Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAS BARU
Hendra pulang dengan langkah gontai. Gaji bulan ini baru saja cair, rasa lelahnya semakin bertambah ketika ia melihat Siska sedang duduk santai di ruang tengah sambil memamerkan tas baru bermerek nya yang harganya setengah dari gajinya sebulan.
"Kamu dapat tas itu dari mana?" tanya Hendra menahan marah.
Siska menoleh santai sambil memutar tas itu di tangannya.
"Ah ini? Aku beli tadi siang. Uangnya kuambil dari laci meja."
Hendra langsung melempar tas kerjanya ke lantai dengan keras.
"apa Kamu gila ! Itu uang untuk kebutuhan sebulan ! Kamu malah habiskan begitu saja hanya untuk tas yang nggak penting!"
"Kamu kenapa teriak teriak teriak sih ? Aku kan istri sahmu! Wajar dong kalau aku pakai uang suamiku!" Siska berdiri menatap balik dengan wajah menantang tanpa merasa takut sama sekali.
Tiba-tiba Ibu Sari keluar dari kamar. Awalnya ia ingin membela, namun saat melihat harga yang tertera di label tas yang belum dilepas, mulutnya langsung ternganga
"Itu tas harga jutaan Siska? jangan bilang Kamu beli pakai uang Hendra lagi?"
"Iya Bu. emangnya Kenapa? Kan Mas Hendra yang bekerja, jadi uangnya juga milikku," jawab Siska seenaknya.
Kali ini Ibu Sari tidak memihak. Wajahnya berubah cemberut dan sedikit kesal.
"Kamu ini gimana sih Siska! Uang segitu bukan uang sedikit! Dulu Alena dengan gaji yang sama bisa menutupi kebutuhan makan, listrik, dan masih ada sisa sedikit! Kamu baru beberapa hari di sini sudah boros begini!"
Mendengar itu Siska langsung membulatkan mata marah.
"iBu memihak wanita itu? Aku kan menantu kesayangan Ibu! Kenapa Ibu malah membanding-bandingkan aku dengan dia?"
"Bukan membandingkan! Ibu hanya bilang jangan boros! Ibu sendiri yang harus mencuci piring dan memasak kemarin, sekarang kamu malah menghabiskan uang seenaknya!" bentak Ibu Sari tidak tahan lagi.
"Kalau Ibu nggak suka dengan caraku, yaaah lebih baik Ibu panggil saja Alena kembali! Aku nggak suka tinggal di rumah yang penuh aturan menyusahkan begini!" teriak Siska lalu masuk kamar dan membanting pintu sekuat tenaga.
Hendra dan Ibu Sari hanya bisa saling pandang dengan mulut ternganga. Ibu Sari menghela napas panjang lalu duduk lemas di kursi.
"Ya ampun... berani sekali dia bicara begitu sama Ibu..."
"ibu lihat sendiri kan ? Bukan aku yang ingin membandingkan, tapi kenyataannya memang begitu," kata Hendra dengan suara berat penuh kekecewaan.
Ibu Sari diam saja, tidak ada kata pembelaan yang keluar dari mulutnya. Dalam lubuk hatinya, ia mulai mengakui bahwa ia telah membuat kesalahan besar dengan mengusir Alena dan memasukkan Siska ke rumah ini.
Sementara itu di toko tempat Alena bekerja, suasana terasa jauh lebih tenang dan menyenangkan. Pria bernama Bima datang kembali dengan senyum ramah yang tak pernah hilang. Kali ini ia membawa dua bungkus makanan hangat.
"Selamat siang Alena. Saya bawa makanan siang. kita makan bareng dulu yuk " ajak Bima sopan.
Alena tersenyum malu-malu. "Terima kasih Mas Bima, tapi saya nggak bisa nerima gitu saja."
"Anggap saja terima kasih karena kemarin kamu melayananku dengan sangat baik. Saya tidak punya teman di sini, jadi saya senang bisa mengobrol sama kamu," kata Bima tulus.
Akhirnya Alena setuju. Mereka duduk di sudut belakang toko sambil mengobrol santai. Bima ternyata pria yang sangat pengertian, pandai menghibur, dan tidak pernah menuntut apa-apa. Alena merasa nyaman sekali mengobrol dengannya, seolah semua beban berat di hatinya perlahan terangkat.
Dari kejauhan, Reihan melihat semuanya. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Rasa cemburu dan tidak enak hati menyergap dadanya, tapi ia sadar ia tidak berhak melarang Alena berkenalan dengan siapa saja. Ia hanya bisa membuang muka dan kembali bekerja dengan perasaan kecewa.
Malam harinya di rumah Hendra, suasana sangat dingin dan hening. Siska mengunci diri di kamar tidak mau keluar makan. Ibu Sari duduk di meja makan sambil menatap lauk pauk sederhana yang ia masak sendiri.
"Ndra... apa aku benar-benar salah mengusir Alena dulu?" tanya Ibu Sari tiba-tiba dengan suara lirih.
Hendra berhenti mengunyah. Ia menatap piringnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ya Bu... Ibu benar-benar salah. Alena tidak pernah menyusahkan kita sedikit pun. Dia yang selalu menyusahkan dirinya sendiri demi kita."
Mendengar itu, air mata Ibu Sari jatuh perlahan membasahi pipinya. Ia sadar penyesalannya datang terlambat sekali.
Keesokan harinya, takdir seolah ingin menyiksa hati Hendra lebih dalam lagi. Saat ia hendak membeli makan siang di warung dekat kantor, ia melihat Alena sedang berjalan beriringan dengan Bima. Mereka tertawa lepas, wajah Alena tampak berseri-seri, jauh lebih cantik dan cerah dibanding saat masih tinggal di rumahnya.
Hendra terpaku di tempat, napasnya tercekat. Rasa menyesal, sakit hati, dan cemburu bercampur aduk menjadi satu. Ia menyadari sepenuhnya: wanita yang dulu selalu sabar menunggunya, kini sedang menemukan kebahagiaannya bersama orang lain, dan tak ada yang bisa ia lakukan selain menatapnya dari jauh dengan rasa sesak yang menyakitkan.