Tiga tahun lalu, Citra Wijaya menikah dengan Rafael Gan di catatan sipil. Cincin murah, resepsi seadanya, dan — yang baru dia tahu belakangan — akta nikah palsu seharga sembilan ribu sembilan ratus rupiah.
Sekarang? Rafael pulang dari luar negeri. Bawa oleh-oleh: selingkuhannya, Lianna Halim, yang perutnya sudah membuncit tujuh bulan.
Citra tidak menangis. Tidak memohon. Tidak menampar.
Dia hanya pulang ke apartemennya, menyiapkan amplop berisi uang pesangon, dan menulis satu kalimat di secarik kertas untuk pria lain yang sudah tiga tahun dia *bayar* untuk tinggal di sisinya:
"Kita selesai. Terima kasih sudah menemaniku."
Pria itu — yang selama ini dia panggil *Si Ganteng* — tidak pernah protes, tidak pernah bertanya macam-macam, tidak pernah menunjukkan ambisi apa pun. Tampan, pendiam, penurut. Simpanan sempurna.
Tapi malam itu, Si Ganteng menolak amplop uangnya.
Dan Citra baru sadar: pria yang selama tiga tahun dia anggap *tidak punya apa-apa*... ternyata adalah **Reynard Hartono** — pewaris tunggal Hartono Group, konglomerat terbesar di Jakarta, yang seluruh elit kota ini panggil *Pangeran*.
Dia tidak butuh uang Citra. Dia tidak pernah butuh.
Yang dia butuhkan hanya *dia*.
Karena dua puluh tahun lalu, di masa kecil yang sudah Citra lupakan sepenuhnya, ada seorang anak laki-laki yang hampir mati — dan satu-satunya alasan dia bertahan hidup adalah satu kalimat dari gadis kecil bermata jernih:
"Kalau tidak ada yang mencintaimu, biar aku yang mencintaimu."
Citra tidak ingat. Reynard tidak pernah lupa. Satu hari pun tidak.
Sekarang, di kota yang sama, takdir mempertemukan mereka lagi. Tapi kali ini, bukan cuma masa lalu yang mengejar — ada rahasia kelahiran yang ditukar, keluarga konglomerat yang kehilangan putri mereka dua puluh tiga tahun lalu, dan seorang wanita yang akan membalas setiap orang yang pernah menginjak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Langkah Pertama
Jakarta terasa lebih berisik setelah Paris.
Bandara, tol, notifikasi kerja, pesan Nolan yang meminta oleh-oleh, dan Villa 9 yang kembali menyambut Citra dengan aroma kopi pagi. Namun ada sesuatu dalam diri Citra yang tidak ikut pulang sama seperti sebelum berangkat.
Di Paris, ia melihat panggung.
Sekarang ia tahu ia menginginkannya.
Tiga hari setelah kembali, Citra pergi ke PIK untuk menemui Irvan Lie di studio QUEEN Jewelry Jakarta.
Studio itu berada di sebuah warehouse lama yang diubah menjadi ruang kerja terang. Dari luar, bangunannya tidak mencolok. Dinding abu-abu, pintu besi hitam, satu papan kecil bertuliskan QUEEN tanpa hiasan. Namun begitu pintu dibuka, dunia lain muncul.
Dinding putih. Cahaya alami jatuh dari skylight. Meja kerja panjang dengan lampu presisi. Laci-laci batu mulia diberi label rapi. Suara mesin kecil terdengar dari ruang belakang, bercampur aroma logam, lilin, dan kopi.
Citra merasa pulang ke tempat yang belum pernah ia tinggali.
Di salah satu meja, seorang perajin sedang memasang batu kecil dengan pinset, gerakannya begitu hati-hati sampai Citra ikut menahan napas. Di meja lain, sketsa gelang terbuka di samping cangkir kopi yang sudah dingin. Tidak ada musik keras, tidak ada dekorasi berlebihan. Semua orang bekerja seperti sedang menjaga rahasia yang rapuh.
Inilah dunia MISSY yang tidak pernah dilihat penonton Citra TV.
Di sini, tangan Citra bukan tangan yang memegang cue card atau mikrofon. Di sini, tangannya mengingat berat pensil, dingin batu, dan kesabaran untuk mengulang garis yang sama sampai benar.
Irvan berdiri di balik meja, memegang loupe dan sebuah safir mentah. Rambutnya rapi, kemejanya putih, lengan digulung. Wajahnya tenang dengan senyum tipis yang selalu membuat Citra merasa ia sedang menyimpan tiga rahasia sekaligus.
"Selamat atas medali emasnya, MISSY."
Citra meletakkan tas di kursi. "Kamu mengatur orang lain naik panggung untukku."
"Aku juga menyelamatkan kamu dari kamera."
"Kamu menyelamatkan QUEEN dari drama."
"Itu juga."
Mereka saling menatap, lalu sama-sama tersenyum.
Hubungan Citra dan Irvan tidak pernah sederhana untuk orang luar. Mereka bukan sahabat biasa, bukan atasan bawahan biasa. Irvan memahami bahasa desain Citra bahkan sebelum Citra selesai menggambar garis pertama. Citra mempercayai insting bisnis Irvan meski sering kesal pada caranya yang terlalu tenang.
"Jessica?" tanya Citra.
"Tim sudah mengunci semua akses folder lama. Jejak pembukaan file sedang ditarik. Dia belum tahu kita tahu."
"Bagus."
"Kamu terdengar seperti ingin menggigit."
"Aku sedang belajar sabar."
"Menakutkan."
Irvan menyerahkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada prototype mini Sands of Time yang dibuat dari logam murah dan batu tiruan. Versi latihan. Versi yang dulu hampir Citra buang karena ia merasa garisnya terlalu dingin.
"Aku simpan," kata Irvan.
"Kamu menyimpan sampah desainku?"
"Aku menyimpan bukti proses."
Citra mengambil prototype itu. "Kamu benar-benar menyebalkan kalau sedang bijak."
"Itu sebabnya aku mahal."
Mereka tertawa pelan. Di antara semua orang yang mengetahui MISSY, Irvan adalah satu-satunya yang tidak pernah memperlakukannya seperti rahasia yang harus disembunyikan karena memalukan. Baginya, rahasia Citra adalah aset yang menunggu waktu matang.
Irvan mengeluarkan satu map hitam dan membukanya. Di dalamnya ada rencana besar: QUEEN Global Exhibition, Jakarta. Tahun depan. Pameran global pertama QUEEN, disiarkan ke beberapa negara, mengundang kolektor, media internasional, dan rumah lelang.
"Di depan dunia," kata Irvan.
Citra menyentuh halaman pertama.
"Kamu serius membawa ini ke Jakarta?"
"Kenapa tidak? Dunia tidak selalu harus datang dari Paris."
Kalimat itu diam-diam masuk ke dada Citra.
Mungkin benar. Mungkin panggung besar tidak selalu harus berada jauh. Mungkin suatu hari, Jakarta juga bisa menjadi tempat namanya disebut tanpa bersembunyi.
Irvan memperhatikannya. "Hari itu akan datang."
"Aku belum bicara."
"Wajahmu berisik."
"Aku ingin orang tahu siapa MISSY sebenarnya," kata Citra pelan.
Irvan menutup map. "Hari itu akan datang. Tapi belum sekarang."
"Karena Jessica?"
"Karena musuhmu bukan hanya Jessica."
Citra menatapnya.
Irvan tidak menjelaskan.
Di salah satu dinding studio, Citra melihat sebuah foto lama dalam bingkai hitam. Seorang perempuan muda mengenakan busana klasik, lehernya dihiasi kalung safir yang luar biasa indah. Matanya tajam, dagunya tegak, dan ada sesuatu pada bentuk alisnya yang membuat Citra teringat seseorang.
Rey.
"Ini siapa?"
Irvan mengikuti arah pandangnya.
Untuk sepersekian detik, ekspresinya berubah.
"Pendiri pertama QUEEN. Sudah meninggal lama."
"Namanya?"
"Nanti kamu juga akan tahu."
Citra menoleh. "Van."
"Tidak semua sejarah harus dibuka di hari kamu baru pulang dari Paris."
"Kamu dan Rey ikut sekolah yang sama ya? Sekolah Menyimpan Jawaban?"
Irvan tertawa pelan. "Reynard lebih buruk. Dia menyimpan sambil terlihat bersalah."
Citra tidak bisa membantah.
Ia berjalan lebih dekat ke foto itu. Kalung safir di leher perempuan tersebut menangkap cahaya dalam bingkai. Warna birunya mengingatkan Citra pada Anting Safir Rey. Bukan sama, tetapi seperti berasal dari keluarga warna yang sama.
"Dia terkait Hartono?"
Irvan kembali mengambil safir mentahnya. "Semua hal indah biasanya terkait pada sesuatu yang rumit."
"Itu bukan jawaban."
"Memang."
Citra menghela napas. Namun kali ini ia tidak memaksa. Ia sudah belajar bahwa beberapa rahasia perlu dikepung dari banyak sisi.
Saat keluar dari studio, sore sudah turun. Parkiran PIK hangat dan agak berangin. Citra sedang mencari kunci mobil ketika sebuah mobil hitam berhenti di dekat pintu.
Ia sempat menoleh kembali ke kaca studio. Di dalam, orang-orang QUEEN masih bekerja di bawah cahaya putih. Map pameran global ada di tasnya, terasa lebih berat daripada kertas biasa. Untuk pertama kalinya, Citra merasa masa depannya tidak hanya berisi bertahan dari serangan orang lain. Ada sesuatu yang bisa ia bangun, sesuatu yang tidak berawal dari luka.
Pikiran itu membuat langkahnya lebih ringan.
Namun hari itu juga mengajarinya satu hal lain: setiap pintu baru selalu punya bayangan di ambangnya.
Dan bayangan itu sedang menatapnya.
Dari dekat.
Sekali.
Seorang pria duduk di kursi roda, didorong oleh asisten. Ia mengenakan setelan mahal, wajahnya tampak tenang, hampir lembut. Tetapi matanya, saat melihat Citra, berhenti.
Bukan pandangan orang yang baru melihat orang asing.
Lebih seperti seseorang yang mengenali lagu lama dari satu nada pertama.
Citra menahan napas tanpa tahu kenapa.
Pria itu mengangguk sedikit.
Citra membalas refleks.
Asistennya mendorong kursi roda masuk ke studio QUEEN.
Citra berdiri beberapa detik di parkiran, kunci mobil di tangan.
Ia tidak tahu siapa pria itu.
Namun tatapannya tertinggal lebih lama daripada seharusnya.
Seperti ada orang lain lagi yang mengenal bagian dari dirinya sebelum ia sendiri sempat mengenalnya.