Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sementara itu, di dalam kamar.
Dokter Fang membersihkan darah yang masih menempel di sekitar bekas jahitan Viona.
Ia memeriksa luka itu dengan saksama.
“Jahitan bagian luarnya kembali terbuka,” ucapnya pelan. “Untungnya jahitan bagian dalam masih utuh. Kalau benturannya sedikit lebih keras, kondisinya akan jauh lebih serius.”
Viona mengangguk lemah.
“Maaf, Dokter...”
“Tidak perlu meminta maaf,” jawab Dokter Fang. “Sekarang kau harus diam dan jangan bergerak.”
Ia mengambil suntikan berisi anestesi lokal.
“Aku akan menjahit kembali bagian yang terbuka. Setelah itu, aku akan memberimu obat penenang agar tubuhmu bisa benar-benar beristirahat.”
“Iya, Dokter.”
Beberapa menit kemudian, Dokter Fang mulai menjahit kembali luka tersebut dengan gerakan yang terampil.
Setelah selesai, ia mengoleskan salep antibiotik dan memasang perban baru.
“Lukanya sudah selesai ditangani.”
Dokter Fang kemudian menyuntikkan obat penenang melalui infus yang telah dipasang.
“Obat ini akan membuatmu tidur beberapa jam. Tubuhmu terlalu lelah dan kurang istirahat. Penyembuhan akan lebih cepat jika kau tidur.”
Viona berusaha membuka matanya.
“Iya... Dokter...”
Tak lama kemudian, kelopak matanya terasa semakin berat.
Pandangannya mulai kabur.
Beberapa detik kemudian, Viona tertidur pulas.
Dokter Fang menarik selimut hingga menutupi tubuh gadis itu.
Ia lalu keluar dari kamar dan menutup pintu dengan pelan.
Di luar kamar, Dylan masih menunggu.
“Bagaimana kondisinya?” tanyanya.
“Lukanya sudah kujahit kembali,” jawab Dokter Fang. “Aku juga memberinya obat penenang. Biarkan dia tidur. Tubuhnya sudah terlalu lama dipaksa bekerja tanpa istirahat.”
“Apakah ada yang perlu dikhawatirkan?” tanya Dylan.
Dokter Fang menggeleng pelan.
“Untuk sementara tidak. Tapi mulai sekarang, jangan biarkan siapa pun membuatnya bekerja atau mengalami benturan lagi. Kalau luka itu kembali terbuka, proses penyembuhannya akan semakin sulit.”
Dylan menatap pintu kamar Viona beberapa saat.
“Aku mengerti.”
“Selama beberapa hari ke depan, aku akan datang setiap hari untuk mengganti perbannya.”
“Kalau dia demam, lukanya kembali berdarah, atau mengeluh nyeri yang tidak tertahankan, segera hubungi aku.”
Dylan mengangguk.
“Baik.”
Dokter Fang menepuk pelan bahu sahabatnya.
“Dylan, luka di tubuhnya memang bisa sembuh. Yang lebih sulit adalah luka di hatinya. Sejak kecil dia hidup dalam tekanan. Orang seperti itu biasanya sudah terbiasa memendam semuanya sendirian.”
"Apa ada cara terbaik untuk membuatnya sembuh?” tanya Dylan pelan.
“Jangan hanya menyembuhkan tubuhnya.Kalau bisa... buat dia percaya bahwa masih ada orang yang benar-benar peduli padanya.”
Setelah mengatakan itu, Dokter Fang pun meninggalkan mansion.
Suasana kembali hening.
Dylan berdiri beberapa saat di depan pintu kamar Viona.
Perlahan ia membuka pintu.
Di atas ranjang, Viona tertidur pulas karena pengaruh obat penenang.
Wajahnya masih pucat.
Sesekali keningnya berkerut, seolah masih merasakan sakit meski sedang tertidur.
Dylan menarik kursi lalu duduk di samping ranjang.
Tatapannya tertuju pada wajah gadis itu.
“Bahkan saat tidur pun kau masih terlihat gelisah,” gumamnya pelan.
Tangannya merapikan sedikit rambut yang menutupi dahi Viona.
“Mulai hari ini... tidak akan ada lagi yang menyakitimu. Aku tidak peduli siapa orangnya. Asal mereka berani menyentuhmu... mereka harus membayar harganya.”
Tatapan Dylan perlahan berubah dingin.
Bayangan wajah Clara kembali terlintas di benaknya.
Ia mengambil ponselnya.
Di layar sudah muncul puluhan pesan dari Jay.
Semua perintah telah dijalankan.
Rekaman CCTV sudah dikirim ke media dan beberapa perusahaan hiburan.
Tuntutan terhadap Clara juga sedang diproses oleh tim hukum.
Membaca laporan itu, Dylan mengunci layar ponselnya.
“Ini baru permulaan,” gumamnya.
“Kalau kau berani menyentuh orangku... maka aku akan menghancurkan semua yang kau banggakan.”
Keesokan paginya.
Seluruh media di negara itu mendadak dihebohkan oleh sebuah berita yang langsung menjadi perbincangan publik.
"AKTRIS CLARA XIE DIDUGA MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAP SEORANG WANITA DI KEDIAMAN PRESIDEN GRUP XING."
Rekaman CCTV berdurasi beberapa menit tersebar luas di berbagai platform media sosial.
Di dalam video tersebut terlihat jelas...
Clara melempar seikat uang ke arah seorang pelayan.
Menghina dan merendahkan pelayan tersebut.
Mendorong tubuh wanita itu hingga membentur meja.
Membanting ponsel seorang pelayan lanjut usia.
Bahkan...
Rekaman dari sudut kamera lain memperlihatkan Clara sengaja menarik tangan wanita itu untuk menampar wajahnya sendiri saat Dylan Jiang memasuki mansion.
Kolom komentar dipenuhi kecaman.
"Ternyata selama ini citra baiknya hanya sandiwara."
"Kasihan sekali wanita yang menjadi korban."
"Kalau tidak ada CCTV, pasti korban yang disalahkan."
"Tidak pantas menjadi publik figur."
Beberapa jam kemudian...
Satu demi satu perusahaan mengeluarkan pengumuman resmi.
Kontrak kerja sama dengan Clara Xie dihentikan.
Iklan yang menampilkan wajahnya mulai ditarik.
Poster promosi diturunkan.
Jadwal syuting dibatalkan.
Acara televisi yang mengundangnya juga menghapus namanya dari daftar bintang tamu.
Dalam waktu kurang dari setengah hari...
Karier Clara yang dibangun selama bertahun-tahun mulai runtuh.
Di saat yang sama...
Kantor Hukum Xing Group juga mengeluarkan pernyataan resmi.
"Atas nama Tuan Dylan Jiang, kami telah mengajukan gugatan terhadap Nona Clara Xie atas dugaan tindak kekerasan yang menyebabkan korban mengalami luka dan harus mendapatkan penanganan medis."
Pernyataan itu kembali mengguncang publik.
Tidak ada yang menyangka...
Dylan Jiang, yang selama ini dikenal jarang muncul di hadapan media, memilih turun tangan secara langsung.
Nama Clara Xie pun menjadi simbol skandal terbesar di dunia hiburan hari itu.
Semua media terus memberitakan kasus tersebut tanpa henti.
***
Di depan gedung perusahaan milik Dylan.
Sejak pagi, puluhan wartawan telah memadati pintu masuk utama.
Begitu mobil Dylan berhenti, kilatan kamera langsung menyala dari segala arah.
“Tuan Jiang!”
“Tuan Jiang!”
“Mohon luangkan waktu sebentar!”
Petugas keamanan segera membentuk barisan, tetapi Dylan mengangkat tangannya.
“Biarkan.”
Ia melangkah ke depan dan berdiri menghadapi para wartawan.
Seorang reporter langsung bertanya.
“Tuan Jiang, apakah benar Anda yang menyebarkan rekaman CCTV dan mengajukan tuntutan terhadap Nona Clara Xie?”
“Benar,” jawab Dylan singkat.
“Apakah Anda tidak khawatir tindakan itu akan menghancurkan kariernya?”
“Aku tidak pernah menghancurkan orang yang tidak bersalah.”
Jawaban itu membuat suasana semakin hening.
Reporter lain segera mengangkat mikrofon.
“Korban dalam video ada hubungan apa dengan Anda sehingga Anda turun tangan secara langsung?”
Semua mata tertuju pada Dylan.
Pria itu terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
“Dia adalah orang yang paling penting dalam hidupku.”