NovelToon NovelToon
The Mafia'S Only Weakness

The Mafia'S Only Weakness

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mel R.

Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.

Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Dominic terus mendekap erat tubuh Isabella, mengusap punggung istrinya dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kepalan tangan besi yang ia miliki.

Tangis bahagia Isabella di ceruk lehernya terasa seperti obat penenang yang paling ampuh setelah amarahnya sempat meledak hebat beberapa saat lalu.

"Jangan menangis lagi, Sayang," bisik Dominic, suaranya merendah, sarat akan rasa cinta. Ia menangkup wajah Isabella dengan kedua telapak tangannya yang besar, lalu menghapus sisa air mata di pipi istrinya menggunakan ibu jari.

"Kau harus menjaga energimu. Dokter bilang kau tidak boleh kelelahan." ucap Dominic.

Isabella mengangguk pelan, senyuman manis akhirnya terukir di bibirnya yang masih sedikit pucat. Ia menurunkan tangan Dominic dan menuntunnya untuk menyentuh perut ratanya sendiri. "Aku masih tidak menyangka... di dalam sini benar-benar ada anak kita, Dominic?"

"Kita akan memastikannya besok pagi bersama dokter spesialis terbaik," jawab Dominic sembari mengunci pandangan matanya pada jemari mereka yang bertaut di atas perut Isabella.

Kehangatan yang menjalar di dadanya membuat Dominic bersumpah dalam hati untuk memperketat keamanan rumah ini hingga berlapis-lapis. Tidak akan ada satu pun kecerobohan yang boleh mengusik ketenangan istri dan calon bayinya lagi.

Di tengah momen intim yang penuh haru itu, sebuah dehaman kecil yang sengaja dibuat-buat terdengar dari arah ujung sofa.

"Ehem."

Damian berdiri di sana, menatap kedua orang tuanya dengan mata elang kecilnya yang menyipit bosan. Bocah lima tahun itu kembali melipat kedua tangan di dada.

"Melihat kadar kebahagiaan yang berlebihan ini, sepertinya aku harus mulai membuat daftar anggaran baru," ketus Damian lempeng tanpa ekspresi.

"Daddy, ingatanmu mungkin melemah karena terlalu senang, tapi kau belum memberikan kompensasi atas kerja kerasku melumpuhkan mental wanita tua tadi dengan argumenku. Aku menuntut kenaikan uang saku mingguan dua puluh persen sebagai upah perlindungan untuk Mommy."

Isabella yang mendengar celotehan pedas bin komersial dari putranya seketika tertawa kecil. Rasa pening di kepalanya mendadak hilang digantikan rasa gemas yang luar biasa.

Ia merentangkan satu lengannya ke arah Damian. "Kemari, Damian. Kemari dekat Mommy."

Damian sempat melirik Dominic seolah meminta izin—atau lebih tepatnya, memastikan ayahnya tidak akan bersikap posesif dan menghalangi jalannya. Setelah melihat Dominic mengembuskan napas pasrah sambil memberikan anggukan kecil, barulah bocah lima tahun itu melangkah mendekat.

Namun, alih-alih langsung memeluk, Damian hanya duduk di tepi sofa dan menyentuhkan telapak tangan kecilnya di samping tangan Dominic yang masih berada di atas perut Isabella.

"Hei, manusia kecil di dalam sana," ucap Damian, berbicara langsung pada perut ibunya dengan nada suara datar yang terdengar sangat serius.

 "Aku adalah kakakmu, sekaligus manajer operasional yang akan mengatur hidupmu di rumah ini nanti. Tumbuhlah dengan cepat, dan pastikan kau mewarisi selera ku, bukan sifat kaku Daddy."

Dominic langsung menjitak pelan pucuk kepala Damian hingga bocah itu mendengus sebal. "Kau terlalu banyak bicara untuk anak seusiamu, Damian."

"Aku hanya menyampaikan fakta taktis, Dad," balas Damian sambil membetulkan letak rambutnya yang sedikit berantakan akibat jitakan Dominic.

Isabella hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat interaksi dua pria Salvatore yang sangat mirip itu.

Ia memeluk Damian dari samping, membiarkan suaminya merengkuh mereka berdua dari belakang. Ruang tamu yang beberapa menit lalu mencekam seperti medan perang, kini berubah menjadi tempat paling hangat di dunia.

Rasa khawatir dan ketakutan atas kedatangan Victoria menguap sepenuhnya, digantikan oleh harapan baru yang mulai tumbuh di dalam keluarga kecil mereka.

Sementara itu, di dalam limosin mewah yang melaju kencang meninggalkan kawasan kediaman Salvatore, atmosfer di dalamnya tak kalah mencekam.

Victoria Salvatore duduk di kursi penumpang belakang dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Wajahnya yang dilapisi riasan mahal kini tampak pias dan berantakan. Napasnya memburu, dan jemarinya mencengkeram erat tas Hermes di pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Rasa takut, syok, dan murka bercampur aduk menjadi satu racun yang membakar dadanya. Seumur hidupnya, tidak pernah ada yang berani menodongkan senjata api tepat di depan wajahnya—terlebih lagi, orang itu adalah Dominic, putra kandungnya sendiri.

"Iblis sialan... Dia benar-benar sudah gila karena jalang itu!" desis Victoria, suaranya bergetar parau di antara keheningan mobil.

Every second di ruang tamu tadi berputar kembali di kepalanya seperti mimpi buruk. Dominic yang biasanya dingin kini menjelma menjadi monster yang siap membantainya demi wanita kelas rendah itu.

Namun, yang paling membuat batin Victoria terguncang bukanlah todongan pistol Dominic, melainkan bayang-bayang bocah berusia lima tahun yang berdiri tegap di depannya tadi.

Damian.

Mengingat nama dan wajah bocah itu membuat jantung Victoria berdegup abnormal. Sepasang mata elang yang tajam, rahang tegas, dan cara bicara yang teramat dingin sekaligus mematikan... Bocah itu adalah replika hidup dari Dominic sewaktu kecil.

"Tidak salah lagi," batin Victoria, giginya menggertak kuat hingga rahangnya menegang.

 "Jalang itu... Isabella pasti sudah merencanakan ini sejak bertahun-tahun lalu. Dia menyembunyikan anak itu, merawatnya secara rahasia, dan menjadikannya senjata pamungkas untuk menjerat Dominic dan menguasai seluruh aset klan Salvatore!"

Di mata Victoria, Damian bukanlah seorang cucu, melainkan sebuah ancaman besar yang diciptakan oleh Isabella untuk menggulingkan posisinya sebagai matriark keluarga.

Lebih parah lagi, bocah sekecil itu sudah memiliki lidah yang begitu beracun dan tajam, mampu meruntuhkan harga dirinya hanya dalam beberapa kalimat objektif yang menyerang mentalnya.

"Nyonya Besar, apakah kita langsung menuju bandara untuk kembali ke Eropa?" suara sopir pribadi dari balik kemudi memecah lamunan Victoria, terdengar sangat hati-hati karena ketakutan melihat aura gelap sang majikan.

Victoria mendongak, matanya berkilat penuh dendam dan kebencian yang mendalam.

"Tidak," jawab Victoria dingin, suaranya menipis. "Putar balik ke penthouse pribadi saya di pusat kota. Saya tidak akan kembali ke Eropa sebelum membersihkan kotoran yang ada di rumah putra saya."

Sopir itu menelan ludah pelan. "Baik, Nyonya."

Victoria bersandar pada kursi kulit limosin, menatap kosong ke luar jendela yang menampilkan gedung-gedung tinggi kota. Tangannya yang gemetar perlahan meraih ponsel pintar di dalam tasnya. Ia menekan beberapa digit nomor internasional, menghubungi Marcus.

Marcus adalah sekutu lama sekaligus orang kepercayaan Victoria di Eropa.

Di dalam hierarki klan Salvatore, Marcus merupakan salah satu petinggi dan kepala faksi tua yang memiliki pengaruh besar dalam tatanan bisnis serta memegang kendali penuh atas jaringan intelijen dan mata-mata keluarga mereka. Dialah orang yang bergerak di balik layar yang selalu Victoria andalkan jika butuh kekuatan politik untuk mengguncang posisi Dominic dari luar.

Begitu panggilan tersambung, suara bariton Marcus yang berat terdengar di seberang sana, "Halo, Victoria. Bagaimana kunjunganmu ke rumah menantu barumu?"

"Cukup basa-basinya, Marcus," potong Victoria tanpa basa-basi, suaranya sedingin es yang membeku.

"Saya butuh kau mengerahkan tim intelijen terbaikmu untuk menyelidiki latar belakang medis dan seluruh aktivitas Isabella selama enam tahun terakhir. Cari tahu di mana dia menyembunyikan anak itu sebelum Dominic membawanya pulang."

 Di seberang telepon, terdengar jeda beberapa detik sebelum Marcus merespons dengan nada terkejut, "Anak? Dominic memiliki seorang anak?"

"Ya. Dan anak itu dididik oleh wanita murahan untuk menjadi monster yang melawan keluarganya sendiri," desis Victoria, matanya menyipit penuh intrik kejam.

"Kumpulkan semua informasinya melalui jaringanmu. Jika Dominic sudah dibutakan oleh cinta dan anak haram itu, maka kita akan menggunakan pengaruh faksi tua untuk mendepak mereka dari silsilah Salvatore. Mereka pikir mereka sudah menang?"

Victoria memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia mencengkeram ponselnya kuat-kuat, bersumpah dalam hati bahwa rasa malu yang ia tanggung hari ini akan dibayar tuntas dengan kehancuran Isabella dan anaknya.

1
meliana
kalian semua jangan lupa mampir yah, di jamin seru dengan cerita cerita author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!