kisah seorang zahra alexander ketua mafia terkuat di dunia pada abad 21 meninggal dunia karena tidak sengaja menembak dirinya sendiri. bukannya meninggal dia malah nyasar di tubuh seorang putri tertua di kerajaan martanesia yang terkenal akan kebodohan nya dan selalu di buly karena rumor bahwa ia adalah putri dengan wajah mengerikan dan jelek hanya karena putri zahra martanesia selalu memakai topeng.
Menurut zahra dunia kerajaan ini sangat aneh dimana di dunia ini kebalikan. Jika wanita tampan maka lelaki adalah kebalikannya yaitu cantik. jika wanita berkuasa dan selalu di hormati maka lelaki didunia kerajaan itu adalah pemuas nafsu sang wanita.
zahra pun bertekad untuk merubah rumor di mata rakyat dan menjadi ratu dengan banyak lelaki cantik dan imut.
bisakah zahra melakukannya?
selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dayuevalestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 30
Di bawah sinar bulan, terlihat sepasang manusia berbeda gender yang sedang duduk menikmati malam di taman indah dan hijau. Salah, si laki-laki tidur di pangkuan sang perempuan sedangkan sang perempuan mengelus rambut laki-laki itu dengan lembut.
"Wan..apa kamu jangan cemburu seperti itu kepada neza ya? Anggaplah neza sebagai saudaramu" ucap Zahra menunduk menatap wan dengan tersenyum lembut dan tangannya tidak berhenti mengelus rambut wan.
Wan menatap Zahra dengan wajah sendu "saya tidak yakin yang mulia, saya tidak yakin aki aki itu akan menjadi saudara saya" Ucap wan lirih, 'enak aja tu aki-aki jadi saudara, idih tukang drama keliling' batin wan kesal mengingat bagaimana drama neza yang membuatnya sakit hati begini.
Zahra mendengar ucapan wan tetap mempertahankan senyumannya "wan kalau kamu terus membenci neza, kamu tidak akan tenang dan hati kamu akan gelap penuh dengan rasa kebencian. Itu tidak baik untuk masa depan kamu" Jelas Zahra
Wan terdiam, apa ia salah membenci neza? Bukan ia tidak membencinya hanya tidak suka. ia sangat tidak suka dengan sifat neza yang pasti akan terus merebut perhatian Zahra kelak.
Wan bangun dari posisi berbaring nya lalu duduk menghadap ke Zahra "wan tidak membenci neza, hanya tidak suka dengan sifatnya" ucap wan cemberut
Zahra terkekeh gemas, tangannya terulur mencubit pipi wan dengan pelan "memang bagaimana sifat neza hmm?" Tanya Zahra mengelus pipi wan dengan lembut.
Wan berusaha menahan rasa malunya "aki aki itu tukang drama keliling, wan tidak suka..memangnya berapa si bayaran jadi tukang drama keliling" Jelas wan dengan kesal bahkan ekspresi nya semakin cemberut memalingkan wajahnya.
Zahra melongo, bahkan tangannya berhenti mengelus pipi wan.
Sementara Rober sudah tertawa terbahak-bahak. Tidak di sangka seniornya di sebut tukang drama keliling tapi itu pantas si.
Zahra mengabaikan suara tawa Rober yang begitu nyaring di dengar.
"Wan tidak boleh seperti itu, kamu harus bisa menghormati neza oke?" Ucap Zahra lembut berusaha memberi pengertian kepada wan. Bukan ia membela neza, memang benar jika neza pantas di sebut sebagai tukang drama keliling, ia tidak bisa mengelaknya. Hanya saja ia tidak ingin nanti ketika keduanya menjadi suaminya, hari harinya akan penuh drama dan membuat telinganya pengeng.
Wan tiba- tiba menjadi kesal dan emosi "jadi yang mulia membelanya?! Apa karena wan cuma pelayan?! Kalau begitu seharusnya yang mulia tidak memperlakukan wan dengan lembut dari awal" teriak wan lalu pergi begitu saja tanpa peduli dengan Zahra yang terus memanggilnya.
Zahra menatap punggung wan yang sudah menghilang "hah" Zahra menghela nafas pasrah dengan wan yang ngambek dan marah padanya.
'Nah ayoloh tuan, wan ngambek dan marah kepada anda' ucap Rober menggoda nonanya lalu tertawa dengan keras.
Zahra hanya menatap datar sekitar "CK...punya Harem satu ini cemburuan sekali dan ngambekan. Kalau tidak menarik aku buang ke danau" desis Zahra dingin, ia sedikit malas melayani sifat wan.
'maklum tuan namanya juga sedang jatuh cinta pastilah sifat manjanya keluar menunjukkan kepada anda' ucap Rober santai, ia tidak salahkan? Ketika seseorang jatuh cinta pasti akan mengeluarkan sifat manjanya dan bermanja kepada orang yang ia cintai.
Zahra tidak menjawab namun ia membenarkan ucapan Rober mengingat di kehidupan sebelumnya ia melihat teman yang selalu bersikap kasar, Badas, bar bar, dan suara cempreng tiba-tiba berbicara dengan suara yang di imut-imutkan untuk laki-laki tercintanya. Jujur saja ia risih dan geli mendengar suaranya meskipun suara itu tidak di tujukan untuknya tetap saja geli tapi ia tidak pernah protes karena malas berdebat. Lagipula ia merasakannya sekarang, si Edgar belum terlihat sifat manjanya, kenza si ceria belum terlihat juga, wan sudah mulai terlihat walaupun sedikit ngambekan tapi tak apalah, si neza drama nya doang yang manja.
"Yang mulia putri Zahra" Zahra yang sedang asik melamu menatap lurus memikirkan bagaimana sifat keempat haremnya terkejut mendengar suara lembut membuatnya refleks menoleh. Ia dapat melihat laki-laki yang mengaku sebagai sepupu Edgar yang sedang tersenyum ceria kepadanya.
"Kenza?"
Kenza yang mendengar ucapan Zahra semakin melebarkan senyumnya "anda mengingat saya yang mulia? Saya pikir anda akan melupakan saya begitu saja setelah pertemuan itu "ucap kenza senang, kakinya melangkah mendekat ke Zahra lalu duduk di samping Zahra.
Zahra menatap kenza yang tersenyum lebar kepadanya "bagaimana mungkin aku melupakan selirku ini hmm? " Goda Zahra menaik turunkan alisnya menggoda kenza.
Kenza bukannya malu atau salting malah tertawa kecil "saya kira anda tidak serius dengan ucapan anda yang mulia"
"Aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku, dan kamu berhentilah berbicara formal kepadaku" ucap Zahra lembut.
Kenza tersenyum "baiklah yang mulia, sesuai permintaan mu nonaku"
Zahra terkekeh geli mendengar kenza memanggilnya "nona" Berasa mendengar Rober memanggilnya.
"Kenapa keluar malam-malam begini kenza? " Tanya Zahra menatap bulan purnama yang begitu cantik dan indah.
"Aku hanya ingin mencari udara segar dan kebetulan aku melihatmu"
Zahra hanya menganggukkan kepalanya masih menatap bulan. Hening beberapa saat
"Kenza" Zahra menatap pemuda di sampingnya yang begitu indah dan menawan apalagi senyumnya yang selalu terpatri di wajahnya.
"Ya? "
"Bagaimana menurutmu jika aku memiliki selir lebih dari satu? " Ucap Zahra serius, kali ini ia akan meminta pendapat kenza yang pertama menawarkan diri sebagai selir.
Kenza terdiam, namun kemudian tersenyum lembut menatap wajah yang di tutupi topeng "sebenarnya itu wajar saja, kamu akan menjadi ratu dan kamu harus mempunyai selir maximal 10 dan minimal 3 serta 1 suami sah" Jelas kenza lembut, ia paham bagaimana kehidupan ratu kerajaan karena ia sudah di ajarkan di sekolahnya dulu tentang aturan kerajaan.
"Apa kamu akan cemburu jika aku lebih perhatian kepada suami yang lain? "
"Sebenarnya cemburu itu wajar saja, sebagai laki-laki yang mencintai ratunya pasti akan sakit hati dan cemburu melihat ratu yang ia cintai lebih mencintai suami yang lain ketimbang dirinya " Ucap kenza tersenyum pengertian, ia ngerti bagaimana perasaan para selir yang selalu merasa disisihkan, itu terasa sakit pasti namun tidak bisa berbuat apa-apa karena itu sudah takdir dan kehendak orang yang ia cintai. "Tapi jika kamu menjadi ratu yang adil kepada semua suamimu rasa sakit,cemburu di hati mereka pasti tidak akan terjadi. Kamu harus mencintai semuanya, semua suamimu tanpa terkecuali"
Zahra tersenyum lembut, selirnya satu ini sangat pengertian sekali "kamu memang benar kenza, kelak kau akan menjadi selirku dan aku akan berusaha untuk berlaku adil kepadamu dan yang lain" ucap Zahra mengecup kening kenza dengan lembut.
"Sudah, mari kita kembali ke kediaman. Ini sudah larut dan dingin, tidak baik untuk kesehatanmu " ucap Zahra menggenggam tangan kenza menariknya menuju ke kediaman.