NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua bulan tanpa suami

Dua bulan berlalu sejak kepergian Renaldi.

"Andira, apa kabar? Aku minta no WA ya,"

pesan singkat masuk ke Messenger Andira.

Pengirimnya Aldi. Teman Facebook-nya sejak lama.

Yang tiap postingan Andira selalu dia like.

Andira baca. Jari tangannya berhenti di atas layar.

"Maaf, lewat sini aja," balas Andira singkat. Dia gak mau kasih nomor.

"Suami kamu udah pergi. Emangnya kamu gak mau buka hati buat yang lain?

Aku kagum sama kamu dari dulu. Istilahnya aku nunggu jandamu,"

balas Aldi. Cepat banget.

"Maaf. Suami aku baru pergi dua bulan.

Gak segampang itu aku buka hati buat laki-laki lain,"

balas Andira cepat. Nadanya nahan.

"Tapi apa salahnya coba dulu? Kita sekota.

Aku jemput kamu ya, kita ke kafe baru di Ujung Jalan Permai itu ya,"

tulis Aldi.

"Maaf, aku gak bisa. Aku butuh waktu. Nanti aja,"

tulis balasan Andira.

"Ya udah, aku gak maksa," balas Aldi.

Abis bales chat itu, Andira tarik napas panjang.

Dia masuk kelas. Lanjut ngajar jam pelajaran berikutnya.

Hari ini dia ngajar full. Guru kelas emang gitu, kecuali ada jam agama atau olahraga.

Pas bel pulang bunyi, Intan jemput Andira.

Selama ini Andira gak bisa bawa motor. Diantar suaminya terus.

Sampe di rumah, Andira sendirian.

Udah lewat 40 hari suaminya. Jadi Lia, suami, sama anak-anak balik ke rumah mereka.

"Kring... kring... kring..."

HP Andira bunyi. Diambilnya dari tas.

Nama yang muncul di Messenger: "Aldi Tampan".

Andira angkat. "Halo, ada apa ya?"

"Hai Andira, kamu udah di rumah ya?" jawab Aldi.

"Iya. Emangnya kenapa?" jawab Andira datar.

"Aku cek aja. Jangan lupa makan ya.

Aku tetep tunggu kabar baik dari kamu," ucap Aldi lagi.

"Hmm," jawab Andira singkat. Langsung dia matiin telpon.

" Aku janda, bukan berarti kesepian.

Kenapa kalian muncul pas aku sendirian?

Emangnya aku janda kesepian apa?"

Andira batin. Dia duduk di kursi teras. Kursi kosong Renaldi di sebelahnya.

*_**_***

Sore jam 6, Andira bergegas ke pusat perbelanjaan terdekat.

Kebutuhan dapur sama mandi udah habis.

Dia pesen ojek online. Selama ini dia emang gak bisa naik motor sendiri.

Sampe di sana, dia mulai beli bumbu dapur, sabun, sampo, pasta gigi.

Pas lagi milih micin di rak, ada suara nyinyir dari belakang.

"Enak ya jalan sendiri. Udah bebas.

Bisa dong ajak cowok lain jalan nanti," sindir Imel.

Andira noleh. "Mbak, apaan sih?"

Imel sama temennya lagi di depan Indomaret itu.

Andira gak merhatiin pas turun dari ojek.

Langsung aja buka pintu, masuk ke dalam.

"Adik aku kan udah pergi. Bagus dong langsung duduk di belakang motor cowok lain.

Enakan, ke mana-mana ada yang anter, nih," sindir Imel lagi.

Senyumnya sinis banget.

Andira narik napas. "Maaf, Mbak. Itu ojek online.

Apa iya aku harus jalan kaki ke sini?"

"Udah berani jawab ya kamu," balas Imel. Matanya melot.

"Bukan gitu, Mbak. Mbak kan tau aku gak bisa bawa motor.

Udah pasti aku harus pake ojek, kan? Apa itu juga salah?

Aku bukan cewek murahan yang suami baru pergi udah jalan sama pria lain, Mbak,"

hardik Andira. Keselnya udah di ubun-ubun.

"Huuu... dasar mandul pembawa sial," sindir Imel.

Langsung jalan ninggalin Andira. Temennya ketawa kecil.

Andira diem. Tangannya ngepal di depan dada.

"Sabar, Ndir. Sabar. Anggap aja ini cobaan," batinnya.

Dia usap dadanya pelan.

Terus dia lanjut milih-milih kebutuhannya.

Abis itu ke kasir buat bayar.

Kasirnya ibu-ibu. "Mbak, totalnya 127 ribu ya."

Andira bayar pake uang tunai. Sisa kembalian dia masukin dompet.

Tangannya masih gemetar.

Pas keluar, ojek online-nya udah nunggu.

Andira naik pelan. Helm dipake.

Di jalan, dia liat Imel masih di depan Indomaret.

Ngobrol sama temennya sambil nunjuk-nunjuk ke arah Andira.

Andira noleh. Senyum tipis. Gak bales.

Dia milih diem. Buat jaga nama baik suaminya.

Sampe rumah, Andira langsung ke dapur.

Bongkar belanjaan. Taruh bumbu ke toples.

HP-nya bunyi lagi. Chat dari Aldi:

"Udah sampe rumah, Ndir? Hati-hati ya. Aku tunggu."

Andira blokir nomor Aldi di Messenger.

Terus dia buka galeri. Liat foto Renaldi terakhir.

Foto pas Renaldi nyuapin dia es krim. Dua bulan lalu.

"Mas, ada yang ngedeketin aku, Mas.

Tapi aku tolak ya. Aku masih istri Mas," bisik Andira ke foto itu.

Malamnya, Andira masak mie rebus pake telur sama sawi.

Lauknya tempe goreng. Sederhana.

Dia makan sendirian di meja makan.

Kursi Renaldi masih di depan. Kosong.

"Mas, mie-nya enak, Mas. Sayang Mas gak ada,"

ucap Andira sambil menyuap mie ke mulutnya. Air matanya jatuh ke mangkok.

HP bunyi "ting". Grup WA sekolah.

Kepala sekolah chat: "Bu Andira, besok upacara ya. Jadi pembina."

Andira bales: "Siap, Pak."

Abis makan, dia nyuci piring. Terus gelar sajadah.

Sholat Isya. Sujudnya lama.

"Ya Allah, dua bulan Mas pergi. Sakitnya masih sama.

Tapi Engkau kasih aku kuat. Kasih aku yang nyindir, tapi juga kasih aku sabar.

Kuatin aku, Ya Allah. Aku janji jaga nama baik suamiku."

Abis sholat, Andira buka diary. Nulis:

"Hari ke-60 Mas pergi.

Hari ini ada Aldi yang ngajak kencan. Aku tolak.

Hari ini Mbak Imel nyindir aku naik ojek. Bilang aku murahan.

Mas, aku capek. Capek dibilang kesepian.

Capek dibilang cepet cari ganti.

Padahal aku cuma mau setia.

Setia sama janji nikah kita.

Setia jagain nama baik Mas.

Mas, aku gak butuh cowok baru.

Aku butuh Mas. Tapi Mas udah di surga.

Jadi aku titip ke Allah ya, Mas. Jagain aku dari sana."

Andira tutup diary. Peluk guling Renaldi.

Wanginya udah pudar. Tapi dia tetep peluk.

Jam 9 malam, Intan telpon.

"Ndir, kamu gak apa-apa? Denger-denger ketemu Mbak Imel di Indomaret?"

Andira senyum. "Gak apa-apa, Ntan. Aku kuat.

Aku cuma beli bumbu. Gak ngapa-ngapain."

"Bagus. Kalo ada yang ngajak kencan, tolak aja ya.

Mas Renaldi pasti cemburu dari surga," goda Intan.

Andira ketawa kecil. Ketawa pertama hari ini.

"Iya, Ntan. Aku setia kok. Setia sampe mati."

Abis telpon, Andira ke teras lagi.

Duduk di kursi Renaldi. Angin malem sepoi-sepoi.

Dari rumah sebelah, kedengeran suara Imel ketawa.

Lagi VC sama temennya. Bahas Andira lagi pasti.

Tapi Andira udah gak peduli.

Dia buka WA. Status Imel terakhir:

"Janda baru 2 bulan udah kelayapan. Kasian almarhum."

Andira screenshot. Terus hapus.

Gak mau jadi bahan pikiran.

Dia buka status WA sendiri. Foto meja makan malam tadi.

Caption: "Makan malam berdua. Aku sama kenangan Mas."

5 menit kemudian, banyak yang liat. Intan, kepala sekolah, temen-temen guru.

Gak ada Imel. Udah diblokir Andira.

Pukul 10, Andira masuk kamar.

Dia ambil mukena. Sholat hajat 2 rakaat.

"Ya Allah, kalo Engkau uji aku lewat laki-laki yang dateng,

kasih aku kuat nolak ya Allah.

Kalo Engkau uji aku lewat omongan orang,

tutup kupingku ya Allah.

Aku cuma mau jadi istri yang setia.

Walaupun suamiku udah gak ada."

Abis salam, Andira tidur.

Kali ini gak peluk guling. Tapi peluk bantal.

Bantal yang dulu dipake Renaldi.

Mimpi dia malem itu: Renaldi dateng.

Pake baju putih. Senyum.

"Sayang, makasih ya udah nolak Aldi.

Makasih udah sabar sama Mbak Imel.

Mas bangga punya istri kayak kamu," ucap Renaldi di mimpi.

Andira nangis di mimpi. "Mas, aku kangen."

Renaldi usap rambutnya. "Mas juga kangen, Sayang.

Tapi Mas gak bisa balik. Jaga diri baik-baik ya.

Kalo ada yang nyakitin, sabar ya. Itu ladang pahala."

Andira bangun jam 4 subuh. Matanya bengkak.

Tapi hatinya anget.

Dia wudhu. Sholat tahajud.

Sujud terakhir dia bisik: "Mas, aku ngerti.

Aku gak kesepian. Aku punya Allah. Aku punya kenangan Mas."

Subuh, adzan berkumandang.

Andira siap-siap ke sekolah. Pake baju guru rapi.

Kerudung segi empat warna krem. Favorit Renaldi.

Sebelum berangkat, dia ke foto Renaldi. Cium kaca.

"Mas, doain aku ya. Biar aku kuat ngadepin hari ini."

Di gerbang sekolah, Intan udah nunggu.

"Ndir, kamu cantik banget pagi ini."

Andira senyum. "Makasih, Ntan. Doain ya, biar aku kuat."

Hari itu Andira jadi pembina upacara.

Suaranya lantang. "Hiduup... tanah airku..."

Pas hormat bendera, dia liat ke langit.

"Mas, liat aku ya. Aku berdiri tegak.

Kayak Mas dulu ngajarin aku."

Abis upacara, ada ibu guru bisik-bisik:

"Kasihan ya Bu Andira, janda muda. Pasti sepi."

Andira denger. Dia noleh, senyum.

"Ibu, saya gak sepi. Saya ditemenin doa suami saya."

Ibu guru itu diem. Mukanya malu.

Pulang sekolah, Andira jalan kaki ke rumah.

Gak mau naik ojek. Takut ketemu Imel lagi.

Di jalan, dia liat anak SD jualan es lilin.

Dia beli 3. Rasa melon, coklat, kacang ijo.

Sampe rumah, dia taruh es di freezer.

"Nanti malem makan es bareng kenangan Mas," batinnya.

Malam itu dia makan es lilin sambil nonton TV.

Acara sinetron sedih. Tapi dia malah ketawa.

"Mas, kalo Mas masih ada, pasti Mas rebutan es sama aku ya?"

ucapnya ke TV yang lagi muter iklan.

HP-nya bunyi. Chat dari nomor baru:

"Bu Guru, saya Aldi. Ini nomor baru saya."

Andira blokir lagi. Tanpa bales.

Dia buka WA grup keluarga. Kosong.

Imel gak update status lagi sejak kemarin.

Katanya HP-nya disita Ikbal karena kebanyakan nyinyir.

Andira senyum. "Mas, Allah Maha Adil ya, Mas."

Sebelum tidur, Andira tulis lagi di diary:

"Mas, dua bulan tanpa Mas, aku belajar 3 hal:

Janda bukan berarti butuh ganti.

Sindiran orang gak akan matiin aku.

Cinta Mas cukup buat aku hidup 60 hari.

Mudah-mudahan cukup sampe 60 tahun."

Andira tutup diary. Peluk erat.

Terus tidur. Kali ini tanpa air mata.

Karena dia tau:

Dua bulan itu lama. Tapi cinta 6 tahun lebih lama.

Dan cinta itu yang jagain dia dari Aldi, dari Imel, dari dunia.

Mas Renaldi udah pergi.

Tapi ajarannya masih tinggal: Sabar. Setia. Kuat.

Dan Andira pegang itu erat-erat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!