NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Dingin. Itu satu kata yang terus berputar di kepala Nayla sejak tubuhnya berhasil ditarik keluar dari kolam oleh salah satu asisten rumah tangga sore tadi. Dingin yang bukan hanya menusuk kulit, tapi juga menembus sampai ke tulang dan menetap di sana, enggan pergi. Bahkan setelah berjam-jam berlalu, setelah ia mengganti pakaian, setelah tubuhnya dibalut selimut tebal, rasa itu masih setia menyiksanya.

Nayla menarik selimutnya lebih tinggi, sampai menutupi hampir seluruh wajahnya. Nafasnya terdengar bergetar, sesekali diselingi bunyi gigi yang saling beradu. Ia memejamkan mata, berharap dengan begitu ia bisa mengabaikan semua sensasi dingin yang terasa. Tapi percuma.

Semua terlalu nyata.

Semua terlalu melekat.

Dan yang paling menyiksa semua terlalu familiar.

Kejadian sore tadi seperti mengulang memori lama yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Memori yang tidak pernah benar-benar hilang, hanya tertimbun waktu dan kepura-puraan.

Lima tahun.

Usianya baru lima tahun saat itu.

Hari itu juga sore, langit bahkan memiliki warna yang hampir sama. Ia ingat jelas bagaimana papanya membentaknya, bagaimana tangannya yang kecil berusaha menutupi telinga, bagaimana kakinya mundur perlahan hingga tak sadar sudah berada di tepi kolam.

Dan kemudian tubuh kecilnya tenggelam.

Air memenuhi hidung dan mulutnya. Ia berusaha berteriak, tapi yang masuk justru air. Ia menggerakkan tangan dan kaki dengan panik, tapi tubuhnya justru semakin tenggelam. Dunia terasa gelap, suara memudar, dan satu-satunya hal yang ia rasakan saat itu adalah takut.

Takut yang luar biasa.

Dan hari ini, setelah dua belas tahun berlalu, ia merasakan hal yang sama.

Takut.

Bedanya, dulu ia berharap seseorang akan menyelamatkannya.

Sekarang?

Ia bahkan tidak tahu apakah ia masih ingin diselamatkan atau tidak.

Nayla membuka matanya perlahan. Pandangannya kosong, menatap langit-langit kamarnya yang begitu familiar tapi terasa asing di saat bersamaan.

“Kenapa gue masih hidup ya,” gumamnya lirih.

Suara itu begitu pelan, hampir seperti bisikan yang bahkan dirinya sendiri tidak yakin apakah benar ia mengucapkannya atau tidak.

Ia menghela napas panjang, meski napas itu terasa berat.

Sudah terlalu banyak.

Terlalu banyak hal yang ia tahan sendiri.

Terlalu banyak luka yang ia sembunyikan di balik senyumannya.

Dan entah sampai kapan ia harus bertahan seperti ini.

Perlahan, Nayla mencoba duduk. Tubuhnya masih lemas, tapi ia memaksa. Tangannya bertumpu pada kasur, bahunya sedikit bergetar saat ia mengangkat tubuhnya.

“Ah…” desisnya pelan saat rasa nyeri menjalar dari kepalanya.

Benturan tadi sore belum sepenuhnya hilang. Bahkan sekarang, setiap kali ia bergerak, rasa sakit itu seperti mengingatkannya bahwa ia masih hidup.

Sayangnya, hidup bukan lagi sesuatu yang ia syukuri.

Ketukan di pintu membuat Nayla menoleh.

“Masuk aja, bi,” ucapnya dengan suara yang masih lemah.

Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok yang sudah sangat familiar bagi Nayla.

Bi Nani.

Satu-satunya orang di rumah ini yang masih memperlakukannya seperti manusia.

“Non Nayla kedinginan ya?” tanya wanita paruh baya itu dengan wajah penuh kekhawatiran.

Nayla hanya mengangguk pelan. Bibirnya tampak pucat, matanya sembab, dan tubuhnya masih sesekali bergetar.

Tanpa perlu diminta, Bi Nani langsung bergerak. Ia meletakkan sepiring makanan di atas nakas, lalu berjalan cepat menuju lemari pakaian.

Beberapa detik kemudian, ia kembali dengan jaket tebal berwarna biru.

“Ini dipakai dulu, non,” katanya lembut.

Nayla menatap jaket itu sejenak sebelum akhirnya menerimanya. Tangannya sedikit gemetar saat mengenakannya, tapi Bi Nani segera membantu.

“Pelan-pelan ya, non,” bisiknya.

Sentuhan itu hangat. Sangat berbeda dengan semua yang ia rasakan hari ini.

Dan entah kenapa, hanya dengan hal sederhana seperti itu, air mata Nayla kembali jatuh.

Ia buru-buru memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan tangisnya.

Namun Bi Nani sudah terlalu mengenalnya.

“Non…” panggilnya pelan.

Nayla menggeleng cepat.

“Aku nggak apa-apa, bi,” ucapnya, meski suaranya jelas bergetar.

Kebohongan yang buruk.

Tapi siapa yang peduli?

Di rumah ini, bahkan jika ia menangis darah pun, tidak akan ada yang benar-benar peduli.

“Kamu mau bibi buatkan teh hangat?” tanya Bi Nani lagi.

Nayla mengangguk pelan.

“Iya, bi…”

“Bibi buatkan sekarang ya. Tunggu sebentar.”

“Iya…”

Sebelum keluar, Bi Nani sempat mengusap kepala Nayla dengan lembut.

Dan lagi-lagi, sentuhan itu membuat hati Nayla terasa sesak.

Seandainya…

Seandainya mamanya bisa seperti itu.

Seandainya…

Tapi Nayla tahu, kata “seandainya” tidak akan pernah mengubah apapun.

Pintu kembali tertutup.

Dan Nayla kembali sendirian.

Sunyi.

Seperti biasa.

Ia menarik lututnya ke dada, memeluk dirinya sendiri di balik selimut dan jaket tebal.

Air matanya kembali jatuh, kali ini tanpa usaha untuk menghentikannya.

“Capek…” bisiknya.

Satu kata.

Tapi cukup untuk menggambarkan semuanya.

Tak lama, ketukan kembali terdengar.

“Masuk aja, bi—”

Kalimat Nayla terhenti saat pintu terbuka.

Bukan Bi Nani.

Devan.

Nayla langsung mendengus pelan. Wajahnya berubah datar, bahkan cenderung dingin.

Ia menyilangkan tangan di dada, meski tubuhnya masih lemas.

“Apa?” tanyanya singkat.

Devan berdiri di ambang pintu, tidak masuk sepenuhnya. Tatapannya datar, seperti biasa—tidak ada kehangatan, tidak ada kepedulian.

“Gue ke sini cuma mau bilang,” ucapnya tanpa basa-basi, “besok ada acara anniversary kantornya Om Naka.”

Nayla tidak menjawab.

“Dan lo harus ikut,” lanjutnya.

Masih diam.

“Kayak biasa.”

Akhirnya, Nayla mengangguk pelan.

“Oke.”

Ia bahkan tidak bertanya. Tidak peduli.

Sudah terlalu sering.

Ia hanya menjadi pajangan di acara-acara seperti itu. Berdiri, tersenyum, berpura-pura bahagia, seolah keluarganya sempurna.

Padahal kenyataannya?

Hancur.

“Udah?” tanyanya kemudian, satu alisnya terangkat.

Devan tidak langsung menjawab. Ia masih berdiri di sana, menatap Nayla dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Ada satu lagi,” katanya akhirnya.

Nayla menghela napas pelan.

“Apa lagi?”

“Besok lo harus kelihatan normal.”

Nayla mengernyit.

“Maksud lo?”

“Jangan kelihatan kayak orang sakit,” jawab Devan dingin. “Kalau perlu pakai make up.”

Nayla terdiam sejenak.

“Supaya nggak kelihatan pucat.”

Sunyi.

“Intinya,” lanjut Devan, “jangan mempermalukan keluarga Raharja.”

Kalimat itu menusuk. Nayla tertawa pelan, bukan karena lucu, tapi karena ironis.

“Keluarga?” ulangnya lirih.

Devan mengernyit.

“Apa?”

Nayla menatapnya tajam.

“Gue bahkan nggak yakin masih jadi bagian dari keluarga ini,” ucapnya pelan tapi jelas.

Devan terdiam.

Namun hanya sebentar.

“Jangan mulai drama lo lagi,” katanya dingin.

Nayla mengepalkan tangannya.

“Drama?” ulangnya.

“Iya,” jawab Devan. “Lo tuh selalu merasa paling menderita.”

Kalimat itu seperti tamparan, tapi Nayla tidak menangis. Tidak kali ini, ia hanya menatap Devan dengan tatapan kosong.

“Kalau lo jadi gue sehari aja,” ucapnya pelan, “lo bahkan nggak bakal kuat.”

Devan tersenyum sinis.

“Gue nggak mau jadi lo.”

“Tentu aja,” balas Nayla cepat. “Siapa juga yang mau hidup kayak gue?”

Sunyi.

Udara terasa semakin berat.

Namun Nayla tidak mundur.

Ia sudah terlalu lelah untuk pura-pura diam.

“Gue capek, Van,” lanjutnya. “Capek jadi orang yang selalu disalahin.”

Devan tidak menjawab.

“Capek jadi orang yang nggak pernah dianggap.”

Masih diam.

“Dan yang paling capek,” Nayla menelan ludah, “jadi orang yang bahkan nggak tahu dia itu siapa.”

Devan memalingkan wajah.

Entah kenapa, kali ini ia tidak membalas. Dan itu aneh.

“Udah selesai?” tanyanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

Nayla tersenyum tipis.

“Iya.”

“Bagus.”

Devan berbalik, siap pergi.

Namun sebelum benar-benar keluar, ia berhenti sejenak.

“Nayla.”

Gadis itu menoleh.

“Apa?”

Devan tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

“Besok… jangan telat.”

Dan tanpa menunggu jawaban, ia pergi.

Pintu tertutup.

Dan Nayla kembali sendirian.

Lagi.

Ia menatap pintu itu cukup lama.

Kosong.

Hampa.

Lalu perlahan, ia merebahkan tubuhnya kembali ke kasur.

Menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.

Matanya menatap langit-langit lagi.

Tapi kali ini, pikirannya jauh lebih kacau.

Besok.

Acara.

Keluarga.

Dan semua kebohongan yang harus ia perankan.

Nayla menutup matanya.

Air mata kembali mengalir.

“Gue harus kuat…” bisiknya pelan.

Meski dalam hati, ia sendiri tidak yakin kuat sampai kapan.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!