Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lomba
Lomba yang akan diadakan dihadiri oleh sepuluh sekolah yang mendaftar. Pertandingan hanya berlangsung sehari dan akan dibagi nanti nya menjadi tiga babak.
Babak pertama akan di mulai dengan soal level mudah dan cara penyelesaiannya juga masih memakai pilihan ganda.
Dibangku penonton, para pendukung yang hadir juga tidak terlalu banyak karena kapasitas hadirin yang sengaja dibatasi demi kondusif nya acara lomba.
Ibu Lindsey yang terkenal suka menyombongkan kepintaran anak nya tak tanggung-tanggung semakin memperlihatkan kesombongannya dengan membawa beberapa wartawan majalah pilihannya.
Lomba berlangsung kondusif dengan wajah-wajah percaya diri para peserta termasuk Lindsey sendiri.
Ia sangat yakin akan pengaturan sang ibu, walau diawal-awal sempat merasakan ketakutan akibat kehadiran Yura yang tak pernah ia sangka-sangka.
Pertandingan yang berlangsung dengan transparan itu memakan waktu selama empat puluh lima menit dengan seratus soal yang dibagi menjadi tiga bagian.
Melalui layar besar dan juga ditayangkan di tv nasional, para penonton baik didalam ruangan maupun diluar publik bahkan meluangkan waktu mereka untuk menyaksikan lomba yang diselenggarakan hanya sekali dalam lima tahun itu.
Apalagi saat melihat ada satu sekolah yang namanya baru muncul dipermukaan yaitu sekolah Yura.
Sedangkan Yura sendiri, ia masih terlihat tenang walau jauh dilubuk hatinya ada kekhawatiran yang berlebih.
Ia sangat memahami sepak terjang keluarga Lindsey di kota ini. Ayah Lindsey yang seorang anggota dewan dan memiliki kedudukan tinggi didalam partainya. juga sang ibu adalah ketua sebuah yayasan amal yang di anggota i oleh ratusan istri-istri para elit berkuasa.
Babak pertama akhirnya rampung, dan sisa waktu selama tiga puluh menit akan dipakai para peserta untuk istirahat sembari menunggu hasil keputusan yang akan diperiksa langsung oleh juri terkait yang telah bersiap di ruang pemeriksaan.
Lindsey yang sedang ada dikamar mandi dihampiri oleh sang ibu.
"Cepat hafalkan jawaban ini.. " ucapnya seraya memberi selembar kertas yang berisi jawaban untuk soal yang akan dilombakan.
"Beruntung sekali mama membuat persiapan dengan melobi salah satu juri, kalau tidak apa yang akan kamu lakukan menghadapi Yura? "
"Lagi pula kenapa sih jadi anak mama kok tidak bisa lebih pintar dari anak rendahan itu? Mau ditaruh dimana muka mama kalau kamu sampai kalah? "
Wanita riya itu sibuk menekan sang anak yang diam-diam mengepalkan tangannya dengan kuat-kuat.
Ia bahkan tidak lagi merasakan perih ditangan nya saat kuku tajam nya menusuk kulit halus nya.
"Mama keluar dulu, jangan lupa hafal yang benar... "
Sepeninggal sang mama, Lindsey segera menggaruk tangan nya yang kembali gatal. Rasa gatal itu selalu muncul saat dirinya menghadapi tekanan dari sang ibu.
Dengan nafas yang tergesa-gesa, ia semakin menggaruk hingga menimbulkan ruam kemerahan.
Salah satu temannya yang melihat kegugupan itu segera menempelkan plester berukuran besar yang mampu menutupi ruam itu.
"Tenang sey, kita pasti bisa.. "
..
Sedang diruangan lain, Yura terlihat begitu khawatir. Ia sejak tadi mondar-mandir membuat bu Cindy dan pak Don segera menyuruh nya untuk bicara.
"Gimana kalau kerja keras kita akan berakhir sia-sia? " Keringat dingin memenuhi dahi nya.
"Bu, maaf. Seharusnya saya jujur sejak awal. Tapi_..
"Tenang Yura, tidak peduli gagal atau tidak, kebenaran akan selalu menemukan jalannya.. " ucap bu Cindy memenangkan.
Liam yang sedang berada diluar ruangan dapat mendengar kekhawatiran Yura itu. Ia tidak terlalu terkejut lagi karena ia sangat paham bagaimana orang-orang seperti Lindsey bertindak.
Ia segera pergi keluar gedung sambil menghubungi seseorang yang diberi nama nenek Shella di ponselnya. Seseorang yang dulu sekali ia temui, namun ia memberanikan diri untuk bicara demi Yura.
Begitu telepon nya tersambung, ia spontan menundukkan kepalanya seolah si lawan bicara berada dihadapannya.
"Halo nenek, apa kabar.. "
"Ya, siapa ini? " Terdengar suara di seberang.
"Liam nek, cucu dari nenek Arumi.. " ia menjawab dengan takut-takut jika sang nenek tidak mengenalinya lagi.
Bisa gawat kalau usahanya ini akan berakhir gagal. Padahal dirinya sudah bertekad akan melakukan apapun untuk membantu Yura, si gadis impian.
"Aaaaa, kamu anak nakal. Tidak pernah berkunjung malah bicara tidak sopan melalui ponsel begini.. "
Liam yang disambut dengan tuduhan berbukti itu hanya bisa tertawa sumbang. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf nek, lain kali Liam janji deh datang berkunjung... " Demi misi, janji manis palsu pun meluncur bebas dari mulutnya.
"Oke-oke, sekarang apa masalahnya? " tanya nenek Shella.
Liam pun dengan kalimat sebagus mungkin segera memberitahukan kekhawatiran nya. Ia juga jujur bahwa bukan dirinya yang mengikuti lomba, melainkan sekolahnya.
"Baiklah, lalu? "
Seolah mendapat angin segar, ia melanjutkan menyampaikan susunan kalimat hebatnya dengan begitu apik dan tertata dengan sempurna .
Setelah semua harapan nya tersampaikan dengan baik, ia kembali menundukkan kepalanya sambil melihat panggilan yang telah terputus itu.
"Yes..!!" ia berseru riang dan akhirnya kembali keruangan tim sekolahnya.
Kedatangan nya diruangan itu disambut heboh oleh yang lainnya. Bagaimana tidak, Liam tidak datang bersama rombongan, melainkan melakukan perjalanan mandiri.
"Kamu sudah putus dari Yura a ya? " selidik pak Don membuat yang lain nya ikut penasaran kecuali Yura.
Pa Don tidak asal bicara, karena seluruh sekolah percaya kalau keduanya adalah pasangan kekasih.
"Sudah-sudah, kita fokus saja ke lomba. Waktu nya udah mau mulai.. " ucap bu Cindy membuat semuanya bubar.
"Lagi lomba kok malah mau menggosip, " ucap Liam pelan sambil menghampiri Yura.
Ia tersenyum bahagia melihat gadis itu selalu fokus pada tujuannya. Tangannya perlahan menepuk bahu Yura seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Yura memandang nya lalu menganggukkan kepalanya seolah menerima sinyal baik dari Liam.
"Terimakasih... " ucapnya lalu beranjak menuju aula.
....
Babak kedua akhirnya dibuka dengan pengumuman tiga sekolah pemenang yang berhasil lolos ke babak semi final.
Sekolah Yura berhasil bertahan diikuti sekolah Karya dan satu lagi. Keduanya tak sengaja saling bertatap muka, yang menambah ketegangan didalam ruangan itu.
Di babak ini, soal yang keluar naik tingkat menjadi level sedang. Kali ini jawaban soalnya tidak berupa tulisan melainkan jawaban langsung dengan menekan bel yang ada disetiap meja.
Siapapun yang menjawab lebih cepat dan tepat akan mendapat poin lebih.Sedangkan soal akan diperlihatkan di layar melalui bantuan cahaya infocus.
Yura perlahan menarik nafasnya, dan tak sengaja sorot matanya bertemu dengan sorot mata Liam yang selalu memandangnya dari ujung sana.
Liam mengangkat tangannya membuat gerakan semangat. Tak lupa senyum nya yang secerah cuaca siang itu.
Tik... tik... tik...
Suara jarum jam yang terpasang didinding mampu menembus setiap indra pendengaran yang ada diruangan itu bergantian dengan suara para peserta yang memberikan jawaban terbaik mereka.
Yura dengan tangan gesit nya mengerjakan soal-soal itu dengan tenang. Berlomba dengan peserta lain serta waktu yang berbunyi bak mimpi buruk dimalam hari.
Ia mengesampingkan kekhawatiran berlebih nya seolah ada harapan yang lebih baik sedang menanti di depan.
.
.
.
.
Bersambung...