"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Mas Elang Kok Belum Pulang?
Bagaimana mungkin Alin—gadis muda yang menurutnya biasa saja—bisa mendapatkan kemewahan setinggi ini, sementara dirinya dulu harus berpuas diri dengan barang-barang kelas menengah? Rasa tidak terima itu kian memuncak saat jemari Cindy membuka sebuah kotak beludru merah kecil di bagian tengah hantaran. Di dalamnya, sebuah kalung berlian dengan mata berkilauan memantulkan cahaya lampu kamar, memancarkan pesona kemewahan yang mutlak.
Cindy menelan ludahnya dengan susah payah. Magnet dari kilau berlian itu meruntuhkan seluruh sisa akal sehat dan urat malunya. Dengan gerakan kilat, ia mengeluarkan kalung berlian itu dari dudukannya, menggenggamnya erat-erat di dalam kepalan tangannya yang dingin.
"Tidak ada salahnya kan kalau aku mengambil ini?" gumam Cindy berbisik pada keheningan kamar, menyunggingkan senyum culas yang mengerikan. "Ini anggap saja sebagai kompensasi atas penderitaanku selama lima tahun ini karena ulah nenek tua itu."
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Cindy menyisipkan kalung berlian mahal itu ke dalam saku blus krem yang dikenakannya. Ia kemudian bergegas keluar dari kamar utama, turun kembali ke lantai bawah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Kini, Cindy kembali melirik ke arah layar ponsel pintar di tangan kanannya. Angka digital di sudut layar sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat, namun tanda-tanda deru mobil Elang masuk ke halaman rumah belum juga terdengar. Rasa tidak sabar mulai mengusik ketenangannya. Bak seorang istri sah yang memiliki hak penuh untuk mengatur pasangannya, Cindy memutuskan untuk menekan tombol panggilan, menghubungi nomor pribadi Elang.
***
Di tempat lain, beberapa kilometer dari sana, Elang masih setia duduk menyendiri di kursi kayu pinggir kolam renang rumah besar Nenek Aisyah. Sisa asap rokok terakhirnya baru saja menguap ditiup angin malam yang kian dingin menusuk tulang.
Ponsel di dalam genggamannya mendadak bergetar panjang, memecah kesunyian malam dengan kerlip cahaya yang terang. Elang melirik layar gawai itu, lalu mengembuskan napasnya secara perlahan, mendesah berat saat melihat deretan nomor yang tadi siang juga sempat meneleponnya. Entah mengapa, rasa semangat dan gairah lelakinya yang biasa menggebu-gebu kini sedang hilang entah ke mana, menguap bersama pusaran konflik yang menjepit posisinya. Namun, mengingat keberadaan Ega, ia terpaksa menggeser layar dan menjawab panggilan telepon dari Cindy.
"Ada apa, Cindy?" tanya Elang langsung tanpa basa-basi, nada suaranya terdengar begitu berat, datar, dan sarat akan kelelahan batin. "Apa Ega kembali rewel? Bagaimana badannya, makin panas badannya atau sudah turun?"
Di seberang sambungan, Cindy langsung mengubah intonasi suaranya menjadi teramat lembut, mendayu-dayu penuh perhatian, sangat kontras dengan perangai ketusnya di depan Denis beberapa jam lalu.
"Ega tidak terlalu panas lagi badannya, Mas. Tadi setelah minum obat, dia sudah bisa tidur dengan nyenyak di kamar tamu," jawab Cindy lembut, menjeda kalimatnya sejenak sebelum melempar pertanyaan dengan nada manja. "Mmm ... Mas Elang sendiri posisi masih di kantor kah? Atau ... sekarang sudah di dalam perjalanan pulang ke rumah?"
Sebenarnya Cindy ingin sekali komplain mengenai pakaian yang diantar Denis. Namun setelah dipikir ulang ia pun takut Elang berpikir ia terlalu materialistis. Hingga ia harus menjaga image yang sedang ia tunjukkan.
Elang memijat pangkal hidungnya yang terasa kian berdenyut pening. "Aku tidak di kantor, Cindy."
"Lho, kalau tidak di kantor, lalu sekarang di mana, Mas?" kejar Cindy dengan nada suara yang sengaja dibuat cemas, seolah ia sangat mengkhawatirkan keselamatan suaminya. "Urusan luarmu belum selesai ya? Aku ... aku dari tadi menunggumu di ruang tamu sendirian, Mas."*
"Ada apa memangnya? Kalau kondisi badan Ega tiba-tiba kembali panas atau drop malam ini, kamu tidak perlu menungguku. Kamu bisa langsung menelepon nomor dokter pribadi yang semalam aku datangkan ke rumah," jawab Elang tegas, mencoba memotong ruang bagi Cindy untuk bersikap terlampau manja di saat kepalanya sedang dipenuhi ancaman rapat komisaris dari sang nenek.
Di seberang telepon, Cindy sempat terdiam sejenak, merasa sedikit tersentak dengan respons dingin Elang yang tidak seperti biasanya. Namun, ia dengan cepat menguasai keadaan.
"Baik, Mas, aku mengerti ... aku hanya bertanya saja kok," lirih Cindy, suaranya sengaja dibuat sedikit bergetar halus seolah hatinya terluka karena ketegasan Elang. "Kira-kira ... Mas Elang pulang jam berapa malam ini? Ini sudah jam sembilan malam lewat loh, Mas. Di luar sudah sangat gelap dan dingin. Mas Elang juga manusia biasa, butuh istirahat yang cukup setelah seharian penuh mengurus pekerjaan."*
Mendengar perhatian itu, Elang tidak merasakan kehangatan apa pun malam ini. Pikirannya terlampau penuh oleh bayangan Nenek Aisyah yang menampar pipinya, serta sindiran tajam Alin di meja makan tadi yang berhasil meruntuhkan wibawanya.
"Malam ini aku tidak akan pulang ke rumah, Cindy," ucap Elang dengan nada suara yang mutlak, tidak ingin didebat oleh siapa pun lagi. "Aku ada di rumah besar Nenek sekarang. Kondisi kesehatan Nenek sedang mendadak drop dan kritis semenjak siang tadi. Sebagai cucunya, aku harus tetap tinggal di sini untuk menjaganya semalaman penuh."
Deg.
Sontak saja, Cindy langsung terdiam membisu di tengah ruang tamu mewah itu. Seluruh pasokan kata-kata manis yang sudah ia susun di ujung lidahnya seketika macet total. Wajah tirusnya mendadak mengeras, guratan kecantikan palsunya berubah menjadi ekspresi ketidaksukaan yang amat pekat. Ada rasa kecewa dan amarah yang luar biasa meletup di dalam lubuk hatinya.
Sambungan telepon itu mendadak hening selama beberapa detik, menyisakan deru napas pendek dari kedua belah pihak yang saling menyimpan rahasia masing-masing.
Di dalam batinnya yang culas dan dipenuhi ambisi hitam, Cindy mulai berkata-kata dengan sumpah serapah yang teramat kejam. "Lagi-lagi neneknya! Selalu saja wanita tua bangka itu yang menjadi penghalang di antara hubunganku dan Elang! Kapan sih perempuan tua menyebalkan itu mati sekalian agar tidak ada lagi yang mengacaukan rencanaku untuk menjadi nyonya besar di keluarga kaya ini?!"
Cindy mengepalkan tangan kirinya begitu erat hingga kuku-kukunya yang dihias cat kuku merah tampak memutih, menahan gejolak kebencian yang mendalam pada Nenek Aisyah—sosok yang lima tahun lalu mengusirnya dan kini kembali menyita perhatian penuh dari Elang di malam yang seharusnya menjadi kesempatannya untuk merayu pria itu lebih jauh.
Bersambung...
beristri duaaaaaaa??????
😡😤
😄😄
lanjut mommy