatannya, tanpa perlu kita memutar otak mencari cara yang licik pula.”
Sore itu, saat langit mulai berubah warna jadi jingga kemerahan di ufuk barat, Faris Arjuna berjalan keluar kantor sebentar sambil menikmati sisa rokoknya. Angin sore berhembus lembut membawa bau tanah kering dan daun pohon yang bergoyang pelan. Dia melirik sekilas ke arah bekas gudang Surya Abadi yang sudah terlihat tenang, pintunya terbuka lebar dan orang-orang masuk keluar lewat jalan depan dengan tertib. Tak ada lagi kendaraan yang menyelinap lewat belakang, tak ada lagi lampu yang diredupkan atau langkah kaki yang tergesa-gesa.
Faris Arjuna tersenyum kecil sendiri sambil bergumam pelan hanya untuk didengar hatinya sendiri: “Begitulah hukumnya, apa pun yang ditanam, itulah yang akan tumbuh dan dipanennya. Kalau menanam ketenangan dan kejujuran, panennya adalah kepercayaan yang makin kokoh. Kalau menanam trik dan keserakahan, panennya adalah jaring yang dibuat sendiri untuk menjerat diri sendiri. Hari ini semuanya sudah selesai, tinggal jadi cerita yang bisa mengingatkan kita ke depannya supaya tak tergoda mengambil jalan pintas yang kelihatan menguntungkan di awal tapi berbahaya di akhirnya.”
Begitu cerita ini berakhir, jejak yang ditinggalkan bukan lagi soal siapa yang salah atau siapa yang menang, melainkan cuma satu pelajaran sederhana yang tak pernah berubah: kebenaran mungkin kadang butuh waktu sedikit lebih lama untuk terlihat, tapi ia pasti akan muncul dengan sendirinya — terang, jelas, dan tak bisa disembunyikan selamanya oleh apa pun.