Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Pertemuan di Bandara
"Sayang, aku lagi meeting. Nanti aku telepon lagi, ya."
Suara Rangga Prasetya masuk ke telinga Evelina Lim bersama hembusan dingin AC Bandara Soekarno-Hatta. Di atas kepala, pengumuman penerbangan bergema dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Roda koper bergesekan dengan lantai mengilap Terminal 3, bercampur dengan langkah orang-orang yang baru turun dari pesawat.
Eve berdiri di tengah arus penumpang, ponsel masih menempel di telinga.
Sepuluh meter di depannya, Rangga tidak sedang meeting.
Laki-laki itu berdiri di dekat jalur VIP kedatangan, mengenakan kemeja putih yang pernah Eve belikan untuk presentasi pertamanya. Di tangan Rangga ada buket mawar putih, bunga kesukaan Eve. Hanya saja bunga itu bukan untuknya.
Seorang perempuan ramping dengan rambut panjang bergelombang baru saja berlari kecil ke arah Rangga. Jesslyn Lim, adik tirinya sendiri, memeluk lengan Rangga seolah tempat itu memang miliknya sejak lama. Rangga menunduk, tersenyum, lalu membiarkan Jess mencium pipinya di depan orang banyak.
Jari Eve yang menggenggam ponsel mendadak dingin.
Di layar, nama Rangga masih menyala. Panggilan belum terputus. Eve bisa melihat jelas bagaimana Rangga menoleh sedikit, memastikan Jess tidak melihat ponselnya, lalu mengulangi dengan suara lebih pelan.
"Aku benar-benar sibuk. Kamu pulang dulu saja."
Eve tertawa sekali. Pendek. Kering.
Sibuk.
Tiga tahun ia percaya pada suara itu. Tiga tahun ia menabung, bekerja lembur, menerima proyek terjemahan sampai matanya perih, lalu mengirim uang satu miliar rupiah untuk perusahaan kecil Rangga karena laki-laki itu bilang, "Kalau aku berhasil, kita menikah."
Ternyata keberhasilan pertama Rangga adalah menjemput perempuan lain dengan bunga kesukaannya.
Eve menurunkan ponsel dan memutus panggilan. Dadanya sesak, tetapi matanya kering. Mungkin karena sakitnya terlalu cepat datang, tubuhnya belum sempat memilih harus menangis atau marah.
Ia menarik napas, menyeret koper hitamnya, lalu berjalan lurus ke arah mereka.
Jess melihatnya lebih dulu. Wajah cantik itu sempat berubah pucat, hanya sepersekian detik. Setelah itu, senyumnya muncul. Lebih manis dari mawar putih di tangan Rangga.
"Kak Eve?" Jess mengangkat alis. "Kok kamu di sini?"
Rangga berbalik. Warna wajahnya hilang.
"Eve?"
"Meeting di bandara?" Eve berhenti di depan mereka. Suaranya tenang, terlalu tenang sampai Rangga tampak makin gelisah. "Meeting dengan adikku?"
Rangga membuka mulut, menutupnya lagi. "Aku bisa jelaskan."
"Silakan." Eve melirik buket mawar putih. "Aku juga ingin tahu, sejak kapan proposal bisnis butuh bunga."
Beberapa orang yang lewat mulai menoleh. Di bandara, orang asing biasanya sibuk dengan urusan masing-masing. Tetapi drama yang terjadi tepat di jalur keluar kedatangan selalu punya daya tarik sendiri.
Jess merapat pada Rangga, jari-jarinya sengaja mengunci lengan laki-laki itu.
"Kak, jangan salah paham," katanya lembut. Terlalu lembut. "Aku baru pulang. Rangga cuma jemput aku karena Papa minta."
"Papa minta dia bawa mawar putih juga?"
Senyum Jess menegang.
Rangga memijat pangkal hidung. "Eve, jangan bikin ribut di sini. Kita bicara nanti."
Kata-kata itu seperti menampar lebih dulu sebelum tangannya bergerak. Jangan bikin ribut. Seolah yang memalukan bukan pengkhianatan mereka, melainkan keberanian Eve untuk berdiri di depan mereka.
"Nanti?" Eve menatap mata Rangga. "Tiga tahun aku menunggu nanti. Nanti setelah disertasi kamu selesai. Nanti setelah perusahaanmu jalan. Nanti setelah kamu siap bicara ke keluargaku. Ternyata nanti itu artinya kamu jemput Jess di bandara."
Rangga menegang. "Hubungan kita sebenarnya sudah lama tidak sehat."
Jess langsung menyambung, "Kak Eve, Rangga itu dari dulu memang milikku. Kamu cuma selingan aja."
Suara di sekitar mereka seakan mengecil. Pengumuman pesawat, roda koper, langkah penumpang, semua terdengar jauh.
Eve menatap adiknya.
Jesslyn Lim. Anak perempuan Melani, perempuan yang mengambil tempat ibunya di rumah Lim. Sejak kecil Jess selalu pintar mengambil milik Eve lalu menangis lebih dulu agar semua orang mengira Eve yang kejam.
Hari ini ia mengambil Rangga dan masih berani tersenyum.
Tamparan itu terjadi begitu cepat.
Plak.
Bunyi telapak tangan Eve mengenai pipi Rangga memecah udara bandara yang bising. Kepala Rangga tersentak ke samping. Jess menjerit kecil, bukan karena takut, melainkan karena orang-orang mulai benar-benar berhenti.
Ada beberapa ponsel terangkat. Lensa-lensa kecil mengarah pada mereka.
"Itu untuk tiga tahun yang kamu buang," kata Eve. Suaranya bergetar, tetapi bukan karena takut. "Dan satu lagi, satu miliar yang aku pinjamkan untuk PT Prasetya Digital, kapan kau kembalikan?"
Bisik-bisik langsung meledak pelan.
"Satu miliar?"
"Pacarnya utang?"
"Ya ampun, sudah selingkuh pula."
Rangga memerah. "Eve, jangan sebut-sebut uang di depan umum."
"Kenapa?" Eve maju setengah langkah. "Waktu minta uang, kamu tidak malu. Sekarang saat aku minta kembali, baru malu?"
Jess menggertakkan gigi. Ia masih memegangi pipi Rangga, tetapi matanya menatap Eve seperti ingin mencabik.
"Kak Eve, kamu jangan sok korban. Kalau kamu bisa menjaga laki-lakimu, Rangga tidak akan mencari yang lain."
Koper Eve mendadak tersangkut di celah sambungan lantai. Ia menariknya terlalu keras. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dunia miring sesaat.
Sebelum ia jatuh, sebuah tangan kuat menahan pinggangnya.
Aroma bersih seperti sabun dan udara luar menabrak indra penciumannya. Dada yang ia tabrak keras, hangat, dan stabil. Ada kain loreng di depan matanya.
Eve mendongak.
Seorang laki-laki berseragam TNI berdiri di belakangnya. Tingginya membuat Eve harus mengangkat dagu. Bahunya lebar, rahangnya tegas, matanya gelap dan tenang. Di dada seragamnya terpasang nama Kho. Pangkat di bahunya membuat beberapa orang di sekitar otomatis mundur setengah langkah.
Kolonel.
Ada gantungan boneka kecil jatuh dari tali ranselnya karena benturan tadi. Boneka itu lusuh, seperti sudah lama menemani perjalanan jauh, tetapi dijaga dengan hati-hati. Eve refleks membungkuk untuk mengambilnya. Laki-laki itu juga bergerak. Jari mereka hampir bersentuhan sebelum Eve lebih dulu meraihnya.
"Maaf," bisiknya, menyerahkan gantungan itu.
Laki-laki itu menerima dengan tenang. Tatapannya berhenti sesaat pada mata Eve, terlalu lama untuk orang asing.
"Nona, kopernya biar saya bantu."
Suaranya rendah. Tidak keras, tetapi entah kenapa membuat ruang di sekitar mereka seperti lebih sunyi.
Eve seharusnya mundur. Seharusnya berterima kasih, mengambil koper, lalu pergi dari tempat memalukan ini.
Tetapi Rangga masih berdiri di sana. Jess masih tersenyum penuh kemenangan. Ponsel-ponsel masih merekam. Dan di dalam dada Eve, sesuatu yang patah berubah menjadi bara.
Ia menoleh ke arah Rangga, lalu, sebelum akal sehat sempat mengejarnya, Eve menggenggam lengan laki-laki berseragam itu.
"Ini tunanganku."
Keheningan jatuh begitu mendadak.
Rangga menatap tangan Eve yang menempel di lengan pria itu. Jess berkedip, lalu tertawa kecil.
"Tunangan?" Jess memandang seragam TNI itu dari atas ke bawah. "Yang ini? Tentara ini?"
Tangan Eve nyaris terlepas karena malu. Namun laki-laki di sampingnya tidak menarik diri. Ia justru menggeser posisi sedikit, berdiri di depan Eve seperti dinding.
Ia menatap Rangga.
"Ada masalah?"
Dua kata saja. Datar. Tapi Rangga langsung mundur setengah langkah.
Eve mendengar beberapa orang berbisik tentang seragam, pangkat, dan wajah laki-laki itu. Ia sendiri tidak tahu siapa orang ini. Yang ia tahu, untuk pertama kalinya sejak melihat Rangga memeluk Jess, ada seseorang yang berdiri di sisinya.
Rangga berusaha mengembalikan wibawa. "Ini urusan pribadi kami."
"Kalau pribadi, jangan permalukan dia di tempat umum," jawab laki-laki itu.
Jess mendengus. "Pak, Anda tidak tahu apa-apa. Kak Eve itu memang suka drama. Lagipula, kalau benar tunangannya, kenapa kami tidak pernah dengar?"
Eve baru akan bicara, tetapi laki-laki itu menoleh padanya.
Hanya satu detik.
Tatapan itu seperti bertanya, boleh?
Eve bahkan belum memahami pertanyaannya ketika jari laki-laki itu menyentuh dagunya. Lembut, tetapi pasti. Detik berikutnya, bibirnya disentuh bibir asing.
Bandara lenyap.
Yang tersisa hanya suhu tubuh laki-laki itu, aroma seragam yang bersih, dan suara napas Eve yang tersangkut di tenggorokan. Ciuman itu tidak kasar, tetapi jelas. Bukan ciuman main-main. Bukan ciuman yang meminta izin pada Rangga. Itu ciuman yang membuat semua orang berhenti bicara.
Saat laki-laki itu melepaskannya, Eve masih membeku.
Ia mendengar seseorang berbisik, "Astaga."
Rangga terlihat seperti baru ditampar untuk kedua kalinya.
Laki-laki itu menatapnya. "Hutangnya satu miliar, bukan nominal kecil. Saya sarankan kau selesaikan baik-baik."
Rangga mengepalkan tangan. "Kau siapa?"
Laki-laki itu memasukkan satu tangan ke saku seragam. Wajahnya tetap tenang. "Orang yang tidak suka melihat perempuan dipermalukan setelah uangnya dipakai."
Jess menarik lengan Rangga. "Ayo pergi. Ini nggak worth it."
"Jess," Rangga menahan suara.
"Ayo!" Jess menatap ponsel-ponsel yang masih merekam. Keberaniannya mengecil begitu menyadari wajahnya mungkin sudah masuk video orang asing.
Rangga menatap Eve sekali lagi. Ada marah, malu, dan sesuatu yang terlambat disebut penyesalan. Tetapi Eve sudah tidak memberi ruang untuk itu.
Mereka pergi.
Mawar putih masih di tangan Rangga, kelopaknya sedikit rusak karena genggamannya terlalu keras.
Begitu punggung mereka menghilang ke arah pintu keluar, tenaga Eve ikut hilang. Ia melepas lengan pria berseragam itu seolah baru sadar telah memegang bara.
"Maaf." Kali ini wajahnya panas. "Saya benar-benar minta maaf. Tadi saya..."
"Menjadikan saya tunangan dadakan?"
Nada laki-laki itu hampir datar, tetapi ujung mulutnya naik sedikit.
Eve ingin lantai bandara terbuka dan menelannya. "Saya akan jelaskan kalau ada yang bertanya. Anggap saja tadi balas budi. Saya tidak akan merepotkan Anda lagi, Pak Kolonel."
"Edric Kho."
Eve berkedip. "Apa?"
"Nama saya." Ia mengulurkan tangan, lalu seperti berubah pikiran dan menurunkannya lagi. "Edric Kho."
"Evelina Lim." Eve menjawab otomatis. "Eve."
"Saya tahu."
Kalimat itu terlalu cepat, terlalu pelan. Eve hampir mengira ia salah dengar.
"Maksud Anda?"
Edric tidak langsung menjawab. Ia menunduk mengambil koper Eve, lalu berjalan ke arah yang lebih sepi, dekat area kafe di lantai keberangkatan. Aneh, Eve mengikutinya. Mungkin karena kakinya masih lemas. Mungkin karena ia belum sanggup sendirian setelah ditonton begitu banyak orang.
Di meja kecil dekat kaca, Eve duduk dengan punggung tegak. Ia berusaha mengembalikan napas. Di luar, langit Jakarta mulai gelap. Lampu landasan menyala seperti garis-garis panjang.
Edric berdiri di depannya, tidak duduk sampai Eve mengangkat wajah.
"Terima kasih," kata Eve akhirnya. "Tapi ciuman tadi..."
"Terlalu jauh?"
Eve menelan ludah. Bibirnya masih terasa panas. "Sangat."
"Kalau hanya saya bilang saya tunanganmu, mereka tidak akan percaya."
Eve ingin membantah, tetapi tidak bisa. Jess memang tidak akan percaya. Rangga juga tidak.
"Tetap saja, Anda seharusnya minta izin."
"Benar." Edric mengangguk. "Maaf."
Permintaan maaf itu terlalu mudah keluar. Tidak defensif, tidak menyalahkan keadaan. Eve justru kehilangan amarah.
Ia menatap gantungan boneka kecil yang kini kembali tergantung di ransel Edric. Boneka itu berbentuk kelinci kecil, telinganya sudah agak aus.
"Itu penting?"
Tatapan Edric mengikuti arah matanya. Untuk sesaat, wajahnya berubah. Bukan sedih, bukan juga lembut sepenuhnya. Seperti ada pintu lama yang hampir terbuka.
"Hadiah dari seseorang."
"Pacar?"
"Bukan."
Jawaban itu pendek. Eve tidak bertanya lagi.
Edric mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku dada. Kartu itu hitam sederhana, terlalu mewah untuk orang yang katanya hanya tentara. Tetapi ia tidak menyerahkannya. Jarinya menekan tepi kartu, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Kamu tadi bilang itu balas budi."
"Iya. Saya tidak bisa membayar banyak, tapi kalau Anda butuh bantuan terjemahan dokumen, saya bisa bantu. Spanyol, Inggris, Mandarin, Indonesia. Tarif saya normal, tapi untuk Anda saya kasih diskon."
Edric menatapnya beberapa detik.
Lalu ia tertawa pelan.
Eve mengerutkan kening. "Lucu?"
"Tidak." Edric menyimpan kembali kartu nama itu. "Saya tidak kekurangan apa-apa. Hanya kurang seorang istri."
Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti koper yang dibanting dari bagasi pesawat.
Eve membeku.
Ia menatap pria di depannya. Seragam TNI. Pangkat kolonel. Mata tenang yang seperti sudah melihat perang, tetapi masih bisa menatapnya seolah ia bukan perempuan yang baru saja dipermalukan, melainkan seseorang yang layak dipilih.
"Anda bercanda."
"Saya jarang bercanda soal pernikahan."
Jantung Eve memukul rusuknya terlalu keras.
Di layar ponselnya, pesan lama dari Rangga masih tersimpan. "Nanti kalau perusahaanku stabil, kita menikah." Tiga tahun ia menunggu kata nanti. Tiga tahun ia percaya pada janji yang selalu mundur.
Di depannya, seorang laki-laki asing baru saja mengatakan kata istri tanpa ragu.
Gila.
Ini jelas gila.
Tetapi bagian tergelap dari hati Eve, bagian yang masih panas karena pengkhianatan, tiba-tiba bertanya, apa salahnya sekali saja ia yang membuat Rangga menyesal?
Eve mengangkat dagu.
"Deal."