NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Keira kembali ke Mansion Tanuwijaya ketika langit sudah terlalu terang untuk menyebutnya pulang malam.

Ia masuk lewat pintu samping dengan langkah seringan mungkin. Untuk pertama kalinya dalam hampir dua minggu, kepalanya tidak berdengung. Ia benar-benar tidur. Hanya tiga jam, tetapi tiga jam tanpa suara benda terasa seperti liburan panjang ke planet lain.

Sayangnya, planet itu langsung runtuh ketika sebuah suara terdengar dari ruang keluarga.

"Dari mana jam segini?"

Keira berhenti.

Ko Kevin duduk di sofa dengan satu kaki dilipat, rambut masih agak basah, secangkir kopi di tangan. Ekspresinya santai. Matanya tidak.

Sofa di bawahnya berbisik, "Dia sudah duduk dua puluh menit. Mode kakak curiga aktif."

Keira menarik napas. "Teman ada urusan mendadak."

"Teman yang tinggal di hotel bintang lima?"

"Temannya teman."

"Nama?"

"Panjang."

"Keira."

"Aku aman," kata Keira cepat. "Tidak ada yang terjadi."

Ko Kevin menatapnya lama. Mungkin ia melihat wajah Keira yang akhirnya tidak seburuk kemarin. Mungkin ia melihat ada sesuatu yang Keira belum siap jelaskan.

Akhirnya ia hanya menghela napas. "Nanti kita bicara. Sekarang ada hal lain."

Keira berkedip. "Kamu tidak interogasi?"

"Aku polisi, bukan CCTV keluarga. Dan kalau aku paksa sekarang, kamu akan berbohong lebih rapi." Kevin meletakkan kopi. "Aku mau mengenalkanmu ke Biro Khusus."

Pagi itu, Keira tidur dua jam lagi. Sore harinya, Ko Kevin mengantarnya ke sebuah gedung rendah tanpa papan nama di sisi kota yang tampak terlalu biasa untuk menjadi rahasia.

Di dalam, pintu besi terbuka setelah pemindaian sidik jari Kevin. Lorongnya bersih, dingin, dan dipenuhi benda-benda yang langsung bergosip.

"Pendatang baru," bisik kursi tunggu.

"Cantik, tapi matanya seperti belum bayar utang tidur," sahut pot tanaman.

Keira pura-pura tidak mendengar.

Pak Direktur Biro Pengelolaan Bakat Khusus Nasional menyambut mereka di ruang pertemuan kecil. Usianya sekitar lima puluh, rambut rapi, kemeja batik gelap, dan ekspresi orang yang sudah melihat terlalu banyak hal aneh untuk mudah terkejut.

"Kevin bilang kemampuanmu berkaitan dengan benda," katanya.

"Saya mendengar mereka bicara."

"Kita tes sederhana."

Keira mengangguk.

Pak Direktur menunjuk sofa di sudut. "Apa yang dikatakan sofa itu?"

Sofa langsung meradang. "Aku benci bantalan kanan. Dia selalu sok paling empuk padahal isinya turun."

Bantalan kanan menjerit, "Fitnah! Yang turun itu martabatmu sejak dipakai rapat tujuh jam!"

Keira menatap Pak Direktur. "Sofa dan bantalan kanan saling membenci. Alasan utamanya masalah elastisitas dan harga diri."

Ko Kevin menutup mulut dengan kepalan tangan.

Pak Direktur mencatat. "Gelas?"

Gelas di meja mengeluh, "Tidak pakai alas lagi. Meja kayu mahal, tapi manusia malas cari coaster."

"Gelas protes karena ditaruh tanpa alas."

Pak Direktur semakin serius. "Jam dinding?"

Jam dinding langsung bersuara paling keras. "Akhirnya! Tolong sampaikan, Pak Direktur kalau rapat jangan kentut diam-diam lalu menuduh AC. Aku di atas, aku tahu arah angin!"

Keira diam.

Ko Kevin menoleh ke jendela, bahunya bergetar.

Pak Direktur menyipit. "Apa katanya?"

"Jam dinding..." Keira memilih kata sehalus mungkin. "Memiliki keberatan terhadap kualitas udara rapat."

Jam dinding protes, "Jangan sensor aku!"

Pak Direktur batuk. Telinganya memerah.

"Cukup. Diterima."

Keira berkedip. "Secepat itu?"

"Nak, kalau kamu bisa mengetahui aib rapat tertutup tanpa rekaman, negara lebih aman jika kamu berada di pihak kami." Pak Direktur menandatangani satu formulir. "Mulai hari ini, kamu anggota pendamping Biro Khusus. Kevin menjadi pembimbing lapanganmu."

Ko Kevin mengangkat dua jari. "Selamat. Pekerjaan sampinganmu makin aneh."

"Aku belum setuju."

"Kamu sudah duduk di kursi kami. Kursi itu bilang kamu cocok."

Kursi Keira berbisik bangga, "Benar. Pinggulnya penuh tekad."

Keira menekan pelipis.

Pak Direktur mendorong map tipis ke arahnya. "Biro ini tidak muncul di internet. Tugasmu bukan mengejar penjahat sendirian. Kamu mendengar, menganalisis, lalu melapor lewat Kevin. Jika ada operasi lapangan, keputusan tetap di tangan petugas."

"Jadi aku tidak boleh memukul orang dengan botol lagi?"

Ko Kevin batuk.

Pak Direktur menatap berkas Grand Orchid di meja, lalu berkata datar, "Kecuali sangat perlu."

Sementara itu, di Grand Orchid Suite 501, Denny Wijaya berdiri di lorong dengan ponsel menempel di telinga.

"Nyonya Vivienne, iya. Nona Felicia sudah datang tadi malam." Suaranya sopan dan sangat yakin untuk orang yang salah total. "Tuan Muda menerima beliau. Tidak mengusir. Bahkan... menurut sistem, beliau tinggal sampai pagi."

Di seberang telepon, Vivienne Liem diam beberapa detik.

"Edric tidak mengusirnya?"

"Tidak, Nyonya."

"Bagus."

Denny menelan ludah. "Apakah saya perlu mengatur jadwal berikutnya?"

"Biarkan berjalan alami. Kirim hadiah ke alamat Felicia Halim. Berlian pink yang kemarin kusiapkan."

"Berlian Pink Bintang, Nyonya?"

"Ya. Nilainya sekitar tiga puluh miliar rupiah. Jika Felicia cukup pintar, dia akan mengerti ini bukan sekadar hadiah. Ini tanda bahwa keluarga Liem mengakui usahanya."

Denny mencatat cepat. Tablet di tangannya merintih, "Den, sekali saja verifikasi wajah. Sekali saja."

Denny tidak mendengar.

Sore itu, di apartemen Felicia Halim, sebuah kotak beludru dikirim oleh kurir khusus. Felicia membuka kotak itu dan terdiam melihat berlian pink di dalamnya menyala seperti bintang kecil yang sangat mahal.

Kartu di atasnya tertulis rapi:

Untuk Felicia Halim. Terima kasih sudah menemani Edric.

Vivienne Liem.

Felicia membaca kartu itu dua kali.

"Aku bahkan belum pernah bertemu Edric Liem," gumamnya.

Kotak beludru berbisik, "Sama. Aku juga bingung, tapi aku mahal."

Felicia menutup kotak itu perlahan.

Ia bisa saja menelepon dan menjelaskan.

Tetapi nama Edric Liem berarti Liem Group. Vivienne Liem berarti pintu ke lingkaran yang tidak bisa dibeli keluarga Halim biasa. Dan berlian senilai puluhan miliar itu sekarang ada di mejanya.

Felicia tersenyum tipis.

"Kalau mereka mengira aku sudah mulai, mungkin aku hanya perlu mengejar cerita itu."

Kembali di Biro Khusus, Pak Direktur menyerahkan kartu akses sementara kepada Keira.

"Besok sore, datang lagi."

"Ada tes tambahan?"

"Bukan dari saya." Pak Direktur menatapnya dengan ekspresi lebih hati-hati. "Ada anggota lain yang ingin memverifikasi kemampuanmu secara langsung. Dia jarang sekali turun dari tempatnya."

Keira menerima kartu itu.

Di sakunya, ponsel bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal masuk singkat:

`Naira. Malam ini?`

Keira menatap layar.

Ko Kevin di sampingnya menoleh. "Siapa?"

Keira membalik ponsel dengan wajah paling tenang yang bisa ia buat.

"Spam."

Kursi di bawahnya langsung berbisik, "Pembohong berbakat."

Keira pura-pura tidak mendengar.

Di satu sisi, anggota misterius Biro Khusus menunggunya besok.

Di sisi lain, Felicia Halim yang asli baru saja menerima berlian yang seharusnya tidak pernah sampai ke tangannya.

Dan malam ini, Keira tetap harus kembali ke Suite 501.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!