Kakinya baru saja menginjak pintu masuk area bermain di mana putrinya berada, namun Jihan di kejutkan dengan suara Clara yang sedang bermain boneka beruang.
" Ayo lebih cepat sayang aku hampir sampai. " ucap Clara dengan suara khas anak kecilnya.
" Kamu sangat hebat sayang. " ucap Clara lagi sambil menggoyangkan boneka beruangnya ke kanan dan ke kiri.
Degh...
Jihan diam mematung di ambang pintu mendengar celotehan Clara, Jihan bukan anak kemarin sore yang tidak mengetahui suara apa itu, tapi siapa yang sudah berani berbuat tak senonoh di rumahnya sampai putri kecilnya mengetahui hal itu. Jihan murka dan juga emosi terhadap siapapun itu yang sudah berani mengotori otak polos putri kecilnya dengan suara laknat itu.
Sementara selama ini Clara tidur di dalam kamarnya sendiri yang di apit oleh kamar kedua saudarinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Jenar dan Jannah
Jenar terus menatap wajah putri bungsunya yang masih memegang tangannya dan mengucapkan kata maaf yang entah ke berapa kalinya, lidahnya terasa kelu untuk berbicara dengan Juwita karena rasa kecewanya. Namun ia sadar jika tidak boleh berlama-lama seperti ini karena mental dan kesehatan Juwita jauh lebih penting dari pada rasa sakitnya apalagi sekarang Juwita sudah masuk rumah sakit.
" Ibu maafkan aku? Aku merindukan Ibu? " Juwita berucap sambil meletakkan tangan Ibunya di pipi.
Jenar menghela napas panjang berusaha berdamai dengan hatinya demi calon cucunya yang tidak bersalah. Perlahan-lahan Jenar menarik tangannya dari dalam genggaman Juwita dan Juwita semakin bersedih karena ia mengira Ibunya tidak mau memaafkan dirinya. Namun perkiraan Juwita salah Jenar malah bangkit dari duduknya lalu ia memeluk putri bungsunya dengan erat.
Juwita senang bukan kepalang ia langsung membalas pelukan Ibunya dan menumpahkan semua air mata yang ada di pelupuk matanya. Juwita sampai memejamkan matanya merasakan pelukan hangat dari Ibunya yang sudah beberapa hari ini tidak ia rasakan.
Jenar melerai pelukan mereka lalu ia menghapus air mata yang mengalir di pipi Juwita dengan lembut. Jenar memasang senyum menenangkan miliknya saat menatap wajah Juwita. Ya, saat ini Jenar sudah bisa berdamai dengan hatinya dan ia juga sudah bisa memaafkan Juwita.
" Ibu mau maafin aku kan? " Juwita bertanya sambil menatap wajah Ibunya dengan penuh harap.
" Jujur Ibu sangat kecewa sekali padamu Juwita, Ibu akan mencoba untuk memaafkan kamu tapi dengan satu syarat kamu jangan lagi mengulangi hal ini ya? " Jenar menjawab dan Juwita pun langsung tersenyum dan mengangguk dengan yakin.
" Iya Bu, Ibu tenang saja aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, terima kasih banyak Bu? Maaf dari Ibu adalah yang segalanya untuk aku? " Sahut Juwita yang kembali mencium punggung tangan Ibunya.
Jenar masih tersenyum dan ia mengusap lembut puncak kepala Juwita dengan sayang. Jannah yang melihatnya ikut mengembangkan senyumnya karena akhirnya kakak dan keponakannya bisa kembali bersatu seperti dahulu dan ia berharap semoga keluarga mereka tetap utuh seperti ini dan jangan sampai terpecah belah.
" Tapi Ibu tidak memberitahukan kak Jihan kan siapa Ayah dari bayi yang aku kandung? " Juwita bertanya dengan serius.
" Apa menurut kamu Ibu sanggup mengatakannya pada Jihan jika Bagas adalah Ayah dari bayi yang sedang kamu kandung? Lagi pula kalau Jihan tahu memangnya kamu sanggup membiayai anak kamu sendiri? Sementara kamu tahu selama ini kita sangat bergantung padanya? Kita hidup dengan uang pemberiannya, kalau dia mengetahui semuanya bagaimana dengan kelangsungan hidup kita? " Jawab Jenar panjang lebar.
Jannah yang tadinya sedang duduk di kursi sofa sambil tersenyum langsung spontan berdiri setelah mendengar ucapan dari kakaknya. Jannah tidak mengira ternyata kakaknya lebih mementingkan uang dari pada perasaan anaknya sendiri yang pastinya akan sangat hancur karena sudah di khianati oleh suami dan juga adiknya.
" Astaghfirullah kak Jenar! " ucap Jannah secara spontan.
Jenar langsung menutup mulutnya karena ia lupa jika di belakangnya masih ada adiknya Jannah. Sedangkan Jannah langsung melangkah mendekat ke ranjang di mana kakak dan keponakannya sama-sama terdiam.
" Astaga kak Jenar sepicik itu pikiran kakak? Kakak lebih mementingkan uang dari pada perasaan Jihan? " ucap Jannah sambil menggelengkan kepalanya.
" Diam kamu Jannah, kamu itu tidak tau apa-apa, kamu tidak pernah punya anak jadi lebih baik kamu diam? " Bentak Jenar yang mulai keluar sifat aslinya.
Jannah semakin menggelengkan kepalanya tidak percaya ternyata kakaknya yang dulu dengan yang sekarang sudah banyak sekali berubah.
" Aku memang tidak pernah punya anak kak! Tapi aku tau bagaimana caranya bersikap adil? " ujar Jannah yang sudah berdiri di samping ranjang Juwita namun di sebrang Jenar.
" Tahu apa kamu Jannah! Sebaiknya kamu diam dan jangan ikut campur karena di sini kamu hanya numpang di rumah kakak dan kamu makan pun dari belas kasihan kakak? Mau kakak memikirkan perasaan Jihan atau tidak itu terserah kakak dan itu juga urusan kakak! " sahut Jenar dengan mata yang melotot tajam ke arah Jannah.
" Astaghfirullah ternyata begini sifat asli kamu kak? Jadi kebaikan kamu selama ini hanya topeng? " Tutur Jannah yang benar-benar terkejut.
Jenar melipat kedua tangannya di dada sambil membusungkan dadanya saat berbicara dengan Jannah.
" Apa kamu pikir kakak selama ini tulus mau nampung kamu yang pengangguran itu di rumah? Gak Jannah jika bukan karena kakak membutuhkan tenagamu untuk menjadi asisten rumah tangga mungkin sejak awal kakak gak sudi nampung perempuan sok suci seperti kamu. " bentak Jenar lagi.
Jannah benar-benar sangat syok dan ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja kakaknya ucapkan? Benarkah selama ini kakaknya hanya memanfaatkan tenaganya saja? Jannah sampai tidak bisa berkata-kata karena saking syoknya.
" Jika kamu masih mau numpang hidup sama kakak sebaiknya kamu diam dan jangan ikut campur, tapi kalau kamu masih mau ikut campur sebaiknya kamu angkat kaki dari rumah kakak karena sejak awal kakak sama sekali tidak mengharapkan kedatanganmu? " usir Jenar tanpa rasa belas kasih.
Air mata Jannah langsung luruh membasahi pipi yang kemudian terjatuh mengenai hijab bergo yang sedang ia kenakan, air matanya jatuh tanpa di perintah karena hatinya terasa sakit karena ucapan dari kakaknya.
" Tega sekali kakak mengatakan hal itu padaku? Padahal di dunia ini kita hanya berdua kak! Aku kira kakak tulus menyayangi aku tapi ternyata aku salah? " sahut Jannah yang masih berderai air mata.
" Sudahlah Jannah jangan kebanyakan drama aku muak melihatnya dan asal kamu tahu sejak dulu aku memang tidak pernah menyukai kamu, karena Ayah dan Ibu selalu berpihak padamu dan mereka selalu membela kamu sedangkan aku hanya di minta untuk mengalah, mengalah, dan mengalah hanya karena aku seorang kakak tanpa memikirkan bagaimana sakitnya hati dan perasaanku! jadi sekarang lebih baik kamu angkat kaki dari rumahku dan jangan pernah ikut campur dengan urusanku dan urusan anak-anakku. " usir Jenar lagi dengan suara yang lebih meninggi.
Juwita tidak kalah terkejutnya dengan Jannah karena selama ini yang ia tahu Ibunya terlihat sangat menyayangi Bibinya tanpa ia tahu ternyata Ibunya menyimpan dendam sejak kecil. Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi Jannah langsung keluar dari dalam kamar perawatan Juwita dengan air mata yang semakin berderai. Hatinya benar-benar terluka dan perasaannya benar-benar di hancurkan oleh kakaknya sendiri.
" Bu, apa tidak keterlaluan mengusir Bi Jannah? Selama ini Bi Jannah sangat baik dengan kita? " ucap Juwita yang kasihan sekaligus iba dengan Bibinya.
" Diam kamu Juwita sebaiknya kamu urus saja anakmu itu dan jangan ikut campur dengan urusan Ibu! " bentak Jenar yang langsung bangkit lalu berpindah berbaring di atas sofa.
Juwita hanya bisa memandang sedih ke arah Ibunya yang sedang berbaring di atas sofa sambil memejamkan matanya.
baguslah di selingkuhi poroti Bagas abisin aj harta Jihan wanita oon
baik boleh tapi harus cerdas,masa sekelas pemilik butik bodoh,ga ada firasat ga curiga.