seorang wanita cantik yang mencintai pria secara ugal-ugalan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Zzar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Setelah kejadian memalukan yang di alami oleh Gigi, ia terlalu malu untuk menatap suaminya itu. Ia bertukar pesan kepada sahabatnya Sherin, gigi menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya, begitupun sebaliknya.
"APAAA????" Teriak Gigi.
"Bagaimana bisa? Maksudku, bagaimana bisa kau berakhir di kamar yang sama dengan kak bram?" Tanya Gigi melalu pesan.
"Tidak bisa, aku harus menemui Sherin sekarang juga" ucap gigi. Ia segera bergegas meninggalkan kamar. Gigi berjalan ke arah suaminya yang sedang sibuk di depan laptopnya.
"Hmmm.. kak. Aku mau minta izin" ucap gigi.
Sky tidak merespon perkataan Gigi sedikit pun. Ia tetap fokus dengan pekerjaannya.
"Kenapa dia diam saja? Menyebalkan!" Gumam gigi dengan sangat pelan. "Hello, kak Sky? Apa kau mendengarku?" Lanjutnya.
Gigi memutar bola matanya dengan malas. "Kak Sky, aku ingin ke rumah Sherin. Bye!"
"Apa aku mengizinkan mu?" Ucap sky datar.
"Hmm.. iya! Karena kau diam saja. Jadi aku pikir kak Sky sudah mengizinkan ku" jawab Gigi.
"Tolonglah kak, hanya sebentar saja. Aku janji!" Ia memasang wajah memelasnya, ia sangat ingin bertemu dengan Sherin.
Sky menatap Gigi dengan intens. "Kenapa kau sangat ingin bertemu dengan teman mu itu? Bukankah kemarin kau menghabiskan waktu dengannya? Oh, apa jangan-jangan kau ingin ke club dan menghabiskan waktu dengan lelaki lain lagi?" Sinis Sky. Gigi yang mendengar tuduhan suaminya itu merasa tak terima. "Kak, aku tahu kau tidak menyukai ku. Aku juga tahu kalau kau belum bisa menerima pernikahan kita ini. Tapi tolong jangan memfitnahku seperti ini, aku akui kejadian kemarin memang kesalahan ku, tapi itu diluar kendali ku. Aku ingin kerumah Sherin, karena aku khawatir dengan dirinya, hanya itu saja" ucap Gigi dengan panjang lebar. Ia tidak ingin suami dinginnya ini berpikir yang tidak-tidak dengan dirinya.
"Aku berjanji sebelum kau pulang, aku sudah berada di rumah" lanjut Gigi.
"Terserah kau saja" jawab Sky singkat.
"Terimakasih. Baiklah aku pergi dulu" setelah mengatakan itu, Gigi segera meninggalkan kantor Sky dan menuju ke rumah Sherin.
Sepeninggalan Gigi, Sky menarik nafasnya dengan berat. Ia memikirkan perkataan Gigi.
......................
Berbeda dengan Sky, Gigi dan Sherin sedang tatap-tatapan dengan pikirannya masing-masing.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Gigi. Ia belum bisa mencerna perkataan Sherin.
"Ya ampun, aku sudah menjelaskannya beberapa kali, tapi kenapa kau belum paham juga? " kesal Sherin. "Dasar bodoh" lanjutnya.
"Bukan begitu, dari ceritamu kau bilang kau berada di kamar kak bram. Tapi bagaimana bisa? Maksudku, bagaimana kau bisa berada di kamar nya?"
"Aku juga tidak tahu. Kan aku sudah bilang kepadamu kalau aku juga bingung soal itu. Oh yah, kau bilang kau melakukan hal yang tidak sopan dengan seseorang? Siapa orang itu?" Tanya Sherin.
"Aku tidak bisa mengingatnya. tapi yang anehnya aku tidak marah sedikit pun. Bukankah aku seharusnya meratapi diriku ini?"
"ASTAGA GIGI" teriak Sherin.
Gigi memukul mulut Sherin dengan keras. "Kau bisa merusak gendang telinga ku! Kenapa kau berteriak?"
"Aku sekarang mengerti" Sherin tersenyum sambil mencolek pipi Sherin.
"Ih.. kau kenapa? Dasar aneh! Memangnya kau mengerti apa?" Jawab Gigi penasaran.
"Astaga Gigi, kau ini sungguh bodoh! Orang tua mu pintar-pintar, tapi kenapa kau bodoh seperti ini?" Sherin tertawa mengejek melihat Gigi.
"Berhentilah mengejek ku. Cepat katakan, kau mengerti apa?"
"Gisella ku sayang, dengar baik-baik! Kau tidak melakukan hal aneh bersama orang lain, kau melakukannya dengan suami mu sendiri. Karena itulah kau tidak marah sedikit pun."
"Kau yang bodoh" Gigi tertawa pelan mendengar perkataan Sherin, "bagaimana mungk.."
"OH MY GOD SHERIN!!" teriak Gigi
"Kau mengertikan sekarang!" ucap Sherin. "Kau bilang kak Sky membuka pakaian mu, samar-samar kau bilang kau melihat dirimu dan seseorang berciuman, kau juga bilang orang yang membawa mu pulang mirip dengan suami mu itu. Semua sudah jelas, orang itu adalah Sky, suami mu." Lanjut Sherin.
"Tapi kenapa kak Sky tidak mengatakan apa-apa yah? Dia bahkan ingin menghukumku"
"Menghukum?" Tanya Sherin.
"Sudahlah, lupakan! Sekarang ayo kita cari tahu tentang kak bram. Bagaimana bisa kau berakhir di kamarnya"
Tiba-tiba Sherin berdiri dari duduknya, "kau mau kemana?" Tanya Gigi
"Bukankah kau bilang, kita akan mencari tahu tentang kak bram" ucap Sherin. Ia berjalan ke arah walk in closet, dengan segera ia mengganti pakainya. Ia keluar dengan terburu-buru, ia mendekat ke arah Gigi.
"Loh, mau kemana?" Tanya Sherin kembali. "Aku tidak bilang kita akan keluar" lanjutnya.
"Maksudmu? Kalau tidak keluar, lalu bagaimana caranya kita mencari tahu tentangnya?"
"Astaga Sherin, kita tidak perlu keluar. Kita telpon saja barista itu, kita bisa bertanya tentang kejadian semalam" ujar Gigi.
"Heh, ternyata otak mu bisa berguna juga ternyata. Kenapa aku tidak berpikir kesana yah" Sherin segera mengambil ponsel nya di atas nakas.
"Aku ini memang pintar, kau saja yang tidak tahu" ucap Gigi dengan bangga.
"Kau diamlah". Sherin mencari kontak si barista itu, dan segera mengubunginya. Namun barista tersebut tidak menjawab panggilan Sherin.
"Bagaimana" tanya Gigi. Sherin menggelengkan kepalanya, ia mencoba menghubunginya kembali. Namun si barista tetap tidak menjawabnya.
"Apa dia sedang sibuk yah?" Guman Sherin. "Lebih baik kita ke club saja" usul Sherin.
"Tidak, tidak! Aku tidak mau. Aku sudah berjanji kepada kak Sky jika aku tidak akan ke club lagi."
"Kan kita kesana bukan untuk minum-minum, kita hanya ingin bertemu dengan barista itu. Kita hanya sebentar, tidak lama." Ucap sherin menyakinkan Gigi.
Gigi membenarkan perkataan Sherin, tapi dia bingung. Bagaimana jika suaminya itu mengetahui dirinya ke club lagi.
"Tapi rin, bagaimana jika kak sky tahu jika aku ke club?"
"Selama kau tidak memberitahunya, dia tidak akan tahu. Ayo cepatlah"
"Kau benar, siapa juga yang akan memberitahunya. Ayo"
Mereka berdua bergegas ke club tersebut, Sherin berharap dia bisa mendapatkan jawaban yang ia inginkan.