NovelToon NovelToon
Karang Bolong Buana

Karang Bolong Buana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KBB 28 Gerbang Buana Terbuka

Lintha harus berlayar tanpa layar dan penerangan di malam hari untuk pergi ke Pulau Hekhek. Itu demi menghindari pemantauan pasukan Elindra, terutama Pasukan Penguasa Ombak yang merupakan pasukan Angkatan Laut Elindra.

Dek!

Purwasaga yang sedang makan daging burung panggang di dalam kegelapan agak terkejut mendengar suara hantaman di pinggir pulau. Itu jelas suara kayu perahu membentur batu karang.

Setelah berpuluh hari hidup hanya bersama burung-burung kekitik kitik tanpa didatangi oleh Lintha yang berjanji akan sering berkunjung, Purwasaga jadi was-was jika ada orang lain yang datang. Ia khawatir itu adalah pasukan Negeri Elindra.

“Suamiku! Suamiku!” panggil Lintha kemudian.

Panggilan itu jelas seketika membuat Purwasaga lega. Meski ia memendam kekecewaan karena baru dikunjungi, tetapi itu membuktikan bahwa Lintha tidak benar-benar meninggalkannya.

“Aku di sini!” sahut Purwasaga.

Dia lalu menyalakan sinar merah di tangannya untuk menunjukkan keberadaannya.

Lintha segera berjalan mendatangi suaminya tanpa kesulitan saat berjalan di atas batu-batu karang.

“Suamiku, kau kembali tampan!” pekik Lintha girang.

Dia segera memeluk erat dan mesra suami manusianya, memberikan himpitan dada yang membuat Purwasaga kelabakan.

Di bawah siraman bulan yang temaram, Purwasaga memang terlihat telah pulih dari bengkak di wajahnya. Tidak lupa Lintha memberikan ciuman pamungkas di ujung hidung pemuda itu.

“Kenapa kau baru datang sekarang, Lintha?” tanya Purwasaga pada akhirnya, setelah semua yang ada di wajahnya habis dinikmati oleh Lintha yang setengah melepas rindu.

“Kau jangan marah, Suamiku. Jika aku paksakan datang ke sini, justru itu akan membuat kita dan keluargaku dalam bahaya,” kilah Lintha. “Tenang saja, aku akan menemanimu seharian sampai malam besok. Kita akan melakukan adu bawah terakhir yang tidak akan kau lupakan selama kau kembali berada di negerimu.”

“Benarkah kita tidak akan berjumpa lagi, Lintha?” tanya Purwasaga dengan nada yang agak sedih.

“Tidak usah kau pikirkan itu. Kita habiskan kebersamaan kita yang terakhir dengan kebahagiaan,” kata Lintha sambil mulai meraba-raba area sensitif suaminya.

“Aaah!” desah Purwasaga. Lamanya sang jago tidak disentuh tangan wanita membuat sentuhan pertama begitu nikmat.

Bulan yang hampir bulat sempurna di langit malam menjadi saksi bisu terjadinya adu bawah yang begitu bersemangat.

“Aaah! Aaah! Aaah!” Lintha pun tidak sungkan-sungkan menjerit-jerit kencang, toh tidak ada orang lain selain mereka. Dia lupa bahwa burung kekitik kitik merasa terganggu oleh kebisingan suami istri tersebut.

Hari terakhir dihabiskan oleh kedua pasangan itu dengan kemesraan dan kebersamaan. Setelah adu bawah membuat mereka lelah, mereka kembali menyegarkan diri dengan aktivitas mandi bersama di laut, berburu ikan dan memanggang burung sungguhan.

Yang terpenting adalah mereka melakukan peninjauan terhadap Gerbang Buana di dasar laut sebagaimana yang telah ditunjukkan posisinya oleh Lintha.

Mereka melakukan peninjauan untuk mempermudah upaya Purwasaga nanti malam, di saat purnama total dan Gerbang Buana menyala.

Dengan berenang dan menyelam bersama, Purwasaga jadi tahu bahwa Lintha tahan lama dalam menyelam.

“Nama kami saja Bangsa Penjaga Biru yang maksudnya kami adalah bangsa penjaga lautan dan samudera,” kata Lintha ketika mereka beristirahat di batu karang pinggir pulau sambil makan cacing hekhek.

Lintha mengajak suaminya makan cacing hekhek karena selama di pulau itu Purwasaga belum pernah makan cacing penduduk asli pulau.

“Asalkan kau bunuh dulu cacingnya sebelum kau telan,” kata Lintha menunjukkan petunjuk penting saat makan cacing hekhek. “Karena jika sampai ada yang masuk ke perut dalam kondisi hidup, dia akan merusak isi perut dalam satu pekan.”

Singkat cerita dan waktu.

Akhirnya malam purnama total pun tiba. Kondisi langit cerah bertabur bintang dengan bulan purnama yang menjadi mega bintangnya.

Setelah melakukan adu bawah terakhir, barulah pasangan suami istri itu menyelam di lautan, menantang air, dingin dan gelapnya dasar lautan.

Mereka berenang dengan bergandeng tangan, seolah-olah berat untuk berpisah.

“Apakah kau tidak ingin hidup bersamaku di negeriku, Lintha?” tanya Purwasaga tadi siang.

“Aku tidak mau melanggar hukum Negeri Elindra. Aku tidak akan keberatan jika kau menikah lagi dengan gadis yang lebih cantik dan tidak membuatmu menderita, Suamiku. Aku pun tidak akan menahan diri untuk menikah lagi,” jawab Lintha. “Keselamatan kita lebih penting dari pada urusan adu bawah.”

Purwasaga harus menerima kenyataan tanpa pernah tahu bahwa dirinya telah dimanfaatkan oleh Lintha dan Azhmar.

Akhirnya mereka melihat lingkaran cahaya biru di dalam kegelapan dasar laut yang mereka tuju saat menyelam di malam itu.

Melihat lingkaran sinar biru, Purwasaga menjadi lebih bersemangat dalam berenang.

Saat jarak mereka sudah dekat dengan lingkaran sinar biru yang merupakan lubang di sebuah batu karang besar yang gelap, Lintha melepaskan tangan Purwasaga yang sejak tadi digenggamnya. Dan dia pun berhenti melaju.

Tindakan wanita berambut biru itu mengejutkan Purwasaga. Pemuda itupun menahan diri. Dia menengok menatap istrinya di dalam kegelapan air.

Purwasaga memutuskan berbalik dan berenang mendatangi Lintha. Tanpa bisa berkata-kata, dia memeluk erat tubuh wanita besar itu.

Lintha dapat merasakan kesedihan dan keberatan hati Purwasaga. Namun, dia tidak seemosional Purwasaga. Dia tidak sedih dan tidak akan merasa kehilangan. Selama ini, sikap mesranya hanya suatu kepura-puraan demi kehalusan peran yang dia mainkan.

Hingga pada momen tersebut, Lintha tetap menunjukkan gestur cinta kepada Purwasaga. Ia hanya memberikan anggukan kepada suaminya agar segera pergi melewati cincin sinar biru yang besar itu.

Akhirnya Purwasaga mengangguk. Dia pun ikhlas melepas Lintha yang cantik jelita tersebut.

Purwasaga berenang meninggalkan Lintha. Ia bahkan berenang mundur menuju Gerbang Buana demi memandang sosok istrinya untuk terakhir kali, meski ujung-ujungnya sosok Lintha hilang dalam kegelapan dan hanya menyisakan sinar ungu kedua tangannya.

Sruuup!

Tubuh Purwasaga tiba-tiba tertarik masuk ke dalam lingkaran cincin sinar biru.

Purwasaga kehilangan kendali pada dirinya yang melesat berputar di dalam air, seperti masuk ke dalam pusaran air yang gelap dan kencang. Pandangannya menjadi gelap dan seketika kepalanya menjadi pusing.

Lintha segera berbalik dan berenang pergi setelah suaminya hilang ditelan oleh Gerbang Buana.

Akhirnya Purwasaga tersadar oleh rasa sakit pada wajahnya, tepatnya pada hidung, mulut dan telinga.

Rasa sakit itu terasa semakin nyata seiring kesadarannya semakin sempurna. Dan ketika dia membuka sepasang matanya….

“Aaakk…!” jerit Purwasaga kencang karena melihat wajah ikan tepat menempel di wajahnya.

Jadi, hidungnya dalam kondisi digigit oleh seekor ikan dan mulutnya dalam kondisi dicapit oleh kepiting hidup. Namun, dia tidak segera tahu apa yang menggigit kedua telinganya.

“Hahahak…!” Tiba-tiba jeritan Purwasaga disambut oleh tawa terbahak-bahak banyak lelaki.

Kian terkejut Purwasaga saat melihat jelas adanya banyak wajah lelaki yang jelas-jelas menertawakannya karena mereka juga memandanginya.

“Akk! Akk!” jerit Purwasaga berulang saat dia menarik paksa ikan dan kepiting agar lepas dari wajahnya. Dia melempar ikan dan kepiting itu begitu saja.

Dia juga cepat meraba binatang yang menggigit kedua telinganya.

“Aak!” jerit Purwasaga lagi saat dia menggenggam benda yang menyakiti telinganya. Pasalnya yang digenggamnya memiliki banyak duri tajam karena itu adalah binatang laut yang di kemudian masa dinamai bulu babi. Pada masa itu bulu babi dikenal dengan nama matahari malam.

“Hahahak…!” Para lelaki yang mengerumuni posisi Purwasaga semakin tertawa terpingkal-pingkal.

“Tariiik!” teriak satu orang dengan kencang.

Sreeet!

Tiba-tiba ada tambang yang bergerak kencang karena tarikan. Ujung-ujungnya, tali itu menarik kedua kaki Purwasaga yang dililit tali dari ujung hingga paha.

“Aaak!” jerit Purwasaga saat merasakan tubuhnya terseret kencang di atas lantai papan dan berujung mengudara dengan kaki yang tertarik kencang.

“Hahahak…!”

Tawa orang banyak itu belum juga berhenti menertawakan Purwasaga. (RH)

1
rajes salam lubis
lanjut om jangan Malu malu
rajes salam lubis
nenek buyut sandaria mungkin om
rajes salam lubis
aseeekkk....
bersatu kita teguh bercerai kita kawin lagi
rajes salam lubis
terbayang bayang hingga terbang
rajes salam lubis
berarti seperti telur ceplok la y
rajes salam lubis
alaamaak parah bener,,, tapi lebih parah si om,sampai cawatnya aja tau kebalik di dalam
rajes salam lubis
adeknya Dadung kulo
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
sampai bingung mau komen apaan Om kenapa kagak ada kodok emas 🤭🤣🤣🤣🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
wahhh pada penasaran sama cerita Purwasaga yang pernah berada di negeri Elindra jangan sampai dicurigai nanti mau memberontak 🤔
👣Sandaria🦋
nanti saat bulan madu kita, aku mau istilahnya meteor madu ya, Om😉🤧
👣Sandaria🦋
apakah ini artinya Om lebih ganteng dibanding Sukrowo, Om?🤔
rajes salam lubis
khawatir boleh,cemas jangan
rajes salam lubis
ok
rajes salam lubis
hahaha
rajes salam lubis
durian goreng???
Om Rudi: hahahahaha bisa dicoba🤣🤣
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
atu aja sayangnya gak abis2 ya om 😍🤩
Om Rudi: betuuuul
total 1 replies
👣Sandaria🦋
kalau pegangan cinta Om "nyawa tidak berharga. selingkuhan harus bahagia"🤧
Om Rudi: setuju sih, tapi....
total 1 replies
👣Sandaria🦋
ada hubungan dengan Sanggana, Om? cerita di sebelah kemarin ya?🤔
Om Rudi: heheheheh iya
total 1 replies
👣Sandaria🦋
valid infonya nih, Om? bukannya menguasai pasukan yg sedang mati di Elindra?🤔
Om Rudi: meragukan, habis yg cerita dia
total 1 replies
👣Sandaria🦋
akrab dengan Om juga perkara membanggakan bagi aku yg hanya perempuan paling cantik nomor 3 sesumatera ini, Om🙄
Om Rudi: Om lupa yg paling cantik pertama sama yg kedua
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!