NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Satu bulan kemudian, waktu yang dinanti-nanti akhirnya tiba.

Masa-masa sulit penuh peluh dan air mata di ruang fisioterapi Toronto telah berakhir.

Terapi fisik Jihan dinyatakan selesai sepenuhnya. Kakinya telah pulih total, mampu melangkah dengan tegak, anggun, dan tanpa rasa sakit sedikit pun.

Hari itu, sebuah pesawat jet pribadi mendarat mulus di bandara udara Jakarta.

Di dalam kabin, Jihan menatap pantulan dirinya di jendela kaca.

Penampilannya benar-benar memukau. Dengan tubuh yang ramping proporsional, setelan pakaian formal yang elegan, dan wajah secantik Cinderella, tidak akan ada satu orang pun di Indonesia yang akan mengenali bahwa wanita menawan ini adalah Jihan yang dulu bertubuh subur.

Tanpa membuang waktu, Deacon langsung membawa Jihan menuju ke safe house tersembunyi di perbukitan Sentul, tempat Jonas menyembunyikan Darren dan Angela selama sebulan terakhir ini.

Mobil hitam yang membawa mereka berhenti di depan halaman vila.

Begitu pintu rumah terbuka, Jonas yang sudah berjaga di depan pintu langsung tertegun melihat sang ayah melangkah masuk bersama seorang wanita asing yang sangat cantik.

"Pa..." ucap Jonas, suaranya tercekat karena rindu sekaligus lega.

Ia langsung maju dan memeluk Deacon dengan erat.

Deacon menepuk bahu putranya dengan bangga. "Kamu sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik, Jonas."

Mendengar suara gaduh di ruang tamu, Angela melangkah keluar dari koridor kamar.

Begitu melihat sosok mantan perwira yang sangat dihormatinya, wajah lelah Angela seketika berubah cerah.

"Om..." sapa Angela dengan nada santun, melangkah mendekat untuk menyambut Deacon.

Namun, langkah kaki Angela mendadak terhenti di tengah ruangan.

Sepasang matanya membelalak lebar, menatap lurus ke arah sosok wanita yang berdiri di samping Deacon.

Angela melihat sosok wanita yang sangat cantik, dengan aura keanggunan yang begitu berkelas dan tatapan mata yang terasa sangat familiar di hatinya.

Wanita itu menatap Angela dengan binar mata yang berkaca-kaca, memancarkan rasa rindu dan kasih sayang yang mendalam—sebuah tatapan yang dulu selalu diberikan oleh ibu tiri yang pernah disia-siakannya.

Angela mengerutkan dahinya, jantungnya berdegup kencang karena kebingungan.

"Om Deacon... dia... siapa?"

Keheningan seketika menyelimuti ruang tamu vila Sentul.

Angela masih terpaku, memandangi wajah cantik wanita asing di hadapannya dengan ribuan tanda tanya yang berputar di kepala.

Jihan mengambil satu langkah maju. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini perlahan bergulir melewati pipinya yang tirus.

Dengan senyuman lembut yang penuh kerinduan, ia membuka suara.

Suara yang tidak berganti—nada lembut, hangat, dan sarat akan ketulusan yang sangat dihafal oleh Angela.

"Angela. Ini Mama, Sayang," panggil Jihan perlahan.

Deg!

Suara itu menghantam kesadaran Angela bagai petir di siang bolong.

Angela mundur selangkah, menggelengkan kepalanya dengan tatapan tidak percaya.

Matanya meneliti dari ujung rambut hingga ujung kaki wanita di depannya.

Tubuh gemuk yang dulu selalu dihina kini telah berganti menjadi sosok layaknya model papan atas, namun binar mata dan kehangatan suara itu tidak bisa berbohong.

"M-mama? Tante Jihan?!" bisik Angela, suaranya bergetar hebat.

"Nggak mungkin... Mama sudah..."

Jihan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah lebar, lalu menganggukkan kepalanya dengan pasti.

Tanpa menunggu lagi, Jihan langsung merengkuh tubuh putri tirinya itu ke dalam pelukan hangatnya.

Aroma tubuh Jihan yang menenangkan seketika menyeruak, meruntuhkan seluruh dinding pertahanan dan keraguan di hati Angela.

"Iya, Nak. Ini Mama. Mama masih hidup," bisik Jihan tepat di telinga Angela.

Pelukan itu menjadi saksi runtuhnya seluruh keangkuhan Angela di masa lalu.

Begitu menyadari bahwa wanita yang mendekapnya adalah ibu tiri yang selalu ia perlakukan dengan buruk namun justru menjadi pelindungnya, tangis Angela pecah seketika.

Angela menangis sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jihan.

Bahunya terguncang hebat, meluapkan seluruh rasa sesal yang membakar dadanya selama sebulan ini.

"Mama... Maafin Angela, Ma... Maafin Angela!" ratap Angela di sela tangis histerisnya.

"Angela bodoh. Angela jahat sama Mama dulu. Tapi Mama malah kembali untuk menyelamatkan kami... Maaf, Ma... Maaf..."

Jihan semakin mempererat pelukannya, mengelus punggung Angela dengan penuh kasih sayang.

"Sudah, Sayang. Mama sudah memaafkanmu sejak lama. Sekarang Mama sudah di sini. Tidak akan ada yang bisa menyakiti kamu dan Papa lagi."

Deacon dan Jonas yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya menyaksikan momen haru itu dalam diam.

Jonas tersenyum lega, sementara Deacon menatap tajam ke arah koridor kamar, tahu bahwa setelah air mata penyesalan ini mengering, giliran air mata darah yang harus dibayar oleh Andre dan Riko.

Jihan perlahan melepaskan pelukan erat Angela. Ia menghapus sisa air mata di pipi putrinya dengan ibu jarinya, lalu mengangguk pelan seolah meminta izin untuk menemui pria yang paling ia rindukan.

Dengan jantung yang berdebar kencang, Jihan membalikkan tubuh dan bergegas melangkah menuju kamar tamu di ujung koridor.

Setiap langkah Jihan terasa begitu berat sekaligus melegakan.

Begitu tangannya menyentuh knop pintu, ia menarik napas dalam-dalam lalu mendorongnya perlahan.

Di dalam kamar yang temaram, sosok Darren Bramantyo sedang duduk di tepi ranjang.

Pria yang dulunya begitu gagah dan berwibawa kini tampak begitu kurus.

Tatapan matanya kosong, menerawang menembus jendela kaca sembari kedua tangan kekarnya mendekap erat sebuah guling besar ke dadanya.

Air mata Jihan tumpah seketika melihat kondisi suaminya yang begitu memprihatinkan akibat hantaman badai depresi dan kelicikan anak-anaknya.

"M-mas...." panggil Jihan dengan suara yang bergetar hebat, tertahan di tenggorokan.

Mendengar suara yang begitu familier di telinganya, Darren tersentak.

Kepalanya bergerak perlahan, menoleh ke arah ambang pintu. Namun, begitu matanya menangkap sosok yang berdiri di sana, Darren tertegun.

Di depannya berdiri seorang wanita yang sangat cantik, ramping, dan anggun layaknya seorang putri—sosok yang sama sekali tidak mirip dengan fisik istrinya yang dulu.

Namun, ikatan batin seorang suami tidak bisa dikelabui.

Jantung Darren berdesir hebat saat menatap sepasang mata indah wanita itu.

"J-jihan...." bisik Darren lirih, suaranya parau dan terbata-bata. Tangannya yang gemetar perlahan mulai melonggarkan dekapannya pada guling yang dipegangnya.

"Jihan... kamu... Jihan-ku?"

Jihan langsung berlari mendekat dan berlutut di hadapan Darren.

Ia menggenggam kedua tangan suaminya yang terasa dingin, lalu menatap lurus ke dalam mata kosong pria itu dengan penuh cinta.

"Iya, Mas. Aku Jihan. Ini aku, Mas," ucap Jihan meyakinkan, tangisnya pecah saat mencium punggung tangan Darren berulang kali.

"Aku kembali, Mas. Aku tidak meninggalkanmu."

Mendengar pengakuan itu, setitik cahaya kehidupan seolah kembali masuk ke dalam bola mata Darren yang semula mati.

Air mata pria paruh baya itu perlahan mengalir membasahi pipinya yang cekat.

Guling yang selama ini ia anggap sebagai istrinya kini jatuh begitu saja ke lantai.

Darren langsung menarik tubuh Jihan ke dalam pelukannya, mendekap erat wanita itu seolah takut jika ini hanyalah mimpi di tengah kegilaannya.

Di dalam dekapan hangat yang begitu erat, bahu Darren berguncang hebat.

Pria yang dulu dikenal bertangan besi di dunia bisnis itu kini menangis tanpa suara, menumpahkan seluruh beban bersalah yang selama ini mengikis kewarasannya.

Darren melonggarkan pelukannya sedikit, lalu memegang kedua pipi tirus Jihan. Matanya menatap penuh penyesalan.

"Aku minta maaf, Jihan. Maaf atas kebodohanku yang cemburu sampai kamu harus mengalami kecelakaan maut itu. Ini semua salahku."

Jihan segera menggenggam tangan Darren di pipinya, menggelengkan kepala dengan lembut sembari tersenyum tulus.

"Mas, sudah. Kita lupakan semuanya, ya," potong Jihan dengan nada menenangkan.

Tatapan matanya yang semula sendu kini berubah menjadi berkilat tegas.

"Sekarang kita fokus ke kesembuhan kamu. Dan setelah itu, Mas harus kembali menjadi CEO Bramantyo Corporation. Kita beri pelajaran pada mereka yang sudah mengkhianatimu."

Mendengar ketegasan di suara istrinya, Darren terpaku. Kesadarannya perlahan pulih seutuhnya, seolah ditarik paksa dari kegelapan depresi.

Namun, logika lamanya sebagai pengusaha kembali berputar.

Ia menatap penampilan Jihan yang berubah drastis dan fasilitas kamar mewah tersembunyi ini.

"Lalu, siapa yang menolongmu malam itu, Jihan? Siapa yang membawamu sampai ke sini?" tanya Darren bingung.

"Aku," sebuah suara bariton yang berat dan sarat akan wibawa terdengar dari arah pintu.

Darren mendongak, matanya membelalak lebar melihat sosok pria asing berwajah bule dengan setelan jas formal melangkah masuk ke dalam kamar.

Pria itu berdiri tegak dengan aura militer yang sangat pekat, ditemani oleh Angela dan Jonas yang mengekor di belakangnya.

"Deacon?" desis Darren, otaknya langsung mengenali pria internasional yang dulu pernah memiliki hubungan kerja sama taktis dengannya.

Deacon mengangguk pelan, melipat kedua tangannya di depan dada.

"Lama tidak bertemu, Darren. Aku yang menarik istrimu dari dasar jurang malam itu dan membawanya ke Kanada untuk operasi darurat. Dan sekarang, aku juga yang membawa anakku, Jonas, untuk mengamankan putri dan dirimu dari kejaran pembunuh bayaran yang disewa oleh anak-anak kandungmu sendiri."

Darren tertegun, rahangnya mengeras mendengar kenyataan bahwa nyawanya dan Angela diselamatkan oleh jaringan milik Deacon.

Aliansi besar kini telah terbentuk di kamar itu, siap meledakkan badai pembalasan ke arah Andre dan Riko.

1
merry yuliana
👍👍👍
merry yuliana
lanjut kak...aku hadir ...cemungud kak sering2 crazy up yaaa💪💪💪
my name is pho: ok kak🥰
total 1 replies
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!