NovelToon NovelToon
Halal Tapi Asing

Halal Tapi Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guratan Cemburu di Bawah Langit Jombang

Mobil hitam Gus Arsalan membelah pekatnya malam, melaju stabil melintasi perbatasan Jombang kota. Sepanjang perjalanan dari Kediri, detak jantungnya berdenyut lebih cepat dari biasanya. Ada sebentuk rindu yang menggebu, berbaur dengan rasa bersalah yang belum sepenuhnya surut. Satu minggu terpisah dari Humaira terasa bagai siksaan waktu yang tak bertepi. Kamar besar di Al-Anwar terasa begitu asing tanpa senyum teduh istrinya.

Tepat pukul setengah sepuluh malam, roda mobilnya perlahan bergulir memasuki pelataran Pesantren Sepuh Kiai Syamsuddin. Suasana pondok tampak sepi, sebagian besar santri sudah kembali ke asrama untuk beristirahat atau mendaras kitab suci secara mandiri. Gerimis tipis sisa hujan sore tadi masih menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Arsalan mematikan mesin mobilnya. Sebelum turun, ia sempat merapikan kemeja koko dongker dan sarung tenunnya di kaca spion tengah. Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dadanya. 'Saya datang untuk menjemput ridamu, Humaira,' batinnya menguatkan tekad.

Namun, saat kakinya melangkah keluar dari mobil dan menutup pintu, netra elangnya menangkap sebuah pemandangan yang seketika membuat langkahnya terkunci di tempat. Di bawah temaram lampu teras samping ndalem tempat yang langsung berbatasan dengan taman kecil ada sebuah mobil sedan putih asing yang terparkir.

Lebih dari itu, pandangan Arsalan langsung tertuju pada dua orang yang sedang duduk di kursi bambu teras.

Sesosok wanita mengenakan gamis hitam dan khimar marun duduk dengan kepala sedikit menunduk. Itu Humaira, istrinya. Namun, di hadapan Humaira, duduk seorang laki-laki muda berpakaian rapi dengan kemeja flanel peniti dan kopiah hitam. Mereka tidak duduk berdekatan, ada jarak adab yang memisahkan. Tetapi, cara laki-laki itu menatap Humaira sorot mata yang penuh perhatian, senyuman hangat yang tulus, dan intonasi suara yang terdengar begitu akrab seketika membuat darah di dalam tubuh Gus Arsalan berdesir panas.

Laki-laki itu adalah Reyhan. Arsalan mengenalnya. Reyhan adalah putra dari seorang kiai mitra Pesantren Sepuh, sekaligus sahabat masa kecil Humaira yang dulu sempat digadang-gadang oleh para santri akan meminang sang Ning sebelum perjodohan besar Al-Anwar terjadi.

"Alhamdulillah, Ning. Pengiriman kitab-kitab pesanan dari percetakan untuk perpustakaan putri sudah beres semua. Maturnuwun sanget nggih, sudah dibantu mengecek daftarnya kemarin," suara Reyhan terdengar lamat-lamat namun jelas di telinga Arsalan yang mulai melangkah mendekat dengan dada yang bergemuruh.

Humaira tersenyum tipis, mengangguk sopan tanpa menatap langsung mata Reyhan. "Enggeh, Mas Reyhan. Sami-sami. Justru kulo yang maturnuwun karena Mas Reyhan mau repot-repot mengantarkan sendiri berkasnya malam-malam begini."

"Mboten repot sama sekali, Ning. Demi kemajuan pondok sepuh, kulo selalu longgar," sahut Reyhan, tersenyum lebar dengan binar mata yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada sosok wanita di depannya.

*Deg.*

Cengkeraman tangan Arsalan pada tali tas ranselnya mengencang hingga urat-urat tangannya menegang. Rasa panas yang membakar dada seketika menjalar laksana api. Cemburu. Sebuah perasaan yang belum pernah dirasakan Arsalan sebelumnya untuk Humaira, kini menghantamnya begitu telak hingga membuatnya sesak napas. Selama ini, ia yang selalu abai dan membuang muka dari Humaira. Namun kini, melihat ada laki-laki lain yang menatap istrinya dengan binar penuh kekaguman, ego dan rasa kepemilikan Arsalan sebagai seorang suami bergejolak hebat.

Arsalan sengaja memperberat langkah kakinya di atas jalan setapak berbatu, menciptakan suara ketukan yang seketika memecah obrolan hangat di teras tersebut.

Humaira dan Reyhan menoleh serempak ke arah sumber suara. Begitu netra teduh Humaira menangkap sosok tinggi tegap suaminya yang berdiri di bawah temaram lampu taman dengan wajah yang mengeras kaku, matanya membelalak kecil karena terkejut.

"Gus Arsalan...?" bisik Humaira lirih, refleks bangkit berdiri dari duduknya.

Reyhan pun ikut bangkit, membetulkan letak kopiahnya lalu menatap kedatangan putra mahkota Al-Anwar itu dengan pandangan segan sekaligus hormat. "Oh, wonten Gus Arsalan. Assalamualaikum, Gus."

Arsalan tidak langsung menjawab salam Reyhan. Netra elangnya menatap tajam ke arah Reyhan, sebuah tatapan dingin dan menusuk yang sarat akan peringatan tersembunyi sebagai seorang suami yang terancam wilayahnya. Suasana di teras samping *ndalem* itu seketika berubah menjadi begitu mencekam dan kaku laksana medan perang tak kasat mata.

Arsalan menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai emosinya agar tidak meledak di depan orang lain demi menjaga adab dan marwah keluarganya. Ia melangkah mendekati Humaira, lalu secara sengaja mengambil posisi berdiri tepat di samping istrinya, memperkecil jarak seolah ingin menegaskan kepada dunia bahwa wanita di sampingnya ini adalah milik mutlaknya.

"Waalaikumsalam," jawab Arsalan akhirnya dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan terdengar begitu dingin. Ia beralih menatap Reyhan dengan senyuman formalitas yang kaku. "Maaf jika kedatangan saya mengganggu pembicaraan penting kalian. Ada urusan apa nggih, Mas Reyhan bertamu sampai larut malam begini di *ndalem* Jombang?"

Pertanyaan Arsalan yang terkesan menginterogasi itu membuat atmosfer kian canggung. Reyhan berdeham pelan, mencoba mencairkan ketegangan. "Mboten mengganggu sama sekali, Gus. Niki... kulo namung mengantarkan berkas tanda terima pesanan kitab untuk perpustakaan putri pondok sepuh. Kebetulan tadi siang kulo ada acara di dekat sini, jadi sekalian mampir sowan ke Abah Kiai Syamsuddin. Tadi juga sampun berbicara lama dengan Abah di dalam, Gus. Niki kulo baru saja pamit keluar ditemani Ning Humaira."

Mendengar penjelasan Reyhan bahwa laki-laki itu sudah sowan dan mendapat izin dari Kiai Syamsuddin, ego Arsalan sedikit tersentil. Namun, rasa cemburu di dadanya belum juga surut melihat bagaimana cara Reyhan sesekali mencuri pandang ke arah Humaira.

"Oalah... enggeh. Terima kasih kalau begitu karena sudah repot-repot mengurus kebutuhan pondok sepuh," ucap Arsalan, nadanya datar namun penuh penekanan kata. "Tapi karena malam sudah semakin larut, dan istri saya tampaknya sudah sangat lelah setelah beraktivitas seharian, sepertinya urusan kitab ini bisa dilanjutkan besok lagi lewat pengurus santri."

Kata-kata *"istri saya"* yang diucapkan Arsalan dengan begitu tegas dan penuh penekanan membuat jantung Humaira berdegup aneh. Ia melirik suaminya dari samping, menangkap rahang tegap Arsalan yang masih mengeras menahan emosi.

Reyhan yang menangkap sinyal protektif yang teramat kuat dari Gus Arsalan segera mengangguk maklum. Ia tahu diri untuk tidak memperpanjang keberadaannya di sana.

"Enggeh, leres, Gus. Nyuwun pangapunten sudah mengganggu waktu istirahat Ning Humaira," ucap Reyhan dengan sopan. Ia membungkuk sedikit ke arah Arsalan dan Humaira. "Kalau begitu, kulo mohon pamit rida nggih, Gus, Ning. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," jawab Arsalan dan Humaira hampir bersamaan.

Arsalan berdiri bergeming di tempatnya, menatap kepergian mobil sedan putih Reyhan yang perlahan melaju meninggalkan pelataran pesantren. Begitu mobil itu benar-benar menghilang di balik gerbang utama, keheningan yang teramat pekat kembali menyelimuti teras samping *ndalem*.

Humaira membalikkan tubuhnya, hendak melangkah masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan kehadiran suaminya. Namun, baru dua langkah ia bergerak, pergelangan tangan kanannya seketika ditahan dengan lembut namun erat oleh jemari tegap Arsalan.

"Humaira, tunggu..." panggil Arsalan, suaranya kini melunak, berganti dengan nada serak yang sarat akan kegundahan hati.

Humaira menghentikan langkahnya, namun ia tidak membalikkan tubuhnya untuk menatap Arsalan. "Wonten menopo lagi, Gus? Sampun malam, kulo badhe istirahat."

"Kenapa harus berbicara di luar jam bertamu seperti ini, Humaira?" tanya Arsalan, ada nada cemburu yang gagal disembunyikannya di balik suaranya yang bergetar. "Dia laki-laki lain. Meskipun dia sahabat masa kecilmu atau anak kiai mitra, tidak elok dilihat santri jika kamu duduk berdua dengannya di teras malam-malam begini."

Mendengar teguran dari suaminya, Humaira menarik napas panjang. Ia perlahan melepaskan cengkeraman tangan Arsalan dari pergelangan tangannya, lalu membalikkan tubuhnya penuh untuk menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. Tatapan mata Humaira tampak begitu datar, sebuah ketenangan yang justru membuat Arsalan merasa kian terpojok.

"Nyuwun pangapunten, Gus Arsalan," ucap Humaira dengan nada suara yang teramat tenang namun menusuk. "Mas Reyhan datang ke sini bukan tanpa adab. Beliau datang sowan kepada Abah dan Ummi sejak ba'da isya tadi. Beliau duduk di ruang tamu dalam bersama Abah selama dua jam. Kulo ke luar ke teras niki pun atas perintah Abah untuk mengantarkan berkas perpustakaan ke mobilnya. Kami mboten berdua-duaan tanpa batas, Gus. Di dalam ndalem ada Abah dan Ummi, dan di pelataran ada santri jaga yang lalu lalang."

Humaira menjeda kalimatnya, menatap wajah kuyu Arsalan dengan saksama sebelum melanjutkan dengan kalimat yang seketika meremukkan dada suaminya. "Dan lagi... sejak kapan Njenengan peduli dengan siapa kulo berbicara, Gus? Bukankah selama berbulan-bulan di Kediri, Njenengan mboten pernah peduli apakah kulo kesepian, apakah kulo menangis sendirian di kamar? Kenapa sekarang, saat kulo hanya menjalankan perintah Abah untuk mengantar tamu, Njenengan mendadak bersikap seolah-olah kulo melakukan kesalahan besar?"

Deg.

Kalimat Humaira laksana tamparan keras yang menyadarkan Arsalan akan posisinya. Rasa cemburu yang membakar dadanya seketika runtuh, berganti dengan rasa bersalah dan malu yang teramat sangat. Benar apa yang dikatakan istrinya. Ia tidak memiliki hak moral untuk cemburu atau mengatur dengan siapa Humaira berbicara, mengingat bagaimana kejamnya ia memperlakukan istrinya sendiri selama ini di Kediri.

"Humaira... bukan begitu maksud saya," bisik Arsalan, suaranya parau dan matanya mulai berkaca-kaca menatap wajah teduh istrinya. "Saya... saya mengaku salah. Saya tidak bermaksud menuduhmu yang tidak-tidak. Saya hanya... hatiku rasanya sakit sekali saat melihat ada laki-laki lain yang menatapmu seperti tadi. Saya cemburu, Humaira. Saya takut... saya takut kehilangan kamu."

Mendengar pengakuan jujur dan getar keputusasaan dari bibir suaminya, pertahanan batin Humaira sempat goyah sesaat. Ia melihat dengan jelas bagaimana seorang Gus Arsalan yang angkuh kini tampak begitu rapuh di hadapannya, mengemis penjelasan hanya karena rasa takut kehilangan yang terlambat datang.

Namun, luka di hati Humaira terlanjur terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan satu kali pernyataan cemburu. Ia memalingkan wajahnya, enggan menatap air mata suaminya yang mulai melintasi pipi.

"Kulo sampun bilang, Gus... tiga bulan niki adalah waktu untuk kita saling menata hati masing-masing," tutur Humaira dengan kelembutan yang sarat akan ketegasan janjinya. "Njenengan mboten usah mengkhawatirkan hal-hal yang mboten perlu. Kulo taksih mengerti adab sebagai seorang istri, dan kulo mboten badhe merusak kehormatan nama baik Abi maupun pesantren Al-Anwar dengan melakukan hal yang melanggar syariat."

Humaira membetulkan letak khimar marunnya, lalu melangkah menuju pintu samping ndalem. Sebelum mendorong daun pintu terbuka, ia sempat menoleh sedikit ke arah Arsalan yang masih berdiri terpaku di bawah gerimis taman.

"Masuklah, Gus. Di luar hawanya dingin sekali, wajah Njenengan juga kelihatan sangat lelah setelah menyetir dari Kediri. Kamar lama Njenengan di paviliun samping sampun disiapkan oleh santri khidmah. Tidurlah di sana," ucap Humaira seadanya sebelum akhirnya melangkah masuk dan menutup pintu, meninggalkan Arsalan dalam kesunyian malam Jombang yang dingin.

Arsalan menatap pintu yang tertutup itu dengan dada yang berdenyut ngilu. Ia mengusap wajahnya yang basah oleh perpaduan air mata dan rintik gerimis. Guratan cemburu malam ini menjadi pelajaran berharga baginya; bahwa memiliki Humaira seutuhnya adalah anugerah terbesar yang tidak akan pernah ia sia-siakan lagi di sisa hidupnya. Dengan langkah yang berat namun penuh tekad yang kian membara, Arsalan berjalan menuju paviliun samping, siap melanjutkan perjuangannya esok hari dari titik nol.

1
Ilfa Yarni
tp aku tetap sedih arsalan sendirian
Ilfa Yarni
Thor knp alhamdulillahnya beda bukan Alhamdulillahirrabbil 'alamiiin'
Akasia Rembulan
begitu jalan takdir Gus Arsalan.. harus melalui cobaanutk sampai dititik ini..
Ilfa Yarni
setiap Ku baCa kisah arsalan skr aku nangis krn dia tidak mau memikirkan dunia lg dan tidak mau menikah yg ada difikirannya cuma tentang akhirat huhuhu sedih deh
Ilfa Yarni
aaaa sedih banget aku su km gus arsalan hiks hiks nangis aku bacanya
Akasia Rembulan
Gus Arsalan 😍
Ilfa Yarni
walaupun humaira udah dpat suami yg jauh lbh baik dr arsalan entah knp aku sedih krn arsalan udah bertaubat a dan benar2 berubah knp ga ada kesempatan kedua buat dia
Akasia Rembulan
gus gus ngerti agama kok zholim
Akasia Rembulan
iya ning.. masih banyak lelaki lain
Akasia Rembulan
kuat ning💪
Akasia Rembulan
ayo ning.. kobarkan semangatmu
Akasia Rembulan
gus... gus.. knapa ngga menikahi orang yg dicintai.. malah mengorbankan orang lain
Ilfa Yarni
haira udah bahagia bagaimana dgn arsalan
Ilfa Yarni
kok aku yg sedih humaira mau nikah dgn gus Reyhan sedih aku lihat arsalan dia udah berubah total tawadu' 'siapa jodohnya nanti ya
Ilfa Yarni
setelah b pertobatan arsalan aku malah jadi sedih krn mereka ga bisa bersatu lagi
falea sezi
🤣🤣 kapok lu makanya jd suami jangan dzalim kelamaan tinggal di luar jd kayak budaya luar sifat lu. menjijikkan
falea sezi
uda nikah aja ma reyhan biar si bangsatt gigit jari🤣
falea sezi
🤣🤣 katanya anak kiyai masak arti talak 3 aj lu kagak paham. bro😒😒 bloon sukurin lu abis ne liat humaira di nikahin reyhan🤣
falea sezi
🤣🤣 goblok malah ngucap. talak 3🤣🤣 ya g bs balik. lah goblok😒
Ilfa Yarni
entah knp aku pengen humaira balik dgn arsalan yoh arsalan udah berubah tp sayangnya mrk idak talak tiga itu ga mgkn lg humaira hrs menikah dulu dgn laki2 lain dan bercerai lg bar arsalan bisa balik lg hadeeh sedih aku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!