"Apakah aku akan tetap seperti ini? Jika saja dulu aku tidak mengajaknya masuk kedalam rumah ini, mungkin ini tidak akan terjadi. Menyesal pun aku sudah tidak bisa" (Nara 25th)
"Maafkan aku mencintaimu dan juga dia. Jangan memintaku untuk memilih. Karena kalian adalah pilihanku" (Kendra 26th)
"Aku tau aku salah. Maafkan aku. Tapi, cinta ini telah tumbuh. Aku ingin pergi jauh dari kehidupan kalian. Apakah aku bisa?" ( Yuna 25th)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhifa Syafana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pernikahan Julian
Hari demi hari Nara lalui dengan senyuman. Dia bahkan lebih berani mengeluarkan pendapat dibanding Nara yang dulu. Julian sudah mempublikasikan hubungan mereka dan mengumumkan pernikahan keduanya yang akan dilangsungkan bulan depan. Julian sudah tidak mengijinkan Nara bekerja setelah kecelakaan itu. Hari ini, setelah selesai kontrol, Nara mengunjungi Julian dikantornya bersama Kean. Dia sudah bisa kembali berjalan meskipun masih menggunakan alat bantu.
Nara merasa canggung dengan sambutan yang diberikan oleh para karyawan Julian. Dia berjalan dengan menundukkan kepala karena malu. Kaki terhenti saat lift itu terbuka di mana ruangan Julian berada. Sebelum masuk kedalam ruangan Julian, dia akan melewati ruang kerjanya dulu bersama teman-teman yang selalu ada untuknya.
"Kean, bunda mau bertemu teman-teman bunda dulu," Nara berjongkok untuk menyamai tinggi Keanu saat meminta ijin.
"Baik bunda, Kean akan keruangan ayah dulu. Bunda jangan lama-lama ya," Nara mengangguk. Dia mengantarkan Kean hingga ke depan pintu ruangan Julian. Memastikan bocah itu sudah masuk, dia segera berbalik dan mengetuk pintu ruangan kerjanya dulu sebelum masuk.
"Selamat siang," sapa Nara membuat kehebohan di ruangan itu.
"Inaraa. My baby!" Teriakan bersahutan dari teman-teman lamanya. Mereka memeluk Nara bergantian. Hanya dua orang baru saja yang diam menjadi penonton karena tidak mengenal Nara.
"Apa kabar kalian semua? Masih pada waras kan?" Dia tertawa setelah mengucapkan itu.
"Masih tetap waras dikit," jawaban Yudha kembali mengundang tawa. Mereka mengajak Nara duduk disalah satu kursi. Karena di ruangan itu tidak ada sofa untuk tamu.
"Ra, kaki kamu gimana? Maaf kami tidak menjenguk kamu di apartemen, kan lo gak pernah ngasih tau alamat apartemen lo. Kita kerumah sakit, perawat bilang lo udah pulang. Mau tanya pak bos, gak ada yang berani," Jessi menjelaskan kepada Nara.
"Iya bener, apalagi waktu itu pak bos masih ribet sama si Mak lampir. Bapaknya Mak lampir datang kemari gak terima anaknya dilaporkan ke polisi. Mereka bilang itu cuma fitnah," Yudha semangat mengatakan hal-hal yang tidak Nara ketahui.
"Iyakah? Ribut dong disini?" Mereka kompak menganggukkan kepalanya.
"Ribut besar, pak bos semakin marah dengar bapaknya si Mak lampir ngatain lo perusak hubungan orang. Pokoknya terlalu ribet. Terus ya udah, kita jadi lupa mau tanya alamat rumah lo. Sorry ya beib," Mela memeluk tubuh Nara meminta maaf.
"Gapapa kok. Penting sekarang gue sudah sehat-sehat dan baik-baik saja." Dia merasakan ponselnya bergetar. Sudah pasti itu Julian. Nara berdiri dan berpamitan kepada sahabat-sahabatnya itu.
"Gess gue ke ruangan sebelah dulu ya. Lain kali kita kumpul lagi. Main-main ke rumah gue dong. Nanti gue kirim alamat," Jessi membantu Nara berdiri perlahan.
"Kita canggung sama pak bos kalau main tempat lo," mereka berjalan mengantarkan Nara hingga ke pintu.
"Tidak apa-apa. Sebelum gue nikah, kita gak serumah dan pastinya kalian gak akan ketemu," Nara menjelaskan kepada teman-temannya.
"Oh iya benar juga. Ya udah nanti kita atur waktu. Lo kirim aja alamat apartemen," Nara mengangguk. Setelah berpelukan dengan teman-temannya, dia berjalanan menuju ruangan Julian. Asisten Julian sudah berganti seorang wanita muda. Sepupu sekaligus asisten lamanya mengurus usahanya sendiri.
"Selamat siang bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanya asisten baru Julian. Karena dia memang belum pernah mengenal Nara.
"Saya ingin bertemu pak Julian, apakah beliau ada?" Nara tetap menghormati pegawai Julian.
"Maaf apa ibu sudah memiliki janji sebelumnya?" Nara tersenyum sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Belum, saya belum membuat janji sebelumnya. Apakah masih bisa bertemu dengan beliau?" Nara tidak bermaksud mengerjai, dia paham jika wanita itu sedang menjalankan pekerjaan sesuai prosedur.
"Tunggu sebentar ya Bu. Saya tanyakan kepada bapak terlebih dahulu. Maaf dengan ibu siapa?" Nara mengangguk dan masih berdiri menunggu.
"Inara Ayunda," jawabnya singkat dan tetap menunggu pegawai itu menyelesaikan pekerjaannya. Tidak lama pintu ruangan itu terbuka. Menampakkan wajah Julian yang kesal.
"Kenapa gak langsung masuk saja Bun?" Pertanyaan Julian membuat pegawai itu terkejut.
"Kan sesuai prosedur pak," jawabnya sambil terkekeh.
"Ck, ayo masuk." Dia merangkul pinggang Nara dan menuntunnya perlahan.
"Dara, besok lagi kalau perempuan cantik ini datang mencari saya, suruh masuk saja. Dia calon istri saya," Nara sedikit menunduk dan tersenyum menyapa Dara.
"Maafkan saya nyonya, saya belum mengenal anda," Dara merasa sangat bersalah atas sikapnya.
"Tidak apa-apa. Saya tahu anda hanya menjalankan pekerjaan dengan baik," Nara menghentikan langkahnya sebentar menjawab Dara. Julian segera membawa masuk Nara dan menutup rapat pintu ruangannya.
"Lama banget sih Bun. Main kemana saja?" Wajah Julian cemberut membuat Nara tertawa.
"Cuma di ruangan sebelah saja kok. Gak kemana-mana," perlahan Julian membantunya duduk di sofa.
"Kean kemana mas, kok gak kelihatan?" Nara sedikit panik menyadari Keanu tidak ada di ruangan itu.
"Dia tidur dikamar. Mungkin kecapekan dia Bun," Julian menunjuk satu pintu di dalam ruangan itu.
"Iya, tadi di mobil juga mengeluh ngantuk. Mau aku ajak pulang gak mau, dia minta ke sini." Nara menjelaskan kondisi Kean tadi saat datang.
"Ya sudah biarkan dia istirahat, jadi kita bisa pacaran." Nara kembali tertawa mendengar ucapan Julian.
"Memangnya pekerjaan kamu sudah selesai mas?"Julian menggeleng. Dia merebahkan tubuh dan menaruh kepalanya diatas paha Nara.
"Mas pingin istirahat bentar sayang. Hari ini cukup melelahkan," Julian mulai memejamkan matanya karena rasa lelah.
"Kenapa tuan tidur dengan Kean saja mas. Disini nanti badan kamu pegal," Julian tidak menggubris perkataan Nara dan memutar tubuhnya agar bisa memeluk perut Nara.
"Gak ada kamu, aku mau di sini saja seperti ini. Kalau di sana bocil menyebalkan itu akan menguasai tempat tidur." Ocehan Julian membuat Nara tertawa.
"Ya sudah, senyaman kamu saja mas." Nara membiarkan pria itu terlelap dalam pangkuannya. Dia mengusap dan sedikit memberikan pijatan di kepala Julian. Ponsel Nara kembali bergetar. Dia mengambil dari dalam tas dan memeriksanya.
Mama Indi
"Apa kabar nak? Kami berdoa kamu tetap selalu sehat sayang. Mama rindu putri mama. Oya, mama sudah melihat berita pernikahan kamu nanti. Mama dan papa ingin sekali hadir, sayangnya itu tidak akan mungkin terjadi. Kami berdoa semoga semua lancar. Mama yakin Julian pria yang tepat untukmu Nara. Kami berdoa untuk kebahagiaan kalian. Semoga acara kalian nanti lancar. Kami menunggumu untuk pulang nak. Semoga kita nanti bisa kembali berkumpul dalam keadaan lebih baik. Jaga kesehatan selalu, jangan begadang terus. Mama dan papa menyayangi kamu sayang."
Nara diam dan kembali membaca pesan itu perlahan. Dia pun merasakan rindu yang sama. Bisa saja dia datang mengunjungi kedua orang tua angkatnya itu, namun hatinya masih enggan.
"Nara sehat mah. Mama dan papa juga baik-baik saja kan?. Nara malah belum tahu jika berita pernikahan kami sudah tersebar. Doakan kami selalu ya mah. Tunggu Nara pulang. Kamu pasti akan pulang nanti. Mas Julian dan Kean ingin mengunjungi makam mama dan papa. Sampaikan salam Nara untuk papa. Jaga kesehatan selalu ya mah. Nara menyayangi kalian."
Setelah membalas pesan, Nara diam menatap jendela besar disampingnya. Bayangan senyum diwajah kedua orang tuanya terlintas. Bahkan awan diatas langit, seperti menunjukkan jika kedua orang tua kandungnya sedang merindukan dirinya saat ini. Gambaran awan itu tersenyum kepadanya seolah, menegaskan mereka bahagia saat ini melihat putrinya.
"Nara rindu mah, pah. Baby, berbahagialah bersama kakek dan nenek disana. Tunggu mama ya nak, pasti kita akan berkumpul nanti," setitik air mata jatuh di kening Julian. Dia segera membuka mata ketika keningnya terasa basah. Diam mengamati wanita yang saat ini sedang menatap langit. Tangannya terulur dan menghapus air mata yang menetes.
"Aku tidak mau melihat air mata ini jatuh lagi Bun. Apapun yang saat ini bunda rasakan, ceritakan padaku. Aku tidak suka kamu memendam seorang diri," Nara menoleh dan tersenyum kepada Julian. Tangannya kembali mengusap surai tebal Julian.
"Aku tidak apa-apa mas. Hanya merasa rindu kepada baby dan kedua orang tuaku saja," Julian mengerti bagaimana perasaan Nara saat ini. Dia bangun dari tidurnya dan segera memeluk tubuh Nara.
"Nanti kita pasti mengunjungi mereka Bun. Mas janji itu," Nara mengangguk. Pelukan itu terlepas karena kedatangan Kean.
"Ayah, lepaskan bunda. Itu punya Kean," bocah itu berteriak dan berlari kearah mereka. Kean segera berdiri ditengah-tengah keduanya dan duduk dipangkuan Nara sambil memeluk leher Nara.
"Ck, perusuh. Bunda punya ayah, bukan Kean." Perdebatan pun terjadi diantara keduanya. Setiap hari mereka hanya berebut Nara. Dan membuat wanita itu tertawa.
Sore menjelang, Julian mengajak keluarga kecilnya pulang ke rumah. Sore ini Julian pulang lebih awal karena Kean ingin membeli buku dan beberapa mainan. Julian meminta Nara menggunakan kursi roda saja agar tidak terlalu lelah. Tawa canda mereka selalu menjadi perhatian setiap pengunjung pusat perbelanjaan. Apalagi Julian salah satu pengusaha muda ternama di negara itu.
"Akhirnya kamu menemukan pengganti yang baik Nara. Aku selalu mendoakan kebahagiaan kalian. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu kembali. Dan semoga saat itu aku pun sudah memiliki pendamping hidup yang lebih baik," Yuna bergumam membaca berita pernikahan sahabatnya itu di media online. Dia baru saja kembali dari kafe tempatnya bekerja. Pekerjaan ini dia dapat setelah beberapa kali gagal.
Yuna berjalan kaki menuju rumah kontrakan tempat tinggalnya saat ini. Meskipun kecil, sudah sangat nyaman untuknya. Uang sisa penjualan perhiasannya kemarin, masih cukup hingga dia menerima gaji pertama. Bahkan dengan uang itu dia membayar uang kontrakan selama enam bulan kedepan. Dia mampir ke mini market membeli beberapa bahan makanan untuk di rumah sewanya.
Dia asyik memilih beberapa barang. Sayuran dan beberapa buah serta susu, tidak lupa dia beli. Berjalan perlahan dengan mata yang fokus mengawasi setiap rak makanan ringan. Tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seseorang karena tidak melihat kedepan.
"Aduh, jalan lihat-lihat dong," orang itu mengomel tanpa menoleh kearah Yuna a.
"Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja." Yuna meminta maaf kepada orang itu. Mata mereka bertemu tanpa sengaja saat pria itu mendongakkan wajahnya.
"Kamu!" teriak keduanya bersamaan.
LN ada loe, gue..Hadeuhhh bnyak ngawur ini othor
ada keselnya ada meweknya ada bapernya.
upnya jgn lama2 ya soale penasaran sm kelanjutan ceritanya...🙏💪👍🫶