NovelToon NovelToon
Luka Tak Terlihat

Luka Tak Terlihat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga)
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: Illana Clr

Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.

Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan Yang Dirindukan

Mereka mampir ke kafe di seberang sekolah.

Cia asyik main di playground dalam kafe. Sementara Alana dan Rafa duduk berhadapan. Di depan mereka ada dua gelas es kopi yang belum disentuh.

Alana membuka suara duluan.

“Rafa... terima kasih. Kamu udah bikin Cia senyum hari ini.”

Rafa tersenyum kecil. “Sama-sama.”

“Awalnya aku nggak tau itu Cia,” lanjut Rafa. “Cuma guru di sampingku nyebut nama Cia. Baru aku ngeh.”

Alana menunduk. “Aku masih ngerasa bersalah sama Cia.”

“Aku nggak tau sehancur apa perasaan kamu tiap hari,” kata Rafa pelan. “Tapi kamu denger kan tadi? Kamu mama terhebat buat Cia.”

Alana tersenyum getir. “Makasih ya...”

Lalu ia mengangkat wajah. “Eh tapi... kok kamu bisa tiba-tiba muncul?”

Rafa garuk belakang kepalanya, agak canggung.

“Ah itu? Kebetulan perusahaan aku salah satu donatur beasiswa di sekolah ini. Ya... bantu sebisanya buat anak-anak yang kurang mampu.”

“Oh... kamu penyalur beasiswa.” Alana mengangguk.

“Semoga kebaikan kamu dibalas dengan kebaikan yang lebih besar dari yang kamu lakukan.”

“Amiiin. Makasih doanya.”

Rafa menyeruput kopinya. “Kamu sibuk apa sekarang? Masih nulis? Atau udah bisnis?”

“Aku masih nulis. Sambil belajar buka bisnis kecil-kecilan.”

Rafa mengangguk, kagum. “Hebat.”

Hening sebentar.

“Papa kandung Cia... masih ngabarin? Atau...”

Alana menggeleng. “Nggak. Aku nggak tau dia inget punya anak apa nggak. Tapi yaudah. Aku cuma berharap Cia bisa kuat dan tumbuh baik, meski tanpa sosok ayah.”

Rafa terdiam. Menatap Alana yang menunduk. Air matanya hampir tumpah.

Alana buru-buru mengalihkan. “Oh ya, kamu pulang dari luar negeri kapan? Tiba-tiba muncul gini rasanya aneh.”

Rafa menatapnya. “Udah 3 minggu aku di Indo. Dan aku... nyariin kamu. Nyariin Cia.”

Alana tersentak. Gugup. “Kenapa?”

Rafa belum sempat jawab.

Cia tiba-tiba lari menghampiri.

“Cia takut. Temenin main itu, Pa...”

Mata Rafa langsung melunak. “Cia takut? Masa anak papa takut. Ayo papa temenin.”

Ia menoleh ke Alana sekilas. “Bentar ya.”

Lalu Rafa bangkit, menggandeng tangan Cia ke playground.

Tinggal Alana. Duduk sendiri.

Dengan dada yang rasanya sesak karena satu kalimat:

_"Aku nyariin kamu. Nyariin Cia."_

 

Cia dan Rafa puas main di playground kafe. Ketawanya sampai keluar aula kafe.

Matahari udah mulai turun.

Alana melirik jam. “Sayang, pulang yuk. Udah mau malem.”

Cia menggeleng. Memeluk tangan Rafa.

“Cia mau sama papa pulangnya.”

Alana gugup. “Sayang, papa harus kerja...”

Rafa menatap Alana, lalu ke Cia. “Papa anter pulang ya? Cia mau?”

Cia langsung manggut semangat. “Iya mau! Ayo Pa, cepetan jalannya.”

Akhirnya bertiga di dalam satu mobil.

Hening. Cuma ada suara lagu dari radio pelan.

Tiba-tiba dari jok belakang, suara kecil Cia pecah.

“Papa...”

Rafa nengok lewat kaca spion. “Iya sayang?”

“Papa kok gak pernah pulang ke rumah? Kenapa?

Papa temen-temen Cia di rumah sama mama papanya.

Tapi kok papa enggak?”

Dada Alana langsung mencelos.

“Sayang... nanti aja bahasnya ya,” ucap Alana cepat. Suaranya dipaksa tenang.

“Biarin papa fokus nyetir. Nanti mama jelasin, janji.”

Rafa diam. Tangan yang megang setir mengencang.

Ia melirik Alana sekilas. Di mata Rafa ada bingung, ada sakit, ada... rasa bersalah yang bukan miliknya.

Cia diem. Menatap jendela.

Mungkin dia ngerasa pertanyaannya salah.

Mobil lanjut jalan.

Tapi suasana di dalamnya... berat.

 

Sampai di apartemen, Cia langsung nungguin Rafa turun dari mobil.

Alana membuka pintu mobil. “Cia, ayo sayang.”

Cia malah noleh ke Rafa. “Pa, ayo.”

Dada Alana sesak.

Rafa turun, menggendong Cia yang mungil. Menggendong kerinduan yang selama ini nggak pernah digendong siapa-siapa.

Di dalam apartemen, Cia langsung lari ke kamar ganti baju. Keluar lagi wangi, rambut disisir rapi.

Langsung nyamperin Rafa.

“Papa....”

Rafa nyubit pipinya gemes. “Udah wangi lagi aja anak cantik ini.”

“Ia dong. Kan anak papa harus wangi.”

Alana datang bawa nampan. Isinya air putih, buah potong, sama puding coklat kesukaan Cia.

“Cia, boleh duduk dulu sebentar?”

Cia langsung duduk rapi di sofa. Nungguin.

Alana menarik napas. Ini saatnya.

“Cia... ini namanya Om Rafa. Dia bukan papa Cia.”

Senyum di wajah Cia langsung hilang. Seketika.

Matanya kedip beberapa kali, kayak belum paham.

Rafa yang lihat raut Cia berubah, dadanya kayak ditusuk ribuan jarum.

Alana melanjutkan, suaranya pelan.

“Papa Cia namanya Johan. Tapi... papa Johan belum sempet nemuin Cia. Papa Johan sibuk kerja, sayang.”

Hening.

Cia menunduk. Mainin ujung bajunya.

Lalu lirih banget, “Jadi... Cia nggak punya papa?

Yang dibilang temen-temen di sekolah bener dong. Cia nggak punya papa.”

Alana langsung menahan tangis.

Rafa mengepalkan tangannya di atas lutut. Nggak bisa ngomong.

“Cia nggak mau sekolah lagi kalo gitu!

Cia malu nggak punya papa!”

Brak.

Cia lari ke kamar. Pintu dibanting. Disusul suara tangisnya yang makin kencang.

Alana langsung nyusul. Mengetuk pintu berkali-kali.

“Cia... buka pintunya Nak. Denger mama...”

Nggak ada jawaban. Cuma tangis.

Alana nggak kuat lagi. Lututnya lemas. Ia duduk di depan pintu kamar, dan akhirnya pecah juga.

Tangis yang ia tahan 8 tahun.

Rafa refleks mendekat. Memeluk Alana. Erat.

Memeluk perempuan yang selama ini nahan semuanya sendirian.

Nggak ada kata. Cuma pelukan.

Sampai tangis Alana pelan-pelan reda.

Rafa melepas pelukannya perlahan. Menatap mata Alana yang bengkak.

“Alana...” suaranya serak.

“Aku tau ini bukan waktu yang tepat. Tapi kamu inget kan tadi aku sempet bilang, aku nyariin kamu dan Cia?”

Alana mengangguk pelan.

“Aku mau jadi papa untuk Cia,” lanjut Rafa. “Aku mau lanjutin tugas Johan. Jadi suami yang baik buat kamu. Jadi papa yang baik buat Cia.”

Alana tersentak. Menggeleng. “Rafa...”

“Aku tau ini terlalu cepat,” potong Rafa cepat. Matanya memohon.

“Tapi aku mendem ini udah lama, Alana. Tolong... kasih aku kesempatan.”

Di dalam kamar, tangis Cia masih terdengar.

Di luar kamar, ada dua orang dewasa yang sama-sama hancur... dan sama-sama mau saling menyembuhkan

 

Alana menggeleng. Air matanya masih jatuh.

“Ini bakalan bikin Cia tambah bingung, Rafa.”

Rafa mengusap lengan Alana pelan. Menenangkan.

“Alana... denger aku.”

“Justru yang lebih bingung dan menyakitkan itu hidup tanpa seorang ayah. Kamu tiap hari liat itu. Aku tiap hari kebayang itu.”

Ia menarik napas.

“Percaya sama aku. Aku nggak akan nyakitin kalian. Nggak akan pernah.”

Rafa jongkok di depan Alana. Setara.

“Seenggaknya kasih aku waktu buat buktiin semuanya.”

Suaranya pecah.

“Aku suka kamu sejak Cia manggil aku ‘papa’ dulu di taman saat Cia belajar berjalan.

Dan panggilan itu... itu panggilan yang aku pengen denger dari alm. anakku.”

Alana langsung menutup mulutnya. Kaget.

Rafa melanjutkan, lirih.

“Tolong, kasih aku kesempatan buat bener-bener menyayangi kamu dan Cia. Biar aku nggak kehilangan keluarga untuk kedua kalinya.”

"Kasih aku waktu buat mikirin semuanya. Aku gak bisa jawab sekarang" Ucap Alana lirih namun tegas.

"Aku tunggu jawaban kamu Alana, aku tunggu kabar baiknya". Rafa memegang tangan Alana lembut penuh permohonan

Dari dalam kamar, tangis Cia masih terdengar.

Tapi di luar kamar, ada seorang laki-laki yang menawarkan rumah.

Dan ada seorang perempuan yang takut kalau rumah itu roboh lagi.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!