NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 007

Keira tidak ingin anak-anaknya tinggal terlalu lama di hotel.

Hotel punya lift yang bisa dipantau orang, koridor yang terlalu ramai, dan staf yang bisa dibayar untuk membuka informasi. Setelah pertemuan dengan Darren di Plaza Indonesia, ia tahu Jakarta sedang bergerak lebih cepat dari yang ia rencanakan.

Pagi itu, Rio membawanya ke acara penjualan properti eksklusif di PIK. Ruangan pamer dipenuhi maket rumah mewah, layar digital, dan agen-agen yang tersenyum seolah semua orang di sana mampu membeli pemandangan laut.

"Unit yang Bos minta masih tersedia," kata Rio. "Rumah tepi laut, akses privat, dermaga kecil, keamanan berlapis. Dekat dengan jalur menuju Hartono Estate."

Keira menatap maket itu. "Bagus."

"Harga 38 miliar rupiah."

"Terlalu murah untuk ketenangan anak-anak."

Seorang agen properti yang mendengar kalimat itu hampir menjatuhkan tablet.

Keira baru saja akan menandatangani formulir minat ketika suara manis yang ia kenal terdengar dari belakang.

"Wah. Lima tahun tidak bertemu, seleramu makin tinggi, ya?"

Keira menoleh.

Maya Mulyono berdiri dengan kacamata hitam di kepala dan tas desainer di lengan. Wajahnya cantik, senyumnya lembut, tetapi matanya sama sekali tidak hangat. Di sekelilingnya ada dua wanita sosialita muda yang langsung menatap Keira dengan rasa ingin tahu.

Maya adalah kakak Vania. Jika Vania seperti api yang meledak sembarangan, Maya adalah pisau kecil yang disembunyikan di bawah sapu tangan wangi.

"Ci Maya," sapa Keira tenang. "Masih suka muncul di tempat yang salah?"

Senyum Maya menegang sepersekian detik. "Aku justru peminat rumah ini. Agen, bukankah aku sudah menanyakan unit tepi laut itu kemarin?"

Maya tidak datang sendirian tanpa alasan. Keira mengenal tipe perempuan seperti itu. Vania akan menyerang dengan suara keras, lalu menangis ketika kalah. Maya lebih suka membawa penonton, memastikan setiap sindiran punya saksi dan setiap rasa malu punya gema.

Lima tahun lalu, Maya tidak ikut menamparnya. Maya hanya berdiri di tangga, menonton, lalu tersenyum seolah adegan itu hiburan malam.

Orang seperti Maya lebih berbahaya karena tangannya jarang terlihat kotor.

Agen perempuan terlihat gugup. "Benar, Bu Maya, tapi belum ada tanda jadi."

Maya tertawa kecil. "Tentu. Aku tidak terburu-buru. Beda dengan orang yang mungkin baru pertama kali melihat rumah mahal."

Salah satu temannya menutup mulut, berpura-pura batuk.

Keira tidak bereaksi. Ia hanya membaca dokumen di tablet.

Maya mendekat. Suaranya sengaja dibuat cukup keras agar orang-orang sekitar mendengar.

"Keira, aku dengar kamu membuat keributan di pernikahan Vania. Sekarang mau beli rumah PIK? Orang yang dulu keluar dari rumah tanpa tas, sekarang pura-pura jadi konglomerat?"

Rio bergerak setengah langkah. Keira mengangkat tangan, menahannya.

"Agen," kata Keira, "rumah ini bisa dibayar penuh hari ini?"

Agen berkedip. "Bisa, Nona. Tetapi biasanya pembeli memakai termin atau KPR privat..."

"Tidak perlu."

Maya tertawa. "Kamu tahu angka nolnya berapa?"

Keira membuka clutch kecilnya dan mengeluarkan Black Card.

Ruangan itu mendadak senyap.

Agen menerima kartu itu dengan dua tangan. Bahkan sebelum transaksi diproses, wajahnya sudah berubah karena mengenali jenis kartu tersebut.

"Nona, ini..."

"Gesek."

Maya masih tersenyum, tetapi warna wajahnya mulai berubah. "Kartu pinjaman siapa itu?"

Keira menatapnya. "Kartu orang yang tidak perlu bertanya harga sebelum membeli rumah."

Mesin pembayaran terhubung ke sistem bank privat. Agen memasukkan nominal dengan jari gemetar. 38.000.000.000 rupiah. Beberapa orang di ruangan itu terang-terangan mendekat.

Detik pertama.

Detik kedua.

Transaksi berhasil.

Tulisan itu muncul di layar seperti tamparan yang sangat sopan.

Agen hampir kehilangan suara. "Pembayaran berhasil. Lunas."

Maya menatap layar. "Tidak mungkin."

Agen lain berbisik, "Black Card itu tidak punya limit?"

Rio menjawab datar, cukup keras untuk didengar. "Limitnya bukan urusan publik."

Keira menandatangani dokumen digital. Tangannya stabil, seolah ia baru membeli kopi, bukan rumah senilai puluhan miliar.

"Selamat, Nona Keira," kata agen dengan suara gemetar. "Unit resmi menjadi milik Anda setelah proses notaris selesai hari ini."

Keira mengangguk. "Percepat. Anak-anak saya pindah malam ini."

Kata anak-anak membuat mata Maya bergerak halus.

"Anak-anak?" tanyanya. "Kudengar kamu punya dua anak."

"Kamu cukup banyak mendengar."

"Jakarta kecil." Maya tersenyum lagi, lebih tipis. "Terutama untuk perempuan dengan masa lalu seperti kamu."

Mata Maya berhenti sepersekian detik pada formulir yang sedang ditandatangani Keira. Di kolom penghuni, tertulis tiga kamar anak. Bukan dua.

Keira melihat arah tatapan itu dan menutup layar tablet dengan tenang.

"Jangan terlalu penasaran pada rumah orang lain, Ci Maya. Kebiasaan itu bisa membuatmu menemukan hal yang tidak sanggup kau hadapi."

Keira menatapnya. Kali ini senyumnya hilang.

"Ci Maya, lima tahun lalu keluargamu mengambil dokumenku, perhiasanku, dan tempat tinggalku. Hari ini aku membeli rumahku sendiri. Kalau itu membuatmu tidak nyaman, biasakan diri."

Beberapa orang menunduk menahan senyum.

Maya tidak suka ditertawakan. Namun ia terlalu pintar untuk meledak seperti Vania.

"Selamat atas rumah barumu," katanya lembut. "Semoga aman."

Keira menangkap kata terakhir itu.

Semoga aman.

Ancaman yang dibungkus pita.

"Rumahku aman," jawab Keira. "Yang perlu khawatir justru orang-orang yang menyimpan barang bukan miliknya."

Maya menatapnya lama. "Kita lihat saja."

Sore itu, Ethan dan Tiffany berlari memasuki rumah baru di PIK dengan mata berbinar. Rumah itu menghadap laut, punya taman kecil, ruang kerja aman untuk Keira, kamar musik untuk Tiffany, dan ruang komputer yang langsung membuat Ethan memeluk CPU kosong seperti bertemu teman lama.

"Mommy, ini rumah kita?" tanya Tiffany.

"Iya."

"Koko Ren nanti punya kamar?"

Keira berhenti sebentar, lalu menunjuk satu kamar di lantai dua yang menghadap taman.

"Itu untuk Ren."

Ethan mengangguk serius. "Aku akan pasang firewall."

"Untuk kamar?"

"Untuk rumah. Dan untuk kulkas."

Keira akhirnya tertawa. Rumah itu belum lengkap. Satu anak belum pulang. Namun untuk pertama kalinya sejak mendarat, ia merasa punya tempat bertahan.

Di luar kompleks PIK, Maya duduk di mobilnya dengan wajah yang tidak lagi manis.

Ia menelepon nomor tanpa nama.

"Dia kembali," kata Maya. "Dan lebih kaya daripada yang kita kira."

Di seberang, suara pria terdengar pelan. "Apakah dia tahu soal anak itu?"

Maya menatap gerbang rumah baru Keira.

"Belum pasti. Tapi dia mulai mencari." Jarinya mengetuk setir. "Kamu yakin Darren masih aman di Hartono Estate?"

Hening sejenak.

Lalu suara itu menjawab, "Tidak ada yang aman kalau Keira mulai mengingat."

Maya memutus sambungan. Bayangan wajah Keira yang tenang saat menggesek Black Card membuat dadanya panas. Ia bisa menerima Vania dipermalukan. Ia bahkan bisa menerima Ryan terpesona lagi. Tetapi ia tidak bisa menerima satu hal: Keira kembali dengan uang, kuasa, dan anak-anak yang mungkin membuka rahasia lama.

"Kalau kau mencari anakmu," bisik Maya, "aku akan pastikan kau menemukan luka lebih dulu."

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!