NovelToon NovelToon
Janda Tampil Menarik

Janda Tampil Menarik

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Menjadi janda di usia muda bukanlah pilihan yang pernah diinginkan Maya. Setelah kehilangan suami tercinta karena sakit, ia harus menjalani kehidupan baru sebagai ibu tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri. Di tengah keterbatasan ekonomi dan pandangan sinis masyarakat, Maya berusaha bangkit dari keterpurukan yang hampir menghancurkan semangat hidupnya.

Berawal dari keputusan sederhana untuk kembali mencintai dirinya sendiri, Maya mulai merawat penampilan, membangun kepercayaan diri, dan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Namun perubahan itu justru mengundang berbagai gosip dan prasangka. Banyak orang menganggap seorang janda tidak pantas tampil menarik dan percaya diri.

Tidak ingin menyerah pada penilaian orang lain, Maya membuktikan kemampuannya melalui dunia kerja. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia berhasil meraih kesempatan yang mengubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 – Fitnah di Kantor

Waktu dua jam yang diberikan oleh Pak Arga bergulir bak pasir hisap yang siap menelan karier Maya hidup-hidup. Di dalam kubikelnya, atmosfer terasa begitu mencekam. Desas-desus tentang hilangnya dokumen vital proyek tekstil telah menyebar ke seantero lantai Divisi Audit Internal secepat cipratan minyak panas. Rekan-rekan kerja yang dua malam lalu menjabat tangannya dengan penuh senyum di *Grand Ballroom*, kini memilih untuk menunduk dalam-dalam atau berpaling pura-pura sibuk setiap kali Maya melewati meja mereka.

Maya mengabaikan semua tatapan menghakimi itu. Jemarinya menari dengan kecepatan tinggi di atas papan ketik laptop. Sebagai seorang auditor, ia dilatih untuk tidak mengandalkan intuisi semata, melainkan bukti otentik yang tidak bisa disangkal. Fokus utamanya saat ini adalah melacak jejak digital aktivitas sistem internal Aruna Kreasi.

"May... kamu beneran ngilangin berkas itu?" Siska berbisik sangat pelan dari balik sekat kubikelnya, matanya bergerak waspada ke kanan dan ke kiri. "Bu Ratna baru saja dari ruangan keuangan, dia bilang ke kepala divisi kami kalau posisimu rawan dan kemungkinan besar kasus ini akan dibawa ke jalur hukum korporat karena menyangkut kerugian negara."

Maya menghentikan gerakannya sejenak, menoleh ke arah Siska dengan senyum tipis yang sarat akan keteguhan. "Aku tidak menghilangkan dokumen itu, Sis. Kemarin sore semuanya lengkap. Seseorang sengaja mengambilnya untuk menciptakan narasi kelalaian."

"Tapi siapa, May? Loker nomor empat itu kan cuma bisa dibuka pakai kunci yang dititipkan ke sekuriti," tanya Siska sangsi.

Maya tidak menjawab. Pandangannya kembali terkunci pada layar monitor. Di sana, ia sedang membuka modul *Log System Audit*—sebuah sistem keamanan digital tersembunyi yang mencatat setiap kali sebuah akun karyawan mengakses atau mengunduh draf dokumen sebelum dicetak fisik. Namun, tantangan terbesarnya adalah dokumen yang hilang ini berbentuk fisik yang sudah ditandatangani basah oleh Pak Arga. Keberadaannya hanya bisa dibuktikan lewat saksi mata atau rekaman visual.

Tepat pukul sembilan lewat empat puluh lima menit, pintu lift terbuka. Dua orang petugas keamanan gedung bersama Bu Ratna dan Gista berjalan beriringan menuju kubikel Maya. Langkah kaki mereka yang berdentum di atas lantai parquet menarik perhatian seluruh ruangan.

"Maya Amalia," panggil Bu Ratna dengan suara lantang, sengaja memecah keheningan kantor agar semua orang mendengar. "Waktu dua jam yang diberikan Pak Arga sudah hampir habis. Karena kamu tidak menunjukkan iktikad baik untuk menyerahkan dokumen tersebut, atas izin manajemen, kami akan melakukan pemeriksaan fisik terhadap seluruh area kerjamu, termasuk tas pribadi dan lokermu."

Maya berdiri dari kursinya dengan tenang. Ia merapikan tunik kerja berwarna pastel yang dikenakannya pagi ini, menegakkan bahunya tanpa ada riak ketakutan. "Silakan, Bu Ratna. Saya tidak memiliki apa pun yang perlu disembunyikan. Pemeriksaan ini justru bagus untuk membuktikan kebenaran."

Gista yang berdiri di belakang Bu Ratna tampak melipat tangan di dada. Wajahnya dipenuhi senyum kemenangan yang tertahan. Ia tahu persis bahwa dokumen fisik itu saat ini tidak ada di meja Maya, melainkan tersimpan rapi di dalam laci bawah mejanya sendiri yang terkunci rapat, tersembunyi di balik tumpukan map bekas yang tidak terpakai. Skenario yang dibangun Gista sangat rapi: Maya akan digeledah, terbukti lalai, dinonaktifkan, dan saat investigasi internal mandek, Gista akan "menemukan" dokumen tersebut terjatuh di gudang arsip atau menuduh Maya sengaja membuangnya karena panik.

### Penggeledahan yang Dirancang

Satu per satu laci di meja kerja Maya dibuka oleh petugas sekuriti di bawah pengawasan ketat Bu Ratna. File-file komputer diperiksa, tumpukan kertas dibalik, bahkan tas jinjing milik Maya pun digeledah tanpa menyisakan satu sudut pun. Hasilnya nihil. Dokumen verifikasi itu benar-benar tidak ada di sana.

"Lihat sendiri, kan?" Bu Ratna berbalik menatap koridor kantor yang kini dipenuhi staf yang menonton. "Dokumen itu tidak ada di sini. Ini bukan lagi sekadar kelalaian kecil, Maya. Ini adalah sabotase terhadap proyek strategis perusahaan. Kamu sengaja menyembunyikan atau menghilangkan dokumen hukum demi kepentingan tertentu!"

"Saya tidak pernah melakukan sabotase, Bu Ratna," sahut Maya, suaranya naik satu oktav, jernih dan tegas memotong tuduhan sepihak itu. "Tuduhan tanpa bukti fisik adalah fitnah, dan itu melanggar kode etik kepegawaian Aruna Kreasi."

"Fitnah kamu bilang?!" Bu Ratna meradang, wajahnya memerah di balik riasan tebalnya. "Kamu yang terakhir memegang dokumen itu kemarin sore! Gista hanya membantumu memasukkannya ke loker. Gista, apakah kamu melihat Maya merapikan seluruh dokumen itu kemarin?"

Gista melangkah maju, memasang wajah penuh simpati yang dibuat-buat. "Saya... saya melihat Mbak Maya sedang terburu-buru kemarin sore, Bu. Dia bilang anaknya sakit demam. Map kuning itu sudah ditutup saat diserahkan ke saya. Saya sama sekali tidak berani membuka atau memeriksa isinya karena itu bukan wewenang saya. Saya langsung memasukkannya ke loker nomor empat. Saya tidak menyangka kalau ternyata isinya sudah tidak lengkap."

Kalimat Gista terdengar begitu meyakinkan di telinga orang awam. Narasi tentang "ibu tunggal yang panik karena anak sakit lalu teledor" langsung terbentuk di benak rekan-rekan kerja yang menonton. Maya dikepung oleh penghakiman massal yang tidak kasat mata. Rasa sesak yang sempat ia rasakan di rumah Tante Ira dulu kembali mengetuk dadanya, tetapi kali ini, Maya menolak untuk hancur.

"Baik, kalau begitu mari kita selesaikan ini di ruangan Pak Arga," ujar Bu Ratna penuh kemenangan. "Petugas, bawa map kuning ini. Kita laporkan bahwa Maya Amalia resmi melakukan kelalaian fatal."

### Pembalikan Keadaan di Ruang Direksi

Pukul sepuluh tepat. Ruangan Pak Arga kembali dipenuhi oleh orang-orang yang sama, ditambah dengan kehadiran Gista sebagai saksi kunci versi Bu Ratna. Pak Arga duduk di balik meja eksekutifnya yang megah, menatap dingin ke arah rombongan yang baru saja masuk.

"Bagaimana, Ratna? Maya?" tanya Arga singkat.

"Dokumen tetap tidak ditemukan di area kerja Maya, Pak Arga," lapor Bu Ratna dengan nada mendesak. "Saksi mata, yaitu Gista, mengonfirmasi bahwa Maya memang dalam kondisi terburu-buru dan tidak fokus kemarin sore saat menyerahkan map. Berdasarkan peraturan perusahaan pasal 12 mengenai kelalaian aset vital, saya mengusulkan skorsing langsung terhadap Maya Amalia per hari ini hingga proses investigasi hukum selesai."

Arga tidak langsung menjawab. Pandangan matanya beralih kepada Maya yang berdiri tegak di tengah ruangan. "Maya, apakah kamu memiliki pembelaan terakhir sebelum saya menandatangani surat penonaktifanmu?"

Maya menarik napas dalam-dalam. Detik ini adalah batas antara kehancuran kariernya atau pembuktian martabatnya. Ia melangkah maju, meletakkan sebuah diska lepas (*flashdisk*) kecil berwarna perak di atas meja Pak Arga.

"Ada, Pak Arga," kata Maya, suaranya mengalun tenang tanpa ada getaran emosi yang meledak-ledak. "Saya meminta izin untuk menampilkan dua bukti digital yang baru saja saya tarik dari sistem keamanan pusat dan log aktivitas jaringan."

Bu Ratna mencemooh, "Jangan mengulur waktu dengan trik digital, Maya! Dokumen yang hilang itu berbentuk fisik!"

"Benar, Bu Ratna. Dokumennya berbentuk fisik," balas Maya, menoleh perlahan dengan tatapan yang membuat Bu Ratna terdiam sejenak. "Dan karena berbentuk fisik, dokumen itu tidak bisa berjalan sendiri tanpa ada tangan manusia yang memindahkannya."

Pak Arga memberi isyarat dengan anggukan kepala kepada sekretarisnya untuk menyambungkan diska lepas milik Maya ke layar monitor besar di dinding ruang kerja.

"Bukti pertama," Maya memulai penjelasannya saat sebuah grafik data muncul di layar. "Ini adalah *log history* akses pintu loker penyimpanan berkas Divisi Audit Internal nomor empat. Kemarin sore, kunci loker diserahkan oleh sekuriti kepada Gista pada pukul tujuh belas lewat tiga puluh menit. Pintu loker tercatat dibuka selama empat puluh detik, waktu yang cukup untuk memasukkan map kuning."

Gista mulai merasa tidak nyaman. Ia berdeham kecil, "Kan sudah aku bilang, aku memang memasukkannya ke loker, May. Itu bukan bukti kalau aku mengambilnya."

"Tolong buka video di folder kedua, Pak," pinta Maya pada sekretaris.

Layar monitor besar itu seketika berganti menampilkan rekaman kamera pengawas (CCTV) koridor Divisi Audit Internal yang menyorot ke arah kubikel Maya dari sudut atas. Rekaman itu bertanggal kemarin sore, pukul tujuh belas lewat empat puluh lima menit—lima belas menit setelah Maya meninggalkan gedung kantor.

Di dalam video yang sedikit temaram itu, terlihat jelas sosok Gista yang berjalan kembali ke kubikel Maya. Ia membuka loker nomor empat yang baru saja ia kunci, mengeluarkan map kuning tersebut, membukanya di bawah meja yang tidak tersorot langsung, lalu menyelipkan beberapa lembar kertas putih ke dalam tas kerjanya sendiri. Setelah itu, Gista memasukkan kembali map kuning yang sudah tipis itu ke dalam loker dan menguncinya kembali sebelum berjalan terburu-buru menuju lift.

Ruang kerja Pak Arga mendadak sunyi senyap, menyisakan suara embusan pendingin ruangan yang dingin.

Wajah Gista seketika berubah pucat pasi, kehilangan seluruh rona merah yang tadinya memancar penuh kemenangan. Jari-jarinya gemetar hebat, dan tas jinjing yang dipegangnya hampir saja merosot ke lantai. "I-itu... itu bukan seperti yang terlihat, Pak Arga! Saya... saya hanya memeriksa apakah dokumennya sudah rapi!" Gista terbata-bata, suaranya melengking panik.

"Memeriksa dokumen dengan cara menyelipkannya ke dalam tas pribadi Anda sendiri, Gista?" tanya Maya dengan nada datar namun menghunjam tepat ke ulu hati. "Kebetulan, sistem *smart-lock* tas kerja baru yang Anda bawa hari ini memiliki detektor magnetik yang sama dengan klip dokumen rahasia perusahaan. Anda tidak menghancurkannya karena Anda berniat 'menemukannya' nanti untuk menjatuhkan saya."

Bu Ratna ternganga, menatap Gista dengan pandangan tidak percaya sekaligus murka karena merasa telah dimanfaatkan dalam skenario yang gagal total ini. "Gista! Apa-apaan ini?!"

### Keadilan yang Berdiri Tegak

Pak Arga berdiri dari kursi kerjanya. Aura kepemimpinannya yang intimidatif memenuhi ruangan. Ia tidak menatap Bu Ratna atau Gista, melainkan menatap langsung ke arah petugas keamanan yang berdiri di dekat pintu.

"Petugas, giring Gista ke kubikelnya sekarang. Ambil kembali tiga lembar dokumen verifikasi fisik milik tim audit dari tasnya. Setelah dokumen itu kembali ke meja saya, bawa Gista ke Divisi SDM untuk penyerahan surat pemecatan tidak dengan hormat atas tindakan sabotase dan pencurian aset perusahaan," perintah Arga, suaranya dingin, mutlak, dan tidak menerima bantahan.

"Pak Arga, tolong maafkan saya! Saya khilaf, Pak! Maya yang memaksa saya... maksud saya, saya cemburu karena Maya baru tapi sudah..." jerit Gista yang mulai menangis histeris saat petugas sekuriti memegang lengannya dan menuntunnya keluar dari ruangan. Pintu kayu jati itu tertutup, meredam suara tangisan Gista yang perlahan menjauh.

Di dalam ruangan, Bu Ratna berdiri dengan posisi yang sangat kikuk. "Pak Arga... saya... saya tidak tahu kalau Gista merencanakan hal seburuk ini. Saya hanya mengkhawatirkan prosedur perusahaan," Bu Ratna mencoba membela diri dengan suara yang mengecil.

"Anda adalah kepala divisi, Ratna. Tugas Anda adalah memverifikasi fakta dengan kepala dingin, bukan memimpin pengadilan jalanan di koridor kantor berdasarkan kebencian pribadi," kata Arga dengan nada penuh teguran yang tajam. "Saya harap kejadian ini menjadi pelajaran terakhir bagi Anda untuk menjaga profesionalisme di lingkungan kerja. Anda boleh keluar."

Dengan wajah tertunduk menahan malu yang teramat sangat, Bu Ratna bergegas keluar dari ruangan, meninggalkan Maya dan Pak Arga berdua.

Arga berjalan mendekati meja, lalu mengambil draf dokumen verifikasi yang baru saja diselamatkan lewat bukti digital Maya. Ia menatap Maya dengan pandangan yang penuh rasa hormat. "Kerja yang sangat taktis, Maya. Kamu tidak hanya menyelamatkan dokumen perusahaan, tetapi juga menyelamatkan integritas dirimu sendiri dengan cara yang sangat elegan."

"Terima kasih, Pak Arga," jawab Maya, mengangguk takzim. "Bagi saya, kebenaran tidak butuh suara yang lantang untuk menang. Ia hanya butuh fakta objektif untuk tetap berdiri tegak."

"Kembalilah bekerja, Maya. Posisi Manajer Audit Internal yang kosong bulan depan... saya rasa saya tidak perlu mencari kandidat dari luar lagi," ucap Arga dengan senyum tipis yang tulus.

Maya melangkah keluar dari ruang direksi dengan perasaan seolah seluruh beban berat yang menggelayuti pundaknya menguap ke udara. Di koridor kantor, suasana mendadak berubah. Rekan-rekan kerja yang tadinya berbisik sinis kini menatapnya dengan pandangan penuh kekaguman dan rasa segan yang mendalam. Fitnah itu telah patah, hancur berkeping-keping di hadapan kecerdasan dan ketenangan yang ia miliki. Maya tersenyum, membayangkan kepulangan sore nanti untuk memeluk Dika dan mengatakan pada anaknya bahwa Bunda mereka sekali lagi berhasil memenangkan pertempuran dengan terhormat.

1
Rian Moontero
mampiiirr😍
Aurora23: makasih supportnya😍
total 1 replies
Aurora23
yukk di baca guyss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!