JANGAN DI BACA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khinanti Nomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Kecemburuan Dimas
☘️ Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ☘️
{Qs. Al Baqarah. 153}
🍂🍂🍂🍂🍂
Subuh ialah waktu sholat yang di saksikan oleh Malaikat. Seperti di dalam Al-Qur'an (SESUNGGUHNYA SHOLAT SUBUH ITU, SELALU DI SAKSIKAN PARA MALAIKAT.
Qs. Al-Isra, 17: 78)
Kumandang adzan subuh pun terdengar lirih. Karena rumah Dimas dan Masjid cukup jauh. Arum pun membangunkan Dimas yang masih tertidur lelap.
Sebelumnya pukul 01:00 Dimas terbangun untuk menunaikan sholat tahajjud. Karena Arum sedang menstruasi, Dimas sholat malam seorang diri karena dirasa masih terlalu panjang untuk sholat subuh Dimas pun berbaring dan memandangi wajah Arum dan tertidur kembali.
"Habibie, Ayo bangun. Sudah adzan subuh loh." ucap Arum mencoba membangunkan Dimas.
Dimas pun membuka sedikit matanya dan melihat wajah cantik istrinya dengan rambut tergerai. "Cantik." gumam Dimas.
"Apa?" tanya Arum yang mendengar gumaman Dimas tapi tidak jelas.
"Hemmm.. Tidak." Dimas pun bangun dan berjalan kearah kamar mandi.
Ketika hendak sholat subuh diruang khusus dirumahnya untuk beribadah. semacam musholla kecil didalam rumah. Bik Inem dan Pak Kardi yang melihat Arum dan Dimas turun dari tangga pun berujar ingin sholat berjamaah.
Karena Arum sedang datang bulan akhirnya Bik Inem, Pak Kardi dan Dimas, yang hanya sholat subuh. Bik Inem dan Dimas pun sholat subuh dengan Pak Kardi sebagai imamnya. Sedang kan Arum pergi kedapur.
Setelah sholat pun Dimas tidak langsung beranjak. Berzikir dan berlanjut melantunkan Ayat suci Al-Qur'an. Terdengar suara Dimas yang sangat merdu dan menenangkan. Membuat Arum yang mendengar tersenyum penuh Takjub.
Bik inem dan Pak Kardi yang beranjak duluan untuk mengerjakan pekerjaannya pun tersenyum senang.
"Alhamdulillah Ya Allah. Semoga rumah tangga Den Dimas selalu Barokah." batin Bi inem mendoakan Dimas dan Arum, dengan logat Jawanya.
☀️
Matahari mulai terbit memasuki celah-celah tirai di rumah Dimas. Arum yang sedang menyiapkan kopi hitam untuk Dimas.
Berjalan kearah jendela menyibakan dan membuka jendela agar udara sejuk serta rumah yang luas ini mendapatkan cahaya mentari pagi yang cerah.
Dimas yang sedang membaca koran di ruang keluarga pun merasa sangat silau. "Habi kenapa harus dibuka semua tirainya?" tanya Dimas yang menatap Arum.
"Bie, mentari pagi kan cerah dan sangat bagus pula buat kesehatan." jawab Arum santai. sembari berjalan ke pantry mengambil kopi untuk Dimas.
"Iya.! Tapi memangnya harus dibuka semua, kan silau." jawab Dimas.
"Habibie, kesayanganku. Kalau silau ya pakai kacamata hitam." ucap Arum sambil meletakkan kopi di meja depan Dimas.
Mendengar jawaban nyeleneh Arum, Dimas pun menarik Arum hingga terjatuh di pangkuannya. "Kamu tuh yah udah bisa ngelawak sekarang." ucap Dimas sambil mencubit hidung Arum yang tidak terlalu mancung.
"Bie, nanti dilihat Bi inem." ucap Arum yang berusaha bangkit dari pangkuan Dimas.
"Diem.!" hardik Dimas.
Arum yang tadinya bergerak untuk melepaskan tangan Dimas yang memeluknya, mendengar suara Dimas pun terdiam.
Kini Dimas menatap dalam mata Arum. Arum pun seakan sulit menelan ludahnya seakan tersangkut di tenggorokan.
Wajah Dimas semakin dekat dan semakin dekat. Arum pun memejamkan matanya dengan ekspresi takut akan kepergok Bi Inem seperti saat di rumah sakit. Kepergok Bi Chan dan Hasan. Malu.
Dimas pun tersenyum melihat ekspresi wajah Arum yang sangat lucu baginya. Dan tidak tahan untuk tertawa. "Hahaha.. Habi wajah mu sangat menggemaskan." ucap Dimas.
Arum pun membuka matanya dengan ekspresi heran dengan sikap suaminya. Arum pun memanyunkan bibirnya tanda dia sedang di kerjain oleh suaminya.
Cup..! Dimas malah mencium bibir Arum singkat membuat si empunya semakin heran dan beranjak dari pangkuan Dimas.
"Habibie tuh keterlaluan.!" hardik Arum terlihat ngambek. Dan pergi meninggalkan Dimas menuju ke dapur.
Melihat ekspresi wajah Arum yang seakan sedang ngambek pun Bi inem bertanya. "Den Ayu, kenapa ko cemberut?" Tanya Bi Inem yang memanggil Arum dengan sebutan 'Den Ayu'.
Karena Arum tidak mau di panggil Non oleh Bi Inem kesannya tidak menghargai orang yang lebih tua. menurut Arum.
Bi Inem pun juga untuk menghargai istri 'Den mudanya' memanggil Arum dengan sebutan 'Den Ayu'.
"Ndak papa Bi." jawab Arum lembut.
Bi Inem dan Arum pun melanjutkan untuk menyiapkan sarapan. "Bi Inem, tolong selesaikan ini yah. Saya mau mandi dulu." ucap Arum.
"Iya, Den Ayu." jawab Bi Inem. Bi Inem senang karena Arum bukan hanya sholehah. tapi juga ramah dan menghargai dirinya. meskipun ia hanya asisten di rumah Dimas.
Di kamar Dimas. Arum pun segera mandi dan tidak menggubris keberadaan suaminya yang sudah berada di kamar dan duduk di sofa dekat jendela kamar.
"Habibati?" panggil Dimas .
"Hemm." jawab Arum enggan.
"Marah.?" tanya Dimas.
"Tidak.!" jawab Arum malas.
"Ayo kita mandi bersama?" ajak Dimas.
"Tidak.!" Arum segera berlari menuju kamar mandi serta mengunci pintu.
Dimas yang melihat Arum dengan sikap seperti itupun terkekeh geli. "Lucu sekali istriku." gumamnya.
Dimas pun kembali melihat isi berkas mengenai pabrik dan juga laporan perusahaan yang berada di China.
Dimas nampak mengeryitkan kening, bukan karena salah dengan laporannya. Terselip sebuah surat yang bertuliskan dalam bahasa China. Dimas pun membaca isi tulisan surat itu.
Dimas yakin itu tulisan Xian Guo. entah apa maksudnya. Tiba-tiba ponsel Arum berdering. tertera di layar monitor ponselnya 'Pak Alfin'.
Mendengar pintu kamar mandi di buka Dimas pura-pura sibuk dengan berkasnya. Meskipun dalam hatinya bertanya-tanya untuk apa Kepala sekolah itu masih menghubungi Arum yang kini sudah menjadi istrinya.
Arum yang keluar dengan hanya memakai handuk pun membuat darah Dimas berdesir.
"Maaf tadi lupa bawa baju ganti." ucap Arum yang melihat Dimas sedang menatapnya.
"Untuk apa. toh Aku sudah melihat semuanya." ucap Dimas dingin mencoba mentralisir gejolak dalam hati dan darahnya yang seakan tidak bisa menahannya lagi.
Merasa bingung dengan nada suara Dimas yang kembali dingin Arum pun mengacuhkannya.
Arum yang sedang berganti pakai di ruangan ganti yang berada di kamar Dimas pun mendengar bunyi dering ponselnya. "Bie, tolong lihat siapa? yang menelepon." seru Arum.
Akan tetapi Dimas mengacuhkan ucapan Arum. Arum merasa heran akan sikap Dimas yang berubah. Arum pun keluar dengan sudah memakai gamis dengan warna hitam yang tidak terlalu gelap. Menambah kesan anggun dalam dirinya.
Dan mengambil ponsel. Yang ia letakkan di meja di depan sofa. Tempat Dimas sedang melihat berkas-berkasnya.
Melihat layar monitor ponselnya. Tertera nama 'Alfin'. "hemm pantes sikapnya tiba-tiba berubah, pasti dia sudah melihatnya." batin Arum.
"Bie, jadi pergi nggak hari ini?" tanya Arum untuk menghilangkan kecemburuan Dimas.
"...." tidak ada jawaban dari Dimas.
Arum pun menghampiri Dimas dan duduk di sofa tepat di sebelah Dimas. "Bie, pasti tau kan siapa yang menelepon tadi?" ucap Arum lembut.
Dimas masih tetap diam. Arum pun mencium bibir Dimas singkat. Membuat Dimas yang tadinya pura-pura fokus dengan berkasnya. beralih menatap Arum.
"Lalu." ucap Dimas yang masih menatap Arum.
"Cemburu?" tanya Arum.
"Kalau iya.!" jawab Dimas ketus.
"Kita kan sudah menikah?" jawab Arum. yang merasa sulit akan menjelaskan apa.
"Lalu?" jawab Dimas santai.
"iihh, Habibie.!" Arum merajuk.
"Kita akan mengecek persiapan resepsi. Dan sebelum itu kita ke sekolah tempat mu mengajar." ucap Dimas.
"Untuk apa?" tanya Arum heran. untuk apa dia kesana kan sudah izin ambil cuti.
"Kita akan memberi undangan pernikahan untuk mantan mu." jawab Dimas.
"ih..ih.. siapa yang punya mantan?" tanya Arum tak mau dituduh.
"Ya siapa lagi, Habi lah.!" jawab Dimas seolah-olah Arum pernah memiliki hubungan dengan Alfin. padahal Dimas tahu sendiri bahwa istrinya sangat menjaga jarak dengan laki-laki.
"Masya Allah, Habibie.!" hardik Arum dengan suara pelan namun penuh ketegasan.
Arum pun enggan untuk melanjutkan ucapan yang tidak berfaedah.
Dan lebih memilih kemeja rias. Meja rias yang dulu hanya berisikan parfum pria pun, kini di penuhi dengan segala pernak-pernik wanita. meskipun tidak banyak make up yang Arum miliki.
Dimas berjalan kearah kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikiran yang dipenuhi kecemburuan.
Kini Arum tengah berada di taman belakang rumah Dimas dan melihat ikan-ikan koi yang lumayan besar. Arum menunggu Dimas untuk sarapan.
Arum pun mendengar suara pintu di tutup dari lantai atas. Tepatnya kamar Dimas yang secara otomatis menjadi kamar Arum sekarang.
Dimas yang sudah rapih dengan memakai celana panjang warna coklat dengan jas simple dipadu padankan dengan kaos putih nampak begitu menawan. Berdiri di tengah-tengah anak tangga. Takjub melihat Arum yang tengah berdiri.
Dari arah taman belakang dengan senyuman yang sangat menawan nan manis. Seperti bidadari pikirnya.
Arum yang memakai hijab warna hijau tua memadu padankan dengan gamis yang ia pakai.
Dimas pun turun dan menghampiri Arum. "Subhanallah Habibati, Kamu sangat cantik."
Arum pun malu-malu mendengar pujian dari Dimas. "Ayo kita sarapan dulu sebelum pergi."
"Baiklah." jawab Dimas lalu menyilahkan lengannya. Arum pun mengalungkan tangannya di lengan Dimas dan berjalan kearah meja makan.
Bi Inem lagi-lagi menjadi saksi atas kemesraan mereka.
🍂
🍂
Salam sehat selalu
salam kenal🙏
walaupun jarang coend🤭
padahal aku di daerah BOROBUDUR😌
no cimend🤐🤐🤐😐😐