Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raden Sanjaya
Berikut teks lengkap yang sudah diganti Danandra menjadi Wira, tanpa mengurangi satu kata pun:
"Apa kau tidak tahu jika Raden Sanjaya ada di depanmu sekarang!?" bentak prajurit tersebut.
"Lalu masalahnya apa? Aku juga tidak mengganggu langkah kalian. Kalau mau lewat, ya lewat saja. Kenapa harus menggebrak mejaku?" sahut Wira tanpa memperdulikan Sinta yang sudah menyuruhnya untuk mengalah.
"Apa kau tidak tahu peraturan tidak tertulis yang sudah lama berjalan di sini? Jika ada bangsawan yang lewat, semua kegiatan apapun harus berhenti untuk memberi hormat kepada bangsawan tersebut!"
"Mana aku tahu? Aku pun baru sekali ini saja mendatangi desa ini. Dan menurutku peraturan itu aneh sekali. Seorang bangsawan itu dihormati jika dia mengerti, dan memahami, serta bisa memberi solusi apa yang menjadi keluhan rakyat, bukan dengan cara menakut-nakuti seperti ini!" sahut Wira. Dia sudah punya rencana tersembunyi jika Raja Dharmawangsa mau mengakuinya sebagai cucunya.
"Kau masih berani membantah! Apa kau tidak takut mendapat hukuman dari Raden Sanjaya!?"
"Maafkan suami hamba, Raden. Dia memang keras kepala seperti ini. Untuk kali ini tolong maafkanlah suamiku. Lain kali dia tidak akan mengulanginya lagi," sela Sinta tiba-tiba.
Raden Sanjaya yang sedari tadi hanya mendengarkan perdebatan tersebut, memandang Sinta dengan penuh nafsu. Namun karena harus menemui Putri Cempaka secepatnya, maka dia pun menganggukkan kepalanya.
"Untuk kali ini aku maafkan suamimu. Ajari dia tentang sopan santun dan rasa hormat kepada bangsawan," jawab Raden Sanjaya.
"Terima kasih, Raden." balas Sinta. Dalam hati kecilnya, dia merasa muak dengan tatapan mata Raden Sanjaya yang seolah ingin memakan tubuhnya.
Raden Sanjaya mengangguk. Selepas itu dia mengajak 4 orang prajuritnya untuk melanjutkan langkahnya.
Para pengunjung tempat makan itu hanya bisa mengelus dadanya melihat kebodohan pemuda tersebut. Namun yang membuat mereka heran, tidak biasanya Raden Sanjaya melepaskan orang yang berani tidak memberi hormat kepadanya.
"Kenapa Raden tidak memberi pemuda itu hukuman?" tanya prajurit tadi, setelah mereka berada di lantai atas.
Raden Sanjaya menghentikan langkahnya, "Kalian tahu kalau gadis tadi sangat cantik, bukan?"
Keempat prajurit itu mengangguk bersamaan. Mereka nampaknya sudah mengetahui rencana Raden Sanjaya.
"Awasi mereka dan cari tahu di mana mereka menginap. Setelah itu kalian culik gadis itu. Aku ingin merasakan tubuhnya yang begitu menggairahkan."
"Baik, Raden. Serahkan masalah itu kepada kami. Kalau perlu, suaminya akan kami bunuh biar tidak menjadi masalah di kemudian hari."
"Hahahaha... kalian memang pantas menjadi pengawal pribadiku. Kalian sudah paham apa yang harus kalian lakukan," sahut Raden Sanjaya.
Seusai berkata, Raden Sanjaya kembali berjalan. Senyumnya mengembang begitu melihat Putri Cempaka yang sudah menunggunya.
"Kau dari mana saja? Apa kau tidak tahu kalau aku sudah menunggumu dari tadi!?" bentak Putri Cempaka.
"Maafkan aku, Tuan Putri yang cantik. Tadi ada masalah sedikit di bawah dengan seorang pemuda," jawab Raden Sanjaya.
"Pemuda yang duduk di meja dekat tangga?"
"Tuan Putri mengenal pemuda itu?"
"Apa kau berniat menghinaku? Mana mungkin aku mau kenal dengan orang rendahan seperti dia!" sahut Putri Cempaka dengan ketusnya.
"Aku tidak berniat menghina, Tuan Putri. Kalau Tuan Putri tidak mengenalnya, bagaimana Tuan Putri bisa mengetahuinya?"
Putri Cempaka mendengus kesal. "Aku tadi juga ada sedikit masalah dengan pemuda itu. Dia berani memandang wajahku yang cantik ini. Dan bagiku itu adalah sebuah penghinaan! Wajah cantikku ini tidak untuk dilihat orang rendahan seperti dia!"
"Tenang, Tuan Putri. Nanti para pengawalku akan memberi pelajaran kepada pemuda itu. Lalu kenapa Tuan Putri memanggilku ke sini?"
"Kau ini bodoh atau bagaimana, Sanjaya? Aku memanggilmu ke sini karena ingin membicarakan tentang perjodohan kita. Dua hari yang lalu ayahku sudah menanyakan kepadaku tentang permintaan ayahmu yang ingin menjodohkan kita berdua."
"Lalu bagaimana jawaban Tuan Putri? Apa Tuan Putri bersedia menerimaku yang tampan ini sebagai suami dan ayah anak-anak kita nantinya?"
"Aku tidak buta Sanjaya! Kalau masalah tampan, pemuda menyebalkan yang ada di bawah itu lebih tampan daripada kamu. Dan kamu tahu sendiri jika ayahku adalah Patih di kerajaan Sanggawana. Mana mungkin aku mau dijodohkan dengan orang yang kastanya ada di bawahku!"
Raden Sanjaya menggeram menahan rasa marahnya di dalam hati. Secara tidak langsung, ucapan Putri Cempaka itu sudah menghina dirinya. Namun Raden Sanjaya bukan orang yang bodoh, dia tidak mungkin melepaskan Putri Cempaka yang cantik itu begitu saja.
"Apakah ada syarat khusus agar Tuan Putri mau menerima perjodohan itu?"
Putri Cempaka menganggukkan kepalanya, "Jika kau bisa memenangkan turnamen nanti dan menjadi Senopati, aku akan menerima perjodohan itu. Tapi ingat, sainganmu tidak sedikit dan tidak mudah, Sanjaya. Banyak Pangeran dari kerajaan-kerajaan kecil yang akan ikut dalam turnamen itu. Pada intinya, yang akan menjadi suamiku nanti minimal mempunyai jabatan sebagai Senopati."
Senyum Raden Sanjaya mengembang lebar setelah mendengar syarat yang diajukan Putri Cempaka. Dia merasa peluangnya untuk memiliki Putri Cempaka sangatlah besar. Bahkan dia berani memastikan bahwa jabatan Senopati Kerajaan Sanggawana yang lowong akan menjadi miliknya.
"Kenapa kau tersenyum selebar itu seperti kuda?"
"Perkataanmu sangat pedas Putri Cempaka. Sekarang kau boleh menghinaku sesukamu. Namun setelah aku menjadi Senopati, kau akan tunduk di bawah kakiku," ucap Raden Sanjaya dalam hati.
"Apa kau sudah tuli Sanjaya?"
"Aku sedang berpikir, Tuan Putri. Jabatan Senopati itu pasti akan aku dapatkan. Para pangeran dari kerajaan kecil itu tidak akan bisa mengalahkan aku dalam turnamen nanti."
"Terserah kau mau bilang apa. Pada intinya aku akan menerima perjodohan itu jika kau menjadi seorang Senopati!" sahut Putri Cempaka dingin.
Sementara itu, Wira dan Sinta sudah keluar dari tempat makan tersebut. Setelah bertanya kepada seorang penduduk desa arah menuju Kotaraja, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan yang hanya berkisar satu jam ke depan.
"Kenapa kau tadi mencegahku? Tanganku sudah gatal ingin menghajar mulut prajurit itu!"
"Wira, kita adalah pendatang baru di tempat ini. Kita buta tentang apapun yang ada di sini. Setidaknya jangan membuat masalah yang besar, jika kita bisa mendinginkannya. Tolong redamlah emosimu itu! Aku tahu kau tidak bisa melihat kesewenang-wenangan seperti itu. Tapi sekali lagi aku katakan, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, sebelum kita mengambil langkah selanjutnya."
Wira mengambil nafas panjang. Dia membenarkan ucapan gadis cantik yang duduk di sampingnya itu. "Kau benar Sinta. Aku memang terkadang suka terbawa emosi. Beruntungnya aku kau bisa berada di dekatku. Kau terbukti bisa menasehatiku saat aku salah mengambil keputusan. Dan bagiku, kau adalah calon istri idaman."
"Halah gombal! Terus saja memujiku...! Apa kau kira aku tidak tahu kau memandang dengan begitu lekat putri yang cantik itu?"
Wira baru menyadari jika perkataan Sinta tentang dia yang tidak peka, ternyata bentuk kecemburuannya terhadap Putri Cempaka. Pemuda itu merasa bersalah kepada gadis cantik itu.