Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. SBR
...~•Happy Reading•~...
Setelah berbicara dan mendapat pengarahan dari Andri, Janet menerima jabatan sebagai sekretaris CEO.
Pekerjaannya sehari-hari menyediakan keperluan Gevaro dan Jensen. Seperti kopi, foto copy, print, dan lainnya, hampir sama sebagai office girl.
Namun karyawan lain tidak tahu yang pekerjaan itu, karena dia kadang disertakan sebagai sekretaris CEO. Jensen memberi tugas baru dengan mendampinginya dan Gevaro menghadiri pertemuan bisnis.
Jansen minta dia merekam pembicaraan, sedangkan yang lain dikerjakan sendiri. Semua dilakukan Jensen atas perintah Gevaro, agar Janet bisa terbuka wawasan dan mengupdate pengetahuannya secara perlahan.
Di rumah dia diajarkan cara mengoperasikan komputer, sehingga dari hari ke hari pengetahuannya terus bertumbuh. Begitu juga dengan cara berbicara dan bersikap terhadap para pejabat yang datang menemui CEO.
Semuanya dipelajari dengan tekun oleh Janet. Sikap Jensen membuat dia tidak malu bertanya tentang sesuatu yang tidak diketahui. Begitu juga dengan Gevaro, yang memberi saran tanpa diminta.
Janet jadi tenang belajar dan bekerja karena sikap Gevaro yang tidak merendahkan bahkan menyediakan perangkat tambahan untuk menunjang pekerjaannya, termasuk menggantikan komputer dengan laptop. Sehingga ketika mendampingi Gevaro dan Jensen, dia terlihat seperti sekretaris profesional.
Setelah mulai terbiasa sebagai sekretaris, kadang Andri membawanya untuk membeli outfit yang cocok. "Mas, gak usah terlalu berubah. Nanti ada yang bicara aku di belakang. Mentang-mentang..."
"Jangan pikirkan omongan orang. Apa dengan penampilanmu seperti bekerja di office girl, gak ada yang ngomongin di belakang juga?"
"Iya, juga, sih." Janet mengakui. Akhirnya secara perlahan penampilannya berubah. Dia terlihat seperti wanita karier. Bahkan Asyer tidak henti-henti memujinya cantik saat akan berangkat ke kantor.
Para karyawan yang sebelumnya berbicara negatif tentang pengangkatannya dari office girl menjadi sekretaris mulai mundur secara teratur. Tidak ada lagi yang berani menatap sinis saat melihatnya.
Penampilannya mulai berubah ketika berjalan bersama Jensen di belakang Gevaro saat mendampinginya ke berbagai tempat pertemuan bisnis.
~▪︎▪︎
Hari ini sudah hampir satu bulan bekerja sebagai sekretaris CEO. Janet tiba di kantor dan langsung menuju ruang kerja dengan menggunakan lift khusus bagi pejabat perusahaan.
Ketika tiba di ruangan, dia menerima pesan dari Jensen bahwa mereka masuk kantor agak siang dan beberapa schedule yang sudah diatur sebelumnya dimundurkan dan ada yang dibatalkan.
Janet jadi tenang dan santai melangkah ke pantry untuk membuat minuman. "Siapa yang datang ini? Selamat pagi Nonya." Sapa Reni yang sedang memeriksa kondisi pantry.
"Selamat pagi, Nonya. Belakangan ini kemana saja? Aku sering ke sini bikin minum buat boss, tapi gak ketemu." Ucap Janet sambil membuat minuman buat mereka berdua.
"Makasih ya, Jan." Reni memeluk erat Janet, hingga membuatnya terkejut.
"Ada apa, sih?" Janet penasaran dan mendorong tubuh Reni.
"Aku diangkat ganti Nonya." Bisik Reni.
"Benarkah?" Janet terkejut. "Selamat Ren. Banyak selamat buatmu." Janet memeluk Reni. Mereka saling berpelukan dan melompat girang seperti anak remaja.
"Jangan berpura-pura tidak tahu. Kau yang merekomendasi aku, kan?" Reni melepaskan pelukan dan menepuk lengan Janet
Janet ingat yang ditanyakan oleh Jansen tentang karyawan yang dia kenal baik dan di percaya di pantry. 'Oh, itu'kah maksud Pak Jensen menanyakan itu?' Janet ingat jawabannya adalah Reni dan Hanun.
"Bukan pura-pura, Ren. Itu karna kau bekerja sangat baik." Bisik Janet dengan hati riang. "Tuhan selalu punya tangga ajaib buat naik, bagi orang baik yang bekerja sepenuh hati.' Bisik Janet lagi, ingat yang dikatakan Andri padanya.
"Alhamdullilah... Aku sampe kaget waktu dipanggil personalia..." Reni menceritakan pertemuannya dengan Kabag personalia.
"Puji Tuhan. Kita dipercaya untuk bekerja seperti ini. Semangat ya, Ren. Mari kita minum. Nanti kita ngobrol lagi." Janet ingat pekerjaannya, sebelum pimpinannya masuk kerja.
Tidak lama kemudian, Janet berjalan kembali ke ruang kerja dengan hati berbunga-bunga mengetahui Reni telah diangkat menggantikan Bu Letti. 'Ternyata Pak Jensen lakukan tanpa bilang apa-apa padaku.' Janet mulai mengerti situasi.
'Devan, aku tidak akan marah lagi padamu. Kau sudah jadi orang baik, mau mengangkat teman baikku.' Bisik hati Janet yang sangat bahagia mengetahui Reni juga dipromosikan.
Dia membuka laptop untuk memeriksa kembali schedule pimpinan dengan hati senang. Dia jadi semangat belajar untuk lakukan yang terbaik dan hindari kesalahan yang akan mengecewakan Jensen dan Gevaro.
"Janet, apa yang kau tonton? Mengapa tersenyum sendiri?" Sontak Janet berdiri, karena tidak tahu Gevaro dan Jensen membuka pintu kaca.
"Oh, bapak-bapak. Saya sedang lihat schedule yang dikirim Pak Jensen, Pak."
"Schedule apa yang bisa membuatmu tersenyum seperti itu?" Gevaro jadi masuk untuk melihat layar laptop Janet.
"Oh, lagi senang kerja saja, Pak. Bukan karna schedule." Janet jadi kikuk, karena dia membuka laptop, tapi pikirannya pada kebahagiaan Reni.
"Pak, mau makan sesuatu?" Janet mengalihkan.
"Makan?" Gevaro heran dengan tawaran Janet yang belum pernah didengar. "Minum saja, seperti biasa." Ucap Gevaro lalu meninggalkan Janet yang masih tersenyum senang.
Janet mengambil cangkir dan kopi instan yang sudah di letakan dalam laci lemari dalam ruang kerjanya. Jadi dia tidak perlu masuk ke ruang kerja pimpinan untuk mengambil seperti sebelumnya.
Ketika tiba di Pantry, dia melihat Hanun sedang mengepel. "Hanun, belum selesai, ya."
"Sebentar, Jan. Tunggu kering. Ini ada karyawan yang tumpahin minuman. Kau tahu sendiri Reni kalau lihat lantai gak bersih." Ucap Hanun sambil meletakan kain pel.
"Maklumlah, Nun. Reni lahir langsung dibersihkan." Ucap Janet sambil tersenyum.
"Semua orok lahir, langsung dibersihkan. Ckckck... Kau dan Reni sama saja." Hanun membalas sambil mengipasi lantai. "Eh, aku salah ya. Aduuu, Bu sekretaris, lupa."
"Kau itu. Sana, pindah." Janet meminta Hanun pindah.
"Aku senang melihat kalian berdua. Tetap menginjak bumi walau sudah diangkat tinggi ke awan-awan." Hanun memuji Janet dan Reni yang tetap rendah hati.
Setelah membuat kopi, Janet berjalan cepat ke ruang kerja bossnya, karena terlalu lama di pantry bersama Hanun. Setelah menghembuskan nafas kuat, dia mengetuk pintu.
Jensen membuka pintu untuknya. "Maaf, Pak. Sedikit macet di pantry..." Ucap Janet sambil melangkah masuk.
"Kau bikin apa di sini?" Tiba-tiba sebuah suara menegurnya. Sontak Janet menengok ke arah sumber suara. Maka terdengar 'praaang'. Nampan berisi cangkir kopi di tangan Janet jatuh ke lantai. Dia melihat dua pria serupa di dalam ruangan bergantian dengan mata terbelalak.
"Devan, kau mengenalnya?" Tanya Gevaro sambil memberi isyarat kepada Jensen untuk menarik Janet dari genangan kopi dan pecahan cangkir.
"Tidak." Jawab Devan singkat tanpa melihat Janet yang sedang melihatnya dan Gevaro bergantian.
Janet menyingkirkan tangan Jensen dari lengannya. Tatapannya setajam pisau dapur yang baru diasa, saat mendengar Gevaro menyebut Devan.
"Kau bilang tidak mengenalku? Lalu mengapa bertanya, aku bikin apa di sini baji...." Janet tidak meneruskan umpatannya saat melihat gerakan tangan Gevaro, agar Jensen menghentikan dia.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○♡○▪︎~...